NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Ambang Kebebasan

Pagi itu,langit di atas Jakarta tampak sebiru pirus, bersih dari polusi seolah-olah semesta sedang menyapu jalan bagi sebuah kepulangan yang agung. Di depan gerbang besi besar Rutan Salemba, kerumunan media sudah menyusut, menyisakan keheningan yang khusyuk. Surat pembebasan bersyarat itu akhirnya turun, ditandatangani langsung oleh Menteri Hukum dan HAM sebagai bentuk apresiasi atas peran Arkan Xavier dalam meruntuhkan gurita korupsi di jantung peradilan.

Di dalam selnya untuk terakhir kali, Arkan melipat kemeja putihnya dengan rapi. Ia tidak membawa banyak barang; hanya sebuah mushaf kecil, beberapa buku catatan medis yang sudah penuh dengan coretan tangan Aisyah, dan sebuah foto polaroid panti asuhan yang sudah agak memudar.

"Nomor 7042, waktunya pulang," suara sipir Rendy terdengar dari balik jeruji. Kali ini, tidak ada nada keras atau dingin, melainkan sebuah penghormatan yang tulus.

Arkan melangkah keluar. Setiap bunyi langkah kakinya di koridor beton seolah-olah mengikis satu per satu dosa masa lalu yang pernah menghimpit pundaknya. Di ruang administrasi, ia menerima kembali barang-barang pribadinya: sebuah jam tangan mewah yang kini terasa berat dan tak bermakna, serta kunci rumah tua peninggalan ayahnya.

Saat pintu gerbang kecil berderit terbuka, cahaya matahari pagi langsung menerpa wajah Arkan. Ia memejamkan mata, menghirup udara kebebasan yang terasa manis sekaligus menggetarkan.

Di sana, berdiri sebuah mobil SUV hitam yang familiar. Leo bersandar di pintunya, sementara Hamdan melambaikan tangan dari kejauhan. Namun, mata Arkan hanya tertuju pada sosok wanita yang berdiri di tengah taman kecil depan rutan. Aisyah. Ia mengenakan gamis berwarna putih tulang dengan kerudung yang berkibar lembut ditiup angin.

Arkan melangkah perlahan. Kakinya terasa ringan, seolah rantai tak kasat mata yang selama ini mengikatnya telah hancur menjadi debu.

"Aisyah..." gumam Arkan saat ia berdiri hanya sejangkauan tangan darinya.

Aisyah tidak bisa menahan air matanya. Di balik cadarnya, ia tersenyum dengan seluruh jiwanya. "Selamat datang kembali, Arkan. Selamat datang di dunia yang nyata."

Arkan menatap tangan Aisyah, ingin sekali ia menggenggamnya, namun ia menahan diri. Ia ingin melakukan segalanya dengan benar kali ini.

"Terima kasih telah menungguku di gerbang neraka ini sampai aku menemukan pintu keluarnya."

Sebelum menuju panti atau rumah baru mereka, Arkan memiliki satu perhentian wajib. Ia meminta Leo mengantarnya ke pemakaman mewah di pinggiran Jakarta, tempat peristirahatan terakhir klan Xavier.

Makam ayahnya, Xavier Senior, tampak sepi dan tertutup lumut tipis. Arkan berlutut di depan nisan marmer hitam itu. Ia mencabut beberapa rumput liar dengan tangannya sendiri.

"Ayah," bisik Arkan. "Aku sudah memenuhi janji terakhirmu di surat itu. Aku sudah memutus rantai ini. Aku tidak membawa kekuasaanmu kembali, tapi aku membawa nama kita ke dalam cahaya."

Arkan meletakkan setangkai mawar putih yang ia bawa dari taman panti. "Maafkan aku karena harus menjebloskan Ibu ke penjara, tapi Ayah tahu itu satu-satunya cara agar jiwanya tenang.

Sekarang, beristirahatlah. Serigala yang kau didik telah mati, dan hari ini, seorang manusia baru telah lahir."

Aisyah berdiri beberapa meter di belakangnya, memberikan ruang bagi Arkan untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia melihat Arkan berdiri, bahunya tampak lebih tegak, dan beban gelap di matanya telah sirna.

Kedatangan Arkan di Panti Asuhan Kasih Bunda disambut dengan sorak-sorai anak-anak. Mereka tidak tahu tentang mafia atau korupsi; bagi mereka, Arkan adalah pria baik yang sering mengirimkan buku-buku bagus dan mainan dari "tempat yang jauh".

"Paman Arkan datang!" teriak Rifqi, yang kini sudah bekerja sebagai kepala keamanan panti yang jujur.

Rahman Malik duduk di kursi rodanya di teras, wajahnya berseri-seri. Ia menjabat tangan Arkan dengan kuat. "Kau menepati janjimu untuk kembali sebelum mawar itu layu, Arkan."

"Saya tidak akan berani mengecewakan guru saya, Pak Rahman," jawab Arkan dengan takzim.

Malam itu, mereka mengadakan makan malam sederhana di bawah pohon mangga. Sofia Xavier memang tidak ada di sana, namun ia mengirimkan pesan lewat pengacaranya bahwa ia merasa sangat damai di rutan wanita, menghabiskan waktunya untuk mengajar menjahit bagi narapidana lain. Ia merasa telah menemukan "panti" versinya sendiri di sana.

Aisyah membawa nampan berisi teh hangat dan duduk di sebelah Arkan. Untuk pertama kalinya, mereka bisa duduk berdampingan tanpa ada kaca pembatas, tanpa ada pengawal bersenjata, dan tanpa ada durasi waktu yang menghantui.

"Apa rencana Anda setelah ini, Arkan?" tanya Aisyah lembut.

Arkan menatap ke arah bangunan rumah sakit yayasan yang hampir selesai. "Aku ingin melanjutkan studi medis yang sempat terhenti.

Aku ingin menjadi asistenmu di ruang operasi, bukan sebagai pasien, tapi sebagai rekan yang membantumu menyelamatkan nyawa. Dan... aku ingin membangun kembali sekolah vokasi bagi mantan narapidana agar mereka tidak perlu kembali ke jalanan."

Aisyah menyandarkan kepalanya sedikit ke arah bahu Arkan, meski tetap menjaga jarak yang sopan. "Itu rencana yang mulia. Tapi ada satu hal lagi yang tertunda, bukan?"

Arkan tersenyum, ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang telah ia simpan sejak hari pertama ia masuk penjara. Sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran huruf A dan X.

"Aisyah Malik," Arkan menatap mata Aisyah dengan kesungguhan yang tak tergoyahkan.

"Dulu aku memintamu menjadi cahaya di kegelapanku. Sekarang, di bawah cahaya bintang ini, maukah kau menjadi teman perjalananku menuju rida-Nya? Maukah kau menjadi istri dari seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun selain cintanya padamu?"

Suasana panti mendadak hening. Anak-anak panti dan Hamdan mengintip dari balik jendela dengan wajah antusias.

Aisyah mengangguk pelan, air mata bahagianya membasahi kain cadarnya. "Sejak awal, aku tidak pernah mencari hartamu atau namamu, Arkan. Aku mencari jiwamu yang jujur. Dan hari ini, aku menemukannya. Ya, aku bersedia."

Keesokan paginya, Arkan berdiri di balkon rumah kecil yang telah disiapkan Aisyah. Ia melihat matahari terbit dari ufuk timur, menyinari mawar-mawar yang sedang mekar sempurna di taman bawah.

Ia merasa hidupnya seperti sebuah buku yang baru saja menutup bab-bab gelapnya dan membuka lembaran putih yang masih kosong. Konflik ringan mungkin akan tetap ada—pandangan sinis masyarakat atau tantangan dalam membangun yayasan—tapi ia tahu, selama ia menggenggam tangan Aisyah, badai sehebat apa pun hanya akan menjadi angin sepoi-sepoi bagi mereka.

Arkan mengambil pena dan buku catatannya. Di halaman terakhir, ia menuliskan kalimat penutup bagi cerita panjangnya:

Kebebasan sejati bukan saat kau keluar dari penjara fisik, tapi saat kau berhasil melepaskan belenggu dendam dan keserakahan di hatimu. Aku bukan lagi Xavier yang ditakuti, aku adalah Arkan yang dicintai. Dan di sinilah, di antara doa dan dedikasi, hidupku yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!