Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Popok dan Oli
Tiga minggu setelah "insiden" persalinan yang lebih mirip simulasi balap F1 itu, kediaman utama Alfarezel tidak lagi hanya berbau parfum ruangan mahal dan aroma kopi Arabika. Kini, ada tambahan aroma bedak bayi yang bercampur samar dengan bau minyak kayu putih dan—tentu saja, karena ini adalah wilayah kekuasaan Zevanya—bau bensin dari bengkel mini di lantai atas yang terkadang merembes masuk lewat sistem ventilasi.
Zeva duduk di sofa beludru ruang tengah dengan rambut yang dicepol asal-asalan menggunakan pensil kayu. Ia sedang mencoba memasang popok Kenzo dengan kecepatan yang menurutnya harus setara dengan pit stop pergantian ban.
"Aduh, Kenzo! Lu jangan goyang-goyangkan kaki terus dong! Ini bautnya... eh, perekatnya nggak pas nih!" gerutu Zeva. Tangannya yang biasanya lincah memegang kunci pas, kini tampak sedikit gemetar menghadapi bokong bayi yang mungil dan licin.
Kenzo, sang pewaris tahta Alfarezel, hanya menatap ibunya dengan mata bulat hitam yang sangat mirip dengan Adrian, lalu mengeluarkan suara "nguik" kecil sebelum akhirnya... preeet.
Zeva membeku. Ia menatap popok yang baru saja ia pasang dengan ekspresi horor. "Adrian! Bos Robot! Sini cepetan! Mesinnya bocor! Oli kuningnya keluar semua!"
Adrian berlari masuk dari ruang kerja, masih mengenakan jas lengkap karena baru saja selesai melakukan video call dengan investor London. Wajahnya panik, mengira ada keadaan darurat medis. "Ada apa? Apa dia demam?!"
"Lebih parah dari demam! Ini bocor halus, Adrian! Lu liat tuh, merembes sampe ke daster sutra pemberian lu yang harganya selangit ini!" Zeva menunjuk noda kuning di pangkuannya dengan wajah nelangsa.
Adrian menghela napas panjang, pundaknya yang tegang perlahan rileks. Ia mendekat, mengambil alih Kenzo dengan ketenangan seorang CEO yang sedang menangani krisis saham. "Ini namanya buang air besar, Zeva. Bukan kebocoran oli. Sini, biar aku yang urus."
Zeva menonton dengan kagum—sekaligus sedikit iri—saat Adrian dengan sangat sistematis dan bersih mengganti popok Kenzo. "Gila ya, lu rapi banget. Lu dulu pas kecil pernah kerja sampingan jadi suster ya?"
"Aku hanya membaca tiga buku panduan perawatan bayi tadi malam saat kau tertidur sambil memegang obeng," sahut Adrian tanpa menoleh, tangannya dengan cekatan mengoleskan krim anti-ruam.
"Halah, teori terus. Gue tuh lebih ke praktik, Adrian. Cuma ya ini bayinya terlalu soft, gue takut kalau gue tekan dikit malah penyok," bela Zeva sambil menyeka tangannya yang terkena "limbah" Kenzo ke tisu basah.
Kebahagiaan domestik itu terganggu saat Siska muncul di layar interkom ruang tengah. "Pak Adrian, perwakilan dari Consortium Blackwood, Lord Julian, sudah tiba di lobi Menara Alfarezel. Dia memaksa ingin bertemu hari ini untuk membicarakan kontrak eksklusif Merak."
Zeva langsung berdiri, mengabaikan daster sutranya yang bernoda. Matanya berubah tajam. "Lord Julian? Si muka pucat yang katanya mau nyaplok dermaga kita itu?"
"Dia sudah di sini, Zeva. Aku harus pergi," ujar Adrian sambil menyerahkan Kenzo yang sudah bersih kembali ke pelukan Zeva.
"Nggak, Adrian. Dia dateng pas kita lagi momen keluarga begini karena dia pikir kita lagi lemah. Dia pikir lu bakal gampang diteken karena pikiran lu lagi ke bayi," Zeva menyeringai, sebuah seringai yang membuat Adrian tahu istrinya punya rencana "semprul" lainnya. "Siska, bilang sama Lord Julian, kalau dia mau ketemu Adrian, dia harus dateng ke sini. Ke rumah. Bilang kita lagi ada perayaan kecil."
Adrian mengerutkan kening. "Zeva, rumah ini adalah privasi kita. Dan kau... kau masih dalam masa pemulihan."
"Percaya sama gue, Bos Robot. Kita kasih dia kejutan 'hospitality' ala Jembatan Merah. Biar dia tahu kalau Alfarezel itu bukan cuma soal gedung kaca, tapi soal nyali," kata Zeva sambil menepuk pundak Adrian.
Satu jam kemudian, Lord Julian—seorang pria Inggris dengan setelan jas tiga lapis yang sangat kaku dan aroma parfum yang terlalu kuat—masuk ke ruang tamu utama. Ia tampak terkejut melihat suasana rumah yang jauh dari kesan korporat.
Zeva duduk di sofa dengan Kenzo di gendongannya, masih mengenakan daster sutranya (yang sudah diganti, tentu saja) dan jaket kulit yang ia sampirkan di bahu sebagai penutup saat menyusui. Di atas meja marmer, bukan ada sajian fine dining, melainkan sepiring besar gorengan tempe dan tahu isi yang baru saja dibelikan Ujang dari pasar kaget.
"Selamat siang, Lord Julian. Sori ya, rumah lagi agak berantakan. Maklum, mesin baru kami lagi rewel," ujar Zeva sambil menunjuk Kenzo dengan dagunya.
Julian berdehem, mencoba menjaga martabatnya. "Ah, selamat atas kelahiran putra Anda, Nona Zevanya. Tapi kehadiran saya di sini adalah untuk bisnis yang mendesak. Konsorsium kami merasa manajemen Alfarezel di Merak terlalu... konvensional. Kami menawarkan akuisisi 30% saham dermaga dengan nilai yang sangat menguntungkan."
Adrian duduk di seberang Julian, wajahnya kembali dingin. "Manajemen kami stabil, Lord Julian. Dan nilai yang Anda tawarkan itu sebenarnya penghinaan terhadap valuasi kami yang sebenarnya."
"Oh, ayolah, Mr. Alfarezel. Dengan kondisi istri Anda yang... sibuk, dan Anda yang mulai terbagi fokusnya, apakah Anda yakin bisa menjaga efisiensi di Merak?" Julian tersenyum merendahkan, matanya melirik sinis ke arah piring gorengan di meja.
Zeva tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang membuat Julian merasa tidak nyaman. "Lord Julian, lu tau nggak bedanya mesin mobil Inggris sama mesin rakitan anak jalanan Jakarta?"
Julian tampak bingung. "Saya tidak mengerti apa hubungannya—"
"Mesin Inggris itu cantik, mahal, tapi kalau kena banjir dikit langsung mogok karena terlalu banyak sensor. Mesin rakitan gue? Mau kena lumpur, mau kena air laut, tetep menderu karena kita tahu cara 'ngakalin' bautnya," Zeva mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dermaga Merak itu wilayah gue. Gue tahu setiap inci baut di sana. Kalau lu pikir gue 'sibuk' terus lu bisa nyusup, lu salah besar. Gue baru aja ngecek laporan logistik pagi ini sambil ganti popok Kenzo, dan gue nemuin ada tiga kontainer Blackwood yang 'nyasar' tanpa dokumen lengkap di dermaga empat."
Wajah Julian berubah dari pucat menjadi sedikit kemerahan. "Itu... itu pasti kesalahan administrasi."
"Kesalahan administrasi atau percobaan penyelundupan barang tanpa pajak?" sela Adrian, suaranya seperti pisau yang mengiris udara. "Zeva benar. Kami tidak butuh mitra yang mencoba merusak mesin kami dari dalam. Kesepakatan ini batal. Dan saya harap Anda segera mengurus kontainer Anda sebelum otoritas pelabuhan melakukan tindakan tegas."
Tepat saat suasana sedang sangat tegang, Kenzo tiba-tiba menangis dengan suara yang sangat melengking. Bukannya panik, Zeva justru berdiri dan menghampiri Julian.
"Aduh, sori ya Lord Julian. Kenzo kayaknya setuju sama omongan bapaknya. Dia mau ngucapin salam perpisahan nih," ujar Zeva.
Zeva sengaja mengarahkan Kenzo yang sedang menangis (dan secara tidak sengaja mengeluarkan sedikit liur) ke arah jas mahal Lord Julian. Julian yang sangat higienis itu langsung mundur dengan wajah panik, takut terkena noda bayi.
"I-I think we're done here! I will talk to my lawyers!" seru Julian sambil bergegas keluar dari ruangan, hampir tersandung karpet.
Zeva tertawa terbahak-bahak setelah Julian menghilang di balik pintu lobi. "Liat tuh, Adrian! Lord Inggris aja takut sama tangisan bayi! Nyalinya kerupuk banget!"
Adrian hanya bisa menggelengkan kepala, namun ada senyum kemenangan di bibirnya. "Kau benar-benar tidak bisa ditebak, Zeva. Menghancurkan negosiasi milyaran dollar dengan tempe goreng dan liur bayi."
"Itu namanya strategi 'Shock and Owe', Bos. Shock karena ada bayi, Owe karena dia bakal berhutang maaf sama jas mahalnya itu," sahut Zeva sambil kembali duduk dan mencoba menenangkan Kenzo.
Malam itu, setelah Kenzo akhirnya tertidur pulas di boks bayi yang sudah dimodifikasi Zeva dengan lampu-lampu LED kecil bertema bengkel, Zeva dan Adrian duduk di balkon. Angin malam bertiup pelan, membawa ketenangan yang langka.
"Adrian," panggil Zeva.
"Ya?"
"Makasih ya."
Adrian menoleh, sedikit terkejut dengan nada suara Zeva yang mendadak lembut. "Untuk apa?"
"Untuk nggak bener-bener jadiin gue porselen. Makasih udah izinin gue ikut campur urusan Merak tadi, meskipun gue masih bau minyak kayu putih begini," Zeva menatap langit. "Gue sempet takut kalau setelah punya Kenzo, gue cuma bakal jadi 'Ibu' dan kehilangan 'Zeva si Mekanik'."
Adrian memegang tangan Zeva, mengelus bekas luka di punggung tangannya. "Zeva, kau adalah alasan kenapa dinasti ini punya nyawa. Tanpa mekaniknya, Menara Alfarezel ini cuma tumpukan beton yang mati. Aku butuh kau sebagai partner, bukan cuma sebagai pendamping."
Zeva tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. "Tapi lu harus janji satu hal lagi."
"Apa itu?"
"Besok lu yang harus belanja keperluan Kenzo ke pasar. Jangan suruh Siska atau Ujang. Gue mau lu belajar nawar harga baju bayi sama emak-emak di sana. Biar insting bisnis lu makin tajem," Zeva menyeringai nakal.
Adrian tertawa kecil, sebuah suara yang sangat jarang keluar dari tenggorokannya. "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku malah membeli seluruh tokonya karena aku tidak pandai menawar."
"Yah, itu mah namanya bukan belanja, itu akuisisi! Dasar Bos Robot!"
Di tengah tawa mereka, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Adrian. Pesan dari tim intelijen di London.
"Lord Julian sangat marah. Dia melaporkan insiden ini ke dewan pusat Blackwood. Sepertinya mereka akan melakukan serangan yang lebih besar melalui jalur politik di Merak. Hati-hati."
Zeva yang ikut membaca pesan itu hanya mendengus. "Serangan politik? Bilang sama mereka, di Merak itu nggak ada politik. Yang ada cuma siapa yang paling pinter pegang kunci inggris sama siapa yang punya nyali paling gede. Dan kita punya keduanya."
Zeva bangkit dari duduknya, berjalan menuju boks Kenzo yang tampak tenang. Ia tahu, mulai besok, ia tidak hanya akan berperang dengan popok dan jadwal menyusui, tapi juga dengan serigala-serigala global yang lapar. Namun, selama mesin di hatinya masih menderu dan ada Kenzo di pelukannya, Zevanya Sanjaya tidak akan pernah terkalahkan.
"Ayo, Kenzo. Besok kita mulai latihan pegang obeng mainan. Kita kasih tahu mereka gimana cara kerja keluarga Sanjaya-Alfarezel," bisik Zeva sebelum mematikan lampu balkon.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan