NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empuk

“Mmphh…”

Cya ingin protes, tapi ia tidak sempat.

Rajendra sudah lebih dulu menguasai keadaan.

Namun kali ini—berbeda.

Gerakannya tidak selembut semalam.

Ada sesuatu yang lain di dalamnya.

Emosi.

Khawatir.

Dan… amarah yang belum sepenuhnya reda.

Cya mulai merasa tidak nyaman.

Ia mencoba sedikit menjauh, tapi Rajendra justru semakin menekan.

Bibirnya terasa perih.

Hingga akhirnya—air mata Cya jatuh.

Satu tetes.

Lalu semakin banyak.

Begitu menyadari itu—Rajendra langsung tersadar. Ia menghentikan semuanya. Tubuhnya menjauh seketika. Matanya membelalak saat melihat sudut bibir Cya yang terluka.

“Astaghfirullah…” Seketika rasa bersalah menghantamnya.

Rajendra buru-buru mengambil tisu di atas meja, lalu kembali mendekat—kali ini dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati.

Ia mengusap pelan bibir Cya yang berdarah. “Maaf…” ucapnya lirih.

Cya tidak menjawab.

Ia hanya mengusap air matanya dengan kasar, jelas menahan kesal.

“Saya minta maaf…” ulang Rajendra. “Saya… seperti ini karena takut orang tua kamu marah kalau tahu kamu pergi dari pagi sampai malam.”

Alasan yang terdengar… dipaksakan.

Padahal yang sebenarnya—ia sendiri yang khawatir. Sangat khawatir. Namun entah kenapa, ia sulit mengakuinya.

“Saya capek…” gumam Cya pelan.

Rajendra terdiam sejenak, lalu bertanya—pertanyaan yang paling tidak ingin Cya dengar.

“Kamu dari mana?”

Cya menunduk. “Dari rumah teman…”

Ada jeda.

“teman kamu yang mana?”

Cya menarik napas kecil. “Walaupun saya sebutin… Om juga gak bakal kenal.”

Rajendra menatapnya lama, lalu akhirnya menghela napas. “Lain kali kalau mau keluar, bilang dulu.”

“Iya, Om…”

“Jangan cuma ‘iya’ aja.”

Cya menatapnya sekilas. “Masa aku bilang enggak? Kalau aku bilang enggak, Om pasti marah.”

Ucapan itu membuat Rajendra terdiam.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada amarah lagi.

Hanya keheningan yang canggung.

Beberapa saat kemudian, suasana mulai mereda.

“Kamu sudah makan?” tanya Rajendra akhirnya.

“Belum.”

“Ya sudah. Kamu mandi dulu, terus ganti baju. Saya masak.”

Cya mengangguk kecil. “Oke, Om.”

“Jangan panggil saya ‘Om’, Cya.”

Namun Cya tidak menanggapi.

Ia langsung berbalik dan pergi menuju kamar.

Tubuhnya terasa lengket dan lelah.

Sementara itu—Rajendra berdiri diam beberapa detik.

Lalu ia menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya berjalan ke dapur.

Sebelumnya, ia sempat mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Danish—memberi kabar bahwa Cya sudah pulang.

Janji tetaplah janji.

***

“Om masak apa?” tanya Cya.

Begitu selesai mandi dan berganti baju, gadis itu langsung turun ke dapur untuk menemui Rajendra.

“Sayur sawi bakso sama ayam kecap,” jawab Rajendra. Ia masih sibuk mengaduk ayam di atas wajan yang sudah dibumbui.

“Wah, enak tuh.” Mata Cya langsung berbinar. Ia memang bukan tipe yang pilih-pilih makanan—asal bukan pare atau sesuatu yang pahit.

“Kamu suka?”

“Suka, dong.”

Rajendra mengangguk kecil, lalu mencicipi masakannya. “Sudah pas,” gumamnya pelan. Kemudian ia menoleh ke arah Cya. “Tolong ambilkan saya mangkuk.”

“Iya.”

Cya segera mengambil mangkuk dari lemari, lalu menyodorkannya. “Ini, Om.”

“Terima kasih.”

Rajendra menuangkan ayam kecap ke dalam mangkuk tersebut. “Kamu tunggu di meja makan saja.”

Cya kembali mengangguk tanpa membantah. Ia langsung berjalan menuju meja makan dan duduk dengan tenang.

Andai saja Cya selalu seperti ini—tenang dan menurut—mungkin Rajendra tidak akan mudah terpancing emosi.

Cya menopang dagunya di atas meja, diam-diam memperhatikan Rajendra yang sedang menyusun makanan.

Entah kenapa—laki-laki itu terlihat… berbeda.

Lebih menarik.

Padahal pakaian kerjanya sudah sedikit berantakan. Ia bahkan belum sempat berganti sejak pulang, terlalu sibuk memikirkan Cya seharian.

“Ayo makan,” ajak Rajendra setelah semuanya siap. Ia juga sudah menuangkan air putih untuk mereka berdua.

“Iya, Om.”

Mereka mulai makan. Namun suasana—terasa canggung.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar.

Bahkan setelah selesai makan dan Rajendra mencuci piring—

keheningan itu tetap bertahan.

“Ayo ke atas,” ucap Rajendra akhirnya, memecah sunyi.

Cya berdiri, lalu tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya ke depan. “Gendong,” ucapnya, nada suaranya sedikit manja.

Ia hanya bercanda.

Namun Rajendra benar-benar melangkah mendekat.

Siap mengangkatnya.

Cya langsung kaget.

Ia mundur satu langkah.

“Kenapa kamu mundur?” tanya Rajendra, alisnya sedikit terangkat.

“Saya… cuma bercanda, Om,” jawab Cya cepat. “Saya bisa jalan sendiri, kok.”

Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, salah tingkah.

“Oh… oke.” Rajendra mengangguk pelan.

Ia juga sedikit kikuk, meski berusaha terlihat biasa saja.

Keduanya berjalan berdampingan menuju lantai dua.

Langkah mereka pelan.

Namun begitu sampai di depan sebuah pintu— Cya tiba-tiba berhenti.

“Kenapa berhenti?” tanya Rajendra.

Cya menoleh ke arah pintu itu. “Kenapa kita gak tidur di kamar ini aja, Om? Lebih dekat dari tangga. Jadi kalau mau turun, lebih cepat.”

Rajendra langsung menegang..“Jangan,” jawabnya cepat. “Kamar yang kita pakai semalam lebih bagus.”

“Gapapa, kok. Gak harus bagus, yang penting bersih. Pasti tetap nyaman.”

“Enggak. Kita tidur di kamar sebelah aja. Barang-barang kamu juga kan sudah di sana.”

Cya mengerutkan kening. “Tapi aku lihat… barang Om gak banyak di kamar itu. Emangnya barang Om disimpan di kamar lain?”

“Tidak,” jawab Rajendra singkat.

Padahal—sebagian besar barangnya memang ada di kamar yang sekarang berdiri di hadapan mereka.

Cya memicingkan mata. “Masa sih?”

Sulit baginya percaya.

Orang seperti Rajendra… rasanya mustahil hanya punya sedikit barang.

Melihat Cya mulai curiga, Rajendra langsung mengalihkan pembicaraan.

“Tadi kamu bilang capek, kan? Ayo, kita istirahat.”

“Iya, Om…” Akhirnya Cya mengalah.

Rajendra diam-diam menghela napas lega.

Namun saat hendak melangkah—Cya kembali bersuara.

“Tapi Om… jangan tidur di sofa lagi ya, kayak semalam.”

“Iya… tapi kamu juga jangan peluk saya.”

Cya langsung menatapnya. “Om gak suka kalau saya peluk?”

“Enggak.” Jawaban itu keluar cepat.

Terlalu cepat.

Padahal di dalam hatinya—berbeda.

"Saya bukannya enggak suka, cya, tapi saya tersiksa rasanya kalau kamu memeluk saya sepanjang malam. Jangankan sepanjang malam, sebentar saja pun saya tetap merasa tersiksa," batin Rajendra.

Setiap sentuhan kecil dari Cya—cukup untuk membuatnya kehilangan kendali.

Cya memanyunkan bibirnya. “Padahal… Papi suka banget dipeluk Mami. Bahkan tiap hari minta dipeluk.”

Rajendra terdiam sejenak.

Lalu menjawab datar— “Itu karena mereka saling mencintai. Sedangkan kita… tidak.”

Kalimat itu—menusuk.

Cya terdiam.

Seolah diingatkan kembali pada kenyataan yang tidak ingin ia terima.

Mungkin… salah satu dari mereka sudah mulai jatuh.

Namun keduanya masih sibuk menyangkal.

Cya menatap Rajendra. Lalu, dengan suara pelan namun jujur— “Om… belum cinta sama saya?”

Rajendra terdiam sepersekian detik.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“B-belum,” jawabnya akhirnya, terbata.

Cya mengerucutkan bibirnya.

Ada rasa kosong yang tiba-tiba muncul.

Tanpa berkata apa-apa lagi—ia langsung membuka pintu dan masuk ke kamar lebih dulu.

Rajendra berdiri sejenak di luar.

Lalu menyusul masuk.

Cya benar-benar menepati janjinya.

Ia tidak lagi memeluk Rajendra.

Namun anehnya—justru Rajendra yang gelisah.

Laki-laki itu terus membalikkan tubuhnya, ke kanan… lalu ke kiri… berulang kali.

“Om, kenapa dari tadi gelisah terus?” tanya Cya pelan, merasa terganggu sekaligus penasaran.

“Saya… gak bisa tidur.”

“Kok bisa?”

Rajendra menghela napas. “Saya juga gak tau.”

Cya terdiam sejenak, lalu bertanya hati-hati, “Om mau tidur nyenyak?”

“Tentu saja.”

Cya mengangguk kecil. “Oke… tapi maaf ya, saya ingkar janji.”

Rajendra belum sempat bertanya—Cya sudah lebih dulu mendekat. Pelan-pelan, ia merapatkan tubuhnya, lalu memeluk Rajendra.

Tubuh Rajendra langsung menegang.

“Biasanya kalau saya gak bisa tidur… Mami selalu gini,” bisik Cya lembut.

Tangannya mulai mengusap punggung Rajendra perlahan.

Gerakannya ringan… menenangkan.

Lalu—Cya mengecup keningnya.

Singkat.

Hangat.

“Mami juga sering cium kening saya, kalau saya gak bisa tidur." tambahnya polos.

Rajendra memejamkan mata sejenak.

Bukan karena mengantuk—tapi karena mencoba mengendalikan perasaannya sendiri.

Kalau begini caranya… malah makin susah tidur… batinnya.

Jantungnya berdetak tidak karuan. Apalagi jarak mereka kini nyaris tidak ada.

“Cya, ja—”

Belum selesai—Cya sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir Rajendra. “Jangan protes, Om. Tutup mata aja… nanti juga tidur.”

Nada suaranya lembut, seperti menenangkan anak kecil.

Namun justru itu yang membuat Rajendra semakin sulit tenang. Alih-alih menutup mata—tatapannya justru jatuh pada bibir Cya.

Bibir yang tadi sempat terluka. “bibir kamu masih sakit?” tanyanya pelan.

Cya menggeleng kecil. “Udah enggak kok.”

Rajendra menatapnya beberapa detik.

Ada jeda.

Lalu dengan suara rendah—“Kalau gitu… boleh?”

Cya mengernyit bingung. “Boleh apa, Om?”

Rajendra ragu sejenak… namun tetap bertanya,

“Saya… boleh cium kamu lagi?”

Cya terdiam sebentar.

Lalu—ia tersenyum tipis.

Senyum yang sederhana, tapi cukup membuat hati Rajendra bergetar.

“Iya… tapi jangan kasar kayak tadi.”

Rajendra mengangguk pelan.

"Oke deh, cium aja sampai Om puas," tantang cy sembari memonyongkan bibirnya.

Bagaikan kucing diberi ikan, Rajendra tentu tidak menolak lagi. Ia tidak munafik, meski ia belum mencintai cya, ia tetaplah laki-laki normal yang tentu punya hasrat. Cya kembali memeluk Rajendra saat bibir mereka menempel. Gadis itu kembali mengusap punggung Rajendra memberi kenyamanan kepada laki-laki itu.

"Bibirnya kenapa begitu candu?" Tanya Rajendra dalam hati Kepada dirinya sendiri tanpa menghentikan aktivitasnya. Alih-alih menghentikan aktivitasnya, Rajendra justru semakin memperdalam ciumannya..

Sentuhan Rajendra mulai berubah.

Tangannya bergerak perlahan di pinggang Cya, membuat gadis itu refleks merespons. Tangannya naik ke rambut Rajendra, menjambaknya pelan—bukan untuk menolak, tapi karena gugup.

Momen itu berlangsung cukup lama—hingga akhirnya keduanya sama-sama terengah, kehabisan napas.

Rajendra sedikit menjauh.

Tatapannya jatuh tepat ke wajah Cya yang sudah memerah.

“Manis…” ucapnya pelan.

Seketika pipi Cya semakin merah.

Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Rajendra karena malu.

Rajendra tersenyum lebar.

Gemes.

“Kenapa sembunyi?” godanya ringan.

“Bukannya tadi malam kamu bilang… itu enak?”

Cya makin salah tingkah.

Tanpa menjawab, ia langsung menarik selimut hingga menutupi dirinya sampai ke kepala.

Rajendra terkekeh pelan. Ia lalu mengecup singkat puncak kepala Cya dari balik selimut.

“Jangan ditutup semua. Nanti sesak napas,” ucapnya sambil menurunkan selimut itu perlahan.

Wajah Cya kembali terlihat.

Masih merah.

“Om… jangan ledekin saya,” protesnya pelan.

“Saya gak ledekin.”

“Tapi itu… Om senyum-senyum.” Cya bahkan sempat menutup wajah Rajendra dengan telapak tangannya, seolah tidak ingin dilihat.

Rajendra tertawa kecil. “Habis… ada yang malu-malu.”

“Tuh kan, Om ledekin saya lagi.”

Rajendra menatapnya sejenak, lalu berkata pelan— “Makanya… jangan panggil ‘Om’ lagi.”

Cya mengerutkan kening. “Terus panggil apa?”

Rajendra sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya. "Panggil sayang."

Cya langsung membelalakkan matanya. "Itu mah namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan."

"Salah Cya, yang namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan itu kayak gini."

Rajendra kembali membungkukkan kepalanya, tapi sekarang bukan untuk berbisik, melainkan untuk mencium Cya.

Target Rajendra adalah bibir Cya, tapi gadis itu menoleh hingga bibir Rajendra mendarat di leher Cya. Cya merasa bulu kuduknya merinding begitu nafas hangat Rajendra menyapu permukaan lehernya. Gadis itu menggeliat mencoba menjauh dari Rajendra. Ketika Cya menjauh, tangan Rajendra bergerak dan tak sengaja mendarat di dada Chia yang empuk.

Kini justru Rajendra yang merinding.

Seumur hidupnya—ia belum pernah berada sedekat ini memberi efek yang tidak biasa.

Napasnya sedikit berat. Bahkan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

“Om kok berkeringat?” tanya Cya polos. “AC kan nyala… harusnya gak panas, kan?”

Rajendra tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih belum stabil.

“Bukan AC…” gumamnya pelan, “…kamu.”

Cya mengerutkan kening. “Kok saya?”

Rajendra seperti kehilangan filter. “Empuk…”

Cya semakin bingung. “Apanya yang empuk?”

Rajendra tidak menjawab.

Namun arah pandangannya—cukup untuk memberi jawaban.

Cya ikut menunduk. Dan seketika—matanya membelalak.

Ia langsung menyadari.

Tangan Rajendra… masih berada di dadanya.

Wajahnya langsung memanas.

“Ih! Om!” Cya buru-buru menepis tangan Rajendra dan menjauh sedikit. “Dasar mesum!”

“Saya gak sengaja,” bela Rajendra cepat.

Cya memeluk dirinya sendiri, refleks. “Katanya gak sengaja… tapi kalau saya gak sadar, tangan Om masih di situ!”

Rajendra terdiam sesaat. ;"Kenapa memangnya kalau saya pegang dada kamu? Kamu itu istri saya, cya. Saya berhak menyentuh kamu kapanpun saya mau." Ucap Rajendra menyeringai.

Rajendra jadi ada ide untuk menjahil cya. Hitung-hitung tuk menghibur dirinya sendiri yang stres gara-gara Kiya hilang seharian.

"Jangan macam-macam, Om."

"Saya enggak mau macam-macam. Saya hanya ingin menyentuh kamu." Rajendra memasang tampang serius, meski sebenarnya ia sangat berdebar. Namun dengan menjahil cya seperti itu, Rajendra jadi merasa jauh lebih tenang dari yang sebelumnya.

"Jangan sentuh saya, Om. Saya masih kecil."

"Kamu sudah besar, cya. Kamu sudah bisa memberikan saya anak."

"Saya enggak tau caranya bikin anak, Om."

Rajendra menyeringai. "Ayo kita belajar bersama. Kebetulan, aku juga belum pernah melakukannya." Tiba-tiba Rajendra berbicara pakai aku-kamu.

Iya, mulai was-was, apalagi Rajendra mulai merangkak ke atasnya.

"Masa Om belum pernah melakukannya? Sebelumnya kan Om sudah pernah menikah."

"Aku memang sudah pernah menikah, tapi aku belum pernah menyentuh istri aku, Cya."

"Saya enggak percaya."

"Kalau kamu tidak percaya, mari kita buktikan sama-sama."

Rajendra sudah menindih tubuh Cya. Tadinya laki-laki itu hanya berniat bercanda, tapi entah mengapa sesuatu di dalam dirinya menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang lebih. Walau Rajendra sebenarnya berusaha menahan diri. "Enggak mau," tolak Cya. "Saya enggak mau bikin anak sama orang yang enggak cinta sama saya." Rajendra tadinya sudah mau mencium leher Cya, namun perkataan Cya membuatnya tiba-tiba berhenti. Bukan hanya berhenti laki-laki itu, bahkan melepaskan Cya dari kukungannya lalu turun dari tempat tidur.

"Om marah?" Tanya Cya ketika Rajendra menjauh. Rajendra tidak menjawab. Laki-laki itu berlalu ke kamar mandi membuat Cya merasa heran.

"Dia kok marah sih, yang gue bilang benar. Dia memang enggak cinta sama gue," gerutu Cya.

1
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!