Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kaca dan Suara yang Hilang
Air gorong-gorong yang hitam dan berbau logam merembes ke dalam sepatu taktis Arkan saat ia dan Liana merangkak melalui celah beton yang sempit. Di atas mereka, getaran dari langkah sepatu bot berat Unit 9 terdengar seperti detak jam kematian yang terus berdetak. Cahaya senter dari tim pengejar menyapu celah-celah jeruji besi di atas kepala, menciptakan garis-garis cahaya yang memotong kegelapan terowongan.
"Sedikit lagi, Liana. Tahan napasmu," bisik Arkan sembari menempelkan telinganya ke pintu baja berkarat di ujung lorong.
Kunci perak pemberian Gideon terasa dingin di telapak tangan Arkan. Ia memasukkannya ke dalam lubang kunci analog yang tersembunyi di balik panel lumut. Klik. Pintu itu terbuka tanpa suara, mengungkapkan sebuah lift barang tua yang dilapisi baja kedap suara.
Saat lift meluncur turun ke kedalaman yang tak tercatat di peta kota, suhu udara menurun drastis. Ketika pintu terbuka, mereka tidak disambut oleh ruang bawah tanah yang kotor, melainkan sebuah koridor medis yang sangat steril.
Dindingnya terbuat dari kaca satu arah, dan lampu fluoresen putih menyala dengan intensitas yang menyakitkan mata.
"Ini bukan fasilitas rehabilitasi," gumam Liana, jemarinya menyentuh permukaan kaca yang dingin. "Ini adalah laboratorium ekstraksi saraf."
Di ujung koridor, mereka menemukan sebuah ruangan bundar besar. Di tengahnya, terbungkus oleh ribuan kabel fiber optik yang bercahaya biru, duduk seorang wanita di atas kursi suspensi elektrik. Itu adalah Elena Dirgantara. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini memutih sepenuhnya, dan matanya tertutup rapat, namun kelopak matanya bergetar hebat seolah sedang mengalami mimpi buruk yang abadi.
"Ibu..." Arkan melangkah maju, namun sebuah dinding energi transparan menahannya.
Jangan menyentuhnya, Arkan," sebuah suara tenang menggema dari pengeras suara di sudut ruangan. Kapten Varo muncul dari balik bayang-bayang di lantai atas, menatap mereka dari balkon observasi. Ia tidak lagi mengenakan seragam tempur, melainkan setelan jas hitam yang rapi.
"Kau membohongi kami, Varo," raung Arkan.
"Kau bilang dia tewas di Pandora!"
"Dia 'tewas' bagi dunia, Arkan. Tapi bagi Unit 9, dia adalah perpustakaan hidup,"
Varo berjalan perlahan di sepanjang balkon. "Elena menyembunyikan fragmen terakhir Project Phoenix bukan di dalam kode komputer, tapi di dalam memori jangka panjangnya yang terkunci oleh trauma. Kami sedang melakukan 'deep-dive' ke dalam otaknya untuk menarik data itu keluar."
Liana segera membuka perangkat peretasnya, mencoba mencari celah dalam sistem keamanan ruangan itu.
"Kau menyiksanya! Kau menghancurkan pikirannya hanya untuk sebuah algoritma!"
Keadilan membutuhkan pengorbanan, Nona Putri," balas Varo dingin. "Dengan Phoenix, Unit 9 bisa mencegah setiap kejahatan sebelum terjadi. Tidak akan ada lagi pembakaran rumah seperti yang dialami keluargamu. Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Bukan dengan cara ini!" teriak Liana.
Jarinya menari liar di atas layar. "Arkan, aku butuh waktu dua menit untuk memutus aliran listrik ke kursi itu! Jika aku melakukannya, sistem saraf ibumu mungkin akan lumpuh, tapi dia akan bangun!"
"Lakukan, Liana!" Arkan bersiap dengan senjatanya, membidik ke arah Varo.
Namun, Varo hanya tersenyum tipis. Ia menekan sebuah tombol di jam tangannya. Tiba-tiba, layar-layar besar di sekeliling ruangan menyala, menampilkan rekaman kamera tersembunyi dari Swiss. Rekaman itu memperlihatkan rumah mereka di tepi danau yang kini dikelilingi oleh tentara bayaran berpakaian putih—anak buah Hendra.
Hendra tidak mati, Arkan. Dia sedang menunggu perintahku untuk membakar rumah indah kalian di Swiss jika kau menarik pelatuk itu," ancam Varo.
"Pilihannya sederhana: berikan aku 0,1% sisa kode itu melalui kehadiranmu di sini—karena memori Elena hanya akan terbuka jika dia merasakan kehadiran putranya—atau saksikan masa depanmu terbakar."
Arkan membeku. Senjatanya gemetar. Di satu sisi adalah ibunya yang sedang sekarat dalam siksaan digital, di sisi lain adalah janji hidup damai bersama Liana yang kini terancam.
"Arkan, jangan dengarkan dia!" seru Liana, air mata mulai mengalir di pipinya. "Hendra adalah gertakan! Unit 9 tidak akan membiarkan Hendra memiliki Phoenix!"
Tiba-tiba, Elena membuka matanya. Matanya tidak lagi berwarna cokelat, melainkan bersinar biru elektrik akibat aliran data yang dipaksakan masuk. Ia menatap Arkan, namun mulutnya tidak bergerak. Suaranya terdengar melalui sistem audio laboratorium, terdistorsi dan penuh penderitaan.
Arkan... lari... dia... dia tidak mencari kode... dia mencari... inang baru..."
Arkan terbelalak. Ia menyadari bahwa Varo tidak ingin mengekstrak data dari Elena. Varo ingin memindahkan kesadaran AI Phoenix ke dalam tubuh yang lebih muda dan kuat. Tubuh Arkan.
"Liana, hancurkan tempat ini!" teriak Arkan sembari berbalik dan menembak ke arah tangki pendingin nitrogen di belakangnya.
Ledakan nitrogen menciptakan kabut tebal yang membutakan kamera pengawas. Di tengah kekacauan itu, Liana berhasil memutus sirkuit utama. Cahaya biru di tubuh Elena padam, dan wanita itu jatuh terkulai dari kursinya.
Varo berteriak marah, memerintahkan tim taktisnya untuk masuk.
"Ambil Arkan hidup-hidup! Bunuh gadis itu!"
Arkan menerjang kabut, menangkap tubuh ibunya yang lemas, sementara Liana melepaskan bom asap kedua. Di bawah lindungan asap, mereka merayap menuju lift darurat. Namun, tepat sebelum pintu lift tertutup, sebuah peluru mengenai bahu Elena yang sedang dipapah Arkan.
Elena tersenyum lemah, darah merah segar mengalir di seragam putihnya yang kotor. Ia menyelipkan sebuah keping mikro kecil ke dalam saku Arkan.
"Ini... kunci... penghancur... yang sebenarnya... Maafkan aku... anakku..."
Pintu lift tertutup. Arkan, Liana, dan Elena yang bersimbah darah meluncur naik menuju permukaan Sektor Selatan yang kini sudah dikepung oleh pasukan gabungan Unit 9 dan tentara bayaran Hendra yang saling berebut mangsa.