NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti Pasangan Sempurna

Mobil berhenti tepat di depan gerbang kampus. Cassie melepas sabuk pengamannya perlahan, masih memikirkan kata-kata Amanda sepanjang perjalanan tadi. Semuanya terdengar begitu matang, begitu tulus, hampir terlalu sempurna untuk dipertanyakan.

"Terima kasih sudah mengantar," ucap Cassie pelan sambil membuka pintu.

Amanda tersenyum hangat, senyum yang sama seperti beberapa menit lalu. "Belajar yang rajin, ya. Liam mungkin tidak mengatakannya, tapi dia bangga padamu."

Kalimat itu membuat Cassie tersenyum kecil, meski ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Ia mengangguk, lalu turun dari mobil. Pintu tertutup pelan, dan Cassie berjalan menjauh tanpa menyadari bahwa sepasang mata di balik kaca mobil masih mengikutinya sampai sosoknya benar-benar hilang di antara mahasiswa lain.

Begitu Cassie menghilang dari pandangan, senyum Amanda perlahan memudar.

Wajahnya kembali netral. Dingin. Tidak ada lagi kelembutan yang tadi mengisi suaranya.

Tangannya mengetuk pelan setir mobil, pikirannya bergerak cepat.

"Ternyata benar," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. "Dia memang memilih gadis seperti itu sekarang."

Nada suaranya tidak marah. Tidak juga sedih. Lebih seperti seseorang yang sedang mengevaluasi sesuatu.

Amanda menatap lurus ke depan. Membantu Liam bukan sekadar kebaikan hati. Ia ingin Liam melihatnya lagi. Melihat bahwa orang yang dulu ia lepaskan tetap mampu membereskan hal-hal yang bahkan Liam sendiri tidak sanggup selesaikan.

Ia ingin diingat.

Bukan sebagai masa lalu yang gagal, tapi sebagai seseorang yang masih punya tempat dalam hidup Liam.

Dan Amanda tahu betul, kebaikan yang tepat waktu sering kali jauh lebih berbahaya daripada permusuhan.

Mobil itu kemudian melaju pergi, meninggalkan kampus dalam keheningan pagi.

***

Di rumah, suasana langsung berubah begitu pintu depan tertutup.

Jino menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan ekspresi dramatis. "Aku masih tidak percaya itu benar-benar Amanda. Satu tahun hilang, lalu muncul pagi-pagi seperti karakter utama drama."

Marco hanya berdiri di dekat meja, membuka map berisi dokumen yang Amanda bawa tadi. Ia membaca cepat, ekspresinya tetap datar.

"Dokumennya asli," gumamnya. "Dia memang mengurus semuanya."

Jino bersiul pelan. "Dan makin cantik, ya. Serius, Bos. Kalau aku jadi kau dulu, mungkin aku juga tidak akan bisa move on."

Tidak ada jawaban.

Liam berdiri di dekat jendela, tangannya masuk ke saku celana, pandangannya kosong mengarah ke taman. Komentar Jino seperti hanya lewat di udara tanpa benar-benar ia dengar.

Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih rumit.

Rasa bersalah.

Ia ingat jelas malam-malam ketika Amanda menunggunya pulang, sementara ia memilih rapat bisnis. Ingat bagaimana Amanda tidak pernah menuntut, sampai akhirnya ia pergi tanpa pertengkaran besar. Hanya kalimat pelan yang mengatakan bahwa ia lelah menjadi nomor dua setelah pekerjaan Liam.

Dan sekarang… wanita itu kembali, membawa solusi untuk masalah terbesar yang selama ini mengganggu Liam.

Tanpa diminta.

Tanpa menagih apa pun.

Itu yang justru membuatnya tidak nyaman.

"Liam?" Jino melambaikan tangan di depan wajahnya. "Kau masih di sini, kan?"

Liam menghembuskan napas pelan. "Aku dengar."

"Tapi kau tidak bilang apa-apa."

"Apa yang harus kukatakan?"

Jino mengangkat bahu. "Entahlah. Mantan kekasihmu baru saja menyelamatkan salah satu bisnismu. Biasanya kau akan mencurigai motif orang sampai ke akar-akarnya."

Liam terdiam.

Karena justru itulah masalahnya.

Amanda terlalu baik.

Dan Liam mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa tidak ada orang yang melakukan sesuatu sebesar itu tanpa alasan.

Ia menutup mata sejenak, lalu membuka kembali dengan ekspresi yang sudah kembali dingin.

"Marco," katanya akhirnya.

"Ya."

"Pastikan semua proses legalitas itu benar-benar bersih. Aku tidak mau ada jebakan di dalamnya."

Marco mengangguk singkat. Ia juga merasakan hal yang sama, meski tidak mengatakannya.

Sementara itu, di kepala Liam, dua wajah terus bertabrakan.

Amanda, dengan ketenangan yang dulu membuatnya merasa stabil.

Dan Cassie, dengan kekacauan hangat yang membuat rumah ini terasa hidup.

***

Gerbang kampus mulai sepi ketika mobil sedan hitam itu akhirnya muncul di ujung jalan. Cassie yang sejak tadi berdiri sambil memeluk tasnya langsung mengenali mobil itu bahkan sebelum plat nomornya terlihat jelas.

Refleks, langkahnya maju satu langkah, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali Liam datang menjemput.

Namun langkah itu terhenti.

Di kursi penumpang depan, ada seseorang.

Amanda.

Pintu mobil terbuka dari dalam sebelum Cassie sempat menyusun ekspresi. Amanda menoleh dengan senyum lembut yang sama seperti pagi tadi, seolah pertemuan ini adalah hal yang sepenuhnya wajar.

"Cassie," sapanya hangat. "Maaf ya. Kami tadi harus menyelesaikan beberapa berkas legalitas. Liam bilang dia harus cepat karena tidak mau membuat kekasihnya menunggu."

Nada suaranya halus, sopan, bahkan terdengar tulus. Tidak ada satu kata pun yang bisa dianggap salah. Tapi entah kenapa, ada sesuatu di dalam dada Cassie yang terasa mengencang.

"Oh… tidak apa-apa," jawab Cassie pelan.

Amanda sudah membuka sabuk pengamannya.

"Kau duduk di depan saja. Aku pindah ke belakang."

Gerakannya natural, seolah itu keputusan paling logis di dunia.

Cassie langsung menggeleng cepat. "Tidak usah. Tidak apa-apa, aku di belakang saja."

Amanda tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil dan kembali duduk, sementara Cassie membuka pintu belakang dan masuk dengan hati yang terasa sedikit berat tanpa alasan yang jelas.

Pintu tertutup.

Mobil kembali melaju.

Dari kursi belakang, Cassie melihat pemandangan yang anehnya terasa… sangat selaras.

Liam menyetir seperti biasa, satu tangan di setir, fokus ke jalan. Amanda duduk di sampingnya dengan postur tenang, sesekali menoleh untuk menunjukkan sesuatu di map yang tadi mereka urus.

"Berkas yang ini tinggal satu tanda tangan lagi," ujar Amanda lembut. "Aku sudah tandai bagian yang perlu kau baca."

Liam mengangguk singkat. "Nanti malam aku selesaikan."

Amanda lalu meraih botol air mineral di dashboard dan membukanya, menyodorkannya tanpa melihat. Liam menerimanya begitu saja, seperti kebiasaan lama yang tidak perlu dipikirkan.

Gerakan kecil. Sangat biasa.

Tapi Cassie memperhatikannya.

Amanda tidak bertanya apakah Liam haus. Ia seolah mengerti apa yang dibutuhkan Liam.

Cassie menunduk, memainkan ujung tasnya di pangkuan. Ia baru sadar, setiap kali masuk mobil, hal pertama yang ia lakukan biasanya adalah mengeluh lapar, atau bercerita soal kampus, atau meminta Liam berhenti membeli sesuatu di jalan.

Ia tidak pernah memperhatikan apakah Liam sudah makan atau belum.

Percakapan di depan mengalir ringan. Tentang dokumen, tentang jadwal notaris, tentang proses legalitas yang akhirnya hampir selesai. Bahasa mereka terdengar dewasa, efisien, seperti dua orang yang sudah lama terbiasa menyelesaikan masalah bersama.

Cassie merasa seperti penumpang tambahan di dalam cerita yang bukan miliknya.

Ia memperhatikan pantulan mereka di kaca depan. Liam dan Amanda terlihat… cocok. Tenang. Seimbang. Tidak ada tarik-menarik emosi seperti yang sering terjadi antara dirinya dan Liam.

Sempurna.

Pikiran itu muncul begitu saja, dan Cassie langsung membencinya.

Amanda tertawa kecil saat Liam mengomentari sesuatu, suara tawanya lembut dan tidak berisik. Liam bahkan tidak menyindir balik seperti biasanya saat bersama Cassie. Ia hanya menjawab pendek, nada suaranya lebih tenang dari biasanya.

Cassie memalingkan wajah ke jendela.

Lampu kota mulai menyala satu per satu, memantul di kaca seperti garis-garis cahaya yang kabur.

Keheningan di dalam mobil itu terasa semakin berat, hanya diiringi suara mesin yang halus dan deru AC. Amanda menoleh sedikit ke arah belakang, memberikan senyum tipis yang tampak begitu tulus kepada Cassie melalui celah kursi.

​"Liam," puji Amanda sambil kembali menatap ke depan. "Selera kamu dalam memilih wanita memang tidak pernah berubah, selalu luar biasa. Cassie benar-benar cantik. Melihatnya, aku jadi merasa sangat tua. Dia punya energi yang segar, pantas saja kamu bisa melupakan aku dengan begitu cepat."

​Nada bicara Amanda terdengar seperti seorang kakak yang sedang menggoda adiknya, sangat ringan seolah-olah masa lalu mereka bukan lagi masalah besar.

​Namun, Liam yang sedari tadi fokus pada jalanan, justru menjawab dengan spontan tanpa berpikir panjang. "Tidak secepat itu, Amanda."

​Seketika, suasana di dalam mobil seolah membeku.

​Cassie yang duduk di belakang merasa jantungnya seperti diremas kuat. Kalimat singkat itu—tidak secepat itu—terdengar seperti pengakuan di telinganya.

Itu adalah konfirmasi bahwa selama ini, Liam tidak benar-benar melepaskan Amanda secepat yang Cassie kira. Bahwa ada masa di mana Liam meratapi kepergian Amanda, atau mungkin, masih melakukannya sampai sekarang.

​Liam sendiri langsung terdiam begitu kalimat itu lolos dari bibirnya. Cengkeramannya pada setir menguat. Ia merenung, menyadari betapa bodoh dan kasarnya ucapannya barusan di depan Cassie. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa ia masih mencintai Amanda, tapi ia terjebak pada kejujuran emosional tentang betapa sulitnya ia bangkit dulu dan ia mengatakannya di waktu yang sangat salah.

​Amanda langsung menunjukkan raut wajah tidak enak hati. Ia segera menoleh ke arah Liam dengan sorot mata yang seolah-olah menegur.

​"Liam! Kenapa bicara seperti itu?" tegur Amanda dengan nada bijak dan dewasa. "Jangan bawa bawa masa lalu kita ke dalam hubungan kalian sekarang."

​Amanda kemudian menoleh ke belakang, menatap Cassie dengan tatapan penuh simpati yang justru terasa seperti sembilu bagi Cassie.

"Maafkan Liam ya, Cassie. Dia memang terkadang suka bicara tanpa dipikir dulu. Jangan dimasukkan ke hati, ya?"

​Cassie hanya bisa memaksakan sebuah senyum tipis yang sangat getir. Ia tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun.

Baginya, teguran Amanda yang terlihat sangat "baik" itu justru semakin mempertegas posisi Amanda sebagai wanita yang jauh lebih dewasa dan mengerti Liam, sementara ia hanyalah gadis yang "perlu dijaga perasaannya".

1
Riska Noor
manisnya liam
Donna
Malah fokus ke kesalahan oranglain
Ella Elli
yeehh🤣
Ella Elli
dih malah jadi Cassie yang minta maaf 😒
npd jangan2 nih si liam
Rosna Wati
pergi dari rumahnya liam..
Ella Elli
Sampe lupa kemaren abis ngapin sama Cassie 😌
Ella Elli
Emang dasarnya gamon 😭
Ella Elli
OMG
Ella Elli
🤣🤣
Donna
Yaudah lah sama Amanda aja, sama2 udah dewasa juga kan
Donna
Si Liam ini cowo ter plin plan
Donna
bisa-bisanya
Donna
terlalu aman bahasanya 🤣
Four Forme: kurang berani gtu ya 🙈
total 1 replies
Donna
ini lagi anu kah?🤣
Donna
akal akalan
Donna
yang mulai bawa bawa masa lalu siapaaaaa
Donna
tuh kan masih cinta si liam mah
Donna
hadeuh
Harley
/Curse//Curse/
Harley
kirain part ini penuh dengan rasa ngambang gitu, endingnya aman 🙂👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!