Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen Kematian
Hutan kembali diselimuti keheningan yang mencekam setelah mayat Zhao Meng ambruk ke tanah berlumpur. Chu Chen berdiri terengah-engah, tubuhnya memancarkan uap tipis akibat peningkatan suhu yang tajam setelah menelan esensi kehidupan seorang ahli Lapis Ketujuh Penempaan Raga.
"Kekuatan Lapis Kelima... tubuhku terasa seperti tungku yang menyala," gumam Chu Chen pelan. Ia merentangkan jari-jarinya, merasakan otot-ototnya yang kini sekeras akar pohon purba.
Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan. Hawa dingin dari naluri bertahannya memperingatkan bahwa bahaya yang jauh lebih besar sedang mendekat. Penatua Sekte Serigala Darah pasti memiliki cara untuk mengetahui kematian regu elitnya.
Dengan gerakan cepat dan tangkas bak algojo berpengalaman, Chu Chen berlutut di samping mayat kering Zhao Meng. Ia merogoh ke balik jubah merah darah yang sudah kebesaran itu. Di dunia kultivasi, kekayaan adalah nyawa kedua. Zhao Meng sebagai pemimpin regu pasti membawa sesuatu yang berharga.
Tangan Chu Chen menyentuh sebuah kantong kecil berbahan kulit binatang buas di pinggang mayat itu. Permukaannya dihiasi ukiran formasi pelindung sederhana.
"Kantong Penyimpanan tingkat rendah," mata Chu Chen sedikit berbinar. Benda seperti ini adalah barang mewah yang tak pernah bisa disentuh oleh penduduk Desa Daun Kering seumur hidup mereka. Karena pemiliknya sudah mati, segel spiritual pada kantong itu telah memudar.
Chu Chen memusatkan sedikit kekuatan pikirannya yang tajam berkat Niat Spiritual naga, dan menembus ke dalam kantong tersebut. Ruang di dalamnya hanya sebesar sebuah peti kecil, tetapi isinya membuat jantung Chu Chen berdetak lebih cepat.
Di dalam sana, tergeletak tiga bongkah batu bercahaya redup yang memancarkan energi alam murni—Batu Roh Tingkat Bawah. Selain itu, terdapat sebuah botol giok kecil berisi dua butir pil berwarna hijau pucat, dan sebuah gulungan peta kulit domba.
Chu Chen mengeluarkan botol giok itu, membuka tutupnya, dan mengendus aromanya. Bau herba yang kuat langsung menyegarkan pikirannya.
"Pil Pengumpul Qi," Chu Chen mengenali benda itu dari cerita-cerita yang sering ia dengar. Pil ini digunakan oleh kultivator Penempaan Raga tingkat akhir untuk mengompres energi dan bersiap menembus Alam Lautan Qi.
Tanpa ragu sedetik pun, Chu Chen menenggak satu butir pil tersebut.
Pil itu meleleh di mulutnya, berubah menjadi aliran energi yang hangat dan murni, mengalir deras ke Dantiannya. Namun, tepat ketika energi itu masuk, Seni Kaisar Naga Penelan Semesta berputar dengan sendirinya.
Zzztt!
Dalam sekejap mata, energi murni dari Pil Pengumpul Qi itu ditelan habis oleh Dantian Chu Chen yang bagaikan jurang tak berdasar. Tidak ada sedikit pun Qi yang tersisa untuk dikumpulkan menjadi lautan. Energi itu langsung disebarkan ke seluruh meridian, memperkuat fondasi fisiknya di Lapis Kelima menjadi sekeras baja tempa, namun Dantiannya tetap kosong melompong.
"Sialan..." Chu Chen mengumpat pelan. "Tubuh fisikku kini sangat kuat, tapi Dantian naga ini benar-benar jurang kelaparan. Satu Pil Pengumpul Qi yang bisa membuat kultivator biasa memadatkan Qi, bagiku hanya seperti setetes air di padang pasir. Aku butuh energi puluhan, bahkan ratusan kali lipat dari ini untuk bisa menembus Alam Lautan Qi!"
Tiba-tiba, suara ledakan guntur yang memekakkan telinga terdengar dari udara di atas hutan sebelah selatan.
BUMMM!
Tekanan spiritual yang mengerikan turun dari langit bagaikan gunung tak kasat mata yang dijatuhkan ke bumi. Burung-burung di kejauhan terbang berhamburan secara panik. Kabut pagi di sekitar Chu Chen tersapu bersih oleh hembusan angin yang sangat keras.
"Zhao Meng! Siapa yang berani membunuh anjing-anjingku?!"
Raungan Penatua Sekte Serigala Darah bergema ke segala penjuru, dipenuhi oleh kemarahan dan Niat Membunuh yang pekat. Gejolak energinya membuat daun-daun di sekitar Chu Chen bergetar dan berguguran.
Chu Chen menengadah. Melalui celah dedaunan, ia bisa melihat sosok Penatua itu sedang melesat turun dari langit, membelah udara dengan jubah merahnya yang berkibar ganas. Arah jatuhnya tepat menuju lokasi mayat Zhao Meng, di mana gejolak kematian baru saja terjadi.
"Dia datang... Alam Lautan Qi." Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipis Chu Chen. Ia bisa bertarung melampaui tingkat kemampuannya melawan Zhao Meng, tetapi Lautan Qi adalah alam yang benar-benar berbeda. Mereka bisa memanipulasi energi di luar tubuh. Satu serangan jarak jauh dari Penatua itu bisa meremukkan tulang-tulang naga Chu Chen yang baru terbentuk.
"Aku tidak bisa melawannya. Belum saatnya."
Akal sehat Chu Chen segera menekan keinginan balas dendamnya yang mendidih. Ia mengambil peta kulit domba, memasukkan Kantong Penyimpanan ke balik bajunya, dan melompat ke arah rawa-rawa lebat di sebelah utara.
Itu adalah area yang lebih gelap, tempat di mana pohon-pohon berakar gantung tumbuh sangat rapat hingga cahaya matahari pun tak bisa menyentuh tanahnya. Udara di sana berbau gas rawa beracun dan daging membusuk. Menurut legenda para pemburu, ini adalah batas menuju wilayah kekuasaan Binatang Buas Tingkat 2.
Chu Chen berlari secepat bayangan, kakinya tidak menyentuh tanah melainkan memijak akar-akar gantung besar agar tidak meninggalkan jejak kaki di lumpur.
Hanya sepuluh tarikan napas setelah Chu Chen menghilang di balik kegelapan rawa, sosok Penatua Sekte mendarat dengan dentuman keras di tempat Chu Chen berdiri sebelumnya. Tanah bergetar, dan kawah dangkal terbentuk di bawah kakinya.
Mata pria berbekas luka itu memerah saat melihat mayat kering Zhao Meng, dan pedang patah yang tergeletak di tanah.
"Dihisap hingga kering... Teknik iblis ini lagi!" urat-urat di dahi Penatua itu menonjol keluar. Ia berbalik, memancarkan Niat Spiritualnya ke sekeliling untuk melacak gejolak energi.
Meskipun Chu Chen telah mencoba menutupi jejaknya, kecepatan pelariannya yang tergesa-gesa meninggalkan sedikit riak energi fisik di udara.
"Ketemu kau, tikus kecil! Jangan harap kau bisa melarikan diri dariku!"
Penatua itu menginjak tanah dengan kekuatan ledakan Qi, melesat maju menembus hutan bagaikan meriam, menghancurkan pohon-pohon kecil yang menghalangi jalannya. Kecepatannya dua kali lipat lebih cepat dari pelarian Chu Chen.
Di depan, Chu Chen merasakan hawa kematian semakin mendekat dari belakangnya. "Sial! Kecepatannya tidak masuk akal!"
Saat ia menembus barisan pohon raksasa terakhir, Chu Chen tiba di tepi sebuah danau rawa yang sangat luas. Airnya berwarna ungu pekat dan bergelembung, memancarkan miasma beracun yang tebal. Bau kematian di tempat ini sangat menyengat hingga membuat paru-paru terasa terbakar.
Sreggg... Sreggg...
Suara gesekan sisik raksasa melawan lumpur basah terdengar dari pulau kecil di tengah danau rawa tersebut.
Mata Chu Chen memipih. Melalui kabut beracun, ia bisa melihat samar-samar bentuk tubuh raksasa sebesar batang pohon purba melingkar di sana. Sisiknya berwarna hijau zamrud berlendir, dan sepasang mata kuning reptil sebesar lentera terbuka, memancarkan aura buas yang tidak kalah mengerikan dari Penatua Sekte Serigala Darah.
"Sanca Rawa Berbisa... Binatang Buas Tingkat 2," Chu Chen mengenali makhluk itu dari deskripsi gulungan usang di desanya dulu. Setara dengan kultivator Alam Lautan Qi, makhluk ini sangat menjaga wilayahnya dan sangat ganas.
Sebuah ide gila, kejam, dan sangat berbahaya melintas di benak Chu Chen.
Di belakangnya, suara pepohonan tumbang semakin dekat. Sang Penatua hanya berjarak kurang dari seratus meter.
Chu Chen mengambil pedang baja milik Liu yang sedari tadi ia ikat di pinggang. Ia menyalurkan tenaga fisik Lapis Kelimanya yang gila-gilaan ke lengan kanannya, membidik tepat ke arah pulau kecil di tengah danau, lalu melemparkan pedang itu dengan kekuatan penuh!
WUUUSH!
Pedang baja itu melesat membelah udara seperti anak panah raksasa, menghantam tepat pada sisik Sanca Rawa Berbisa dengan suara KLENTANG yang keras. Meskipun tidak mampu menembus sisiknya, benturan itu sukses membangunkan kemarahan sang penguasa rawa.
HISSSSSSS!!!
Ular raksasa itu mendesis marah, mengangkat kepalanya belasan meter ke udara. Mata kuningnya langsung terkunci pada arah datangnya pedang tersebut.
Tepat pada saat yang sama, Chu Chen memejamkan mata, menekan detak jantung dan pernapasan naga-nya hingga ke titik terendah seolah ia adalah sebongkah batu mati, lalu membiarkan tubuhnya tenggelam sepenuhnya ke dalam lumpur busuk di tepi danau, bersembunyi di balik akar raksasa.
Sedetik kemudian, Penatua Sekte Serigala Darah menembus barisan pepohonan dengan raungan penuh Niat Membunuh. "Mati kau, cacing--!"
Kata-katanya terputus. Alih-alih menemukan remaja fana yang sekarat, sang Penatua justru langsung berhadapan dengan kepala raksasa Sanca Rawa Berbisa yang sedang murka.
Binatang buas yang memiliki insting penjaga batas kekuasaan itu melihat sosok manusia berjubah merah yang memancarkan aura ancaman (Lautan Qi) masuk ke dalam wilayahnya tepat setelah ia diserang. Di mata sang ular, pria inilah yang melempar pedang tadi!
WUUUSH! Ular raksasa itu membuka rahangnya dan memuntahkan pilar racun korosif berwarna ungu pekat langsung ke wajah sang Penatua.
"Berengsek! Binatang bodoh!" Penatua itu terkejut, terpaksa menghentikan pengejarannya dan menarik pedang spiritualnya. Ia menebas ke depan, menciptakan tirai pedang Qi berwarna merah darah untuk membelah muntahan racun tersebut.
SYAAAAASH! Racun dan Qi pedang bertabrakan, menciptakan ledakan uap beracun yang menghancurkan pepohonan di sekitar danau. Sanca Rawa Berbisa mendesis marah, melesat membelah danau, dan menggunakan ekor raksasanya bagaikan cambuk baja untuk menyapu posisi Penatua.
Pertarungan hidup dan mati antara dua sosok Alam Lautan Qi meledak seketika. Ledakan energi, kilatan pedang, dan desisan monster membuat hutan itu berubah menjadi medan perang neraka.
Dari balik lumpur busuk, hanya mata emas vertikal Chu Chen yang terlihat menyelinap ke permukaan, mengamati benturan kekuatan penghancur itu dengan dingin.
Kekuatan ini... inilah kekuatan yang sesungguhnya, Chu Chen mengukir pemandangan itu dalam otaknya. Ia tidak berniat tinggal untuk melihat siapa pemenangnya. Jika sang Penatua menang, ia pasti akan kembali mencari Chu Chen.
Memanfaatkan kekacauan ledakan energi yang menutupi jejak pergerakannya, Chu Chen merangkak keluar dari lumpur dalam diam, membalikkan badannya, dan menyusup lebih jauh, semakin dalam ke jantung kegelapan Pegunungan Sepuluh Ribu Buas.
"Bermain-mainlah di sana, anjing tua," batin Chu Chen dengan senyum kejam. "Lain kali kita bertemu, aku akan meminum seluruh Lautan Qi dari Dantianmu."