Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pengamat
Setelah mendapatkan penginapan yang cukup layak di sudut Kota Teratai Merah, Tian Shan segera meminta kedua adiknya untuk beristirahat di kamar masing-masing.
Suasana malam kota ini masih bising dengan tawa dari kedai-kedai arak di kejauhan, namun di dalam kamar Tian Shan, keheningan terasa begitu pekat.
Tian Shan duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras. Ia mulai memejamkan mata, memicu sirkulasi Qi di dalam meridiannya.
Di dunia ini, energi alam tidak selalu murni; ada residu emosi, kotoran elemen, dan energi busuk yang ikut terserap.
Proses penyaringan ini luar biasa menyiksa. Setiap kali ia menarik energi alam, rasanya seolah ribuan semut api sedang merayap dan menggigit jalur sarafnya dari dalam.
Keringat dingin mulai membasahi dahi, namun wajahnya tetap kaku, tanpa sedikit pun ringisan kesakitan.
Lima jam berlalu dalam meditasi yang menyesakkan itu.
Tian Shan membuka mata. Pupil matanya berkilat sesaat sebelum kembali tenang. Ia mengembuskan uap hitam tipis dari mulutnya—sisa energi kotor yang berhasil ia murnikan.
"Sedikit lagi mencapai ranah Pendekar Bumi tahap puncak," gumamnya datar. "Tapi fondasi fisikku harus lebih kuat. Energi yang meluap ini akan menghancurkan pembuluh darahku jika tubuhku tidak ditempa lebih keras."
Ia berdiri, namun tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia menatap ke arah jendela yang terbuka, menghadap ke arah pegunungan jauh di luar batas kota.
Ada sebuah getaran. Sangat halus, seperti detak jantung yang berdenyut dari jarak ribuan mil. Namun, bagi jiwa Tian Shan yang telah melintasi waktu, getaran itu terasa sangat tidak asing.
"Apa-apaan tadi? Jaraknya sangat jauh, tapi kenapa aku bisa merasakannya sejelas ini?" Ia terdiam sejenak, mencoba menangkap kembali sinyal tersebut, namun getaran itu menghilang secepat ia muncul.
Alih-alih kembali tidur, Tian Shan melompat keluar jendela dengan gerakan seringan kapas.
Ia mendarat di halaman belakang penginapan yang luas dan tersembunyi oleh tembok batu tinggi.
Halaman itu sunyi, hanya ada sebuah pohon plum tua yang bunganya mulai berguguran.
Tian Shan mencabut Pedang Penjaga Langit. Bilah pedang itu mengeluarkan suara berdenging rendah yang jernih, seolah senang bisa mencicipi udara malam.
Ia mulai bergerak.
Latihannya dimulai dengan gerakan dasar. Setiap tebasan pedangnya tidak meledakkan energi yang besar, namun setiap inci gerakannya sangat efisien.
Tidak ada tenaga yang terbuang. Ia melatih otot-otot lengannya dengan beban gravitasi yang ia manipulasi sendiri, membuat setiap ayunan pedang terasa seberat satu ton bagi dirinya sendiri, namun tampak ringan di mata orang lain.
Wush! Wush!
Udara di sekitar halaman itu seolah terbelah. Tian Shan bergerak semakin cepat.
Ia melakukan ribuan tusukan, ribuan tangkisan, dan ribuan langkah kaki tanpa henti. Bajunya mulai basah oleh keringat, namun ritme napasnya tetap teratur secara mekanis.
Di atas atap bangunan utama penginapan, sesosok wanita duduk dengan anggun, tersembunyi di balik bayang-bayang pilar.
Ia mengenakan pakaian ringkas berwarna biru gelap dengan motif perak yang berkilau setiap kali terkena cahaya bulan.
Matanya memiliki iris berwarna ungu pucat—ciri khas dari Ras Roh Bulan yang jarang terlihat di wilayah manusia.
Namanya adalah Yue Ling.
Awalnya, ia hanya lewat dan tertarik dengan aura Qi yang sangat stabil di halaman ini. Namun, setelah memperhatikan selama hampir satu jam, rasa tertariknya berubah menjadi keheranan.
"Manusia ini ... cara dia bergerak," batin Yue Ling. "Dia tidak menggunakan teknik bela diri yang mewah. Dia sedang menghancurkan dan membangun kembali otot-ototnya dalam setiap gerakan. Dingin, kejam pada diri sendiri, dan sangat disiplin."
Yue Ling terpesona bukan karena ketampanan Tian Shan—meskipun ia tidak menampik bahwa wajah pemuda itu sangat menarik—melainkan karena intensitas latihannya.
Setiap gerakan Tian Shan seolah-olah ditujukan untuk membunuh musuh yang tak terlihat dengan cara yang paling efektif.
Tian Shan tiba-tiba berhenti di tengah gerakan tebasan vertikal. Ia tidak menoleh, namun ujung pedangnya sedikit miring ke arah atap tempat Yue Ling bersembunyi.
"Sudah cukup melihatnya?" tanya Tian Shan, suaranya dingin, memotong kesunyian malam.
Yue Ling sedikit terkejut. Ia telah menyembunyikan napasnya dengan teknik rasnya, namun pemuda ini tetap menyadarinya.
Ia pun memutuskan untuk tidak bersembunyi lagi dan melompat turun dengan anggun, mendarat beberapa meter di depan Tian Shan.
"Aku tidak bermaksud mengganggu," ucap Yue Ling, suaranya terdengar seperti denting lonceng perak. "Hanya saja, jarang sekali melihat pendekar manusia yang berlatih dengan cara menyiksa diri seperti itu di tengah malam."
Tian Shan menyarungkan pedangnya tanpa suara. Ia menatap wanita di depannya dengan pandangan tanpa emosi. "Pergilah. Aku tidak punya waktu untuk berbincang."
Yue Ling tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang jarang ia berikan kepada orang asing. "Sikapmu sedingin pedangmu, Tuan Pendekar. Aku Yue Ling. Siapa namamu?"
"Tian Shan," jawabnya singkat sebelum berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Yue Ling yang masih berdiri di halaman dengan rasa penasaran yang semakin mendalam.
Bagi Tian Shan, perkenalan hanyalah gangguan. Fokusnya saat ini hanya satu: menjadi cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang bergetar di kejauhan tadi.
Pagi di Kota Teratai Merah tidak sesantai yang dibayangkan.
Saat Tian Shan berjalan keluar dari penginapan bersama kedua adiknya, mereka langsung disambut oleh pemandangan yang kontras dengan kejadian kemarin.
Di tengah jalan utama, Tuan Muda Lu tidak lagi mengenakan sutra kuning cerah yang mentereng.
Pakaiannya koyak, wajahnya yang penuh bedak kini kusam oleh debu dan memar.
Ia sedang diseret oleh tiga pria bertubuh besar dengan zirah hitam legam.
Orang-orang di pasar menyingkir, tidak berani mencampuri urusan keluarga Lu yang sepertinya sedang mengalami pergolakan internal.
"Lepaskan aku! Ayahku masih hidup, kalian tidak berhak melakukan ini!" teriak Tuan Muda Lu putus asa.
Langkah Tian Shan terhenti tepat di depan para pengawal tersebut. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah Tuan Muda Lu.
Tanpa sepatah kata pun, aura di sekitar Tian Shan menajam, membuat suhu pagi yang hangat mendadak terasa menusuk tulang.
"Minggir, bocah berambut putih. Ini urusan internal Klan Lu," bentak salah satu pengawal sambil menghunus parang besar.
Tian Shan tidak bergeming. Ia melirik Tuan Muda Lu yang kini menatapnya dengan sisa harapan di matanya. "Bawa aku ke kediamanmu," ucap Tian Shan datar, mengabaikan ancaman parang di depan wajahnya.
Saat ketegangan memuncak, Tian Shan tiba-tiba merogoh saku jubahnya dan mengambil sebutir biji persik sisa sarapan Tian Mei.
Tanpa menoleh ke samping, ia menjentikkan biji itu ke arah pohon ginkgo besar yang jaraknya sepuluh meter dari mereka.
TAK!
"Aduh!"
Sebuah jeritan nyaring terdengar, disusul dengan suara dahan yang patah.
Sosok wanita berpakaian biru gelap—Yue Ling—jatuh terjungkal dari rimbunnya dedaunan dan mendarat dengan posisi yang sangat tidak anggun di atas tumpukan jerami pedagang kuda.
"Kau ... kau sengaja melakukannya!" teriak Yue Ling sambil membersihkan jerami dari rambutnya, menunjuk Tian Shan dengan wajah merona merah karena malu.
Tian Feng dan Tian Mei terpana melihat kecantikan Yue Ling yang tampak eksotis dengan iris mata ungu pucatnya. Alih-alih merasa terancam, Tian Mei justru mendekat dengan mata berbinar.
"Wah, Kakak cantik! Kenapa kakak bersembunyi di sana? Apakah kakak dari Ras Roh Bulan?" tanya Tian Mei antusias, langsung memegang tangan Yue Ling.
Yue Ling yang tadinya ingin marah pada Tian Shan, mendadak luluh melihat keramahan Tian Mei. "A-ah, iya. Aku hanya ... lewat. Kakakmu itu terlalu kasar pada wanita!"
Tian Feng ikut mendekat, menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Maafkan kakakku, dia memang tidak punya perasaan. Aku Tian Feng, ini adikku Tian Mei."
Dalam sekejap, Yue Ling yang seharusnya menjadi pengintai misterius justru terjebak dalam obrolan hangat dengan kedua adik Tian Shan.
Ia merasa nyaman dengan kepolosan mereka, meski sesekali ia melemparkan tatapan tajam ke arah Tian Shan yang tetap acuh tak acuh.
"Tuan, tolong saya ..." rintih Tuan Muda Lu saat para pengawal tadi mendadak kaku, otot mereka terkunci oleh tekanan energi yang dilepaskan Tian Shan secara halus.
Tian Shan berjalan melewati para pengawal yang mematung itu, memberi isyarat agar Tuan Muda Lu memimpin jalan.
Yue Ling dan kedua adiknya mengikuti di belakang, menciptakan rombongan yang aneh di mata penduduk kota.
Sesampainya di kediaman mewah Klan Lu, suasananya sangat mencekam. Puluhan pendekar bayaran bersenjata lengkap mengepung bangunan utama.
Di atas tangga menuju aula besar, berdiri seorang pria paruh baya dengan kumis melengkung—Paman Lu, adik dari ayah Tuan Muda Lu.
"Kau kembali, keponakanku yang tidak berguna? Dan kau membawa pengungsi serta wanita roh?" Paman Lu tertawa sinis. "Saudaraku sedang sekarat karena racun 'Embun Hitam'. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya. Sekarang, segel kepemimpinan klan adalah milikku."
Tuan Muda Lu gemetar hebat. "Kau yang meracuni Ayah! Kau bekerja sama dengan sekte hitam!"
Tian Shan maju selangkah. Ia mencium aroma racun yang kuat di udara—racun tingkat tinggi yang biasanya digunakan untuk melumpuhkan meridian pendekar kuat.
"Kau punya waktu tiga jam sebelum racun itu mencapai jantungnya," ucap Tian Shan tanpa emosi. "Minggir, atau aku akan meratakan gerbang ini bersama kepalamu."
Paman Lu mendengus, memberi isyarat pada para pengawal bayarannya. "Bunuh mereka semua! Terutama si rambut putih itu!"
Pertempuran pecah di halaman kediaman Lu. Tian Shan tidak langsung menghunus pedangnya, ia hanya menggunakan telapak tangannya untuk mementalkan setiap serangan yang datang, bergerak di antara musuh seperti bayangan yang tak tersentuh.
Namun, lawan kali ini berbeda. Paman Lu telah menyewa beberapa pendekar ranah menengah yang ahli dalam formasi pengunci.
Mereka tidak menyerang secara frontal, melainkan melemparkan jaring-jaring energi yang dilapisi racun untuk membatasi ruang gerak Tian Shan.
"Tian Feng, lindungi anak itu!" perintah Tian Shan singkat.
Tian Feng segera memutar tombak barunya, menciptakan dinding angin untuk menghalau anak panah beracun.
Sementara itu, Yue Ling yang merasa berhutang budi karena diterima dengan baik oleh adik-adik Tian Shan, mulai mengeluarkan kemampuannya.
Ia menggerakkan tangannya, memanggil cahaya bulan yang redup meski di siang hari, menciptakan ilusi yang membingungkan para pengepung.
"Jangan anggap remeh Ras Roh Bulan!" seru Yue Ling, matanya berkilat ungu tajam.
Masalah ini jauh lebih rumit dari sekadar perebutan harta.
Tian Shan menyadari bahwa racun di dalam tubuh ayah Tuan Muda Lu terus berevolusi setiap menitnya.
Jika ia tidak segera mencapai kamar utama, bukan hanya klan Lu yang akan runtuh, tapi sejarah yang ia kenal di masa depan akan bergeser secara permanen.
Tian Shan menatap aula utama dengan tatapan yang semakin dingin.
Ia tahu, pimpinan dari sekte hitam yang membantu Paman Lu pasti bersembunyi di dalam, menunggu saat yang tepat untuk menyergap.
lanjut thor💪