"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: SARAPAN PAGI YANG MENGGEMPARKAN
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra yang mahal. Di atas ranjang king size, Nael terbangun dengan perasaan yang sangat asing. Dadanya terasa berat, dan aroma mawar yang manis memenuhi indranya. Saat ia membuka mata, jantungnya hampir melompat keluar.
Alurra masih di sana, tertidur pulas dengan kepala berbantalkan dada Nael. Kakinya melintang di atas paha Nael, dan tangannya mencengkeram kaos Nael erat-erat.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Muda? Ini Pak Satrio. Kami membawakan sarapan pagi dan kopi Anda."
Nael membelalak. Ia menatap pintu, lalu menatap Alurra yang justru semakin mengeratkan pelukannya sambil bergumam tidak jelas dalam tidur. Nael panik. Ia mencoba mendorong bahu Alurra pelan, namun bidadari itu justru mendengus kesal.
"Berisik, Dewa Matahari... jangan tarik selimutku..." igau Alurra.
Cklek...
Pintu terbuka. Pak Satrio melangkah masuk diikuti dua pelayan wanita yang membawa nampan perak. Langkah mereka terhenti seketika. Nampan perak itu bergetar hebat di tangan pelayan bernama Sari.
"T-Tuan Muda?" Pak Satrio tergagap, kacamatanya hampir merosot ke ujung hidung.
Nael membeku di tempat. Ia hanya bisa menatap Pak Satrio dengan tatapan "ini tidak seperti yang kalian lihat", tapi tangannya masih tertahan di bawah leher Alurra.
"Hoammm..." Alurra menggeliat. Ia membuka matanya perlahan, lalu mendongak menatap Nael. "Pagi, Pangeranku. Dada kamu empuk sekali ya, lebih enak dari bantal awan."
Alurra menoleh ke arah pintu dan melihat tiga pasang mata yang menatapnya tanpa kedip. Bukannya malu, Alurra justru melambaikan tangannya dengan santai sembari tetap memeluk Nael.
"Halo, Manusia-Manusia Berisik! Kenapa kalian melihat kami begitu? Apa kalian iri karena tidak bisa memeluk Pangeran Tampan ini?" cerocos Alurra tanpa beban.
"Ma-maafkan kami, Nona! Kami hanya... membawakan sarapan," Sari, sang pelayan muda, menunduk dalam dengan wajah merah padam.
"Sarapan? Wah! Ada makanan enak?" Alurra langsung bangkit duduk, membuat selimutnya melorot dan menampakkan kaos kebesaran Nael yang tersingkap hingga paha.
Nael dengan sigap menarik selimut untuk menutupi kaki Alurra, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetik cepat: "LETAKKAN DI MEJA. KELUAR SEKARANG."
Pak Satrio yang sudah sangat berpengalaman langsung paham. "Baik, Tuan Muda. Mari, kita keluar."
Namun Alurra melompat turun dari kasur, menghadang mereka. "Eh, tunggu! Pak Tua, ini apa yang hitam-hitam di cangkir? Baunya seperti arang terbakar!" Alurra menunjuk kopi hitam pekat milik Nael.
"Itu kopi, Nona. Minuman kesukaan Tuan Muda," jawab Pak Satrio sopan.
Alurra merebut cangkir itu dan menyesapnya sedikit. "UEKKK! PAHIT!" Alurra menjulurkan lidahnya, wajahnya berkerut lucu. "Nael! Kau mau bunuh diri ya minum air lumpur pahit begini? Ini tidak sehat untuk pangeranku!"
Alurra berbalik, menatap Nael dengan tatapan mengomel. "Nael, buang air hitam ini! Di langit, kami minum sari buah yang manis dan bikin kulit glowing. Pantas saja wajahmu kaku terus, asupanmu air lumpur!"
Nael hanya bisa menatap kopinya yang kini sudah "tercemar" air liur bidadari itu. Ia memberi isyarat pada Pak Satrio agar membiarkan saja.
"Sari, bawa nampannya ke meja," perintah Pak Satrio.
Sari melangkah maju dengan gemetar. Saat ia meletakkan roti panggang dan selai, ia tidak sengaja melirik Nael. Alurra yang melihat itu langsung berdiri di depan Sari, menghalangi pandangannya.
"Heh, Gadis Manusia! Kenapa matamu genit begitu melihat pangeranku?" Alurra berkacak pinggang, sifat bar-bar-nya keluar lagi. "Matamu mau aku ubah jadi mata ikan mas, hah? Jangan berani-berani naksir dia! Dia sudah aku tandai dengan kalung akar perak!"
"M-maaf, Nona! Saya tidak bermaksud..." Sari hampir menangis ketakutan.
Nael memijat pelipisnya. Ia bangkit dari ranjang, berjalan mendekati Alurra dan menarik bahunya lembut agar menjauh dari pelayan yang ketakutan itu. Nael menggeleng pada Alurra, memberi isyarat agar dia berhenti mengintimidasi orang.
"Nael! Aku kan cuma menjaga asetku!" Alurra membela diri, ia memeluk lengan Nael lagi. "Wanita di sini matanya berbahaya semua, seperti ingin menerkammu!"
Pak Satrio berdehem. "Tuan Muda, Nona Alurra... kami permisi dulu. Jika butuh sesuatu, silakan tekan bel."
Begitu pintu tertutup, Alurra langsung duduk di meja makan, mengambil sepotong roti panggang dan menggigitnya besar-besaran. "Hmm... ini lumayan enak. Tapi tetap saja, Nael, besok aku mau sarapan yang ada sihir-sihirnya sedikit. Biar aku makin kuat melindungimu dari wanita-wanita genit tadi."
Nael duduk di seberangnya, menatap Alurra yang makan dengan lahap sambil terus berceloteh tentang betapa tidak amannya mansion ini karena banyak pelayan wanita.
Nael mengambil ponselnya: "MEREKA HANYA PELAYAN. JANGAN GALAK-GALAK."
"Galak?" Alurra berhenti mengunyah, bibirnya penuh remah roti. "Aku tidak galak, Nael. Aku hanya protektif! Kau itu diam saja kalau ada yang melihatmu begitu. Di dunia manusia, diam itu artinya mau. Tapi tenang saja, selama ada bidadari bar-bar ini, kau akan aman!"
Alurra kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Nael, mengusap noda kopi di bibir Nael dengan jemarinya. "Nael... harta yang kau janjikan kemarin... apa termasuk sarapan enak setiap hari begini?"
Nael mengangguk pelan.
"Dan tidur dipeluk kamu?" tanya Alurra dengan mata berkedip nakal.
Nael tersedak roti yang baru ia telan. Ia segera memalingkan wajah, menyembunyikan rona merah di pipinya. Melihat reaksi Nael, Alurra tertawa lepas. Suara tawanya yang jernih memenuhi ruangan itu, menghancurkan keheningan mansion yang dingin.
Nael menatap Alurra dari sudut matanya. Meskipun bidadari ini sangat berisik dan membuat kepalanya pusing, tapi untuk pertama kalinya, Nael merasa sarapan paginya tidak lagi terasa hambar dan sepi.
...****************...
aku suka namanya Nael ....