NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:82.7k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
setelah tamat, akan dilakukan revisi ulang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan.
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Teman-Teman China

Sejak sebulan terakhir, hidup Olyvia berubah menjadi siklus yang hanya berputar di dalam kamar kerjanya. Ia bangun, mandi seadanya, sarapan yang diantar Bu Sri ke kamar, lalu duduk di depan laptop hingga matahari tenggelam dan terbit lagi. Proyek AI deteksi penyakit paru-paru lewat suara batuk itu ternyata lebih rumit dari perkiraannya.

Modul deep learning yang ia rancang masih belum mencapai akurasi yang ia targetkan. Setiap kali ia menguji dengan data sampel, selalu ada anomali yang muncul. Suara batuk yang terlalu pendek, noise latar belakang yang mengganggu, atau variasi frekuensi yang tidak terduga. Ia harus menulis ulang beberapa bagian kode, menambah lapisan neural network, dan mengumpulkan lebih banyak data.

Gila. Gue pikir bisa selesai dua minggu. Ini udah sebulan, belum juga setengah jalan.

Ponselnya ia letakkan di laci meja, sengaja ia abaikan. Notifikasi dari WhatsApp dan WeChat menumpuk seperti gunung sampah digital. Arjuna masih rajin mengirim pesan dari nomor-nomor baru, meski semua langsung diblokir secara otomatis. Karina dan Sela mengirim puluhan pesan menanyakan kabarnya. Grup WeChat teman-teman Chinanya juga ramai dengan diskusi rencana kunjungan.

Tapi Olyvia tidak membuka satu pun. Ia terlalu fokus. Terlalu terobsesi.

Gue harus selesaiin ini. Ini tiket gue buat lulus lebih cepat. Ini bukti bahwa gue bukan cuma anak beasiswa yang diremehkan.

Bu Sri setiap hari mengantarkan makanan dan kopi ke kamarnya. Wanita itu hanya bisa menggeleng pelan melihat majikannya yang semakin kurus dan kusut. Tapi ia tidak berani menegur. Ia hanya memastikan Olyvia tetap makan dan minum.

Hingga suatu malam, setelah tiga hari berturut-turut begadang tanpa tidur, tubuh Olyvia akhirnya menyerah. Ia tertidur di atas meja kerja, kepala menyandar di lengan, air liur menetes di tumpukan kertas. Ia tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia tahu, saat ia membuka mata, jam di dinding menunjukkan pukul dua siang.

Dua siang? Gue tidur berapa lama?

Ia meraih ponsel dari laci. Layar menyala, dan ia langsung terpaku. Ratusan notifikasi membanjiri layar. Pesan WhatsApp dari Karina dan Sela. Pesan WeChat dari grup teman-teman China. Dan satu pesan yang membuat jantungnya nyaris copot.

Liu Meixiang: Oly! Kita udah di pesawat! Landing di Surabaya jam 4 sore nanti! Lo jemput ya!

Olyvia menatap jam di ponsel. Pukul 14.15.

Jam 4 sore?! Itu artinya dua jam lagi?! GILA!

Ia melompat dari kursi, nyaris tersandung kabel laptop. Tubuhnya terasa lengket oleh keringat selama berhari-hari tidak mandi. Rambutnya kusut dan berminyak. Matanya sembab dengan kantung hitam tebal seperti panda.

Gue gak bisa ketemu mereka kayak gini! Mereka bakal kira gue baru keluar dari penjara!

Ia berlari ke kamar mandi, menyalakan shower, dan membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya yang pegal. Ia keramas dua kali, menggosok tubuhnya dengan sabun sampai berbusa, dan membiarkan air mengalir lebih lama dari biasanya. Setelah merasa cukup bersih, ia keluar dan menatap cermin.

Wajahnya memang masih glowing berkat perawatan rutin, tapi kantung matanya tidak bisa disembunyikan. Ia mengoleskan sedikit concealer, tapi hasilnya tidak banyak membantu.

Ya udah lah. Anggep aja gaya panda. Lagi tren.

Ia memakai kaos biru lengan pendek berbahan katun lembut dan celana panjang hitam. Rambutnya yang masih setengah basah ia ikat tinggi. Ia menatap cermin sekali lagi, menghela napas, lalu menyambar kunci BMW-nya dan berlari keluar.

Bu Sri yang melihatnya terkejut. "Mbak Oly mau kemana? Tumben keluar kamar."

"Jemput teman, Bu. Saya pergi dulu!"

Bandara Internasional Juanda, Surabaya

Olyvia memarkirkan BMW-nya dengan agak sembarangan, lalu berlari ke terminal kedatangan. Ia masih menguap lebar, matanya masih terasa berat. Beberapa orang menoleh melihat perempuan muda dengan kantung mata tebal yang berjalan sambil mengucek mata.

Ia tiba di area penjemputan dan langsung melihat kerumunan kecil di dekat pintu keluar. Bukan kerumunan biasa. Orang-orang berhenti dan menoleh, beberapa bahkan mengambil foto diam-diam.

Di tengah kerumunan itu, berdirilah tujuh orang dengan wajah Tionghoa yang sangat mencolok. Tiga pria dan empat wanita, semuanya tinggi, berkulit bersih, dan berpakaian modis. Mereka berdiri dengan koper-koper mahal, berbicara dalam bahasa Mandarin, dan sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi pusat perhatian.

Liu Meixiang dengan rambut bob pendek dan kacamata hitam bertengger di kepala. Zhao Lihua dengan gaun putih sederhana namun elegan. Sun Xiaowen dengan rok mini dan blus bermotif bunga. Wu Yating dengan setelan kemeja dan celana kain yang anggun. Zhang Wei dengan jaket jeans dan senyum lebar. Wang Junjie dengan kemeja kotak-kotak dan ransel ransel kulit.

Dan Xiao Han.

Pria itu berdiri sedikit terpisah, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku. Rambut hitamnya sedikit tergerai, rahangnya tegas, matanya teduh tapi datar. Ia tidak tersenyum. Ia hanya berdiri dengan satu tangan di saku, menatap lurus ke depan seolah sedang menunggu seseorang.

Olyvia berjalan mendekat, masih menguap. "Meixiang! Lihua! Kalian!"

Tujuh kepala langsung menoleh. Liu Meixiang menjerit histeris dan berlari memeluk Olyvia. "OLYYYY! AKHIRNYA!"

Zhao Lihua, Sun Xiaowen, dan Wu Yating ikut mendekat dan bergantian memeluk Olyvia. Zhang Wei dan Wang Junjie tersenyum lebar dan menepuk bahunya. Hanya Xiao Han yang tetap di tempatnya, menatap Olyvia dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tapi begitu Liu Meixiang melepaskan pelukannya dan menatap wajah Olyvia, ia langsung tertawa terbahak-bahak. "OLY! KAMU KENAPA JADI PANDA?! ITU KANTUNG MATA GEDE BANGET!"

Sun Xiaowen ikut tertawa. "Iya! Kamu gak tidur berapa lama sih?!"

Zhao Lihua menggeleng sambil tersenyum. "Kita udah kangen sama kamu, tapi kamu malah muncul kayak baru keluar dari hutan."

Olyvia ikut tertawa, meski sedikit malu. "Maafin aku. Aku begadang sebulan penuh ngerjain proyek. Tadi aja aku ketiduran gak sengaja. Untung kebangun sebelum kalian mendarat."

Zhang Wei menyeringai. "Pantesan lo gak bales chat kita. Kita pikir lo diculik alien."

Wang Junjie menambahkan, "Atau diculik mantan lo."

Semua tertawa, kecuali Xiao Han yang hanya tersenyum tipis. Olyvia meliriknya sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.

"Udah, ayo kita pulang. Kalian pasti capek. Nanti kita ngobrol di rumah."

saat di rumah olyv, dia membuka pintu BMW biru midnight-nya. Keempat teman perempuannya langsung berseru kagum.

"WOY! MOBIL LO?" teriak Liu Meixiang.

Olyvia mengangguk malu. "Iya. Aku beli sebulan lalu."

Sun Xiaowen mengelus bodi mobil. "Gila. Lo sekarang tajir ya, Oly?"

Zhao Lihua menatap Olyvia dengan tatapan penuh arti. "Kayaknya ada banyak yang berubah dari hidup lo. Nanti lo cerita."

Mereka berempat masuk ke dalam mobil Olyvia. Zhang Wei, Wang Junjie, dan Xiao Han memesan taksi online untuk mengikuti dari belakang karena mobil Olyvia hanya muat lima orang.

Sepanjang perjalanan, keempat gadis itu tidak berhenti berceloteh. Mereka menunjuk-nunjuk pemandangan kota Surabaya, bertanya tentang ini dan itu, dan terus menggoda Olyvia soal kantung matanya.

"Serius, Oly. Lo harus tidur yang cukup. Ntar kalo lo sakit, kita gak ada yang urusin." kata Wu Yating lembut.

Olyvia tersenyum. "Iya, Bu. Nanti aku tidur."

Mobil akhirnya memasuki gerbang Royal Garden Estate. Keempat gadis itu langsung terdiam. Mata mereka membelalak melihat rumah-rumah mewah berjejer di kiri kanan jalan.

"Oly... lo tinggal di sini?" tanya Liu Meixiang dengan suara bergetar.

Olyvia mengangguk. "Iya. Di ujung sana."

BMW berhenti di depan istana Olyvia. Gerbang besi tinggi dengan logo kerajaan terbuka otomatis. Mobil masuk dan berhenti di depan pintu utama. Keempat gadis itu turun dengan mulut ternganga.

"ASTAGA! INI RUMAH LO?!" teriak Liu Meixiang histeris.

Sun Xiaowen memegang lengan Olyvia. "Oly, lo beneran tinggal di sini? Sendirian?!"

Zhao Lihua hanya bisa menggeleng tak percaya. Wu Yating berjalan pelan menyentuh pilar marmer di teras.

Tak lama, taksi yang ditumpangi Zhang Wei, Wang Junjie, dan Xiao Han tiba. Mereka bertiga turun dan langsung membeku di tempat.

"Gila." hanya itu yang keluar dari mulut Zhang Wei.

Wang Junjie mendorong kacamatanya. "Oly... lo... ini rumah lo?"

Olyvia mengangguk canggung. "Iya. Aku beli dua bulan lalu. Yuk, masuk."

Mereka masuk ke dalam. Ruang tamu luas dengan lampu kristal raksasa dan lantai marmer menyambut mereka. Bu Sri, Bu Ratih, dan Bu Dewi sudah menunggu dengan senyum ramah.

"Selamat datang, Mbak, Mas," sapa Bu Sri dalam bahasa Inggris yang lumayan lancar.

Liu Meixiang langsung membalas dengan bahasa Inggris. "Halo! Saya Liu. Temannya Oly."

Bu Sri mengangguk. "Saya Sri, kepala rumah tangga di sini. Silakan, saya antar ke kamar masing-masing."

Mereka semua dibawa ke lantai dua, di mana enam kamar tidur utama berjejer. Setiap kamar memiliki kamar mandi dalam, walk-in closet, dan balkon pribadi. Keenam teman Olyvia memilih kamar masing-masing dengan mata masih berbinar tak percaya.

Tinggal Xiao Han yang belum mendapat kamar. Olyvia mengantarnya ke kamar terakhir di ujung lorong.

"Ini kamarnya. Maaf ya, agak kecil dibanding yang lain."

Xiao Han menatap kamar yang "kecil" itu, yang sebenarnya seukuran apartemen studio Olyvia dulu namun cukup mewah. Ia tersenyum tipis. "Ini sudah sangat bagus, Olyvia. Terima kasih."

Olyvia mengangguk dan hendak berbalik pergi. Tapi tiba-tiba ia merasakan sentuhan hangat di pergelangan tangannya.

Xiao Han menahan tangannya.

Olyvia terpaku. Ia menoleh dan menatap Xiao Han. Pria itu menatapnya dengan mata teduhnya, tanpa senyum, tanpa kata-kata. Suasana hening sejenak. Hanya suara detak jam dinding dari dalam kamar yang terdengar.

Lalu Xiao Han melepaskan pegangannya perlahan. Ia membungkuk dan mengambil sesuatu dari dalam kopernya. Sebuah tote bag berwarna coklat.

"Ini," katanya pelan, dalam bahasa Mandarin. "Untukmu."

Olyvia menerima tote bag itu dengan bingung. "Apa ini?"

"Buka saja."

Olyvia membuka tote bag itu. Di dalamnya ada sebuah kotak kue transparan berisi cake strawberry dengan krim putih tebal. Di sampingnya, ada beberapa camilan lain: strawberry mochi, strawberry pocky, dan sekotak susu strawberry.

Olyvia terdiam. Matanya menatap isi tote bag itu lama sekali. Cake strawberry. Semua rasa strawberry. Kesukaan gue.

Bahkan Arjuna, yang dulu mengaku mencintainya selama dua tahun, tidak pernah ingat bahwa Olyvia tergila-gila pada strawberry. Setiap kali ditanya mau kado apa, Arjuna selalu memberikan cokelat atau bunga, lalu bilang "Semua cewek suka cokelat kan?" Olyvia selalu tersenyum dan menerima, meski di dalam hatinya kecewa.

Tapi Xiao Han... pria yang hanya ia kenal selama enam bulan di Shanghai, yang jarang bicara dan lebih sering mengamati dari kejauhan... ia ingat.

Olyvia mendongak dan menatap Xiao Han. Pria itu masih berdiri dengan wajah datar, tapi ada rona tipis di telinganya yang sulit disembunyikan.

"Kamu... ingat aku suka strawberry?" tanya Olyvia pelan.

Xiao Han mengangguk singkat. "Aku ingat semua tentangmu, Olyvia."

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa gombal, tanpa senyum memikat. Hanya sebuah fakta yang disampaikan dengan nada datar. Tapi justru karena itu, Olyvia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Jantung gue... kenapa berdebar?

Tapi ia segera menepisnya. Oly, ingat. Lo udah mati rasa. Lo gak boleh baper lagi. Lo fokus sama diri lo sendiri dulu.

Ia tersenyum sopan, senyum yang ia latih untuk tidak menunjukkan emosi apa pun. "Terima kasih, Xiao Han. Aku sangat menghargainya."

Xiao Han mengangguk. "Sama-sama. Selamat beristirahat. Kamu terlihat lelah."

Olyvia berbalik dan berjalan pergi, tote bag di tangannya terasa ringan tapi entah kenapa sangat berarti. Ia tidak menoleh ke belakang. Tapi ia tahu, Xiao Han masih berdiri di ambang pintu, menatapnya sampai ia menghilang di ujung lorong.

Malam Hari - Kamar Olyvia

Olyvia duduk di tepi kasurnya, menatap kotak cake strawberry di pangkuannya. Ia membuka tutupnya perlahan, mengambil sendok kecil yang disertakan, dan menyendok sedikit krim putihnya.

Rasanya manis, lembut, dengan sedikit asam segar dari strawberry. Persis seperti yang ia suka.

Dia ingat dan setelah enam bulan, dia masih ingat kesukaan gue.

Ponselnya bergetar. Pesan WeChat dari Xiao Han.

Xiao Han: Cakenya enak?

Olyvia tersenyum tipis dan membalas.

Olyvia: Enak. Terima kasih.

Xiao Han: Bagus. Kalau kamu suka, aku bisa belikan lagi. Tapi mungkin kamu harus tunjukkan di mana tokonya. Aku tidak tahu Surabaya.

Olyvia nyaris tertawa. Dia ngajak jalan. Tapi dengan cara yang halus banget.

Olyvia: Nanti aku antar. Sekarang istirahat dulu. Kamu pasti capek.

Xiao Han: Kamu juga. Jangan begadang lagi. Kantung matamu sudah seperti panda.

Olyvia menyentuh kantung matanya sendiri dan menggerutu pelan. Tapi senyum di bibirnya tidak bisa ia hilangkan.

Oly, ingat. Lo gak boleh jatuh cinta lagi, cintai diri Lo sendiri dulu sebelum pria lain.

Tapi saat ia menutup mata malam itu, bayangan Xiao Han dengan tote bag coklat di tangannya terus muncul di pikirannya.

1
irena
lanjut thor.. dikit amat
cloudia: maaf ya, otak author lagi gak sinkron banget. otak sama fisik gak sejalan, ntar jalan ceritanya jadi sad ending yeah gak seru dong😔
total 1 replies
irena
emaknya harus diikutin dong thor kasian.. klo pun ga ikut, ga lama juga kali bapaknya di Beijing.. klo bisa sebulan aja gitu. kasian sama si ibunya
aku
napa emaknya gk ikut? gilang kan laki. bs lah jaga diri cm setahun. yg rawan malah klo si bpk sendiri kesana. aplg ahk ganjil pas gmg in mama mei. haiss nethink aq tor. jgn smpe ada masa lalu blm kelar antara mreka ya. kesian ibuk nya 🙄
Noey Aprilia
Mau bwa istrinya,tp ksian ank2 ga ada yg jgain....tp kl ga d bwa jg bkln glau krna msti pisah lma.....
reader ikutn galau....😁😁😁
sasa adzka
kenapa harus pisah setahun kak itu bp sama emak nya oliv.. kan kasihan juga itu ibu nya.. jangan sampai pisah loh kak.. perjuangan banget itu bp nya...
semangat up trus😍😍😍
sukensri hardiati
Rp kan singkatan dari rupiah....jadi Rp 1,- = 1 rupiah = 100 sen...jadi
setahuku Rp 500,- = 500 rupiah ..bukan 500 sen
klo 500 sen ya = Rp 5,-....
gitu nggak sih thor?
cloudia: iya, berarti kalau 10.000 jadi 50.000. kadang author malas ngehitung jadi asal aja, pas tamat baru di revisi ulang supaya lebih enak dibaca😍
total 1 replies
sukensri hardiati
bapak beliin sawah...biar nggak jadi buruh disawah orang
Marsya
waw,olyvia gercep bgt👍👍👍👍
irena
lanjut thor
memayu
menurut sih ya, renovasi rumah ortu dulu biar nyaman di tinggali baru deh dibeliin mobil, tapi langsung dua duanya juga bisaa
terus si bapak bisa tuh berhenti garap sawah, bisa jadi ojek mobil kaya orang kaya gabut tapi nge grab gitu, toh ga terlalu capek karna memang cuma nyetir, itupun bisa ambil orderan sesuka hati, yaa istilahnya biar si bapak ada kerjaan aja kalau ga betah nganggur, si ibu juga boleh jualan kalau ga betah nganggur tapi kasih karyawan dan bikinin toko yang lebih gede, nanti di ibu nya jadi kasir aja tapi ya sesuka hati jadi kalau lagi capek bisa di gantiin orang si karyawan
Noey Aprilia
Elaaahhhh....
pdhl kn olyvia cma pgn sntai sjenak,jd orng biasa gt yg bebas....ni mlah ktmu sm s pecundang.....🙄🙄🙄.....
ingt y jun... skp songongmu itu,bkln d beli sm oly d msa dpn....sklian sm prshaan yg d bnggakn...
Diah Susanti
berarti ada 2 universitas dong, kan di bab sebelumnya ada universitas dirgantara biru
cloudia: awalnya memang mau Mahardika, tapi dipikir-pikir itu kampus nya ada jadi di ganti dirgantara biru. kayaknya saya lupa ganti di note saya, jadi masih ada beberapa yang mungkin Mahardika, terimakasih atas koreksinya.
total 1 replies
Noey Aprilia
Coba ksih 1 aja kk ky olyvia......dia mlkukan apa aja dmi bkin kluarganya bhgia....tntunya pke uang dia yg ga bkln hbis 7 trunan,7 tnjakan.....😁😁😁
Kirina
cuma mau kasih saran sih kak, tentang kalau olivia sedang dalam urusan bisnis tolong pakai bahasa formal aja kak jangan pakai bahasa gaul, itu kesan nya agak gimana gituh😄
cloudia: okay terimakasih masukan nya, saya usahakan uptade selanjutnya akan diperbaiki 😍
total 1 replies
Ain Safira
tu bukan sahabat klu malar traktir🤭
Noey Aprilia
Wooowww.....
dr gdis lmah,skrng bs mmecat skian orng dlm wktu sngkat....tp kl holang kya mh bebas lh,pnya kuasa jg....lgian,mreka emng pnts d tendang.....abs ni siap2 buat rnovasi kntor besar2an.....smnggttt olyvia.....
Cty Badria
up nya jgn lm2 thor💪💪💪💪
irena
banyak banyakin update nya thor.. greget klo cuma satu bab sehari
irena
bereskan dulu Arjuna.. terus balik ke Beijing bersama bapak ibu dan yg lain.. kasian kakeknya mumpung masih hidup harus dipertemukan dulu
RaMna Hanyonggun Isj
Kasih banyak Update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!