Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kekacauan di meja makan malam itu berakhir dengan Ibu Bianca yang harus dipapah keluar oleh petugas medis karena serangan panik yang hebat. Baskara mengikuti di belakang dengan wajah hancur, tak lagi mampu menatap mata Aeryn ataupun Xavier. Namun, bagi Aeryn, jeritan histeris ibu tirinya bukanlah akhir. Itu adalah celah.
Dalam keributan saat Ibu Bianca meracau dan Baskara sibuk mencari obat penenang di tas istrinya, Aeryn berhasil melakukan satu gerakan cepat. Ia merogoh saku jas Baskara yang tersampir di kursi dan mengambil gantungan kunci perak yang sudah sangat ia kenal. Kunci cadangan ruang kerja pribadi Baskara di rumah lama.
"Kau mendapatkan apa yang kau cari?" tanya Xavier setelah mobil keluarga Valerine meninggalkan pelataran mansion.
Aeryn menunjukkan kunci itu di telapak tangannya. Logam dingin itu berkilat di bawah lampu lobi. "Ini tiket masukku, Xavier. Aku tahu Papa masih menyimpan dokumen asli hak cipta desain Ibu di brankasnya. Dokumen yang menyatakan bahwa Maryam Valerine adalah pemilik sah seluruh aset intelektual Valerine Jewels, bukan hasil hibah yang bisa dibatalkan Baskara."
"Aku akan menyiapkan Hugo untuk mengantarmu," kata Xavier.
"Tidak," sela Aeryn cepat. "Aku ingin melakukannya sendiri. Aku butuh privasi untuk menghadapi masa lalu rumah itu tanpa ada pengawal yang membuntutiku."
Aeryn berbohong. Alasan sebenarnya adalah karena ia tahu Hugo adalah mata-mata Danu Arkananta—ayah Xavier yang sebenarnya masih hidup. Ia tidak bisa membiarkan Hugo tahu apa yang ia cari.
Xavier menghela napas, ia mengira Aeryn hanya lelah dan ingin menyelesaikan ini sebagai urusan keluarga Valerine saja. "Hati-hati, Aeryn. Baskara mungkin terlihat lemah, tapi rumah itu adalah bentengnya. Jika terjadi sesuatu, segera tekan tombol darurat di ponselmu."
Xavier mengecup kening Aeryn, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya sedang menyimpan rahasia tentang kematian palsu ayahnya.
****
Pukul dua pagi. Rumah keluarga Valerine tampak seperti peti mati besar yang tertidur di bawah rembulan. Aeryn memarkir mobilnya dua blok dari sana dan berjalan kaki, menyelinap melalui pintu servis di area belakang yang jarang dijaga.
Suasana di dalam rumah sangat sunyi, hanya ada suara detak jam besar di ruang tamu. Aeryn melangkah dengan sangat hati-hati, menghindari lantai kayu yang mungkin berderit. Ia menaiki tangga menuju lantai dua, tempat ruang kerja Baskara berada.
Pintu kayu jati itu terkunci rapat. Aeryn memasukkan kunci cadangan yang ia curi tadi malam.
Ceklek.
Pintu terbuka pelan. Aroma cerutu murah dan kertas tua menyambut-nya. Aeryn segera menutup pintu dan tidak menyalakan lampu utama. Ia menggunakan senter kecil dari ponselnya, mengarahkan cahaya-nya ke sudut ruangan. Di balik lukisan pemandangan Kalimantan yang besar, terdapat sebuah brankas kuno berbahan baja hitam.
"Ayo, Bu... bantu aku," bisik Aeryn pada diri-nya sendiri.
Baskara adalah pria yang tidak kreatif. Dia selalu menggunakan tanggal-tanggal penting untuk kode keamanan-nya. Aeryn mencoba tanggal pernikahan Baskara dan Maryam. Gagal. Ia mencoba tanggal lahir-nya sendiri.
Gagal.
Jantung-nya berpacu kencang. Ia mendengar suara embusan angin di luar jendela yang terdengar seperti bisikan orang mati. Ia mencoba satu kombinasi lagi: tanggal kematian ibunya.
Klik.
Pintu brankas itu sedikit terbuka. Aeryn menarik napas lega. Ia mulai membongkar tumpukan kertas di dalam-nya. Sertifikat tanah, saham yang sudah tidak berharga, dan tumpukan emas batangan kecil. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah map kulit berwarna merah marun dengan inisial "MV".
Ia membuka-nya. Di dalam-nya terdapat dokumen asli dengan segel resmi dua puluh tahun lalu. Dokumen yang menyatakan bahwa seluruh desain inti Valerine Jewels adalah milik Maryam secara mutlak, dan jika Maryam meninggal, hak tersebut jatuh sepenuh-nya kepada Aeryn tanpa bisa diganggu gugat oleh suami atau pihak ketiga.
"Ini dia," desis Aeryn. Air mata hampir menetes di pipi-nya. "Ini bukti bahwa Papa telah mencuri segala-nya dariku selama ini."
Namun, di bawah map itu, Aeryn menemukan sebuah amplop lain. Amplop cokelat tua dengan stempel rumah sakit yang sama dengan yang ia temukan kemarin. Ia membuka-nya dengan rasa ingin tahu yang besar. Isinya adalah catatan medis Ibu Bianca—Ratna Galih—yang menunjukkan bahwa wanita itu pernah melakukan aborsi rahasia sebelum Bianca lahir, dan biaya rumah sakit-nya dibayar oleh... Baskara.
"Jadi mereka sudah berselingkuh bahkan saat Ibu baru saja melahirkanku?" Aeryn merasa mual. Pengkhianatan ini jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Tiba-tiba, sebuah suara elektronik kecil terdengar dari arah meja kerja Baskara.
Bip. Bip. Bip.
Aeryn membeku. Ia menoleh dan melihat sebuah perangkat kecil yang terhubung ke pintu brankas. Lampu kecil di sana berkedip merah.
"Alarm senyap," bisik Aeryn, wajah-nya memucat.
Ia segera memasukkan dokumen-dokumen itu ke dalam jaket-nya, namun tangan gemetarnya membuat beberapa kertas jatuh berserakan. Di saat yang sama, ia mendengar suara langkah kaki dari arah koridor. Langkah kaki yang berat, mantap, dan penuh amarah.
Dug... Dug... Dug...
Langkah itu semakin dekat. Aeryn mematikan senter ponsel-nya, mencoba bersembunyi di balik meja kerja yang besar, namun ruangan itu terlalu sempit.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu ruang kerja. Cahaya lampu dari koridor merembes masuk melalui celah di bawah pintu. Aeryn bisa melihat bayangan sepasang kaki berdiri di sana.
Tiba-tiba, terdengar suara getaran ponsel dari atas meja kerja. Itu ponsel milik Baskara yang tertinggal di sana. Di layar-nya tertulis notifikasi: Security Alert: Safe Box Opened.
"Aku tahu kau di dalam, Aeryn," suara itu bukan suara Baskara yang lemah. Itu suara pria yang lebih kuat, lebih dingin. "Kau melakukan kesalahan besar dengan kembali ke sini sendirian."
Gagang pintu mulai berputar perlahan. Aeryn mencengkeram dokumen di dada-nya, jantung-nya terasa ingin melompat keluar. Saat pintu terbuka sepenuh-nya, cahaya lampu koridor menyinari ruangan, menyingkap sosok pria yang berdiri di sana.
Bukan Baskara.
Itu adalah Hugo. Pria itu memegang sebuah senjata api di tangan kanan-nya, dan sebuah ponsel yang sedang menyala di tangan kiri-nya—menampilkan lokasi GPS Aeryn yang baru saja ia sadap.
"Tuan Danu ingin bicara denganmu," ucap Hugo datar. "Dan dia tidak suka kalau milik-nya dicuri oleh orang asing."
Di lantai bawah, Aeryn bisa mendengar suara Baskara yang mulai ber-teriak panik, "Siapa di atas?! Siapa itu?!" namun Hugo hanya menatap Aeryn dengan tatapan kosong yang mematikan, seolah Baskara hanya-lah gangguan kecil dalam misi besar-nya.