NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Pistol Bertemu Gagang Pel

Setelah kekacauan di restoran Il Lusso, markas besar Volkov kembali ke rutinitasnya yang kaku. Namun, bagi Aiden, "rutinitas" kini menjadi kata yang sangat relatif. Pagi itu, ia dijadwalkan mengadakan pertemuan mendesak dengan Dewan Penasihat—kumpulan pria-pria tua yang mengawasi moralitas (atau ketiadaan moralitas) di dunia hitam. Mereka adalah orang-orang yang menganggap debu di lantai sebagai penghinaan terhadap kekuasaan.

​Di sisi lain mansion, Ziva sedang merasa sangat bersalah karena telah merusak gaun Versace seharga satu unit apartemen. Sebagai bentuk penebusan dosa yang ia ciptakan sendiri, ia memutuskan untuk membantu pekerjaan para pelayan. Tentu saja, tanpa diminta.

​"Nona Ziva, mohon letakkan pel itu. Tuan Volkov bisa memecat kami jika melihat Anda bekerja," pinta kepala pelayan dengan wajah pucat.

​"Tenang aja, Mas. Gue ini ahli dalam bidang kebersihan domestik. Dulu di kosan, gue adalah juara bertahan lomba ngepel tercepat antar lantai," jawab Ziva sambil mengikat rambutnya tinggi-mencuat ke atas dan melilitkan kain perca di kepalanya sebagai ikat kepala tempur.

​Ziva mengambil gagang pel yang terbuat dari aluminium ringan dan mulai beraksi di koridor utama, tepat di depan ruang rapat besar di mana Aiden sedang berbicara serius tentang pengambilalihan jalur distribusi di Eropa Timur.

Aiden duduk di kursi kebesarannya, menatap tiga penasihat yang wajahnya tampak seperti mumi yang diawetkan dengan kebencian.

​"Volkov, kami mendengar bahwa asisten barumu menyebabkan keributan di depan perbankan Swiss. Kau harus mengendalikan asetmu sebelum dia menjadi beban," ucap salah satu penasihat dengan nada sinis.

​Aiden baru saja akan membalas saat telinganya menangkap suara yang sangat akrab.

​Sret... sret... sreet... DUAK!

​Suara itu berasal dari luar pintu jati yang tebal. Ziva sedang melakukan teknik "ngepel zigzag" yang legendaris, namun ia kehilangan keseimbangan karena lantai marmer Volkov terlalu licin untuk manuver ekstremnya. Gagang pelnya menghantam pintu ruang rapat dengan keras.

​"Waduh! Pintu apaan nih keras banget? Kayak batu nisan!" teriak Ziva dari luar.

​Aiden memejamkan mata, memijat pelipisnya. Para penasihat saling pandang. "Suara apa itu, Aiden?"

​"Hanya... sistem keamanan baru," jawab Aiden asal.

​Di luar, Ziva tidak berhenti. Ia merasa ada noda membandel di bawah pintu. Ia menekan gagang pelnya dengan kekuatan penuh, menggunakan seluruh berat badannya. Sial bagi Aiden, pintu itu tidak terkunci dengan benar.

​BRAKK!

​Pintu terbuka lebar. Ziva meluncur masuk ke dalam ruang rapat yang sakral itu dengan posisi setengah berlutut, memegang gagang pel seperti seorang ksatria memegang tombak. Ia berhenti tepat di depan meja bundar, hanya beberapa inci dari kaki para penasihat yang mengenakan sepatu kulit buaya.

​Hening. Total.

​Ziva mendongak, melihat empat pria berjas hitam menatapnya dengan tatapan "siapa-makhluk-ini". Ia melihat Aiden yang wajahnya sudah memerah—bukan karena malu, tapi karena menahan amarah yang meledak-ledak.

​"Eh... halo, Bang Don. Halo, Kakek-Kakek semua. Sori, ini pintunya tadi kayaknya mau minta dibersihin, jadi gue bantuin," ucap Ziva sambil nyengir lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang tanpa beban.

​"Aiden... apakah ini 'aset' yang kau bicarakan?" tanya penasihat tertua dengan suara bergetar karena emosi.

Sebelum Aiden sempat menjawab, alarm mansion berbunyi keras. Lampu merah berkedip-kedip di seluruh ruangan. Melalui monitor di dinding, terlihat sekelompok penyusup—sisa-sisa anak buah Lorenzo yang ingin melakukan serangan bunuh diri—berhasil menembus barikade luar.

​"Tuan! Mereka ada di dalam koridor!" teriak Marco melalui interkom.

​Pintu belakang ruang rapat diledakkan. Dua pria bersenjata masuk dengan senapan mesin ringan. Para penasihat langsung merosot ke bawah meja, berteriak seperti anak kecil. Aiden dengan tenang menarik dua pistol dari balik jasnya, namun posisinya terhambat oleh meja besar.

​Salah satu penyerang mengarahkan senjatanya ke arah Aiden. Ziva, yang masih memegang gagang pel, bereaksi lebih cepat dari logika manusia mana pun.

​"WOI! JANGAN NYAMPAH DI SINI! GUE BARU SELESAI NGEPEL!"

​Ziva mengayunkan gagang pel aluminiumnya dengan gerakan memutar horizontal. Bagian bawah pel yang basah dan berat karena air sabun menghantam wajah sang penyerang dengan suara PLOK! yang memuaskan.

​Cairan sabun lantai yang licin dan beraroma lemon masuk ke mata si penyerang, membuatnya buta sesaat. Ziva tidak berhenti di situ. Ia menjulurkan gagang pelnya ke arah kaki penyerang kedua, melakukan teknik "sapuan maut" yang biasa ia gunakan untuk mengusir kucing liar di kosan.

​Gubrak!

​Penyerang kedua jatuh terjengkang. Aiden menggunakan kesempatan itu untuk menembak bahu kedua pria tersebut dengan presisi, melumpuhkan mereka tanpa membunuh mereka (karena Ziva pernah bilang dia tidak suka melihat darah di lantai yang baru ia bersihkan).

​Aiden melompat melewati meja, berdiri di samping Ziva. Ia menatap gadis itu yang kini kembali berdiri tegak, memanggul gagang pelnya di bahu seperti senapan laras panjang.

​"Ziva, kau... menggunakan pel untuk melawan mafia?" Aiden bertanya, napasnya sedikit memburu.

​"Habisnya mereka masuk nggak lepas sepatu, Bang! Lu lihat nih jejak kakinya! Gue capek ngepelnya tahu nggak?!" Ziva menunjuk noda sepatu di lantai dengan emosi yang sangat tulus.

​Para penasihat perlahan keluar dari bawah meja. Mereka melihat dua pembunuh profesional terkapar karena kombinasi peluru kaliber 9mm dan air sabun lantai merek lokal.

Salah satu penasihat, yang tadi paling vokal menghina Ziva, kini menatap Ziva dengan rasa hormat yang terpaksa. "Gadis ini... dia memiliki insting tempur yang... unik."

​"Bukan insting tempur, Kek. Ini namanya insting kebersihan," koreksi Ziva sambil memeras kain pelnya ke dalam ember yang ia seret masuk. "Kalau Kakek-Kakek mau rapat, rapat aja. Tapi jangan ada yang tumpahin kopi ya, gue males gosoknya."

​Aiden menatap para penasihatnya. "Masih ada yang ingin menyebut asistenku sebagai beban?"

​Para pria tua itu hanya terdiam, lalu satu per satu mengangguk kaku dan segera meninggalkan ruangan, takut jika mereka tidak setuju, Ziva akan menyapu mereka keluar dari mansion menggunakan pelnya.

​Aiden berbalik ke arah Ziva. Ia mendekat, mengambil gagang pel dari tangan Ziva dan meletakkannya di dinding. Ia meraih tangan Ziva yang basah dan dingin karena air sabun.

​"Kau luar biasa, Ziva. Tapi tolong, jangan pernah lakukan itu lagi. Jantungku hampir copot melihatmu berdiri di depan moncong senjata hanya karena masalah lantai," bisik Aiden. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan kekhawatiran yang mendalam.

​Ziva menatap mata abu-abu Aiden. Untuk sesaat, suasana komedi itu menghilang, digantikan oleh emosi yang hidup dan bergetar di antara mereka.

​"Gue nggak mau lu kenapa-napa, Bang Don. Lu itu bos gue, pelindung spion emas gue. Kalau lu mati, siapa yang bakal traktir gue bakso?" Ziva mencoba bercanda, tapi matanya menunjukkan ketulusan.

​Aiden menarik Ziva ke dalam pelukannya. Aroma sabun lantai lemon dari baju Ziva bercampur dengan parfum mahal Aiden. Kontras yang aneh, namun bagi Aiden, ini adalah perpaduan aroma yang paling menenangkan di dunia.

​"Gue nggak bisa napas, Bang! Dada lu keras banget kayak tembok!" protes Ziva dari dalam dekapan Aiden.

​Aiden tertawa pelan, melepaskan pelukannya. "Itu karena aku memakai rompi antipeluru, bodoh."

​"Pantesan! Lu mah main curang. Gue cuma pakai kaos partai sisa kampanye tahun lalu, lu pakai rompi baja," Ziva cemberut sambil merapikan ikat kepalanya yang miring.

"Sebagai hukuman karena telah mengganggu rapat dewan," ucap Aiden sambil berjalan menuju pintu. "Kau harus ikut denganku ke ruang bawah tanah."

​Ziva melotot. "Waduh! Mau diinterogasi ya? Gue nggak tahu apa-apa, Bang! Gue cuma kurir seblak yang tersesat!"

​"Bukan interogasi. Aku ingin kau memilih senjata yang lebih... konvensional daripada gagang pel. Kita tidak bisa membiarkan asisten raja mafia Italia bertempur dengan perlengkapan kebersihan."

​Ziva mengikuti Aiden menuju ruang persenjataan rahasia yang tersembunyi di balik rak buku. Di sana, terdapat berbagai jenis senjata dari seluruh dunia. Ziva berjalan di antara rak-rak senjata dengan mata berbinar.

​"Wah, ini apa Bang? Kecil banget kayak mainan?" Ziva menunjuk sebuah pistol Derringer berlapis perak.

​"Itu untuk perlindungan jarak dekat. Cocok untukmu."

​"Gak mau! Gue mau yang itu!" Ziva menunjuk ke arah sebuah pelontar granat. "Itu kayaknya bisa buat nembak tikus di dapur biar sekali tembak langsung ilang sama dapur-dapurnya."

​Aiden menghela napas panjang. "Ziva, kita mafioso, bukan penghancur kota."

​Akhirnya, Aiden memilihkan sebuah pistol kecil yang elegan dengan ukiran bunga matahari di pegangannya—pesanan khusus yang ia buat secara rahasia. Ia memberikan pistol itu kepada Ziva.

​"Pegang ini. Jangan digunakan kecuali benar-benar darurat. Dan jangan pernah, jangan pernah, menggunakannya sebagai pengganti gagang pel."

​Ziva menerima pistol itu dengan khidmat. "Oke, Bang Don. Gue janji. Tapi kalau pelurunya habis, gue boleh kan pakai jurus sapu maut lagi?"

​Aiden hanya bisa pasrah. Ia menyadari bahwa seberapa banyak pun senjata api yang ia berikan pada Ziva, gadis itu akan selalu menemukan cara yang paling absurd untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua.

​Malam itu, di mansion Volkov, sebuah legenda baru lahir: legenda tentang seorang gadis semprul yang berhasil membungkam dewan mafia paling ditakuti di Eropa hanya dengan bantuan sebuah gagang pel dan air sabun lemon. Dan bagi Aiden, itu adalah bukti bahwa emosi yang ia rasakan pada Ziva bukan lagi sekadar tanggung jawab, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan tak terelakkan.

​"Bang Don," panggil Ziva saat mereka berjalan kembali ke ruang tengah.

​"Ya?"

​"Pistol ini kalau gue kasih gantungan kunci boneka beruang, boleh nggak?"

​Aiden memejamkan mata. "Terserah kau, Ziva. Terserah kau."

1
Dessy Lisberita
so sweet
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!