NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Undangan itu datang mepet, seperti peluru yang ditembakkan tanpa aba-aba. Kurir bersetelan hitam memberikan undangan itu ketika Thalia di kampus, menyerahkan kotak tipis berlapis pita emas. Thalia mengernyit, merobek segel, lalu mengeluarkan kartu tebal beraroma parfum mawar. Tulisan timbulnya berkilau:

"Pernikahan Nadine Anderson & Abraham Jackson"

Tempat: Ballroom Hotel Maverick

Catatan: Upacara pemberkatan & resepsi.

Dahi Thalia berkerut. Nama itu-Abraham Jackson-membanting logika seperti kaca. Istri ketiga? Ia membaca ulang detail kecil di lembar terpisah: "Abraham Jackson akan resmi menempatkan Nona Nadine sebagai istri ketiga."

"Tidak mungkin..." napas Thalia tercekat. "Di alur novel... ini tidak ada."

Kepalanya berputar. Dalam kehidupan pertamanya, dari Novel yang ia baca, alur keluarga Anderson tidak pernah menyentuh pria paruh baya setenar dan sebermasalah itu. Garis peristiwa yang pernah ia kenal kini bergerak ke arah lain-liar, tak terduga, seperti benang cerita yang ditarik tangan asing. Alur novel makin berantakan. Ia menutup mata sejenak, merapikan degup.

Ponselnya bergetar: pesan dari Zea.

Zea: Aku lihat rumor di forum. Undanganmu sudah sampai?

Thalia: Baru saja. Dan ya-itu benar.

Zea: Gila. Ini akan jadi heboh. Kau datang?

Thalia: Aku harus. Kalau tidak, aku bisa melewatkan keseruan. Temani aku, ya?

Zea: Tentu. Kita duduk, nonton, pulang. Jangan terlibat.

Thalia tersenyum tipis. Thalia: Deal.

Keesokan harinya, Ballroom Hotel Maverick

berubah menjadi panggung glamor yang memaksa siapa pun menelan sorot lampu. Rangkaian bunga peony dan anggrek menuruni tangga marmer seperti air terjun putih. Karpet merah membentang dari foyer hingga pelaminan, sementara logo huruf

M-emblem Maverick-menggantung di

langit-langit kristal.

Wartawan menumpuk di sisi kiri kanan, kamera siap menembak. Beberapa tamu berbisik dalam nada yang sengaja tidak dikecilkan.

"Tuan Abraham itu bukankah sudah punya dua istri?"

"Katanya demikian. Dan sekarang gadis muda..."

"Demi apa pun, keluarga Anderson nekat."

Thalia tiba tepat sebelum upacara. Gaunnya sopan, berwarna lilac lembut dengan motif bunga halus-tidak berlebihan, tetapi cukup membuat kepala menoleh karena kesan bersih dan elegan. Rambutnya disanggul rendah, menyisakan beberapa helaian poni yang melembutkan garis wajah. Di sampingnya, Zea-dengan gaun biru pucat dan kacamata tipis-menjulurkan lengan, menggandeng Thalia seolah mereka berjalan di karpet runway.

"Tarik napas" bisik Zea geli. "Kau cantik sekali. Kalau ini sinetron, kamera sudah zoom tiga kali."

"Jangan panggil aku begitu," Thalia mendelik, tapi bibirnya tidak sanggup menahan lengkung kecil. "Ingat, kita hanya datang, duduk, pulang."

Mereka melewati kerumunan tamu. Beberapa lensa kamera sudah mengarah; beberapa mulut sempat berbisik, "Itu saudari tirinya, kan?" "Thalia Anderson?" "Cantik sekali... lebih cantik dari yang aku lihat di TV." Zea menghela napas dramatis.

"Aku bisa mendengar dengki dari jarak lima meter," gumamnya.

Musik mengalun, memulai prosesi. Nadine memasuki ruangan dengan gaun putih berkilau, kerudung tipis transparat penutup wajah menjuntai. Semua unsur mewah hadir: payet, renda, mahkota kecil. Namun wajahnya... tersenyum, ya, tetapi seperti senyum yang ditarik paksa oleh benang tak terlihat. Mata itu-mata yang dulu berkali-kali merendahkan Thalia-kini menyimpan gugusan awan kelabu.

Ini bukan hidup yang kuinginkan. Tatapan itu berbicara tanpa suara. Ini bukan panggung yang kuimpikan.

Di pelaminan, Abraham berdiri tegap, setelan malam berpotongan klasik, jam antik berkilau di pergelangan. Usianya terlihat jelas dari garis halus di sudut mata, tetapi yang lebih jelas adalah tatapan puas: tatapan pria yang yakin dunia bisa dibeli, lalu diatur sesuai seleranya.

Upacara dimulai. Kata-kata pemberkatan melayang; tepuk tangan jatuh pada momen-momen wajib. Nadine mencium tangan Abraham, kamera berkilat, tamu bersorak tipis. Thalia, yang duduk di barisan tengah, merasakan gerak kecil di sampingnya. Zea mencondongkan tubuh.

"Ini rasanya seperti menonton sandiwara mahal," bisik Zea, lirih. "Cantik di luarnya, getir di lidahnya."

Thalia tidak menjawab. Hatinya sepi. Ada sedikit iba yang tak hendak ia akui, bercampur kenangan lama akan ejekan, dorongan, dan suara tawa Nadine yang dulu menjadi hujan batu. Kau yang memilih jalur itu, Nadine, pikirnya, tenang. Aku tidak perlu menyentuhmu agar kau terjatuh.

Selesai upacara, musik berubah riang. Tamu mulai bergerak, menyalami. MC mempersilakan keluarga inti naik terlebih dahulu, lalu undangan lain menyusul. Thalia dan Zea menunggu, tidak tergesa. Tetapi bisik-bisik kian tebal saat keduanya berdiri dari kursi.

"Dia cantik sekali. Foto, foto!"

"Saudari tiri apa mereka baik-baik saja?"

"Aku dengar mereka tidak akur."

"Thalia cantik sekali. aku menonton di acara menyanyi itu kemarin."

Zea membetulkan kacamata, menahan mulutnya agar tidak melempar komentar pedas pada satu dua tamu yang menatap baju Thalia dari atas ke bawah. "Ayo," ajaknya lembut.

Mereka melangkah ke panggung. Nahasnya, begitu Thalia berada dalam jarak tiga langkah, kepala Abraham terangkat. Dan tatapan itu, mata laki-laki yang terbiasa memilih-menangkap Thalia seperti magnet menangkap serpih besi.

Abraham tidak berkedip. Ada jeda sepersekian detik yang memanjang. Kamera yang bertugas memotret tamu pun otomatis memutar lensa ke arah baru. Zea mendesah pelan.

Nadine menyadari perpindahan radar perhatian tamu. Kulit wajahnya mengencang. Bibir yang sedari tadi tersenyum palsu sesaat kehilangan teknik. Matanya mengikuti garis pandang Abraham -dan menemui Thalia yang melangkah anggun, tenang, tanpa upaya merebut panggung.

Perempuan sialan. Dada Nadine berdebar ganjil. Bahkan di hari pernikahanku, kau mencuri udara yang harusnya milikku. Ia menarik napas panjang, memaksa senyum kembali ke tempatnya. Baik. Ambil panggungnya sebentar. Nanti giliranmu kutarik karpetnya.

Thalia berhenti dengan jarak yang sopan. Ia menunduk kecil, suara bening namun terkendali. "Selamat atas pernikahannya, Tuan Abraham, Nadine. Semoga langgeng dan saling membahagiakan."

Kata-kata yang benar, netral, tidak memancing. Nadine mengangkat dagu, memasang wajah saudari yang manis di depan publik.

"Terima kasih, Thalia," ucapnya, cukup keras agar terdengar beberapa baris. "Senang kau datang."

Zea, yang berdiri setengah langkah di belakang, menangkap betapa kata senang itu dingin seperti sendok logam di lidah.

Abraham mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah hadir," katanya, senyum terlatih. Jemarinya hangat, tekanan genggamnya terukur. Namun tatapan matanya berbeda: menelusuri garis pipi Thalia, menahan di bibirnya, kembali ke mata. Lama. Tidak sopan, tapi dibungkus cermat.

Thalia menarik tangannya dengan halus, secepat etika mengizinkan. "Ini Zea, sahabat saya," katanya, menggeser fokus.

"Selamat, Tuan, Nona," Zea menyalami singkat, bibirnya tersenyum tetapi matanya tajam, seperti kucing yang tahu mana gelas yang bisa didorong jatuh dari meja.

Yoshi berdiri di sisi lain, wajahnya berusaha menjaga wibawa. Marrie menempel di lengan putrinya, tersenyum sengau ala nyonya besar. Yoshi memaksakan formalitas, mengisi udara yang anehnya cepat menjadi berat.

"Abraham, ini Thalia, putri mendiang istri pertamaku," katanya dengan suara yang diset ke mode pejabat. "Dia adik tiri Nadine."

"Oh?" Abraham mendengarkan, tetapi sebenarnya tidak. "Adik tiri." Kata itu merayap ke lidahnya, seperti menemukan rasa baru yang lebih ia sukai daripada menu yang dipesan. Potongan kecil amarah yang tidak terlihat di wajah muncul di dadanya. Kenapa Nadine? pikirnya. Kenapa bukan yang ini saja yang menjadi istrinya? Ia masih tersenyum untuk kamera, tetapi di balik gigi yang rapi, ia sedang memaki Yoshi habis-habisan.

Sesi foto kilat terjadi begitu saja. Blitz menyambar. Nadine mencondongkan tubuh, memeluk Thalia sekilas, gerak manis yang akan tampak hangat di foto, tetapi menyisakan bekas dingin di tulang bahu.

"Terima kasih sudah datang," Nadine mengulang, kali ini lebih pelan. Mata mereka bertemu. Di balik manis yang dipaksa, ada parit dalam yang menyimpan sumpah.

"Selamat," Thalia mengulang, tidak menambahkan apa pun. Ia belajar dari hari-hari pahit-kadang diam adalah balasan paling tajam.

Mereka mundur. Thalia dan Zea melangkah turun dari panggung. Sorot kamera sempat mengikuti, tetapi MC cepat mengalihkannya ke pertunjukan berikut: duet penyanyi dan prosesi toast keluarga. Thalia menoleh sedikit, melihat sisi profil Nadine dan guratan tegang di rahangnya. Kau memilih jalur itu. Thalia menarik napas. Dan jalan itu berdebu.

"Kalau kita duduk terlalu lama, kita jadi pajangan," bisik Zea. "Sisi kiri ada meja pencuci mulut. Kita sembunyi di balik croquembouche?"

Thalia tertawa pelan. "Kau selalu punya ide menyelamatkan diri yang manis."

Mereka berpindah ke area buffet. Dari sana, panggung tampak seperti miniatur sandiwara: tawa yang dilatih, gelas bersulang, kecupan yang terlalu lama. Arah mata Abraham beberapa kali menyapu ke tempat Thalia berdiri; sekali waktu, pandangan mereka terperangkap. Thalia menjawab dengan sopan: anggukan kecil, senyum yang digambar tipis, lalu memutus kontak seolah menutup tirai.

"Dia melihatmu seperti pedagang melihat berlian," ujar Zea. "Untung kau bukan barang dagangan."

"Kukira kita semua barang di mata orang yang salah," Thalia menanggapi ringan, meski tengkuknya geli-bukan karena suka, melainkan karena tahu medan.

Di atas pelaminan, pikiran Nadine berputar seperti roda berkarat. Lihatlah mereka. Bahkan suami b4jing4nku memandangi Thalia. Di hari ini. Di bawah lampu ini. Amarahnya menyala, tetapi mulutnya tetap tersenyum. Baik. Biarkan kau mencuri beberapa tatapan. Setelah hari ini, aku punya kekuasaan baru. Aku akan gunakan semua kekuasan Abraham untuk menghancurkanmu, Thalia. Aku akan jadikan jalanmu lebih terjal daripada neraka.

Ia menatap Abraham yang tengah bercakap dengan pejabat asosiasi bisnis dan sesekali melirik ke arah buffet. Suami yang bisa dibentuk, Nadine menyimpulkan, getir sekaligus ambisius. Dan aku akan membentuknya menurut dendamku.

Sementara itu, Yoshi berkeliling, menjabat tangan sponsor, menjahit citra dengan senyum profesional. Marrie yang mata nalurinya peka terhadap arah h4srat lelaki, menangkap gelagat Abraham. Garis halus muncul di keningnya dan hanya bisa mengumpat di dalam hati.

Lagu dari penyanyi di atas panggung selesai.

Tamu bertepuk tangan. Thalia dan Zea bergerak ke pintu samping, menghindari kerumunan fotografer di foyer. Di belakang mereka, gemuruh pesta tetap berlanjut; gelas beradu, tawa meranggas, janji kosong menari-nari di udara.

Di lorong yang lebih sepi, Zea berhenti. "Aku tahu kau tidak suka mengakuinya," katanya lembut.

"Tapi... kau merasa lega, kan?"

Thalia menatap tembok putih yang dihiasi lukisan abstrak. Butir-butir lampu kristal di kejauhan memantul seperti bintang palsu.

"Aku tidak bahagia melihat orang lain celaka," jawabnya jujur. "Tapi aku tenang melihat kebenaran bekerja tanpa harus kucolek. Dulu, aku berlari, jatuh, dan ditertawakan. Hari ini, aku berdiri diam dan melihat roda berputar."

Zea tersenyum, bangga sekaligus protektif. "Itu kalimat favoritku hari ini."

Mereka melangkah lagi. Tepat sebelum belok, Thalia refleks menoleh. Dari kejauhan, di pelaminan, Nadine memeluk lengan Abraham yang tertawa lebar. Kamera menyala. Dalam satu kilatan, Thalia sempat menangkap mata Abraham-kali ini bukan terpesona, melainkan penuh hitung-hitungan yang dingin. Yoshi bodoh, mata itu seakan bergumam. Aku harus mendapatkan yang lain.

Thalia mengangkat dagu, lalu memalingkan wajah. "Ayo pulang."

Di dalam mobil, kota berkilat di luar jendela. Zea menyandarkan kepala, melepaskan napas panjang. "Kau tahu apa yang akan terjadi besok?"

"Gosip," kata Thalia. "Judul beragam, isinya sama. Tetapi itu bukan urusanku."

"Bagus." Zea menyeringai. "Biarkan mereka tenggelam dalam pesta yang mereka bangun sendiri."

Thalia terdiam. Alur novel melenceng jauh, batinnya menyusun peta baru. Tapi mungkin... justru di belokan ini aku menemukan jalanku.

Ia menoleh ke arah lampu hotel yang mengecil di kaca spion. Ballroom tetap bergemuruh, tetapi suaranya tidak lagi menjangkau. Yang tersisa hanya satu kesimpulan tenang: hari itu, semua orang melihat jelas bukan Thalia yang kalah, melainkan Nadine yang mulai hancur di pelaminannya sendiri, sementara seorang pria paruh baya menyusun rencana yang kelak akan menyalakan api lebih besar daripada lilin-lilin pesta.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry: hehehe😁
total 1 replies
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!