Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menonton Bersama Liam
Di lantai atas, di balik pintu kayu ek yang tebal dan kedap suara, suasana berubah drastis. Tidak ada lagi sisa-sisa keramahan makan malam tadi. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja temaram, dipenuhi aroma tembakau mahal dan tumpukan dokumen.
Marco menyandarkan tubuhnya di dekat jendela, matanya menatap tajam ke arah Liam yang sedang menuang whiskey ke dalam gelas kristal.
"Apa kau yakin membawa orang asing tinggal di sini?"
Suara Marco akhirnya keluar. Berat, dingin, dan penuh perhitungan.
"Kau tahu risiko kita, Liam," lanjut Marco. "Kau yang bilang sendiri. Gadis itu dekat dengan Ethan. Satu kata saja salah terucap dari mulutnya, seluruh jalur distribusi 'produk' kita di Verovska bisa hancur dalam semalam. Kita tidak bisa membiarkan ada variabel yang tidak pasti di rumah ini."
Liam meneguk minumannya, ekspresinya tetap tenang, namun matanya memancarkan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Tenanglah, Marco. Dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya gadis malang yang butuh tempat tinggal."
"Aku percaya padanya. Dia tidak akan membocorkan apa pun. Dan kalaupun dia berani melakukannya... aku sendiri yang akan mengurusnya. Kau tahu aku tidak pernah membiarkan pengkhianat lepas begitu saja, bukan?"
Jino, yang sejak tadi duduk santai di sofa kulit sambil memutar-mutar ponselnya, tiba-tiba terkekeh. Namun, tawa cerianya kali ini terdengar sedikit memperingatkan.
"Liam, kawan," Jino menatap Liam dengan tatapan penuh arti. "Jangan terlalu terbawa perasaan lebih dalam. Kita semua tahu Cassie itu manis, tapi jangan lupa tujuan awalmu. Ingat, gadis mahasiswa itu hanya sebagai pelarian karena kau merasa kesepian setelah dicampakkan oleh Amanda."
Liam terdiam, rahangnya mengeras mendengar nama Amanda disebut.
"Lagipula," Jino melanjutkan sambil mengangkat bahu, "kalau dibandingkan dengan Amanda, dia masih jauh di bawahnya. Dia bukan tipe 'cantik seksi' yang biasanya kau bawa ke tempat tidur. Dia bukan tipemu, Liam."
Liam hanya menatap gelasnya yang kosong, tidak membantah namun juga tidak membenarkan. "Dia di sini untuk bekerja. Tidak lebih," ucap Liam datar, meski ada nada yang sedikit dipaksakan dalam suaranya. "Sekarang, mari kita bahas pengiriman untuk minggu depan. Marco, bagaimana jalur di perbatasan utara?"
***
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca raksasa di ruang tengah membangunkan Cassie lebih awal dari biasanya. Alih-alih merasa berat untuk bangun, ia justru merasa semangat. Ada kepuasan tersendiri saat ia mulai mengelap meja marmer yang dingin dan menyedot debu di karpet bulu yang tebal. Ia mulai dari area yang bisa ia jangkau, memastikan setidaknya ruang tengah dan dapur terlihat sempurna.
Setelah selesai dengan urusan bersih-bersih singkat, Cassie segera beralih ke dapur. Ia membuat sarapan yang layak: roti panggang, telur mata sapi yang pinggirannya garing, dan potongan sosis premium yang ia temukan di kulkas semalam.
Cassie duduk di kursi bar dapur, menikmati suapan pertamanya dengan perasaan senang. Biasanya jam segini aku baru bangun dengan perut melilit, lalu terburu-buru ke kampus dan cuma makan roti sisa di kantin, batinnya. Kini, ia bisa sarapan dengan tenang di ruangan yang aromanya wangi kopi mahal.
"Mana Jino dan Marco?" tanya Cassie saat melihat Liam turun dari tangga dengan kemeja hitam yang belum dikancingkan sepenuhnya.
"Mereka sudah pergi sejak pukul empat pagi," jawab Liam sambil menarik kursi di depan Cassie. "Dunia tidak akan berputar kalau mereka baru bangun jam segini."
"Oh," gumam Cassie. Ia baru sadar kalau pekerjaan Liam dan teman-temannya ternyata seberat itu sampai harus berangkat saat dini hari.
"Cepat habiskan makananmu. Aku akan mengantarmu ke kampus sekarang," ujar Liam sambil menyambar kopi yang sudah disiapkan Cassie.
"Lalu sore nanti? Apa kau akan menjemputku lagi?"
"Tentu saja. Kau pikir aku membiarkan pelayanku keluyuran tidak jelas?" Liam menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku akan menjemputmu tepat waktu. Jangan coba-coba pulang naik bus atau mampir ke tempat lain."
Cassie mengangguk patuh. Sebenarnya, ada bagian dari dirinya yang merasa sedikit terkekang. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, semua jadwalnya diatur, tumpangannya ditentukan, dan gerak-geriknya diawasi. Namun, setiap kali ia mengingat saldo di rekeningnya yang menipis dan kenyataan bahwa ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang sepeser pun untuk transportasi dan makan, rasa keberatan itu menguap begitu saja.
"Baiklah, Tuan Besar. Aku akan menunggu di gerbang seperti biasa," sahut Cassie sambil membereskan piringnya.
Sepanjang perjalanan ke kampus, Cassie hanya menatap ke luar jendela. Ia melihat halte bus tempat ia biasa menggigil kedinginan, dan melihat kantor polisi tempat ia biasa mencari-cari Ethan.
Anehnya, hari ini ia tidak terlalu bersemangat untuk mencari sosok polisi itu. Pikirannya lebih banyak dipenuhi oleh daftar belanjaan yang mungkin harus ia beli untuk makan malam dan bagaimana caranya membersihkan sisa ruangan di rumah Liam yang sangat luas itu.
***
Cassie berdiri di depan gerbang kampus, sesekali meniup telapak tangannya untuk mengusir dingin. Ia sudah menunggu selama dua puluh menit, namun Liam belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Mana sih dia? Katanya jangan naik bus, tapi malah telat," gerutu Cassie kesal. Ia sempat terpikir untuk mengeluarkan ponsel dan menelepon Liam, tapi ia takut pria itu sedang dalam urusan bisnis penting yang "tidak boleh diketahui anak kecil".
Tiba-tiba, suara sirene pendek terdengar. Sebuah mobil patroli polisi yang sangat familiar berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun, dan wajah tampan Ethan muncul dari balik kemudi dengan senyum hangat yang sudah lama tidak Cassie lihat.
"Cassie? Sedang apa berdiri di sini sendirian?" tanya Ethan. "Sudah lama kita tidak bertemu. Kau tampak... sedikit berbeda."
"Ah, Ethan! Iya, aku sedang menunggu tumpangan," jawab Cassie, merasa sedikit canggung karena ia merasa seperti tertangkap basah sedang menunggu "penjahat pajak" yang diperingatkan Ethan.
Ethan mematikan mesin mobilnya sejenak. "Omong-omong, apa kau pindah dari apartemen? Kemarin aku patroli di sekitar Raven’s Gate dan sempat ingin mampir menyapamu, tapi tetanggamu bilang kau sudah tidak ada. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu."
Jantung Cassie berdegup kencang. Ia bingung harus menjawab apa. Baru saja ia membuka mulut untuk menjelaskan, sebuah deru mesin yang sangat keras memecah suasana. Mobil sport mewah Liam berhenti mendadak tepat di belakang mobil patroli Ethan.
Liam turun dengan kacamata hitamnya, wajahnya tampak datar namun ada aura dominan yang terpancar jelas.
"Halo, Ethan. Bertemu lagi di jam kerja?" sapa Liam dengan nada basa-basi yang sangat luwes. Ia langsung merangkul bahu Cassie, sebuah gerakan yang membuat Cassie tersentak.
Ethan mengerutkan dahi, menatap tangan Liam di bahu Cassie. "Liam? Kau menjemput Cassie?"
"Tentu saja. Kami ada janji nonton film sore ini, dan aku sudah telat dua puluh menit. Bisa kau bayangkan betapa cerewetnya dia kalau filmnya sudah mulai?" Liam terkekeh, sengaja memotong pembicaraan sebelum Cassie sempat menjawab pertanyaan Ethan soal kepindahannya.
Liam menoleh ke Cassie dengan tatapan yang seolah memberi kode keras. "Ayo cepat naik, Honey. Kita tidak mau ketinggalan adegan pembukanya, kan?"
"Nonton?" Cassie melongo, tapi Liam segera mendorongnya masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya, Ethan. Kami harus buru-buru. Lain kali kita bicara lagi!" teriak Liam sambil kembali ke kursi kemudi.
Begitu pintu tertutup dan mobil mulai melaju kencang meninggalkan Ethan yang masih berdiri bingung di samping mobil patrolinya, Cassie langsung meledak.
"Sejak kapan kita punya janji nonton?! Dan apa-apaan tadi itu, kau memanggilku apa?!"
Liam tidak menoleh, matanya fokus ke jalan raya sambil menambah kecepatan. "Itu namanya penyelamatan, Cassie. Kau mau dia tahu kalau kau tinggal satu atap dengan 'orang licin' sepertiku? Kau mau dia menginterogasimu sepanjang malam soal apa yang ada di gudangku?"
Cassie terdiam. Ia baru sadar bahwa Liam sengaja berbohong agar hubungannya dengan Ethan tidak semakin dalam dan agar rahasia tentang rumah barunya tidak terbongkar. Namun, di balik rasa kesalnya, Cassie merasa ada sesuatu yang aneh, kenapa Liam terlihat sangat tidak suka saat melihatnya mengobrol dengan Ethan tadi?
"Kita benar-benar akan ke bioskop?" tanya Cassie pelan.
"Tentu tidak. Kau punya banyak piring yang harus dicuci di rumah," jawab Liam, kembali ke mode menyebalkannya.
Cassie tidak membiarkan Liam menang begitu saja kali ini. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, bibirnya mengerucut tajam.
"Pokoknya kita harus nonton! Kau sudah membuatku menunggu setengah jam sampai hampir membeku di depan gerbang, berbohong di depan Ethan, dan sekarang kau mau membawaku pulang untuk mencuci piring? Tidak bisa!"
"Cassie, aku punya urusan. Aku tadi bahkan harus mematikan sambungan telepon dengan Marco hanya untuk menjemputmu."
"Aku tidak peduli," potong Cassie sambil memasang wajah paling memelas yang ia punya. "Ayolah, Liam... Sekali saja. Aku janji, setelah pulang nonton, aku akan membersihkan seluruh lantai satu tanpa mengeluh. Aku juga akan masak makanan yang paling enak untukmu, Jino, dan Marco. Kau mau apa? Pasta lagi? Atau daging panggang? Aku akan siapkan semuanya!"
Liam melirik Cassie dari sudut matanya. Gadis itu menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Liam menghela napas panjang, merutuki dirinya sendiri karena entah sejak kapan ia jadi selemah ini menghadapi rengekan mahasiswi di sampingnya. Padahal di luar sana, orang-orang gemetar hanya mendengar namanya disebut.
"Setelah nonton kita langsung pulang," gerutu Liam sambil memutar balik mobilnya dengan kasar ke arah pusat perbelanjaan. "Dan awas saja kalau kau ketiduran di dalam bioskop."
"Yesss! Terima kasih, Tuan Besar!" seru Cassie kegirangan, hampir saja ia memeluk lengan Liam kalau tidak ingat pria itu sedang menyetir.
Sepanjang perjalanan menuju bioskop, ponsel Liam terus bergetar di dasbor. Nama 'Marco' dan beberapa nomor tanpa nama muncul bergantian, tapi Liam hanya meliriknya sekilas lalu membalikkan ponselnya agar layarnya menghadap ke bawah. Ia tahu pekerjaannya sedang menumpuk, apalagi dengan pengiriman "produk" baru minggu ini, tapi melihat senyum Cassie yang lebar, Liam memilih untuk mencuri sedikit waktu dari dunianya yang gelap.
Sesampainya di bioskop, suasana kembali menjadi canggung. Cassie dengan semangat memilih film komedi romantis yang sedang populer, sementara Liam berdiri di belakangnya dengan wajah datar, merasa sangat salah kostum dengan kemeja mahalnya di antara kerumunan remaja.
"Dua tiket, dan popcorn yang besar!" ujar Cassie semangat.
"Aku tidak makan jagung meledak," sela Liam saat Cassie hendak memesan.
"Ini untukku! Kau yang bayar, kan?" Cassie menyengir tanpa dosa.
Liam hanya bisa memutar bola matanya sambil mengeluarkan kartu kreditnya. "Kau benar-benar pelayan paling mahal yang pernah ada dalam sejarah."
Meskipun Liam terus mengeluh dan menyindir sepanjang film, terutama saat adegan-adegan romantis yang menurutnya tidak masuk akal. Cassie bisa melihat bahwa Liam tidak benar-benar benci berada di sana. Pria itu sesekali ikut mencuri popcorn milik Cassie saat gadis itu terlalu serius menonton.
Di dalam kegelapan bioskop, suasana mendadak menjadi sangat canggung bagi Cassie. Di layar lebar, kedua pemeran utama mulai bergerak mendekat, musik pengiring berubah menjadi instrumen piano yang lembut dan romantis, hingga akhirnya mereka berciuman dengan sangat emosional.
Cassie menahan napas, merasa wajahnya memanas. Ia mencoba berpura-pura sangat fokus pada jalan cerita film itu, meski sebenarnya ia sangat sadar akan kehadiran Liam yang duduk tepat di sebelahnya.
"Cih," suara decihan Liam memecah keheningan di antara mereka.
Cassie melirik kesal. "Apa lagi?" bisiknya.
Liam menyandarkan punggungnya dengan santai, matanya tetap menatap layar dengan ekspresi meremehkan. "Tekniknya buruk. Sudut kemiringannya salah, dan dia terlalu banyak ragu," komentar Liam dengan nada suara rendah yang sangat percaya diri.
"Aku bahkan bisa melakukan jauh lebih baik dari itu."
Wajah Cassie yang tadinya merah karena malu, sekarang berubah menjadi merah padam karena terkejut. Ia hampir saja tersedak popcorn.
"Liam! Berhenti berkomentar dan nikmati saja filmnya! Kau merusak suasananya!" bisik Cassie setengah berteriak sambil menyikut lengan Liam yang keras.
Liam hanya tertawa rendah, sebuah tawa nakal yang membuat bulu kuduk Cassie meremang. "Aku hanya bicara jujur, Cassie. Kenapa kau yang jadi panik?"
Sisa film itu dilewati Cassie dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Ia tidak lagi bisa fokus pada adegan komedi di layar karena kalimat "Aku bisa lebih baik dari itu" terus terngiang-ngingang di kepalanya.
Begitu film selesai dan lampu bioskop menyala, Liam langsung bangkit berdiri. Ekspresinya yang santai tadi menghilang, digantikan oleh wajah serius yang penuh perhitungan. Ia segera mengeluarkan ponselnya yang tadi ia matikan. Begitu layar menyala, ada belasan panggilan tak terjawab dari Marco.
"Ayo, cepat!" perintah Liam sambil menarik tangan Cassie.
Mereka hampir berlari menuju parkiran. Begitu masuk ke dalam mobil, Liam langsung menginjak gas dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota Verovska yang mulai gelap. Ia mengemudi dengan sangat cekatan, menyalip mobil-mobil di depannya.
"Kenapa ngebut sekali? Apa Marco marah?" tanya Cassie sambil berpegangan pada sabuk pengamannya.
"Lebih dari marah. Dia mungkin sudah siap menembak kepalaku karena menghilang selama dua jam hanya untuk menonton orang berciuman di layar lebar," jawab Liam ketus, matanya fokus menatap jalanan di depan.
Namun, di tengah ketegangannya menghadapi amukan Marco, Liam sempat melirik Cassie yang tampak sedikit ketakutan karena kecepatan mobil itu. Ia menurunkan sedikit kecepatannya dan berdeham.
"Ingat janjimu, Cassie," ucap Liam dengan nada memperingatkan. "Aku sudah membuang waktu berhargaku untuk menemanimu menonton film bodoh tadi. Setelah sampai rumah, pastikan kau langsung memasak makanan yang sangat enak. Aku butuh asupan yang bagus setelah menghadapi omelan Marco."
Cassie mengangguk cepat. "Iya, iya! Aku akan masak yang paling spesial. Janji!"
Meskipun Liam terlihat sangat sibuk dan tertekan oleh pekerjaannya, Cassie merasa sedikit tersanjung karena pria itu rela mengambil risiko dimarahi oleh rekannya sendiri hanya untuk menuruti keinginan konyolnya.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭