Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Serigala Buta
Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menembus kabut tebal Pelataran Luar ketika ketenangan pondok kayu Zeng Niu dihancurkan secara paksa.
BLAAARRR!
Pintu kayu pondok itu hancur berkeping-keping akibat tendangan yang dilapis Qi elemen logam. Pecahan kayunya melesat ke dalam ruangan seperti pisau terbang.
Bao Tuo, yang sedang tidur sambil memeluk bantal jeraminya, terlonjak bangun sambil menjerit histeris. Lin Xiaoyu yang sedang bermeditasi di sudut ruangan seketika melompat, tangannya secara refleks membentuk segel ilusi air.
Di ambang pintu yang kini berlubang menganga, berdiri lima orang pemuda dengan jubah murid luar. Di dada mereka tersemat lencana serigala hitam. Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda bertubuh kekar seperti beruang, wajahnya dipenuhi bekas luka sayatan, dan kedua lengannya terbungkus kain perban besi.
Ia memancarkan aura Pengumpulan Qi Tahap 8 yang sangat pekat, menekan udara di dalam pondok hingga membuat Bao Tuo sulit bernapas.
"Jadi ini sarang tikus-tikus yang mematahkan tangan adik sepupuku, Wang Lei?" Suara pemuda kekar itu menggelegar, penuh dengan arogansi dan kezaliman mutlak.
Ia adalah Wang Gang, Wakil Ketua Faksi Serigala Hitam. Selama sebulan terakhir, ia menjalankan misi di luar akademi. Begitu kembali, ia mendapati sepupunya cacat dan faksinya dijadikan bahan tertawaan di Pelataran Luar. Amarahnya tidak bisa dibendung lagi.
"Kalian bertiga," geram Wang Gang, meludah ke lantai pondok. "Merangkaklah ke luar. Patahkan kedua lengan dan kaki kalian sendiri, lalu serahkan seluruh Poin Kontribusi dan Cincin Spasial yang kalian sembunyikan. Lakukan itu, dan aku akan berbaik hati membiarkan kalian bernapas sebagai pengemis di akademi ini."
Bao Tuo bergetar hebat hingga giginya bergemeretak. "T-Tahap 8... Dia ahli bela diri Telapak Pasir Besi! Sekali tepuk, tengkorak manusia bisa hancur!" bisik si gendut dengan putus asa.
Xiaoyu mengertakkan gigi, mencoba merapalkan ilusi bayangan untuk mengaburkan pandangan Wang Gang. Namun, perbedaan kultivasi terlalu jauh. Wang Gang hanya mendengus, melepaskan gelombang Qi dari tubuhnya yang langsung memecahkan ilusi Xiaoyu sebelum terbentuk. Gadis itu terhuyung mundur, memuntahkan setetes darah dari sudut bibirnya akibat serangan balik energi.
"Ilusi murahan," cemooh Wang Gang, matanya menyapu ke dalam ruangan, mencari sosok yang menaklukkan sepupunya.
Dari sudut ruangan terdalam yang tertutup bayangan, terdengar suara langkah kaki yang sangat tenang. Ritmenya tidak cepat, tidak lambat, namun setiap pijakannya seolah menginjak jantung mereka yang mendengarnya.
Zeng Niu melangkah keluar dari kegelapan. Wajahnya datar, matanya sedingin dasar gletser yang membekukan jiwa.
Wang Gang menatap Zeng Niu dari atas ke bawah. Saat ia mencoba merasakan tingkat kultivasi pemuda itu, ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Kupikir monster macam apa yang mematahkan tangan Wang Lei! Ternyata hanya sampah Pengumpulan Qi Tahap 2?! Sepupuku pasti sedang lengah hingga berhasil kau serang diam-diam," ejek Wang Gang. Tangannya mulai memancarkan cahaya abu-abu kehitaman, tanda bahwa Telapak Pasir Besi-nya telah diaktifkan. "Hari ini, aku akan mencabut jantungmu dari dadamu!"
Di dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu, Lei Ling mendengus meremehkan dari atas singgasana petirnya. “Hmph. Babi hutan yang hanya tahu cara memukul batu. Jika kau sampai mati di tangan kroco ini, aku akan memastikan jiwamu dihancurkan oleh petirku sebelum dia menyentuhmu.”
Zeng Niu mengabaikan ocehan roh pedang itu. Ia menatap Wang Gang dengan kekosongan yang membuat naluri pembunuh veteran mana pun bergidik.
"Kau mengotori lantai pondokku," ucap Zeng Niu pelan. Suaranya serak dan sangat kering.
Wang Gang merasa terhina oleh sikap tenang junior di depannya. Tanpa basa-basi lagi, ia menerjang maju bagai banteng mengamuk. Lantai kayu di bawah kakinya hancur. Lengan besinya mengayun dengan kekuatan penuh, mengarah tepat ke kepala Zeng Niu.
“Seni Telapak Pasir Besi: Hancurkan Gunung!”
Angin dari telapak tangan itu begitu kencang hingga meniup rambut Bao Tuo dan Xiaoyu di belakang Zeng Niu. Jika telapak tangan itu mengenai batu karang, batu itu pasti akan menjadi debu.
Namun Zeng Niu tidak mundur.
Dantian berdarahnya berputar. Qi merah kehitaman meledak, menyelimuti lengan kanannya. Digabungkan dengan kekuatan fisik Pemadatan Sumsum, Zeng Niu menyongsong telapak tangan Wang Gang dengan tinjunya.
Tapi, Zeng Niu tidak hanya mengandalkan kekuatan kasar. Selama sebulan mengurung diri di Paviliun Alkimia, ia tidak hanya belajar memadatkan pil.
Tepat sebelum tinjunya berbenturan dengan telapak Wang Gang, Zeng Niu menjentikkan jarinya dengan gerakan kecil. Serbuk halus berwarna ungu pucat racikan dari debu Teratai Jantung Darah dan getah tanaman pembeku nadi yang ia kembangkan sendiri terlontar ke depan, menyatu dengan dorongan angin dari serangan Wang Gang sendiri.
DUAAAARRR!
Bentrokan terjadi. Lantai pondok retak dan terbelah dua.
Mata Wang Gang membelalak lebar. Senyum arogannya runtuh dalam sekejap. Telapak tangan kebanggaannya yang dilapisi Qi Tahap 8 tidak menghancurkan tulang Zeng Niu. Sebaliknya, ia merasa seolah memukul pilar baja yang dilapisi oleh kekuatan Bencana.
KRETAK!
Tulang jari-jari Wang Gang retak. Namun, kengerian sesungguhnya baru saja dimulai.
Serbuk ungu yang terhirup dan menyentuh kulit Wang Gang seketika bereaksi dengan aliran Qi-nya. Racun itu secara brutal membekukan meridian di lengan kanannya. Aliran Qi Wang Gang terputus seketika, membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya.
"A-apa yang kau— ARGHHH!"
Sebelum Wang Gang bisa menarik lengannya yang tiba-tiba mati rasa, Zeng Niu sudah mengubah tinjunya menjadi cengkeraman cakar. Tangan Zeng Niu yang sekeras besi hitam mencengkeram pergelangan tangan Wang Gang, memelintirnya dengan gerakan spiral yang kejam.
Suara robekan otot dan patahan tulang terdengar nyaring. Lengan kanan Wang Gang terpelintir hingga ke siku dalam sudut yang mustahil.
Wang Gang menjerit histeris, jatuh berlutut di depan Zeng Niu.
Keempat anak buah Wang Gang yang menunggu di luar pintu membeku karena syok. Wakil ketua mereka yang gagah perkasa ditaklukkan hanya dalam satu gebrakan oleh murid Tahap 2?!
"B-Bunuh dia! Serang bersama-sama!" teriak salah satu dari mereka dengan suara gemetar, mencoba menghunus pedangnya.
Zeng Niu menoleh ke arah mereka, matanya berkilat memancarkan niat membunuh yang murni. Tanpa melepaskan pergelangan tangan Wang Gang, Zeng Niu menendang dada pemuda kekar yang sedang berlutut itu.
Tendangan itu tidak dimaksudkan untuk memukul mundur, melainkan menggunakan wujud Wang Gang sebagai senjata. Tubuh raksasa Wang Gang terpental layaknya bola meriam, menghantam keempat anak buahnya yang baru akan menyerang. Mereka berlima terpelanting ke luar pondok, berguling-guling di atas tanah berlumpur sambil memuntahkan darah.
Zeng Niu berjalan keluar perlahan melintasi ambang pintu yang hancur. Angin pagi meniup jubahnya yang compang-camping. Di luar sana, puluhan pasang mata Murid Luar dari pondok sebelah telah berkumpul untuk menonton pertunjukan berdarah ini.
Wang Gang berusaha merangkak mundur, menahan rasa sakit dari lengan kanannya yang hancur dan racun yang mulai menjalar membuat tubuhnya kaku. Matanya kini menatap Zeng Niu bukan sebagai junior yang lemah, melainkan sebagai Iblis dari jurang neraka.
"K-Kau menggunakan racun! Licik! Murid ortodoks sejati tidak akan menggunakan cara kotor!" teriak Wang Gang, mencoba mencari pembelaan dari kerumunan.
Zeng Niu berhenti selangkah di depan wajah Wang Gang. Ia mendongak menatap langit kelabu Akademi Jiannan, lalu menatap Wang Gang dengan tatapan yang sangat kosong.
"Orthodoks," ejek Zeng Niu pelan. "Kata-kata manis untuk mereka yang takut mati."
Zeng Niu mengangkat kakinya dan menginjak bahu kiri Wang Gang, menekannya keras-keras ke tanah.
"Kau yang datang ke pintu rumahku. Kau yang menuntut tulangku. Di jalanku, tidak ada kehormatan, hanya ada yang hidup dan yang mati," desis Zeng Niu.
Dengan gerakan cepat yang tidak bisa diikuti mata fana, ujung belati berburu Zeng Niu berkelebat. Bukan menebas leher, melainkan menusuk tepat ke titik Dantian Wang Gang yang berjarak tiga inci di bawah pusar.
Pfftt!
Suara seperti balon kempes terdengar.
Mata Wang Gang melotot hingga urat matanya pecah. Qi Tahap 8 yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun bocor keluar dari tubuhnya, buyar ke udara. Zeng Niu baru saja melumpuhkan Dantiannya. Bagi seorang kultivator, kehilangan kultivasi jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri.
"AAARRRGGHHH!!! KULTIVASIKU! KAU MENGHANCURKAN DANTIANKU!" raung Wang Gang, berguling-guling di tanah seperti cacing yang dibakar.
Kerumunan Murid Luar mundur serentak, wajah mereka pucat pasi. Menghancurkan kultivasi sesama murid adalah tindakan yang sangat ekstrem, bahkan di tempat sekeras Pelataran Luar. Tapi melihat tatapan Zeng Niu yang tidak berkedip sedikit pun saat melakukannya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju untuk ikut campur.
Zeng Niu menunduk, merampas kantong Cincin Spasial murahan dari pinggang Wang Gang, dan menatap keempat anak buah yang masih gemetar di tanah.
"Bawa sampah ini pergi," perintah Zeng Niu datar. "Jika Faksi Serigala Hitam ingin menagih poin lagi, suruh ketua kalian datang sendiri. Aku akan menunggunya dengan peti mati."
Keempat murid itu buru-buru memapah tubuh Wang Gang yang setengah gila, berlari tunggang langgang menjauh dari area itu.
Zeng Niu berbalik, kembali ke dalam pondoknya. Bao Tuo dan Xiaoyu berdiri mematung di sudut ruangan.
Zeng Niu melemparkan kantong rampasan itu ke arah Bao Tuo. "Perbaiki pintunya," ucap Zeng Niu singkat, lalu kembali ke posisi lotusnya di tengah ruangan, menutup matanya seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam Lautan Kesadaran, Lei Ling yang sedang mengikir kukunya yang terbuat dari kilat mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang angkuh.
“Kekejaman yang lumayan. Tapi jika kau terus menggonggong sekeras ini di halaman depan, kau akan memancing harimau yang sesungguhnya keluar dari sarang.”
Dan peringatan Lei Ling tidaklah salah. Jatuhnya Wakil Ketua Faksi Serigala Hitam menjadi gelombang kejut yang akan memicu badai politik berdarah di dalam Akademi Jiannan.