NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kantor Polisi

Liam berdiri di dekat jendela ruang kerja dengan ponsel menempel di telinganya. Nada bicaranya kembali dingin, profesional, berbeda jauh dari pria yang semalam duduk di lantai memeluk Cassie sampai ia tertidur.

“Aku tidak mau pemeriksaan terbuka,” katanya tegas. “Dia datang sebagai korban, bukan tersangka. Semua pertanyaan harus melalui pengacara. Tidak ada rekaman tambahan selain yang resmi. Dan aku ingin semuanya selesai secepat mungkin.”

Suara di seberang terdengar panjang, menjelaskan prosedur. Liam mendengarkan tanpa memotong, matanya sesekali melirik ke arah pintu, memastikan Cassie tidak berdiri di sana mendengar percakapan yang bisa membuatnya kembali cemas.

“Aku tidak meminta saran,” lanjutnya akhirnya. “Aku membayar untuk hasil.”

Ia menutup telepon dengan napas pelan. Beberapa detik ia hanya berdiri diam, menenangkan pikirannya sebelum kembali keluar.

Di ruang tengah, Cassie duduk di sofa dengan secangkir teh hangat yang hampir tidak tersentuh. Marco berdiri di dekat pintu, memeriksa pesan di ponselnya, sementara Jino duduk bersila di karpet, mencoba menghidupkan suasana dengan cerita acak yang bahkan ia sendiri tidak terlalu fokus menceritakannya.

Begitu Liam muncul, pembicaraan langsung berhenti.

“Pengacara akan datang setengah jam lagi,” ujar Liam. Nadanya lebih lembut saat berbicara pada Cassie. “Dia yang akan menjelaskan semuanya. Kau tidak perlu menjawab apa pun sebelum dia ada di sampingmu.”

Cassie mengangguk pelan. Tangannya masih menggenggam cangkir, seolah panasnya membantu menjaga dirinya tetap tenang.

“Aku tidak akan ditinggal sendiri, kan?” tanyanya pelan.

Liam langsung menggeleng. “Tidak.”

Jawaban itu singkat, tapi cukup membuat bahu Cassie sedikit rileks.

Jino berdiri, menepuk celananya. “Aku ikut mengantar,” katanya santai, meski matanya serius. “Sekalian memastikan tidak ada wartawan atau polisi sok sibuk yang mencoba cari sensasi.”

Marco mengangguk setuju. “Aku urus jalur masuk. Lebih cepat, lebih sedikit orang.”

Liam tidak membantah. Untuk sekali ini, ia membiarkan semuanya berjalan sebagai tim. Bukan sebagai bos yang memberi perintah, tapi sebagai seseorang yang tahu ia tidak bisa menjaga Cassie sendirian.

Beberapa menit kemudian, suara mobil berhenti di halaman. Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi masuk membawa map tebal. Percakapannya singkat, jelas, dan tenang. Ia menjelaskan prosesnya. Cassie hanya perlu menceritakan apa yang terjadi.

Liam berdiri di belakang sofa sepanjang penjelasan itu, tangannya bertumpu di sandaran tepat di belakang Cassie. Tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk mengingatkan bahwa ia ada di sana.

Saat semuanya selesai dan mereka bersiap berangkat, Cassie berdiri sedikit ragu di dekat pintu.

Liam merapikan kerah jaketnya tanpa banyak bicara, gerakannya hati-hati agar tidak menyentuh luka di pipinya. “Kita selesaikan ini,” katanya pelan.

Cassie menatapnya sejenak, lalu mengangguk.

Di luar, udara pagi terasa dingin. Mobil sudah menunggu. Mesin menyala pelan, siap membawa mereka ke tempat yang ingin Liam hindari sejak awal.

***

Ruangan pemeriksaan itu jauh lebih kecil dari yang Cassie bayangkan. Tidak ada lampu sorot tajam atau meja logam dingin seperti di film, hanya meja kayu sederhana, dua kursi berhadapan, dan alat perekam yang menyala dengan lampu merah kecil.

Namun justru kesederhanaan itu membuat suasananya terasa lebih menekan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Pengacara duduk di sisi Cassie, membuka mapnya dengan tenang. Liam berdiri di belakang, bersandar pada dinding, kedua lengannya terlipat. Ia tidak berkata apa pun, tapi kehadirannya terasa seperti bayangan besar di ruangan itu.

Pertanyaan pertama berjalan lancar.

Nama. Status mahasiswa. Hubungan dengan Ethan. Kronologi singkat bagaimana mereka bertemu malam itu.

Cassie menjawab pelan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Sesekali ia melirik Liam. Pria itu tidak mengangguk atau memberi isyarat apa pun, tapi tatapannya cukup membuat Cassie tetap bertahan.

Semua terasa terkendali.

Sampai pertanyaan itu datang.

“Apakah saudara Ethan memaksa Anda untuk ikut ke lokasi tersebut?”

Cassie mengerjap. Ada jeda kecil sebelum ia menjawab. “Tidak… dia tidak memaksa. Saya ikut karena percaya padanya.”

Pulpen petugas berhenti bergerak. Pria itu mengangkat kepala perlahan, sudut bibirnya naik tipis.

“Jadi Anda datang secara sukarela?”

Nada suaranya berubah. Lebih ringan, tapi ada sesuatu yang menusuk di baliknya.

Cassie merasa dadanya mengencang. “Saya tidak tahu ke mana dia membawa saya. Setelah minum—”

“Kami tidak menemukan bukti zat apa pun dalam pemeriksaan awal,” potong petugas itu cepat.

“Tidak ada laporan medis yang menunjukkan Anda dibius.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Cassie menoleh ke pengacaranya, bingung. “Tapi kepala saya sakit… saya sulit bergerak…”

Petugas itu menyandarkan tubuhnya, menatap Cassie seolah sedang menilai sesuatu yang tidak ia percayai.

“Saudari Cassie, kami hanya mencoba memahami situasinya. Karena dari keterangan sementara, Anda datang sendiri, tidak ada paksaan fisik saat masuk, dan tidak ada bukti zat yang diberikan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang terdengar hampir mengejek.

“Atau… apakah Anda sebenarnya menyerahkan diri dengan sukarela?”

Kursi Liam bergeser keras.

Ia sudah berdiri sebelum Cassie sempat bereaksi, rahangnya menegang, matanya gelap seperti badai yang hampir pecah. Ia melangkah maju, jelas berniat menghentikan semuanya.

Tangan pengacara langsung menahan lengannya.

“Jangan,” bisiknya cepat. “Kalau Anda bereaksi sekarang, mereka punya alasan menghentikan pemeriksaan dan membalikkan posisi hukum.”

Liam membeku di tempat. Otot rahangnya bergerak keras, tapi ia menahan diri. Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.

Di meja, Cassie merasa ruangan itu tiba-tiba mengecil. Suara pendingin ruangan terdengar terlalu keras. Nafasnya mulai pendek.

“Itu tidak benar,” katanya pelan, berusaha menjaga suaranya tidak pecah. “Dia membohongi saya. Dia membuat saya percaya dia membantu.”

Petugas itu menulis sesuatu tanpa melihatnya.

“Namun Anda tetap masuk ke ruangan tersebut atas kemauan sendiri.”

Kalimat yang sama, diputar dengan bentuk berbeda.

Setiap pertanyaan berikutnya terasa seperti jebakan. Kata-kata Cassie dipotong, disusun ulang, diarahkan seolah-olah ia ceroboh, seolah-olah ia salah menilai situasi, seolah-olah semuanya adalah keputusan buruknya sendiri.

Bukan korban.

Hanya seseorang yang membuat pilihan salah.

Liam tidak lagi bergerak, tapi matanya tidak pernah lepas dari Cassie. Ia melihat perubahan kecil itu. Bahu Cassie yang semakin menegang. Jemari yang saling menggenggam kuat di pangkuannya. Cara gadis itu mulai menjawab lebih pelan, lebih ragu.

Pengacara akhirnya bersuara, nadanya tetap profesional tapi tegas. “Klien saya sudah menjelaskan bahwa ada manipulasi psikologis dan penyalahgunaan kepercayaan. Saya minta pertanyaan tetap relevan dan tidak mengarah pada penilaian karakter korban.”

Petugas itu mendengus pelan, lalu menutup mapnya sebagian. Namun senyum tipis itu masih ada.

“Baik. Kita lanjut.”

Cassie menelan ludah.

Dan di belakangnya, Liam berdiri diam, menahan amarah yang hampir menghancurkan segalanya hanya agar Cassie tidak harus melewati ini sendirian lagi.

Pengacara Liam yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya menutup mapnya dengan pelan. Suara kecil itu cukup membuat petugas menghentikan tulisannya.

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nada suaranya tetap sopan, namun tajam seperti pisau yang baru diasah.

“Kalau kita sudah selesai dengan asumsi,” katanya tenang, “mari kembali ke fakta.”

Petugas mengangkat alis, sedikit tidak senang arah pembicaraan mulai bergeser.

Pengacara membuka beberapa lembar dokumen. “Saudari Cassie datang ke lokasi karena diundang oleh seorang aparat aktif yang memiliki posisi otoritas. Itu sudah masuk kategori ketimpangan relasi kuasa. Dalam hukum, persetujuan yang diberikan dalam kondisi seperti itu tidak bisa dianggap sebagai persetujuan bebas.”

Ia mendorong satu dokumen ke tengah meja.

“Ini laporan internal mengenai akses ilegal Ethan terhadap data sipil. Termasuk riwayat pergerakan korban yang tidak ada hubungannya dengan tugas kepolisian.”

Petugas itu berhenti membaca. Wajahnya mulai berubah.

Cassie ikut menoleh, bingung. Ia bahkan tidak tahu dokumen itu ada.

Pengacara melanjutkan tanpa menaikkan suara. “Dan ini,” ia membuka halaman berikutnya, “foto-foto yang ditemukan di lokasi. Dokumentasi korban tanpa persetujuan. Diambil selama berbulan-bulan.”

Liam tidak bergerak, tapi matanya sedikit menyipit. Marco dan Jino rupanya bekerja jauh lebih cepat dari yang Cassie bayangkan.

“Jika kita ingin membahas soal sukarela,” lanjut pengacara itu, kini menatap langsung petugas di seberangnya, “maka saya sarankan kita juga membahas unsur stalking, manipulasi psikologis, dan penyalahgunaan wewenang oleh aparat negara.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Lampu merah alat perekam masih menyala, tapi atmosfernya sudah berbeda. Tidak lagi menekan Cassie.

Sekarang tekanan berbalik arah.

Petugas itu berdeham kecil, mencoba mempertahankan wibawa. “Kami hanya menjalankan prosedur.”

“Tentu,” jawab pengacara singkat. “Dan prosedur juga melarang pertanyaan yang menyudutkan korban seolah ia penyebab kejadian.”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kalimatnya untuk benar-benar terasa.

“Klien saya tidak diadili di sini.”

Cassie merasakan sesuatu yang sejak tadi hilang akhirnya kembali. Udara terasa lebih ringan. Dadanya yang sempit perlahan mengendur. Untuk pertama kalinya sejak duduk di kursi itu, ia tidak merasa sendirian.

Petugas itu menutup mapnya sepenuhnya. Nada suaranya berubah, lebih formal, lebih berhati-hati.

“Kita lanjutkan dengan klarifikasi terakhir.”

Pertanyaan berikutnya jauh lebih singkat. Fokus pada tindakan Ethan, bukan pada keputusan Cassie. Tidak ada lagi nada mengejek. Tidak ada lagi jebakan kata.

Beberapa menit kemudian, alat perekam dimatikan.

“Untuk sementara cukup,” ujar petugas itu.

Cassie bahkan tidak sadar ia menahan napas sampai Liam akhirnya bergerak mendekat. Tangannya tidak menyentuh Cassie, tapi berdiri di samping kursinya, cukup dekat untuk membuatnya merasa aman.

Pengacara menutup mapnya sambil berdiri. “Sisanya kami yang tangani.”

Saat mereka keluar dari ruangan itu, langkah Cassie terasa ringan sekaligus lelah. Seperti baru keluar dari ruangan tanpa jendela setelah terlalu lama berada di dalamnya.

Di lorong kantor polisi yang dingin, Liam akhirnya berbicara pelan di sampingnya.

“Kau melakukannya dengan baik.”

Hanya itu. Tidak berlebihan. Tapi suara Liam kali ini tidak lagi keras atau terluka.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!