Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salju New York dan Janji yang Menyeberangi Benua
Musim dingin di New York City adalah monster yang berbeda dari hujan gerimis di London. Angin kencang menyapu lorong-lorong beton Manhattan, membawa serpihan es yang menusuk kulit. Ziva merapatkan syal wol pemberian Bu Shanti, tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal menggenggam erat segelas latte panas yang sudah mulai mendingin. Di depannya, layar raksasa di Times Square menampilkan iklan-iklan gemerlap, namun mata Ziva hanya tertuju pada satu titik: tangga merah besar di tengah lapangan.
Hari ini adalah libur semester musim dingin. Sudah hampir enam bulan sejak perdebatan hebat mereka di telepon tentang laptop dan uang Pak Wijaya. Sejak saat itu, komunikasi mereka membaik, namun tetap ada kecanggungan yang menggantung. Jarak bukan hanya soal kilometer, tapi soal pengalaman hidup yang mulai berbeda. Ziva sibuk dengan liputan jalanan di Bronx, sementara Arkan berkutat dengan analisis makroekonomi di perpustakaan tua London.
Ziva melirik jam tangannya. 14.00.
"Dia nggak mungkin dateng, Ziv. Lo halu," bisiknya pada diri sendiri. Napasnya membentuk uap putih di udara. Arkan bilang dia menabung dari uang magangnya di sebuah firma finansial kecil di London. Tapi tiket pesawat transatlantik saat musim liburan? Itu hampir mustahil bagi seorang mahasiswa tingkat satu yang menolak bantuan ayahnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Arkan: Jangan nengok ke belakang. Fokus ke layar proyektor yang ada di depanmu, yang di atas toko Disney.
Ziva mengerutkan kening, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia mendongak. Di layar raksasa itu, iklan parfum tiba-tiba hilang, digantikan oleh sebuah video singkat berdurasi lima detik. Video itu menampilkan foto mading SMA Garuda yang sudah usang, lalu beralih ke tulisan besar:
"POIN PELANGGARAN: TERLALU RINDU."
Ziva tertawa kecil, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Dasar robot kaku..."
"Pelanggaran itu tidak bisa dihapus dengan denda, Ziva. Harus dengan kehadiran."
Suara itu. Berat, tenang, dan sangat familiar.
Ziva membalikkan badannya begitu cepat hingga kopinya hampir tumpah. Di sana, berdiri seorang laki-laki jangkung mengenakan overcoat hitam panjang. Rambutnya sedikit lebih panjang dari saat di bandara, dan wajahnya tampak lebih dewasa—lebih tegas, namun matanya tetap menyimpan kelembutan yang hanya milik Ziva.
Arkananta Dewa berdiri di tengah kerumunan Times Square, memegang sebuah buket bunga tulip putih yang sedikit membeku karena suhu udara.
Ziva tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai jurnalis yang tangguh. Ia berlari, menerjang kerumunan turis, dan menabrakkan tubuhnya ke pelukan Arkan. Arkan menangkapnya dengan sigap, mengangkat tubuh Ziva dan memutarnya di bawah rintik salju yang mulai turun.
"Lo beneran di sini? Lo nggak pakai uang bokap lo kan?" isak Ziva di ceruk leher Arkan. Wangi Arkan masih sama—sabun bayi dan kopi hitam.
"Aku lembur di firma itu selama tiga bulan, Ziv. Makan ramen instan tiap malam cuma buat tiket ini," bisik Arkan, mengeratkan pelukannya. "Aku nggak mau jadi suami yang cuma bisa ngirim barang. Aku mau jadi suami yang ada di samping istrinya pas dia kedinginan."
Malam di Manhattan: Kejujuran yang Terlambat
Mereka berjalan menyusuri trotoar Broadway yang licin. Arkan menggenggam tangan Ziva, memasukkannya ke dalam saku mantelnya agar tetap hangat. Mereka memutuskan untuk makan di sebuah kedai pizza kecil yang hangat, jauh dari keramaian turis.
"Ziv," panggil Arkan saat mereka menunggu pesanan. "Maaf soal kejadian pembobolan asrama waktu itu. Aku sadar aku terlalu egois mau ngatur semuanya dari jauh. Aku lupa kalau kamu di sini buat belajar jadi mandiri."
Ziva menatap Arkan, jemarinya memainkan ujung meja kayu. "Gue juga minta maaf, Ar. Gue terlalu emosi. Gue cuma... gue ngerasa asing di sini. Pas laptop itu hilang, gue ngerasa satu-satunya sambungan gue ke lo juga hilang. Gue takut lo bakal bosen nungguin gue yang cengeng begini."
Arkan meraih tangan Ziva di atas meja. "Dengar. Di London, banyak cewek yang lebih pinter dari aku, lebih kaya, atau bahkan lebih 'teratur'. Tapi nggak ada satu pun dari mereka yang bikin aku mau bangun jam tiga subuh cuma buat denger suara dia yang lagi ngeluh soal tugas. Kamu itu rumahku, Ziva. Sejauh apa pun aku pergi, koordinatku selalu terkunci di kamu."
Ziva tersenyum, matanya berbinar haru. "Lo belajar gombal dari siapa sih? Mahasiswa ekonomi London emang begini ya?"
"Aku belajar dari rasa takut kehilangan kamu," jawab Arkan serius, membuat Ziva terdiam seribu bahasa.
Kabar dari Seberang Benua
Sementara itu, di sebuah bar olahraga di Sydney, Australia, Revan sedang duduk sendirian sambil meneguk minuman dingin. Ia baru saja menyelesaikan pertandingan persahabatan dengan klub basket lokal. Ia membuka Instagram, dan hal pertama yang muncul di explore-nya adalah unggahan terbaru Ziva.
Foto itu hanya menampilkan dua bayangan yang bergandengan tangan di atas salju New York, dengan caption singkat: "Aturan nomor satu: Dia nggak pernah ingkar janji."
Revan tersenyum miring, lalu mengunci ponselnya. "Gila ya itu robot. Sampai ke New York juga disamperin."
Seorang rekan timnya mendekat. "Hey, Revan! Kenapa wajahmu? Sedih karena kalah tanding?"
"Nggak," jawab Revan sambil berdiri. "Gue baru aja liat bukti kalau di dunia ini, ada orang yang bener-bener diciptain buat satu sama lain. Dan gue... gue cuma penonton yang dapet kursi paling depan buat liat kebahagiaan mereka."
Revan berjalan keluar bar, menatap langit Australia yang cerah. Ia tahu, perasaannya pada Ziva sekarang sudah berubah menjadi rasa hormat. Ia bahagia melihat Ziva bahagia, meskipun bukan bersamanya.
Ancaman di Balik Gemerlap New York
Namun, kebahagiaan Arkan dan Ziva di New York tidak sepenuhnya tanpa bayang-bayang. Saat mereka keluar dari kedai pizza, seorang pria berpakaian rapi dengan jas abu-abu tampak mengikuti mereka dari kejauhan. Pria itu memegang sebuah kamera kecil dan sesekali memotret kemesraan mereka.
Pria itu kemudian melakukan panggilan telepon.
"Ya, Tuan Wijaya. Mereka sudah bertemu. Tuan Muda Arkan benar-benar mengosongkan tabungan magangnya untuk perjalanan ini. Apa saya harus mengintervensi?"
Di Jakarta, Pak Wijaya duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap laporan keuangan perusahaan. "Tidak perlu. Biarkan mereka. Aku ingin tahu seberapa jauh Arkan bisa bertahan tanpa fasilitas dariku. Tapi pastikan tidak ada wartawan dari Indonesia yang tahu mereka ada di sana. Aku tidak mau skandal lama itu muncul lagi di saat aku sedang mempersiapkan ekspansi bisnis ke Amerika."
Pak Wijaya menutup teleponnya. Ia menatap foto keluarga di mejanya. Ia tidak membenci Ziva, ia hanya tidak ingin putranya menjadi lemah karena cinta. Namun, ia mulai menyadari bahwa Arkan justru menjadi lebih kuat sejak memiliki sesuatu untuk diperjuangkan.
Janji di Central Park
Keesokan paginya, Arkan dan Ziva duduk di sebuah bangku di Central Park yang tertutup salju putih bersih. Arkan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan cincin baru, melainkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk pena jurnalis yang melingkar di atas sebuah buku.
"Ini apa?" tanya Ziva tertegun.
"Hadiah kelulusan sekolah yang telat," ucap Arkan sambil memakaikan kalung itu ke leher Ziva. "Pena ini kamu, dan buku ini aku. Kamu bebas nulis cerita apa pun di dunia ini, dan aku akan selalu jadi tempat kamu pulang untuk mencatatnya."
Ziva memeluk kalung itu, lalu memeluk Arkan erat-erat. Di tengah dinginnya New York, ia merasa sangat hangat. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang—tiga tahun lagi sebelum mereka benar-benar bisa hidup bersama tanpa dipisahkan samudra. Tapi hari ini, di bawah langit Amerika, mereka membuktikan bahwa cinta yang sah dan tulus tidak akan pernah kalah oleh jarak, waktu, maupun ambisi orang tua.
"Ar," bisik Ziva.
"Ya?"
"Jangan pernah kasih poin pelanggaran lagi ke gue ya?"
Arkan mencium puncak kepala Ziva. "Nggak akan. Karena mulai sekarang, semua aturan yang aku buat, adalah untuk memastikan kamu tetap di sampingku."