Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIMABUK CINTA
Belinda mengikutinya dari belakang. Bram meliriknya, lalu mengulurkan tangannya pada Belinda dan Belinda meraihnya, sedikit berlari kecil ia mengikuti Bram yang memiliki langka besar.
"Hei, kamu sudah keluarlah bawa kayu-kayu dan kapak itu, cepat!"
"Yaa, bos!"
Kaki tangan Bram itu lalu keluar dari balik pohon, sedari tadi ia bersembunyi dari balik pohon. Ia menelan ludah saat melihat adegan percintaan bosnya dan nona kekasih bosnya.
Ia awalnya buang air kecil, lalu saat mau berbalik ke tempat bosnya ia mendapati bosnya sedang berpelukan dengan gadisnya, jadinya ia bersembunyi, awalnya tidak mau melihat, tapi, akhirnya ia mengintip mereka berdua.
Bosnya bagai dimabuk kepayang dan seperti kehilangan jati diri sejak bertemu gadis itu. Belum pernah ia melihat bosnya selembut itu pada wanita. Gila bosku bisa berubah, batinnya. tapi memang kedua pasangan itu serasi. Bosnya berwajah tampan, dia memiliki fisik yang bagus, tingginya 180-an berbadan atletis. walaupun mukanya terkadang terlihat sangat, bosnya memiliki wajah yang tampan.
Bosnya berkulit agak kecoklatan dilihatnya, terlebih akhir-akhir ini, namun justru kulitnya itu membuat dia kelihatan jantan sebagai lelaki. Apalagi bila bosnya memakai jas tuxedo, alamak beberapa perempuan banyak yang melirik. bosnya dan nona gadis itu pasangan serasi walaupun latar kehidupannya bertolak belakang.
Apalagi bila melihat pemandangan sekarang bosnya menggandeng jemari tangan nona itu. Mereka seperti pasangan telenovela yang sedang dimabuk cinta. Bosnya yang tampan dan nona kaya raya yang cantik jelita.
Dia mengutuki nasibnya yang tidak beruntung dalam percintaan, bahkan seorang janda sekalipun tidak mau padanya. Mukanya buruk rupa, dulu dia pernah disiram air keras, hingga wajahnya sebagian rusak.
Untunglah bosnya menerimanya sebagai kaki tangan ditengah penderitaannya. Jadilah sekarang dia hidup hanya mengabdi untuk bosnya. Sampai mati pun ia akan setia pada bosnya, Bram.
Dipikulnya kayu dan ditentengnya kapak itu, ia mengikuti mereka, menuju arah jalan ke pondok.
***
Setibanya di pondok, Bram mandi di kamar mandi kecil yang ada sumurnya. Setelah ia mandi, ia menyuruh Belinda mandi. Ia menunggu di luar pintu kamar mandi itu, menunggui Belinda yang katanya takut. Kamar mandi itu memang agak gelap karena Watt lampunya. Belinda mandi agak tergesa-gesa didengarnya dari luar.
"Hei, aku di luar, tidak usah terburu-buru, aku akan menjagamu di sini."
Byurrrr
"Yaaa".
Byurrrr
Awalnya ia bingung, tidak ada shower di kamar mandi itu bahkan toiletnya jongkok. Dia bingung cara memakai gayung dan cara mengambil air dari ember kecil, dan cara mengguyurkan ke badannya.
Bram lalu mengajarkannya. Dia tertawa, melihat ada manusia yang tidak mengerti cara mandi menggunakan gayung. Tentu saja Belinda adalah gadis kaya raya tentunya ia mandi berendam di dalam bathtub di rumahnya atau di hotel, sedangkan di sini hutan. Mana ada shower dan bathtub.
Belinda keluar dengan handuk yang menutupi tubuhnya, dia padahal membawa baju ke dalam kamar mandi malah keluar menenteng baju itu lagi keluar, lucu sekali.
"Hei, pakai bajumu dulu!"
Ia mendorong dengan lembut badan Belinda masuk kembali ke dalam kamar mandi agar memakai bajunya kembali.
Belinda masuk ke kamar mandi dan memakai pakaiannya, dia agak kesal karena harus memakai pakaiannya di kamar mandi yang sempit itu. Dulu di kamarnya dia hanya memakai handuk keluar dari kamar mandi. Ribet sekali kini.
.....
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆