NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Benang-Benang Takdir

Lorong di dalam tebing itu gelap, hanya diterangi oleh kristal-kristal kecil berpendar biru yang tertanam di dinding batu. Cahayanya redup, seperti bintang-bintang yang enggan bersinar terang. Arga berjalan di belakang Darmaji, dikelilingi oleh dua belas pemburu yang langkahnya nyaris tak bersuara—tanda bahwa mereka memang terlatih dengan baik.

Udara di dalam lorong terasa dingin dan kering, jauh berbeda dari kelembapan hutan di luar. Bau tanah dan batu bercampur dengan aroma aneh yang tidak bisa diidentifikasi Arga—sesuatu seperti dupa kuno yang sudah terbakar sejak lama.

"Kau tidak bertanya," suara Darmaji memecah keheningan.

"Tentang apa?"

"Tentang mengapa aku membawamu ke sini. Tentang apa yang akan terjadi padamu selanjutnya. Kebanyakan orang akan ketakutan dan mulai menanyakan segala hal."

Arga tidak menjawab segera. Ia mengamati lorong yang semakin melebar, berubah menjadi semacam aula bawah tanah dengan langit-langit tinggi yang ditopang pilar-pilar batu alam. Di kejauhan, ia bisa melihat cahaya yang lebih terang—mungkin ruang utama markas ini.

"Aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa pertanyaan tidak selalu menghasilkan jawaban," katanya akhirnya. "Kadang lebih baik menunggu dan melihat sendiri."

Darmaji terkekeh. "Kau bicara seperti orang tua. Padahal usiamu belum genap dua puluh tahun." Ia menoleh sebentar, matanya yang tajam menatap Arga. "Itu salah satu hal yang membuatku penasaran padamu, Arga Sanjaya. Kau berbeda. Sangat berbeda."

Mereka memasuki ruang utama. Aula besar yang dipahat langsung dari perut bumi, dengan langit-langit setinggi sepuluh orang dewasa. Di tengahnya, sebuah meja batu besar dikelilingi oleh kursi-kursi batu. Di dinding-dinding, rak-rak kayu menampung gulungan-gulungan kitab, botol-botol kaca berisi cairan aneh, dan benda-benda yang tidak bisa diidentifikasi Arga. Beberapa obor kristal menerangi ruangan dengan cahaya kebiruan yang stabil.

"Ini markas Ordo Pemburu Bayangan," Darmaji membuka tangannya lebar. "Salah satunya. Kami punya beberapa yang tersebar di seluruh benua. Tapi ini yang tertua. Dibangun tiga ratus tahun lalu oleh pendiri ordo."

Arga mengamati sekeliling. Di sudut ruangan, beberapa pemburu lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka—ada yang membersihkan senjata, ada yang membaca kitab, ada yang tampak sedang meracik sesuatu di atas meja kerja. Mereka semua mengenakan jubah hitam yang sama, dan semuanya menatap Arga dengan campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan.

"Mereka tidak terbiasa dengan orang luar," komentar Darmaji. "Tapi mereka akan terbiasa. Kalau kau bertahan."

"Kau yakin aku akan bertahan?"

Darmaji tersenyum. "Aku tidak yakin. Tapi aku penasaran." Ia duduk di salah satu kursi batu di ujung meja besar, memberi isyarat pada Arga untuk duduk di seberangnya. "Sekarang, mari kita bicara serius."

Arga duduk. Kursi batu itu dingin dan keras, tapi ia tidak mengeluh. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut tenang, memberinya ketenangan yang ia butuhkan.

"Pertama," Darmaji memulai, "tentang Baskara dan Lingkaran Naga Hitam. Aku sudah memberitahumu sebagian di perjalanan. Tapi ada yang belum kuceritakan." Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lingkaran Naga Hitam tidak hanya memburu darah-darah istimewa. Mereka juga memburu benda-benda pusaka kuno. Salah satunya adalah sesuatu yang disebut 'Liontin Langit'."

Jantung Arga berdetak lebih cepat, tapi ia menjaga wajahnya tetap datar. Liontin di balik bajunya tiba-tiba terasa sangat berat.

"Mereka percaya bahwa liontin itu adalah kunci untuk membuka gerbang ke Langit Kesepuluh," lanjut Darmaji. "Legenda yang bahkan para Kaisar Abadi anggap sebagai dongeng. Tapi Lingkaran Naga Hitam percaya. Dan mereka sudah mengumpulkan beberapa pecahannya."

"Pecahannya?"

"Ya. Liontin Langit yang asli konon terpecah menjadi tiga bagian ribuan tahun lalu. Satu bagian menghilang. Dua bagian lainnya... entah di mana. Tapi rumor mengatakan bahwa salah satu pecahannya pernah terlihat di tangan seorang wanita dari klan kecil. Klan Sanjaya."

Arga merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Ibuku.

"Aku tidak tahu apakah rumor itu benar," Darmaji melanjutkan. "Tapi Baskara percaya. Itu sebabnya dia mendekati Arman. Dia pikir Arman bisa membantunya menemukan pecahan liontin itu. Atau setidaknya, menemukan orang yang menyembunyikannya."

"Dan kau?" Arga menatap lurus mata Darmaji. "Kenapa kau tertarik pada semua ini? Ordo Pemburu Bayangan tidak terdengar seperti organisasi yang peduli dengan legenda kuno."

Darmaji tersenyum. Senyuman yang kali ini mencapai matanya. "Pertanyaan bagus. Jawabannya sederhana: karena Lingkaran Naga Hitam adalah musuh kami."

Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju salah satu rak di dinding. Tangannya meraih sebuah gulungan kitab tua dan membukanya di atas meja. Di dalamnya, terdapat gambar-gambar—simbol-simbol yang tampak familiar bagi Arga. Simbol-simbol yang pernah ia lihat di dalam kitab warisannya.

"Seratus tahun lalu, Lingkaran Naga Hitam menghancurkan markas utama Ordo Pemburu Bayangan. Mereka membunuh pemimpin kami saat itu, dan mencuri banyak pusaka yang kami jaga." Suara Darmaji berubah dingin. "Sejak saat itu, kami memburu mereka. Bukan untuk balas dendam—itu terlalu emosional. Tapi untuk mencegah mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Apa pun yang mereka cari, itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka."

Arga memandang simbol-simbol di gulungan itu. Formasi Gerbang Langit. Persis seperti yang terbentuk di Dantian-nya saat Benang Perak bertransformasi menjadi Benang Emas.

"Apa hubungannya denganku?" tanyanya.

"Kau memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Entah itu darahmu, liontin yang mungkin kau sembunyikan, atau sesuatu yang lain." Darmaji menutup gulungan itu. "Dan kau cukup kuat untuk bertahan hidup. Itu membuatmu berguna bagi kami. Sekaligus berbahaya."

"Jadi aku adalah umpan."

"Kasar, tapi tepat." Darmaji duduk kembali. "Kau akan menjadi umpan untuk menarik Lingkaran Naga Hitam keluar dari persembunyian mereka. Sebagai gantinya, kau dapat perlindungan Ordoku. Pelatihan. Informasi. Dan saat waktunya tiba, kau bisa membalas dendam pada Baskara dan Arman."

Arga merenungkan tawaran itu. Sebagai Kaisar Langit, ia pernah menggunakan orang lain sebagai umpan. Ia tahu persis bagaimana rasanya berada di posisi ini. Tapi ia juga tahu bahwa dalam dunia kultivasi, aliansi dibangun di atas kepentingan bersama, bukan kepercayaan buta.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi aku punya syarat tambahan."

Darmaji mengangkat alis.

"Aku ingin akses ke semua informasi yang kalian miliki tentang Langit Kesepuluh. Dan tentang Liontin Langit."

Darmaji menatapnya lama. Lalu ia tertawa. "Kau benar-benar berbeda, Arga Sanjaya. Baiklah. Aku setuju. Sekarang..." ia bangkit, "...biarkan aku menunjukkan kamarmu. Perjalananmu masih panjang, dan besok pagi, latihanmu dimulai."

Malam itu, Arga terbaring di kamar kecil yang disediakan untuknya—sebuah ruangan batu sederhana dengan dipan kayu dan meja kecil. Liontin giok di dadanya berdenyut pelan. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut seirama.

Liontin Langit yang terpecah menjadi tiga bagian. Ibuku memiliki salah satunya. Dan sekarang ada di tanganku.

Dua bagian lainnya... di mana mereka berada?

Ia menutup mata. Besok adalah hari pertama dari babak baru dalam hidupnya. Dan ia harus siap.

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!