Charlotte tidak pernah meminta dilahirkan kembali sebagai mekanik kelas teri di zona perang paling mematikan. Namun, sebuah antarmuka Sistem yang dingin dan sarkastik muncul di pelupuk matanya, mengubah setiap tetes keringat dan darah menjadi poin statistik yang berharga.
Masalahnya, sistem ini tidak didesain untuk menjadi pahlawan. Sistem Charlotte bekerja seperti algoritma pemangsa yang mengoptimalkan penderitaan demi keuntungan pribadi. Baginya, para "Pahlawan" terpilih hanyalah sumber daya pengalaman yang bisa diperas, dan kiamat yang mengancam dunia hanyalah sebuah fluktuasi data yang perlu dikelola.
Dengan kunci inggris berlumuran oli dan logika mesin yang tanpa ampun, Charlotte mulai memanipulasi takdir. Jika dunia harus hancur, setidaknya ia harus memastikan bahwa dialah yang memegang kendali atas rongsokannya. Siapa sangka, menjadi dalang di balik layar ternyata jauh lebih menguntungkan daripada menyelamatkan dunia yang sudah rusak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: MEMPERKERJAKAN MATA-MATA
Suasana bengkel pusat malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Charlotte duduk di hadapan terminal utama yang memancarkan pendaran cahaya violet ke wajahnya yang pucat. Bunyi putaran kipas pendingin server yang bekerja keras menjadi satu-satunya instrumen yang menemani kesunyian tersebut. Bau pelumas mesin dan residu tembaga yang terbakar menguap di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa izin.
"Apakah semua unit bayangan sudah berada di posisi mereka?" tanya Charlotte tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang menampilkan peta panas Sektor 1.
Sesosok pria muncul dari kegelapan sudut ruangan. Langkah kakinya sangat halus, hampir tidak terdengar bersentuhan dengan lantai logam. Ia adalah salah satu dari agen yang baru saja direkrut Charlotte, seorang spesialis infiltrasi yang hanya mengenal loyalitas melalui koin dan ancaman.
"Tiga tim sudah tersebar di kamp pahlawan tingkat tinggi. Mereka menunggu perintah lebih lanjut untuk memulai pemantauan aktif," jawab pria itu dengan suara yang serak dan rendah.
Charlotte memutar kursinya, menatap pria itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Aku tidak hanya ingin mereka berada di sana. Aku ingin mereka menjadi bayangan bagi pahlawan-pahlawan yang mulai bersuara sumbang tentang Aegis. Identifikasi setiap orang yang merasa sistem ini terlalu mengekang."
"Beberapa dari mereka mulai melakukan pertemuan tertutup di luar barak resmi," lapor sang mata-mata lagi. "Tampaknya mereka mencoba mencari cara untuk berkomunikasi tanpa terdeteksi oleh jaringan standar militer."
"Biarkan mereka merasa pintar untuk sementara ...." Charlotte mengetukkan jemari mekaniknya di atas meja. "Namun, pastikan setiap kata yang keluar dari mulut mereka tersimpan di dalam basis dataku. Aku butuh data personal mereka, mulai dari kebiasaan tidur hingga ketakutan terdalam yang mereka sembunyikan."
Pria itu mengangguk singkat dan kembali menghilang ke dalam kegelapan lorong bengkel. Charlotte kembali menghadap terminalnya. Ia tidak lagi hanya mengandalkan sensor di dalam zirah Aegis. Ia butuh mata manusia untuk menangkap nuansa emosional yang tidak bisa dideteksi oleh kode pemrograman. Untuk mengamankan monopolinya, ia harus menyingkirkan bibit pemberontakan sebelum bibit itu sempat bertunas.
[SISTEM: MEMULAI PROSES INTEGRASI DATA DARI AGEN LAPANGAN. STATUS: AKTIF.]
[MENGIDENTIFIKASI TARGET PRIORITAS: KELOMPOK PAHLAWAN BANDEL. JUMLAH: 12 PERSONEL.]
"Tunjukkan profil pertama," perintah Charlotte.
Layar di hadapannya terbelah, menampilkan wajah seorang ksatria muda dengan rahang tegas dan mata yang penuh dengan idealisme. Namanya adalah Valerius, seorang pahlawan yang baru saja mendapatkan medali karena keberaniannya di garis depan Sektor 4. Namun, dalam catatan rahasia yang dikumpulkan mata-mata Charlotte, Valerius adalah orang yang paling vokal mempertanyakan mengapa perisai Aegis mendadak mati pada insiden Iron Vanguard.
"Valerius ... seorang idealis yang berbahaya," gumam Charlotte. "Berapa banyak informasi yang sudah kita dapatkan tentangnya?"
[MENAMPILKAN DATA PERSONAL TARGET: VALERIUS.]
[RIWAYAT KELUARGA: YATIM PIATU DARI DESA PERBATASAN YANG HANCUR.]
[KELEMAHAN PSIKOLOGIS: TRAUMA TERHADAP KEGAGALAN PERALATAN DI MASA LALU.]
[HUBUNGAN SOSIAL: MEMILIKI KETERIKATAN EMOSIONAL DENGAN SEORANG PERAWAT DI SEKTOR LOGISTIK.]
Charlotte membaca setiap detail itu dengan teliti. Ia tidak hanya mencari rahasia gelap, tetapi juga hal-hal yang membuat seseorang menjadi manusia. Baginya, data personal adalah senjata yang lebih ampuh daripada senapan plasma. Dengan mengetahui apa yang dicintai dan ditakuti oleh targetnya, ia bisa memanipulasi mereka tanpa perlu melepaskan satu peluru pun.
"Sistem, berikan perintah kepada agen di lapangan untuk mengumpulkan bukti fisik dari komunikasi mereka. Aku ingin rekaman suara asli, bukan sekadar transkrip," kata Charlotte.
[PERINTAH DIKIRIM KE UNIT MATA-MATA 02 DAN 05.]
[ESTIMASI PENGAMBILAN DATA: 2 JAM.]
Di tengah penantian itu, suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu masuk. Jenderal Kaelen masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Seragam militernya tampak kusut, menunjukkan bahwa ia belum beristirahat sejak rapat dewan terakhir.
"Kau masih bekerja di jam seperti ini, Charlotte?" tanya Kaelen sambil menarik kursi di dekat terminal.
Charlotte tidak menoleh. "Keamanan tidak mengenal waktu istirahat, Jenderal. Saya sedang memastikan bahwa jaminan keamanan yang baru saja kita sepakati berjalan sesuai rencana. Ada beberapa gangguan kecil di lapangan yang harus segera ditangani."
"Gangguan apa?" tanya Kaelen dengan nada curiga.
"Beberapa pahlawan tampaknya mulai menyalahgunakan peralatan mereka. Mereka mencoba membongkar modul enkripsi untuk kepentingan pribadi. Hal ini bisa membahayakan seluruh jaringan Aegis jika dibiarkan," bohong Charlotte dengan nada yang sangat meyakinkan.
Kaelen mendesah, ia tampak kesal. "Sudah kuduga. Pahlawan-pahlawan muda itu selalu merasa lebih pintar dari aturan. Siapa mereka? Aku akan memberikan sanksi militer kepada mereka."
"Tidak perlu terburu-buru, Jenderal," sela Charlotte, kini ia berbalik menatap Kaelen. "Memberikan sanksi publik hanya akan membuat mereka terlihat seperti martir. Biarkan saya menanganinya secara internal. Saya akan mengumpulkan bukti yang cukup hingga mereka tidak bisa membantah lagi."
"Kau benar," ujar Kaelen sambil mengangguk lemah. "Lakukan saja. Aku mempercayai caramu. Tapi ingat, jangan sampai ada keributan besar. Dewan sedang memantau kita dengan sangat ketat."
"Saya jamin, semuanya akan berakhir dengan sangat sunyi," balas Charlotte.
Setelah Kaelen pergi, Charlotte kembali fokus pada pekerjaannya. Tak lama kemudian, data baru masuk ke dalam servernya. Itu adalah rekaman audio dari sebuah pertemuan rahasia di sebuah gudang tua di pinggiran markas. Suara Valerius terdengar jelas di sana, penuh dengan kemarahan yang tertahan.
"Kita tidak bisa terus begini! Aegis bukan perisai, itu adalah borgol! Aku yakin Charlotte sengaja mematikan sistem itu untuk memeras kita!" suara Valerius bergema dalam rekaman tersebut.
"Tapi apa yang bisa kita lakukan, Val? Tanpa itu, kita tidak punya peluang melawan monster-monster di luar sana," sahut suara lain yang terdengar ragu.
"Kita cari teknisi lain! Pasti ada seseorang di pasar gelap yang bisa memutus koneksi server pusat tanpa merusak sirkuitnya!" seru Valerius.
Charlotte mendengarkan rekaman itu dengan senyum miring yang mengerikan. "Mencari teknisi lain? Sungguh menggemaskan. Mereka tidak tahu bahwa setiap teknisi pasar gelap di sektor ini sudah berada di bawah daftar gajiku."
Ia kemudian menekan beberapa tombol untuk mengolah data personal pahlawan-pahlawan lain yang hadir dalam pertemuan itu. Satu per satu, profil mereka muncul. Ada yang memiliki utang judi besar, ada yang menyembunyikan identitas asli mereka, dan ada pula yang melakukan penggelapan dana bantuan sosial.
"Memperkerjakan mata-mata adalah investasi terbaik yang pernah aku lakukan," gumam Charlotte. "Sistem, kelompokkan data personal ini berdasarkan tingkat ancamannya. Aku ingin mereka semua merasa terjepit sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh."
[MENYUSUN DATA PEMASALAN. TARGET: 12 PERSONEL PAHLAWAN BANDEL.]
[RENCANA TINDAKAN: MENGIRIMKAN TEGURAN ANONIM YANG BERISI DETAIL KELEMAHAN PERSONAL MEREKA.]
"Tunggu," potong Charlotte. "Jangan kirimkan teguran dulu. Aku ingin mata-mata kita tetap mengawasi. Biarkan mereka terus merencanakan pemberontakan kecil ini. Aku ingin mereka mengumpulkan lebih banyak orang agar aku bisa menyapu semuanya sekaligus."
[MENGERTI. PEMANTAUAN PASIF DITERUSKAN.]
Bau ozon di ruangan itu semakin kuat seiring dengan panas yang dihasilkan oleh deretan rak server. Charlotte berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah barak pahlawan. Ia bisa melihat cahaya lampu yang berkedip dari kejauhan, tempat di mana Valerius dan kawan-kawannya mungkin sedang bermimpi untuk bebas dari pengaruhnya.
"Kalian pikir kalian adalah pahlawan yang sedang berjuang melawan tirani," bisik Charlotte pada kaca jendela yang dingin. "Padahal kalian hanyalah bidak yang sedang aku kumpulkan datanya untuk memastikan monopoli ini menjadi abadi."
Pikiran Charlotte terbang ke langkah selanjutnya. Dengan mengumpulkan data personal ini, ia tidak hanya bisa mengendalikan individu, tetapi juga bisa memanipulasi opini publik di dalam militer. Jika seorang pahlawan seperti Valerius tiba-tiba tersandung skandal besar yang datanya ia miliki, maka tidak akan ada yang akan mempercayai kata-katanya lagi saat ia berbicara tentang keburukan Aegis.
Data adalah kekuatan sejati. Di dunia yang hancur oleh perang ini, siapa yang memiliki rahasia orang lain adalah orang yang sebenarnya memegang kendali atas kehidupan mereka.
[SISTEM: TOTAL DATA PERSONAL TERKUMPUL: 100 PERSEN UNTUK TARGET PRIORITAS.]
[MENYIAPKAN FILE PEMASALAN UNTUK PENGGUNAAN DI MASA DEPAN.]
"Simpan semuanya di dalam brankas data tingkat lima," perintah Charlotte. "Pastikan tidak ada jejak digital yang bisa ditarik kembali ke bengkel ini."
Charlotte kembali duduk, ia merasakan kelelahan yang mulai merayap di pundaknya, namun kepuasan batinnya jauh lebih besar. Mata-mata yang ia pekerjakan telah bekerja dengan sangat efisien. Sekarang, ia memiliki daftar lengkap dari setiap pahlawan yang berpotensi menjadi kerikil dalam sepatunya. Identifikasi selesai, dan langkah pengasingan atau penghancuran karakter mereka tinggal menunggu waktu yang tepat.
Layar terminal perlahan meredup, namun cahaya di monokel Charlotte tetap menyala terang di kegelapan. Ia telah mengamankan monopolinya dari dalam, memastikan bahwa setiap suara sumbang akan tenggelam dalam lautan rahasia mereka sendiri. Jaminan keamanan yang ia tawarkan kepada dunia kini benar-benar menjadi penjara yang sempurna, lengkap dengan sipir yang tidak terlihat yang mengawasi setiap gerak-gerik para penghuninya.
"Pahlawan bandel ...," kata Charlotte sambil menutup matanya sejenak. "Mereka akan belajar bahwa di duniaku, tidak ada tempat untuk rahasia, kecuali rahasia milikku sendiri."
Kegelapan bengkel itu seolah menelan sosoknya, meninggalkan hanya suara detak jam mekanik dan dengungan sistem yang terus memantau setiap denyut nadi di Sektor 1. Rencana untuk menguasai pasar kepanikan sudah mulai tersusun, dan dengan data para pahlawan ini di tangannya, Charlotte siap untuk memanipulasi lingkungan perang sesuai dengan keinginan sistemnya.
[SISTEM: ADMINISTRATOR TELAH MENGAMANKAN DATA INTERNAL.]
[STATUS: SIAP UNTUK MISI PASAR KEPANIKAN.]