Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak
BRAK!
Adira dan penjahat itu serentak menoleh ke sumber suara. Pintu kayu gedung tua itu hancur berantakan.
Adira hampir tidak memercayai penglihatannya. Di ambang pintu, sosok Zo benar-benar muncul. Pria itu melangkah masuk dengan beberapa luka gores dan lebam di wajahnya—sisa pertarungan maut yang baru saja ia lalui. Meskipun tempat ini bukan markas utama, Zo harus menembus kepungan kelompok mafia yang jumlahnya tidak sedikit untuk bisa sampai ke sini.
Pemimpin penjahat yang tadinya bersikap angkuh, seketika berubah pucat. Wajahnya menunjukkan kegusaran luar biasa saat melihat Zo masih berdiri tegak.
"Bagaimana bisa?! Kau... kau belum mati? Seharusnya kau sudah menjadi mayat!" teriak penjahat itu dengan suara bergetar hebat.
Zo tidak memedulikan makian itu. Tatapannya yang sedingin es langsung tertuju pada Adira yang terikat tak berdaya di atas kursi. "Untuk apa kau menangkapnya?" tanya Zo datar, suaranya terdengar seperti vonis kematian.
Bukannya menjawab, penjahat itu justru semakin panik. Ia segera menarik senjata apinya dan menempelkan moncong pistol tepat ke pelipis Adira. "Jika kau berani melangkah maju, akan kuhancurkan otaknya!"
"Jika kau membunuhnya, kau juga akan mati di tempat ini," sahut Zo tanpa gentar sedikit pun.
"Kenapa tidak?! Lebih baik kita mati bersama! Kurang ajar... bagaimana bisa kau masih hidup?! Kau seharusnya tidak bisa bela diri!" teriak penjahat itu frustrasi karena rencananya berantakan.
Zo tetap diam, tidak merasa perlu menjawab pertanyaan bodoh itu. "Lepaskan dia," perintahnya singkat.
"Kenapa aku harus melepaskannya?! Apa hakmu memerintahku? Tujuanku di sini memang untuk membunuhnya!" Penjahat itu semakin kalap dan menekan moncong senjata api itu lebih keras ke kepala Adira, membuat wanita itu memejamkan mata rapat-rapat.
"Siapa yang mengirim kalian untuk membunuh kami?" tanya Zo tegas sembari mengambil satu langkah maju yang mengintimidasi. Langkah itu membuat sang ketua penjahat semakin gemetar; nyalinya menciut seketika.
"Jangan macam-macam kau! Jangan berani mendekat!" serunya dengan suara parau.
"Aku tanya, siapa orang itu?!" ujar Zo lagi.
"Kalau aku mati pun! Aku tidak akan pernah memberitahukan siapa yang mengirim kami!" teriak penjahat itu berucap.
"Kau itu--"
DOR!
Belum sempat kalimatnya selesai, sebuah suara tembakan yang sangat kencang membelah kesunyian.
Satu butir peluru bersarang tepat di dahi pria itu. Ia mati seketika, roboh ke tanah dengan mata yang masih melotot. Zo segera menoleh ke arah datangnya peluru—seorang penembak jitu (sniper) dari kejauhan.
Dalam hitungan detik, Zo menyadari situasi yang sangat berbahaya. Jika ketua penjahat itu sudah tewas, target berikutnya pastilah Adira. Tanpa pikir panjang, Zo melompat dan melindungi tubuh Adira dengan tubuhnya sendiri.
DOR!
Suara tembakan kedua menyusul. Peluru itu menghantam telak bahu Zo, menembus jas dan kulitnya.
"Tuan Zo!" Adira berteriak kaget saat melihat Zo tersentak dan jatuh menindihnya. Meski rasa sakit yang luar biasa menjalar di punggung, Zo bergerak cepat membuka ikatan tali di tubuh Adira.
Sementara wanita itu syok saat melihat darah yang begitu banyak di lantai, kenangan saat melihat Anisa meninggal karena terbunuh oleh ayahnya, membuat Adira bergetar. Trauma tentang kematian Anisa masih membayang di ingatnya. Apalagi saat melihat darah yang berserakan di lantai saat kejadian itu.
"Ada penembak jitu di sini!" bisik ujar Zo mengingat Adira. Ia tak peduli pada luka tembak di punggungnya. Ia langsung menarik Adira dengan kasar, sehingga membuat gadis itu tersadar. Zo menyeretnya untuk bersembunyi di balik pilar beton yang kokoh.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Adira masih dengan bibir bergetar karena melihat banyak darah.
"Jangan tanya siapa! Nyawa kita sekarang dalam bahaya," jawab Zo, mencoba tetap fokus meski kesadarannya mulai terganggu akibat rasa nyeri yang hebat.
Zo melirik ke arah jendela gedung di kejauhan. Ia menduga penembak itu berada sangat jauh dari lokasi sekarang. Sepertinya semua ini memang sudah direncanakan dengan matang, dan target mereka, adalah aku dengan Adira, batin Zo geram.
Tanpa banyak bicara, Zo langsung menyambar pergelangan tangan Adira dan bergegas meninggalkan gedung tua itu. Mereka harus bergerak sebelum penembak jitu melepaskan peluru berikutnya.
Zo kembali mengambil alih kemudi mobil milik penjahat tadi. Ia memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi menuju sebuah rumah minimalis yang terletak tersembunyi di pinggiran kota. Sepanjang perjalanan, keheningan mencekam menyelimuti kabin mobil. Baik Adira maupun Zo sama-sama bungkam.
Adira masih membayangkan tentang banyaknya darah tadi, bayangan kematian Anisa seolah bermain di benaknya. Adira menarik nafas dalam dan melirik ke arah luka Zo yang terlihat jelas di bahunya. Wanita itu ingin mengucapkan terima kasih, namun mengingat hubungan mereka yang tidak baik—terutama setelah pertengkaran terakhir di kantor—ia memilih untuk tetap diam.
Sesampainya di depan rumah tersebut, Zo mengerem mendadak. Ia menoleh sekilas tanpa mengubah ekspresi datarnya. "Hubungi Wira. Suruh dia menjemputmu di sini," perintah Zo dingin.
Adira tidak segera bergerak. Matanya tertuju pada bahu Zo yang kini basah kuyup oleh darah segar. Warna merah itu terlihat sangat kontras dan mengerikan di kemejanya.
"Saya akan membantu Anda sebelum saya pulang. Anda terluka karena melindungi saya. Biarkan saya mengobati luka Anda."
Zo langsung menoleh, menatap Adira dengan sorot mata yang tajam dan sedingin es. "Aku melakukannya demi sepupuku! Jangan mencoba bersikap baik padaku. Pergi sekarang!"
"Saya hanya ingin membantu Anda. Anda terluka parah karena saya," balas Adira, tidak sengaja memegang lengan pria itu menahannya turun dari mobil.
Zo melirik tangan Adira yang menyentuhnya. Adira yang menyadari, buru-buru menarik tangannya dari lengan pria itu.
"Kau tidak takut jika aku macam-macam denganmu?" tanya Zo dengan nada mengancam, mencoba menakut-nakuti wanita di sampingnya.
Adira justru menatap balik mata Zo tanpa gentar sedikit pun. "Anda yakin ingin macam-macam dengan istri sepupu Anda sendiri?" tanya Adira balik, membuat suasana seketika hening.
***
PRANG! PRANG! PRANG!
Barang-barang kembali berhamburan di sebuah ruangan mewah akibat kemarahan yang tidak terkendali.
"Geng mafia bodoh! Bisa-bisanya mereka dikalahkan oleh sepupu si cacat itu! Kita sudah mencari tahu semua informasi tentangnya! Kita tahu kalau Kenzo tidak bisa bela diri! Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menghabisi para mafia itu dengan tangannya sendiri?! Apa kalian salah membaca informasi, bodoh?!"
BUK!
Satu pukulan mendarat di wajah anak buahnya.
"M-maafkan saya, Tuan. Tapi kami sudah berusaha keras mencari tahu informasi tentang Tuan Zo. Dia benar-benar tidak bisa bela diri. Itu juga yang membuat saya heran, bagaimana dia bisa melawan mafia yang kita bayar untuk menghabisi mereka," ujar bawahannya dengan nada terbata-bata.
"Itu berarti kalian yang tidak becus!"
"Tapi Tuan... sebenarnya saya curiga. Bagaimana jika dia... bukan Tuan Zo yang sebenarnya?"
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang