bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan 2 guru
Dua hari telah berlalu sejak kejadian di hutan. Pagi itu, 16 Agustus 1963, matahari bersinar cerah di atas kamp pelatihan pegunungan. Udara masih dingin, tapi sinar matahari mulai hangat menyapa dedaunan. Para peserta baru saja menyelesaikan latihan rutin mereka lari keliling lapangan, panjat tebing, dan dasar bela diri. Kini waktu istirahat tiba.
Jinyu duduk bersandar di batang pohon besar dekat barak. Di tangannya, sebatang rumput liar ia mainkan tanpa tujuan. Matanya setengah terpejam, menikmati ketenangan yang langka.
["Hari ini santai banget, ya?"] sistem berkomentar.
Kemarin aku sudah ambil banyak herbal. Istirahat dulu.
["Tapi—"]
Tidak ada tapi-tapian.
Yoyo yang melingkar di pergelangan tangannya hanya mendesis geli. Ular perak itu sudah terbiasa dengan perdebatan harian mereka. Hari-hari tanpa pertengkaran sistem terasa hampa, pikirnya.
Suasana damai itu pecah ketika terdengar suara riuh rendah dari arah gerbang utama. Jinyu menoleh malas. Beberapa peserta berlarian, berbisik-bisik dengan wajah heboh. Xia Feng dan Lin Yue ikut tergesa menuju gerbang.
"Hei, ada tamu penting!"
"Dua orang tua, pakaiannya mewah!"
"Katanya mereka Jūnyī! Tabib terkenal!"
Jinyu mengangkat alis. Tabib? Untuk apa ke kamp?
Ia tidak terlalu peduli. Mungkin mereka mau periksa kesehatan peserta. Atau ada pelatihan khusus. Yang penting, ia bisa tidur siang nanti. Ia meregangkan badan, bersiap memejamkan mata.
Tapi sepuluh menit kemudian, seorang instruktur datang mencarinya. "Su Jinyu, Komandan Lei memanggilmu. Cepat."
Jinyu mengerjapkan mata. Aku?
Di ruang tamu utama kamp, suasana berbeda dari biasanya. Ruangan itu sederhana tapi berwibawa, dinding kayu berukir, beberapa kursi bambu, dan meja panjang dengan perangkat teh porselen. Komandan Lei duduk di kursi utama, di sampingnya Pelatih Wu dengan wajah tegang. Beberapa instruktur lain berdiri di belakang.
Di hadapan mereka, dua pria tua duduk dengan anggun.
Yang satu mengenakan jubah panjang abu-abu, rambut putih tipis disanggul rapi, wajahnya masih pucat tapi matanya bersinar. Jinyu mengenalinya Tabib Li, pria yang pingsan di hutan dua hari lalu.
Yang satu lagi berjubah biru tua, jenggot putih panjang menjuntai hingga dada, sorot matanya tajam seperti elang mengamati. Wajahnya penuh kerut, tapi posturnya tegap. Di tangannya, sebatang pipa bambu panjang bukan untuk merokok, tapi untuk alat bantu jalan sekaligus senjata.
Jinyu masuk. Semua mata tertuju padanya.
Tabib Li langsung berdiri. Matanya membelalak. "KAU! Gadis kecil itu!"
Jinyu menatapnya sebentar, lalu ingat. Oh, pria yang pingsan di hutan.
Ia memberi hormat dengan sopan, kedua tangan di depan dada, membungkuk sedikit. "Selamat pagi, Kakek."
Tabib Li berjalan mendekat. Di hadapan semua orang, ia berlutut. SATU LUTUT.
Ruangan hening. Komandan Lei terbelalak. Pelatih Wu hampir jatuh dari kursi. Para instruktur lain saling pandang tidak percaya. Seorang Jūnyī—tabib militer yang disegani berlutut di depan anak kecil?
"Kau menyelamatkan nyawaku, Nak." Suara Tabib Li bergetar. "Aku berhutang budi padamu. Dalam budaya Tiongkok, hutang nyawa adalah hutang terbesar yang tak terbayar."
Jinyu sendiri bingung. "K-Kakek, bangun. Saya hanya kasih pil. Saya tidak tahu pil itu sehebat apa."
"Bukan sekadar pil." Tabib Li menggeleng. Ia tetap berlutut, matanya berkaca-kaca. "Aku punya penyakit jantung bawaan sejak lahir. Para tabib bilang, umurku tidak akan panjang. Setiap tahun aku semakin lemah. Dua hari lalu, aku pingsan di hutan, yakin ajal telah tiba. Tapi setelah minum pilmu, aku sembuh total. Para dokter militer sudah periksa tiga kali. Jantungku normal seperti orang sehat."
Jinyu diam. Wah, efeknya sehebat itu?
["Tentu saja. Pil Pemulihan Jiwa itu langka. Bahkan di dunia aslimu, itu barang mahal. Poinku jebol."]
Diam, kau berisik.
Tabib Zhang yang berjubah biru berdiri dan mendekat. Matanya menyipit menatap Jinyu dari atas ke bawah. Ia mengamati postur, cara berdiri, sorot mata gadis kecil itu. Lalu ia berkata dengan suara dalam,
"Pil apa yang kau berikan?"
Jinyu sudah siap dengan alasan. "Pil pemberian seorang tabib keliling dulu, Kakek."
"Tabib keliling?"
"Iya. Waktu saya masih kecil—" Jinyu sadar ia masih kecil sekarang. Ia cepat memperbaiki, "—maksud saya, waktu saya lebih kecil, sekitar setahun lalu, ada tabib tua lewat di desa. Ia lihat saya kurus, lalu kasih beberapa pil. Katanya untuk darurat. Saya simpan sampai sekarang."
Tabib Zhang mengerutkan dahi. "Tabib tua? Di mana? Apa ciri-cirinya?"
Jinyu berpikir cepat. "Jenggot putih panjang, baju lusuh, bawa tongkat bambu. Ia tidak banyak bicara, hanya kasih pil lalu pergi."
Tabib Zhang dan Tabib Li saling pandang. "Mungkin seorang petapa pengobatan," bisik Tabib Li. "Mereka suka mengembara, tidak mau dikenal. Ilmu mereka turun-temurun, tidak diajarkan pada sembarang orang."
Tabib Zhang mengangguk pelan. Tapi matanya masih menyelidiki Jinyu. "Kau tahu isi pil itu?"
Jinyu menggeleng polos. "Tidak, Kakek. Saya hanya tahu rasanya pahit."
Jawaban itu cukup meyakinkan. Tabib Zhang akhirnya menghela napas dan kembali ke kursinya.
Tabib Li masih berlutut. Kali ini ia meraih tangan Jinyu dengan kedua tangannya. "Nak Jinyu, dengarkan aku. Dalam tradisi Tiongkok, orang yang menyelamatkan nyawa kita adalah orang tua kedua kita. Aku tidak bisa membalas budimu dengan sekadar ucapan terima kasih. Apa pun yang kau minta, akan aku usahakan."
Jinyu berpikir. Minta apa, ya? Uang? Harta?
["MINTA ILMU!"]
Apa? Untuk apa ilmu? Malas ah.
["ILMU PENGOBATAN TIONGKOK! ASLI! LANGKA! KESEMPATAN EMAS!"]
Jinyu mengerutkan dahi. Buat apa? Aku punya kamu. Lagipula aku tidak suka jadi dokter.
["TAPI KALAU KETAHUAN PUNYA SISTEM, LO BISA DIPERIKSA! ILMU INI BISA JADI KEDOK! LO BISA BILANG BELAJAR DARI MEREKA, JADI SEMUA KEANEHAN LO TERCOVER!"]
Jinyu diam. Ada logika di sana.
Shshsss~ "Jinyu, dia benar." Yoyo ikut berbisik dari pergelangan. "Ilmu pengobatan Tiongkok asli itu berharga. Apalagi dari tabib militer paling disegani. Walaupun kamu tidak suka ilmu pengobatan, setidaknya itu menutup jika kamu tiba-tiba mengeluarkan obat-obatan."
Jinyu menghela napas dalam hati. Baiklah.
Ia menatap Tabib Li yang masih menunggu dengan penuh harap. "Kakek, saya... minta diajari ilmu pengobatan."
Tabib Li terkejut. Matanya membelalak. "Kau mau belajar?"
"Iya, Kakek. Tapi saya tidak mau tinggalkan latihan militer. Saya ingin tetap di sini."
Tabib Li tersenyum lebar senyum yang membuat kerut di wajahnya bertambah dalam. Ia akhirnya bangkit, menarik Jinyu ke dalam pelukan singkat. "Tentu, tentu! Kami bisa datang ke sini seminggu sekali. Atau kau bisa ke kota saat libur. Pokoknya, kau mau belajar, aku akan ajari semua yang aku tahu!"
Tabib Zhang mengangkat alis. "Li Wei, kau serius?"
"Sangat serius, Zhang Feng." Tabib Li menatap rekannya. "Anak ini menyelamatkan nyawaku. Dan bakatnya..." ia menatap Jinyu, "...aku lihat ada keistimewaan di matanya. Mata itu tidak seperti anak biasa. Ada kebijaksanaan di sana."
Jinyu memasang wajah polos. Dalam hati, ia berpikir, Wah, hampir ketahuan.
Tabib Zhang menghela napas. "Baiklah. Tapi aku ingin mengujinya dulu."
Ia mendekati Jinyu, lalu meraih pergelangan tangannya. Dua jarinya menekan nadi Jinyu cara tradisional memeriksa kesehatan. Matanya terpejam, konsentrasi.
Satu menit berlalu. Lalu dua menit.
Tabib Zhang membuka mata. Wajahnya berubah campuran heran dan kagum. "Nadinya kuat. Sangat kuat. Jantungnya sehat, paru-parunya prima. Bahkan lebih baik dari anak seusianya. Jinyu, apa kau sering olahraga?"
Jinyu mengangguk. "Setiap hari, Kakek. Latihan di sini."
"Luar biasa." Tabib Zhang melepas tangannya. Ia menatap Tabib Li. "Pak tua Li, aku setuju. Anak ini punya bakat."
Tabib Li berseri-seri. "Kalau begitu, kita lakukan upacara pengangkatan murid."
"Upacara?" Jinyu bingung.
Komandan Lei yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. "Di budaya Tiongkok, menjadi murid itu tidak bisa sembarangan. Harus ada upacara teh. Murid menyajikan teh untuk guru sebagai tanda bakti dan penghormatan. Ini tradisi yang sudah berusia ribuan tahun."
Pelatih Wu menambahkan, "Benar. Guru menerima murid secara resmi, murid berjanji akan menghormati dan belajar sungguh-sungguh."
Jinyu mengangguk. Ribet juga, ya.
Tapi ia menurut.