NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:197
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cafe Mercer

Maëlle kembali ketika matahari masih malas muncul—cahaya pucat baru menyentuh ujung ladang, tapi udara sudah menggigit seperti es tipis.

Pintu depan terbuka. Maëlle masuk tanpa suara besar, hanya hembusan napasnya yang terdengar lebih berat dari biasanya. Rambutnya sedikit basah, kulitnya mengilap oleh keringat, dan spandek olahraga yang ia pakai membuatnya terlihat seperti orang yang baru pulang dari rutinitas sehat—bukan orang yang mungkin membunuh seseorang dengan tangan kosong.

Wajahnya tetap dingin. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.

Ia menatap Fred yang duduk di ruang tamu dengan majalah terbuka, lalu berkata pendek:

“Bersiap. Kita akan pergi.”

Fred menurunkan majalah pelan. Jantungnya otomatis naik.

“Pergi ke mana?” tanya Fred.

Maëlle melepas jaket tipisnya, menggantungnya tanpa rapi, lalu berkata seolah itu hal yang paling wajar:

“Mencari tahu siapa yang mengontrak untuk membunuhmu.”

Fred berdiri, setengah kaget setengah lega. “Kenapa baru sekarang kamu kasih tahu? Kenapa bukan dari kemarin?”

Maëlle menatapnya sebentar, lalu jawabannya keluar datar namun… anehnya, ada sedikit humor kering di sana.

“Kadang lari pagi bisa dapat ide bagus.”

Fred mengerutkan kening. “Ide apa?”

Maëlle tidak menjawab. Ia berjalan ke kamarnya.

Fred mengikuti beberapa langkah. “Maëlle, serius—”

Pintu kamar Maëlle menutup pelan. Bukan dibanting. Cukup untuk mengatakan: selesai bicara.

Fred menghela napas panjang, lalu menatap rumah yang sunyi itu. Mercer belum pulang. Pickup putihnya tidak ada. Tidak ada suara lain kecuali angin.

Jadi kita pergi tanpa Mercer.

Itu seharusnya membuat Fred takut. Tapi anehnya, ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa—akhirnya—mereka bergerak ke arah jawaban.

Fred bergegas ke kamarnya, mandi cepat, ganti baju yang paling “normal” yang ia punya: jeans, hoodie, jaket tipis. Ia memasukkan barang-barang penting ke tas. Ponsel. Dompet. Kertas alamat yang sempat ia simpan—meski sekarang ia tidak yakin kertas itu masih relevan.

Di dapur, ia dan Maëlle sarapan cepat. Roti, telur, kopi. Maëlle makan sedikit, lebih karena tubuh butuh bahan bakar daripada karena selera. Fred makan dengan tangan gemetar halus.

“Kita ke mana dulu?” Fred mencoba lagi.

Maëlle menyesap kopi sekali. “Stasiun.”

“Stasiun?” Fred mengulang. “Kita… kembali naik kereta?”

Maëlle mengangguk.

“Ke mana?”

Maëlle menatapnya lurus. “Inggris. London.”

Fred mematung. “London?”

Maëlle tidak menunggu respon. Ia berdiri, meraih coat, memasukkan sesuatu kecil ke saku. Gerakannya tenang. Terlalu tenang.

“Kamu yakin?” Fred bertanya, suara pelan. “Setelah semua—kita malah ke tempat ramai.”

“Justru,” jawab Maëlle singkat.

Itu satu kata yang mengandung banyak hal, tapi tidak memberi penjelasan.

Mereka keluar rumah tanpa menutup percakapan. Maëlle membawa kunci, mengunci pintu, lalu menoleh ke Fred.

“Kalau kamu mulai ragu di tengah jalan, jangan,” katanya. “Ragu bikin kamu lambat.”

Fred menelan ludah. “Aku cuma… ingin tahu rencananya.”

Maëlle berjalan duluan. “Kamu akan tahu saat waktunya.”

Stasiun kali ini lebih besar dan lebih ramai. Pagi sudah benar-benar hidup: orang mengejar jadwal, koper beradu, pengumuman terdengar seperti gumaman panjang. Fred merasa napasnya sedikit lebih mudah di keramaian—meski keramaian juga berarti lebih banyak kemungkinan ancaman.

Maëlle memesan tiket dengan cepat, seperti orang yang sudah hafal prosedurnya. Tidak ada obrolan panjang dengan petugas. Tidak ada keraguan.

Fred mengikuti, mata menyapu wajah-wajah. Ia merasa seperti sedang menonton film mata-mata—hanya saja ini bukan layar. Ini kulitnya sendiri.

Mereka naik kereta menuju London. Kereta bergerak cepat, menembus lanskap yang berubah-ubah. Ladang menjadi kota kecil. Kota kecil menjadi jalur panjang.

Fred mencoba bertanya di perjalanan.

“Bagaimana kamu mau cari tahu siapa yang bikin kontrak?” tanya Fred, pelan, ketika mereka duduk berhadapan.

Maëlle menatap jendela. Wajahnya tidak bergerak.

“Kita akan tahu,” jawabnya.

“Maëlle…”

Maëlle menoleh sebentar, tatapannya cukup untuk menghentikan kalimat Fred.

“Kalau aku jelaskan sekarang, kamu akan memikirkan terlalu banyak. Kamu akan terlihat seperti orang yang menyembunyikan sesuatu,” katanya. “Dan orang yang menyembunyikan sesuatu adalah magnet.”

Fred membuka mulut, lalu menutup lagi.

Maëlle kembali diam.

Sepanjang perjalanan, Maëlle lebih banyak menatap keluar. Sesekali ia menyesuaikan posisi duduk untuk melihat pantulan kaca, memantau lorong, memantau orang yang lewat. Tangannya sering berada dekat saku coat, tapi tidak pernah terlihat jelas memegang apa.

Fred merasa hidup di dua dunia sekaligus: dunia kereta yang normal—orang membaca, orang makan sandwich—dan dunia lain di bawah permukaan, dunia yang hanya Maëlle dan mungkin Mercer yang bisa lihat.

Ketika kereta akhirnya sampai London, suara kota menyerbu mereka begitu pintu dibuka: langkah tergesa, bahasa campur aduk, sirene jauh, dan aroma aspal basah. London tidak lebih lembut dari Paris—hanya berbeda jenis kerasnya.

Maëlle langsung menggiring Fred keluar stasiun. Mereka naik taksi.

Pengemudi bertanya tujuan. Maëlle menyebut alamat—cepat, tanpa aksen yang jelas. Fred tidak sempat mencerna. Ia hanya memandang keluar jendela: gedung-gedung, bus merah lewat, orang-orang berjalan seperti aliran.

Taksi bergerak, memotong jalan-jalan sempit, berhenti di lampu merah, lalu melaju lagi.

Sepuluh menit. Dua puluh.

Akhirnya mobil melambat, lalu berhenti di pinggir jalan yang ramai tapi tidak terlalu bising.

Maëlle membayar. “Turun.”

Fred turun, dan baru saat ia berdiri di trotoar, ia melihat papan nama di depan mereka.

Sebuah kafe.

Bukan rumah.

Bukan kantor.

Kafe.

Fred menatap Maëlle, lalu teringat secarik kertas yang ia pegang dulu—alamat “E. Mercer” yang Maëlle berikan untuk Inggris.

Ia merogoh saku, mengeluarkan kertas itu, membandingkan.

Sama.

Alamat yang sama.

Dan di depan pintu kafe itu, ada tulisan sederhana di papan: “Mercer”—huruf putih di kayu gelap.

Fred merasa tengkuknya dingin. “Ini… alamat yang kamu kasih aku dulu.”

Maëlle mengangguk.

“Dan… ini bukan rumah. Ini kafe.” Fred menatap jendela, melihat orang-orang di dalam: barista, pasangan muda, seorang pria membaca koran.

Maëlle menatap Fred seperti menatap orang yang terlalu lambat memahami permainan.

“Karena rumah itu mudah dipantau,” kata Maëlle. “Kafe lebih berguna.”

Fred mengerutkan kening. “Untuk apa?”

Maëlle mendekat sedikit, suaranya rendah—nada yang membuat bulu kuduk Fred meremang.

“Kamu masuk duluan,” kata Maëlle. “Cari tempat duduk. Pura-pura tidak kenal aku.”

Fred membeku. “Apa?”

Maëlle menatapnya tajam. “Lakukan.”

“Kamu serius?” Fred berbisik.

Maëlle mengangguk sekali. “Ini bukan film. Tapi aturannya sama: jangan berjalan sebagai satu unit yang jelas.”

Fred menelan ludah. Dadanya berdebar. Ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Ia bahkan tidak pernah berbohong dengan bagus. Tapi ia menatap mata Maëlle dan tahu: menolak sekarang sama dengan membuka pintu untuk peluru.

“Oke,” kata Fred, suaranya kecil.

Maëlle menunjuk. “Duduk dekat bar. Tempat kamu bisa lihat pintu masuk dan orang yang keluar-masuk. Jangan tatap siapa pun terlalu lama. Pesan sesuatu.”

Fred mengangguk, lalu berjalan masuk.

Suara lonceng kecil berbunyi saat pintu terbuka. Aroma kopi dan pastry hangat menyambutnya—normal, hangat, menipu. Fred melangkah dengan wajah datar yang ia paksa, memilih meja dekat bar, kursi yang membelakangi dinding. Ia duduk, menaruh tas di bawah kaki, lalu memesan kopi dengan suara yang hampir tidak bergetar.

Barista tersenyum ramah. “Anything else?”

“Just… coffee,” Fred menjawab.

Ia mencoba bernapas.

Ia mencoba terlihat seperti mahasiswa biasa yang sedang menunggu teman.

Tangan Fred memegang cangkir ketika kopi datang. Ia menyesap, tapi rasa kopi hampir tidak terasa. Yang terasa hanya adrenalin.

Beberapa menit berlalu.

Lalu bel kafe berbunyi lagi.

Maëlle masuk.

Jika Fred tidak tahu siapa dia, ia akan mengira Maëlle hanyalah seorang wanita cantik dengan penampilan rapi. Coat yang pas, rambut yang rapi, makeup tipis yang membuat wajahnya terlihat “hidup” tanpa terlihat “berusaha.”

Tapi Fred tahu mata itu.

Mata itu tidak berubah.

Maëlle berjalan tenang, memilih meja di pinggir kaca—posisi yang memberi dia dua keuntungan: melihat jalan di luar dan melihat seluruh kafe di dalam lewat pantulan.

Ia duduk, memesan sesuatu, lalu menaruh teleponnya di meja—bukan untuk scroll, tapi sebagai cermin tambahan.

Fred menatap cangkirnya, berusaha tidak terlihat menatap Maëlle.

Ini memang seperti film mata-mata.

Bedanya… Fred tidak merasa keren. Ia merasa seperti mangsa yang sedang belajar berjalan.

Maëlle tidak menoleh pada Fred. Ia tidak memberi isyarat. Ia hanya duduk, diam, memantau. Seolah berkata tanpa kata: sekarang, kita tunggu ikan datang.

Dan di balik aroma kopi yang nyaman, Fred merasakan sesuatu yang lebih dingin menyusup:

London bukan tempat aman.

London hanyalah papan catur baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!