NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahanan atau Tamu?

Bab 29

Mereka menunggu selama tiga jam di ruang depan kantor polisi yang sempit itu. Tiga jam yang terasa seperti tiga tahun. Bambang duduk di kursi plastik dekat dinding, punggungnya bersandar pada cat biru yang mengelupas. Matanya tidak berkedip menatap pintu ruangan dalam tempat Ipda Bambang menghilang. Ucok duduk di sampingnya, tubuh besarnya terlihat seperti gunung yang letih. Dewi duduk di kursi seberang, kepalanya menunduk, rambut pendeknya menutupi sebagian wajahnya yang pucat.

Seorang polisi muda yang tadi menyambut mereka sesekali keluar masuk ruangan. Setiap kali pintu terbuka, Bambang berharap melihat Ipda Bambang keluar dengan kabar baik. Tapi yang keluar hanya polisi muda itu, membawa berkas-berkas atau segelas kopi, lalu masuk lagi tanpa berkata apa pun.

"Ucok," bisik Bambang.

"Iya."

"Kamu pikir mereka akan percaya?"

"Entahlah. Tapi setidaknya mereka tidak mengusir kita. Itu sudah lebih baik daripada kantor polisi sebelumnya."

"Tapi kita tidak bisa keluar. Kita seperti tahanan."

"Kita bukan tahanan. Kita tamu yang tidak diundang."

Bambang hampir tertawa mendengar kata-kata Ucok. Tamu yang tidak diundang. Itu istilah yang tepat untuk mereka. Datang dengan pakaian lusuh, wajah pucat, luka di mana-mana, dan cerita yang terdengar seperti omong kosong. Tentu polisi tidak tahu harus berbuat apa.

Pukul dua siang, pintu ruangan dalam terbuka. Ipda Bambang keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Tidak senang. Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya datar. Seperti topeng.

"Kalian ikut saya," katanya.

Mereka berdiri. Kaki Bambang sempat terasa lemas, tapi dia segera menguatkan dirinya. Mereka mengikuti Ipda Bambang keluar dari kantor polisi. Di halaman, sebuah mobil patroli sudah menunggu dengan mesin menyala.

"Kami dibawa ke mana, Pak?" tanya Dewi.

"Ke kantor polres. Di kota. Kasus ini terlalu besar untuk ditangani di sini."

Mereka naik ke mobil patroli. Bambang duduk di kursi belakang. Ucok di sampingnya. Dewi di sebelah Ucok. Jendela mobil gelap, tidak bisa melihat keluar dengan jelas. Bambang hanya bisa melihat bayangan pepohonan dan rumah-rumah yang berlalu cepat.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Mobil berhenti di depan sebuah gedung yang lebih besar dari kantor polisi desa. Ada papan nama di depan: POLRES KOTAWARINGIN TIMUR. Bambang tidak pernah mendengar nama kota itu. Tapi setidaknya ini bukan Jakarta. Belum.

Mereka diturunkan di halaman belakang. Seorang polisi lain menyambut mereka, seorang wanita dengan rambut pendek dan wajah tegas.

"Saya Ipda Rini," kata wanita itu. "Saya akan memeriksa kalian. Ikuti saya."

Mereka dibawa ke sebuah ruangan kecil. Dindingnya putih. Ada meja besi di tengah. Beberapa kursi. Tidak ada jendela. Lampu neon di langit-langit menyala terang, membuat mata Bambang perih.

"Duduk," kata Ipda Rini.

Mereka duduk. Ipda Rini duduk di seberang meja. Dia membuka map dan mengeluarkan pulpen.

"Nama lengkap," kata Ipda Rini.

"Bambang. Hanya Bambang."

"Nama orang tua?"

"Sumiati dan Suparman."

"Alamat?"

Bambang menyebutkan alamat kontrakannya di pinggiran Jakarta. Ipda Rini menulis dengan cepat. Tangannya rapi. Gerakannya efisien.

Setelah selesai dengan Bambang, dia beralih ke Ucok, lalu ke Dewi. Dewi memberikan identitas aslinya. Sebagai jurnalis. Ipda Rini mengernyit membaca kartu pers Dewi.

"Jurnalis?" tanya Ipda Rini.

"Iya."

"Kamu meliput pabrik itu?"

"Iya. Sudah setahun."

"Ada hasil?"

"Belum. Tapi sekarang kami punya bukti."

"Bukti apa?"

"Buku harian. Kontrak kerja. Dan luka di tubuh kami."

Ipda Rini menatap luka di lengan Bambang. Di lengan Ucok. Di lengan Dewi. Matanya berubah. Tidak lagi tegas. Ada rasa iba di sana.

"Saya akan panggil dokter," kata Ipda Rini. "Untuk memeriksa luka kalian. Juga untuk mengambil sampel darah. Mungkin ada racun atau zat asing di dalamnya."

"Ada," kata Ucok. "Cairan hitam dari kolam. Itu yang membuat luka kami begini."

Ipda Rini mencatat. "Kolam? Kolam apa?"

"Kolam induk. Di dalam gudang produksi. Itu sumber semua makhluk."

Ipda Rini berhenti menulis. Dia menatap Ucok dengan sorot tajam. "Makhluk?"

"Iya. Makhluk karet. Tinggi. Hitam. Lengan panjang. Mereka keluar dari kolam setiap malam."

Ipda Rini meletakkan pulpennya. Wajahnya berubah. Tidak lagi tegas. Tidak lagi iba. Tapi ragu. Ragu apakah cerita ini omong kosong atau benar-benar terjadi.

"Kamu yakin tidak sedang berhalusinasi?" tanya Ipda Rini.

"Aku tidak halusinasi. Aku sudah lima tahun di sana. Aku lihat dua belas orang berubah jadi makhluk. Aku lihat dengan mataku sendiri."

Ipda Rini menghela napas. "Baik. Saya catat semua yang kalian katakan. Tapi saya tidak bisa janji apa-apa. Ini di luar kemampuan saya. Saya akan teruskan ke atas."

"Ke atas mana?" tanya Dewi.

"Ke Polda. Mungkin ke Bareskrim. Tergantung."

"Berapa lama?"

"Tidak tahu. Minggu. Bulan. Tergantung."

Dewi menggedor meja dengan tangannya. "Kami tidak punya waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan! Perusahaan akan mencari kami. Mereka akan membungkam kami. Mereka sudah mencoba tadi malam. Mereka datang ke rumah Pak Heru dengan senjata!"

Ipda Rini terkejut. "Apa? Rumah Pak Heru? Siapa Pak Heru?"

"Orang yang menampung kami. Di desa. Dia sekarang mungkin sudah... kami tidak tahu."

Ipda Rini mengambil ponselnya. Dia menekan nomor. Bicara dengan cepat. Wajahnya tegang. Setelah beberapa menit, dia menutup telepon.

"Kami akan kirim tim ke rumah Pak Heru," kata Ipda Rini. "Untuk memeriksa kondisinya. Tapi kalian harus tetap di sini. Jangan ke mana-mana."

"Kami akan ditahan?" tanya Bambang.

"Kamu tidak ditahan. Kamu dilindungi. Ada perbedaan."

Bambang tidak melihat perbedaannya. Mereka tetap tidak bisa keluar. Tetap tidak bisa ke mana-mana. Tetap tergantung pada belas kasihan polisi yang mungkin juga sudah dibeli perusahaan.

Malam tiba. Mereka diberi makan di ruangan itu. Nasi kotak dengan lauk ayam dan sayur. Bambang makan dengan lahap meskipun nasi itu dingin. Setelah sekian lama hidup dalam ketakutan, makanan dingin terasa seperti hidangan bintang lima.

Mereka juga diberi tikar dan selimut. Bambang membaringkan tubuhnya di lantai yang dingin. Matanya menatap lampu neon di langit-langit. Lampu itu tidak pernah mati. Menyala terus. Terang. Menyilaukan.

"Ucok," panggil Bambang pelan.

"Iya."

"Kamu bisa tidur?"

"Tidak. Lampu ini terlalu terang."

"Aku juga."

"Tapi kita harus tidur. Besok mungkin kita akan diinterogasi lagi. Atau dipindahkan lagi. Kita butuh tenaga."

Bambang memejamkan mata. Lampu neon tetap terlihat di balik kelopak matanya. Merah. Menyala. Tidak bisa dihindari.

Dia bermimpi. Dalam mimpinya, dia berdiri di depan rumah kontrakannya. Pintu terbuka. Ibu dan Bapak duduk di ruang tamu. Tapi wajah mereka berbeda. Bukan wajah yang biasa dia lihat. Tapi wajah pucat. Mata kosong. Kulit hitam seperti karet.

"Nak," kata Ibu dengan suara yang aneh. "Nak, kenapa kamu pulang? Kamu seharusnya tinggal di hutan. Bersama kami."

"Tidak, Bu. Aku tidak mau. Aku mau pulang. Aku mau hidup normal."

"Normal? Apa yang normal? Hidup ini tidak pernah normal. Sejak kamu lahir, hidupmu sudah ditentukan. Kamu akan menderita. Kamu akan sengsara. Kamu akan berakhir di hutan. Seperti kami."

Bambang menangis. "Tidak, Bu. Aku tidak percaya."

"Percaya atau tidak, itu yang akan terjadi. Kamu tidak bisa melawan takdir."

Bambang membuka mata.

Dia sadar. Masih di ruangan putih. Masih di lantai. Masih di samping Ucok yang sedang tidur dengan gelisah.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun cepat.

Dewi duduk di sampingnya. "Kamu mimpi buruk?"

"Iya."

"Tentang apa?"

"Tentang orang tuaku. Mereka sudah berubah. Menjadi makhluk."

Dewi mengusap punggung Bambang. "Itu hanya mimpi. Orang tuamu baik-baik saja di rumah. Tidak ada yang berubah."

"Kamu tidak tahu, Dewi. Perusahaan bisa melakukan apa saja. Mereka bisa menjangkau siapa saja. Di mana saja."

"Maka kita harus cepat. Sebelum mereka menjangkau orang tuamu."

"Tapi kita terperangkap di sini. Tidak bisa keluar. Tidak bisa berbuat apa-apa."

Dewi terdiam. Dia tidak punya jawaban.

Pagi datang dengan cahaya yang sama seperti malam. Lampu neon masih menyala. Tidak pernah mati. Bambang sudah tidak bisa membedakan siang dan malam. Yang dia tahu, setiap kali dia bangun, lampu itu masih menyala. Setiap kali dia tidur, lampu itu masih menyala.

Ipda Rini datang sekitar pukul sembilan. Wajahnya lebih tegang dari kemarin.

"Ada kabar dari rumah Pak Heru," kata Ipda Rini.

"Apa?" tanya Bambang cepat.

"Pak Heru tidak di rumah. Tetangga bilang dia pergi tadi malam. Tidak tahu ke mana."

"Perusahaan! Mereka membawa Pak Heru!"

"Kami tidak tahu. Belum ada bukti. Tapi kami akan terus mencari."

"Terus mencari? Bapak tidak bisa berbuat lebih dari itu?"

Ipda Rini tidak menjawab. Dia hanya menatap Bambang dengan mata lelah.

"Saya akan teruskan kasus ini ke Polda," kata Ipda Rini. "Mungkin mereka punya sumber daya yang lebih baik. Mungkin mereka bisa melindungi kalian dengan lebih baik."

"Atau mungkin mereka juga sudah dibeli perusahaan," kata Ucok sinis.

Ipda Rini tidak membantah. Mungkin dia juga memikirkan hal yang sama.

Mereka dipindahkan ke ruangan lain. Lebih besar. Ada jendela. Bambang bisa melihat langit. Langit biru dengan awan putih. Indah. Tapi terasa jauh.

Dia duduk di dekat jendela, menatap ke luar. Di kejauhan, terlihat pepohonan. Hutan. Hutan yang sama? Atau hutan yang berbeda? Dia tidak tahu.

"Bambang," panggil Dewi.

"Iya."

"Aku sudah hubungi temanku di Jakarta. Dia wartawan. Dia mau bantu."

"Bantu bagaimana?"

"Dia akan menulis berita tentang kita. Tentang pabrik. Tentang makhluk. Tentang perusahaan. Dia akan mempublikasikan semuanya. Dengan nama samaran. Tanpa menyebut identitas kita."

"Itu berbahaya. Perusahaan akan tahu."

"Mereka sudah tahu. Tidak ada lagi yang bisa kita sembunyikan. Lebih baik kita serang dulu sebelum mereka menyerang."

Bambang menghela napas. Dewi benar. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan. Sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang.

"Baik," kata Bambang. "Lakukan."

Dewi mengeluarkan ponselnya. Menekan nomor. Bicara dengan cepat. Wajahnya serius. Matanya berkobar.

Setelah menutup telepon, Dewi menatap Bambang. "Besok. Beritanya akan terbit besok."

"Kita akan aman?"

"Tidak ada yang aman di dunia ini, Bambang. Tapi setidaknya kita sudah mencoba."

Malam itu, Bambang tidur lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Mungkin karena dia tahu besok akan ada yang berubah. Baik atau buruk, dia tidak tahu. Tapi yang pasti, sesuatu akan berubah.

Dan perubahan itu, apa pun bentuknya, lebih baik daripada terjebak di ruangan ini selamanya.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!