Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Patahan Pertama di Lengan Kanan
Pagi datang tanpa matahari. Awan pengawas yang sejak kemarin bergelayut di langit kini semakin tebal, menutupi seluruh cakrawala dengan selimut kelabu. Hutan pinus di sekitar gua tampak muram, warnanya pudar seperti lukisan yang kehilangan tinta. Bahkan burung-burung enggan berkicau.
Xiao Chen duduk bersila di mulut gua. Yue Que tergeletak di sampingnya. Hui berjaga di luar, mata merahnya sesekali melirik ke langit lalu kembali menyapu sekitar.
Udara pagi terasa berat. Bukan karena akan hujan—tapi karena tekanan dari atas. Seolah-olah seluruh atmosfer menekan ke bawah, mencoba meremukkan apa pun yang berada di bawahnya.
"Mereka menunggu," kata Yue Que. "Mereka tahu kau di sekitar sini, tapi mereka tidak bisa melihatmu dengan jelas. Jubah Perang itu bekerja."
Xiao Chen mengangguk. Ia membuka lengan kanan jubahnya, menggulungnya hingga ke bahu. Lengannya yang telanjang tampak biasa saja—sedikit lebih berotot dibanding saat ia masih menjadi pelayan, tapi tetap lengan manusia biasa. Di bawah kulitnya, tulang hasta dan pengumpil menunggu, tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Kau yakin ingin melakukannya sekarang? Di bawah pengawasan mereka?"
"Justru karena mereka mengawasi," jawab Xiao Chen. "Aku ingin mereka melihat bahwa aku tidak takut."
Ia menarik napas dalam. Energi Chaos di tulang dadanya berkumpul, berputar, siap dikirim ke mana pun ia perintahkan. Tulang punggungnya yang sudah dibangkitkan menjadi jembatan, mengalirkan energi itu ke bahu kanan, lalu turun ke lengan.
"Ingat," suara Leluhur Pertama tiba-tiba bergema di benaknya. "Patahan harus presisi. Jangan hancurkan tulangnya—hanya retakkan di titik-titik tertentu. Bayangkan tulangmu seperti bambu. Kau ingin membuat ruas-ruas baru, bukan mematahkannya menjadi dua."
Xiao Chen memejamkan mata. Ia memvisualisasikan tulang lengan bawah kanannya. Tulang hasta yang lebih tebal, tulang pengumpil yang lebih ramping. Dalam bayangannya, ia melihat mereka sebagai dua batang bambu abu-abu.
Perlahan, ia mengirimkan Energi Chaos ke dalam tulang-tulang itu. Bukan untuk mengalir di permukaan seperti biasanya, tapi untuk menekan dari dalam.
Sensasi pertama adalah panas. Seperti ada air mendidih yang mengalir di dalam sumsum.
Lalu datanglah tekanan. Tulangnya terasa seperti akan meledak dari dalam.
Xiao Chen menggigit bibirnya. Tangannya yang kiri mencengkeram lutut. Keringat mulai bermunculan di dahinya.
"Sekarang. Retakkan di tiga titik. Pergelangan tangan, tengah lengan bawah, dekat siku."
Xiao Chen memfokuskan Energi Chaos ke tiga titik itu secara bersamaan. Ini adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan. Memecah konsentrasinya menjadi tiga, masing-masing harus presisi, masing-masing harus dengan kekuatan yang tepat.
Krrrkk...
Suara pertama. Retakan kecil di dekat pergelangan tangan. Sakitnya seperti ditusuk jarum panas.
Krrrrkkk...
Suara kedua. Retakan di tengah lengan bawah. Kali ini sakitnya menjalar hingga ke bahu.
KRRRRRKKKK!
Suara ketiga. Retakan di dekat siku. Xiao Chen hampir berteriak. Tulangnya serasa disobek dari dalam. Tapi ia menahan suaranya. Ia tidak akan memberi kepuasan pada langit di atas sana.
Tiga retakan. Tiga titik. Selesai.
Xiao Chen membuka mata. Napasnya tersengal. Lengan kanannya gemetar hebat, tapi ia masih bisa menggerakkannya. Tidak lumpuh. Tidak patah menjadi dua.
Di bawah kulitnya, ia bisa melihat sesuatu yang baru. Tiga garis samar keemasan—seperti urat baru—terbentuk di sepanjang lengan bawahnya. Itu adalah retakan yang ia ciptakan. Sekarang retakan itu akan menjadi wadah baru bagi Energi Chaos.
"Kau berhasil," kata Yue Que. Ada nada terkejut dalam suaranya. "Biasanya orang gagal pada percobaan pertama."
"Aku tidak punya pilihan untuk gagal," jawab Xiao Chen, masih terengah.
Ia mengangkat lengan kanannya, mengamatinya. Energi Chaos kini mengalir ke sana dengan lebih lancar, lebih deras. Lengan itu terasa lebih ringan, tapi sekaligus lebih padat. Seperti sebatang baja yang ditempa ulang.
"Berapa banyak lagi yang harus kupatahkan untuk Lapis Ketiga?"
"Untuk satu lengan saja? Pergelangan tangan, tiga titik di lengan bawah, dua titik di siku, tiga titik di lengan atas. Total sembilan titik. Kau baru menyelesaikan tiga."
Sembilan titik untuk satu lengan. Delapan belas untuk kedua lengan. Belum termasuk jari-jemari.
Xiao Chen menghela napas panjang. "Aku akan melakukannya bertahap. Satu titik sehari. Mungkin lebih."
"Itu bijak. Tubuhmu butuh waktu untuk beradaptasi dengan setiap retakan. Kalau kau memaksakan semua sekaligus, Energi Chaos akan merobekmu dari dalam."
Xiao Chen mengangguk. Ia melirik ke langit. Awan pengawas masih di sana, berputar pelan. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Kilatan-kilatan di dalamnya kini lebih redup.
"Mereka bingung," kata Yue Que. "Mereka merasakan lonjakan Energi Chaos saat kau mematahkan tulangmu. Tapi sekarang energimu kembali tersembunyi. Mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi."
"Bagus. Biarkan mereka bingung."
Xiao Chen bangkit, meregangkan tubuhnya. Lengan kanannya masih terasa aneh—campuran antara sakit dan kuat. Ia mengambil Yue Que dengan tangan kanannya.
"Coba ayunkan," kata pedang itu.
Xiao Chen mengambil posisi. Kaki direnggangkan. Pinggang berputar. Lengan kanan terangkat, Yue Que di genggamannya. Ia menarik napas dengan tulang dada dan tulang punggung, mengalirkan Energi Chaos ke lengan kanan yang baru saja diretakkan.
Lalu ia mengayun.
SWIIISSSHHH!
Ayunan kali ini berbeda. Lebih cepat. Lebih tajam. Bilah Yue Que yang patah memotong udara dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya—seperti desahan ular yang menyerang.
Tapi tidak ada target. Hanya udara kosong di hadapannya.
Atau begitulah yang ia kira.
DUK!
Sebuah pohon pinus di kejauhan—sekitar dua puluh langkah dari gua—tiba-tiba berguncang. Batangnya yang sebesar pelukan orang dewasa retak di bagian tengah, lalu perlahan-lahan tumbang.
Xiao Chen menatap dengan mata terbelalak. "Aku... bahkan tidak membidiknya."
"Itulah kekuatan Lapis Ketiga," kata Yue Que. "Saat tulang lenganmu mulai bangkit, ayunanmu tidak lagi terbatas pada bilah pedang. Energi Chaos yang kau lepaskan membentuk perpanjangan tak terlihat dari pedangmu. Semakin banyak tulang lengan yang kau bangkitkan, semakin jauh dan semakin kuat ayunanmu."
Xiao Chen menatap lengannya sendiri. Tiga retakan kecil. Dan itu sudah menghasilkan kekuatan sebesar ini.
Bagaimana jika sembilan? Bagaimana jika delapan belas? Bagaimana jika seluruh tubuhnya terbangunkan?
Di langit, awan pengawas tiba-tiba berputar lebih cepat. Kilatan-kilatan di dalamnya menyala lebih terang. Mereka merasakan itu. Mereka merasakan ayunan tadi.
Xiao Chen menatap mereka. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diawasi. Ia merasa sedang menantang.
"Ayo," bisiknya pada langit. "Kirim Bencana pertamamu. Aku siap."
Langit tidak menjawab. Tapi awan itu tetap di sana. Menunggu.
Dan Xiao Chen akan terus bersiap.