NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Kegelapan

Mbah Jaya menghela napas. Panjang. Dalam. Seperti orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang sudah lama dinanti, tapi tetap terasa berat ketika akhirnya datang.

"Dadi, kowe wis yakin?" tanyanya sekali lagi.

"Ora ono dalan mundur sawise iki."

"Aku yakin."

"Kowe ora bakal bisa bali kaya biyen."

"Aku tidak ingin kembali seperti dulu. Orang yang dulu sudah mati bersama anakku."

Mbah Jaya mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursinya dengan bantuan tongkat. Berdiri di depan Rafiq, menatap mata pria muda itu dengan tatapan yang tidak bisa Rafiq artikan—apakah itu kasihan, apakah itu kepuasan, atau apakah itu sesuatu yang lebih gelap.

"Tutup lawangé," perintah Mbah Jaya.

Rafiq berbalik, berjalan ke pintu depan yang masih terbuka lebar. Ia mendorong pintu kayu itu hingga tertutup rapat.

Cahaya matahari yang tadi membanjiri ruangan kini tersisa hanya celah-celah tipis melalui jendela yang beberapa masih terbuka. Ruangan menjadi setengah gelap.

Mbah Jaya berjalan ke tengah ruangan. Ia menancapkan tongkat hitamnya ke lantai kayu. Dan untuk pertama kalinya, Rafiq melihat tongkat itu tidak seperti tongkat biasa.

Ada ukiran-ukiran di permukaannya—simbol-simbol yang tidak ia kenali, bentuk-bentuk yang tidak seperti aksara Arab atau aksara Jawa pada umumnya. Ukiran yang membuat mata Rafiq terasa perih jika terlalu lama menatapnya.

"Berlutut," perintah Mbah Jaya.

Rafiq berlutut di lantai kayu. Udara di sekelilingnya terasa semakin dingin. Angin dari luar bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di halaman, membuat jendela-jendela yang masih terbuka bergoyang pelan.

Suara-suara aneh mulai terdengar—bukan suara angin, bukan suara dedaunan. Suara lain. Suara yang tidak bisa ia identifikasi. Suara yang seperti bisikan dari jauh, tapi juga seperti dari dalam ruangan ini sendiri.

"Tutup Mata," perintah Mbah Jaya.

Rafiq menutup matanya.

Ia merasakan ujung jari Mbah Jaya yang dingin dan keriput menyentuh kelopak matanya. Telapak tangan yang dingin itu menekan pelan.

Lalu, bibir Mbah Jaya mulai mengucapkan sesuatu. Bukan bahasa Jawa. Bukan bahasa Arab. Bahasa yang tidak Rafiq kenali. Bahasa yang suku katanya terasa tajam di udara, seperti belati yang diayunkan di ruang sempit.

Bunyi-bunyi itu mengisi ruangan. Memenuhi setiap celah dinding, setiap pori-pori kayu, setiap sudut yang gelap. Dan di luar, angin bertiup semakin kencang. Dedaunan-daun kering berputar-putar di halaman seperti sedang ditarik oleh sesuatu.

Rafiq merasakan sensasi aneh di kepalanya. Seperti ada yang membuka sesuatu. Seperti ada yang mengupas lapisan-lapisan yang selama ini menutupi matanya. Sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit yang merayap di dalam saraf-sarafnya, di dalam pikirannya, di dalam jiwanya.

Ia ingin membuka mata, tapi Mbah Jaya memerintahkannya untuk tetap tertutup.

"Bukak," bisik Mbah Jaya.

Rafiq membuka matanya.

Dunia berubah.

Rumah itu masih sama. Dinding kayu yang lapuk, meja kecil di tengah, kursi-kursi kayu. Tapi ada yang berbeda. Ada yang baru.

Di sudut ruangan, di dekat rak buku, sesosok bayangan hitam berdiri. Tinggi, kurus, dengan lengan yang terlalu panjang menjuntai hampir menyentuh lantai.

Tidak ada wajah yang jelas, hanya dua titik merah menyala di tempat yang seharusnya menjadi mata. Bayangan itu menatap Rafiq.

Menatap dengan mata merah yang sama seperti yang ia lihat di pemakaman, seperti yang ia lihat di penginapan.

Rafiq tersentak. Dadanya berdebar kencang.

Tapi ia tidak berteriak. Ia menahan napas, memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Di dekat jendela, sesosok lain. Lebih kecil, seperti anak kecil. Tubuhnya transparan, samar-samar. Ia duduk di ambang jendela, kaki-kakinya yang tidak jelas bergoyang-goyang pelan. Tidak menatap Rafiq. Ia hanya duduk di sana, seperti sedang menunggu sesuatu.

Di bawah meja, di sudut gelap, ada sesuatu yang merayap. Bentuknya tidak jelas, hanya segumpal bayangan pekat yang bergerak pelan, berpindah dari satu sudut ke sudut lain.

Dan di luar jendela, di balik kaca yang pecah, Rafiq melihat pohon beringin di belakang rumah. Tapi sekarang ia melihatnya dengan cara yang berbeda. Pohon beringin itu tidak lagi hanya pohon.

Di antara dahan-dahannya yang menjuntai, ada sosok-sosok. Banyak sosok. Bergelantungan di akar-akar yang menggantung, duduk di dahan-dahan yang besar, berjalan di antara batang pohon yang lebar. Mata-mata merah menyala di antara dedaunan yang rimbun. Puluhan. Mungkin ratusan.

Mereka semua menatap ke arah rumah. Menatap ke arah Rafiq.

Rafiq merasakan jantungnya seperti akan meledak. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya yang bertumpu di lantai gemetar hebat. Ada rasa takut yang merayap di setiap serabut sarafnya—takut yang primitif, takut yang tidak bisa ia kendalikan.

Tapi di dalam dadanya yang hancur, ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan.

Dendam.

Dendam yang membara. Dendam yang membakar semua rasa takut yang mencoba menguasainya.

Ia mengatupkan rahangnya. Ia menguatkan tekadnya. Ia menatap balik sosok-sosok di sudut ruangan, sosok-sosok di pohon beringin, tanpa mengalihkan pandangan.

"Aku tidak takut," bisiknya. Suaranya keluar lirih, tapi tegas. "Aku tidak peduli siapa kalian. Aku hanya ingin satu hal. Balas dendam. Dan tidak ada yang akan menghentikanku."

Mbah Jaya yang berdiri di depannya tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang puas. Senyum yang mengatakan bahwa ia telah menemukan apa yang ia cari.

"Saiki kowe weruh, Nak," katanya pelan. "Iki jagad sing sakjane. Sing maido mergo mripate isih ketutup. Saiki mripatmu wis kebukak. Lan kowe ora wedi. Kuwi sing dadi kekuatanmu."

Mbah Jaya mengambil tongkat hitamnya dari lantai. Dengan ujung tongkat itu, ia menyentuh kening Rafiq.

"Kekuatan iki bakal thukul saben dina, saben wengi, saben kowe ngelak marang dendam. Nanging elinga, yen kowe wis miwiti, ora ono sing bisa mungkasi kejobo kowe dhewe. Lan kowe ugo ora bakal bisa bali dadi kaya biyen."

Rafiq mengangguk. "Aku tidak ingin kembali."

Mbah Jaya menghela napas panjang. Ia berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya. Seolah-olah beban yang ia pikul bertambah setelah ritual ini.

"Ngombe iki sadurunge turu," katanya sambil menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat.

"Lan sesuk, teko nang omahku. Ono ing ujung desa, liwat dalan sing ora iso dilewati mobil. Kowe kudu mlaku dhewe."

Rafiq menerima botol itu. Cairan di dalamnya dingin, dingin sekali, seperti es yang membeku di tangannya.

"Kowe wis siap, Nak?" tanya Mbah Jaya untuk terakhir kalinya.

Rafiq menatap botol di tangannya. Lalu menatap sosok-sosok di sudut ruangan yang masih menatapnya dengan mata merah menyala. Lalu menatap ke luar jendela, ke pohon beringin yang dipenuhi bayangan-bayangan gelap.

Ia tersenyum. Senyum yang tidak lagi hangat. Senyum yang tidak lagi teduh. Senyum yang gelap, senyum yang dingin, senyum yang tidak akan pernah lagi ia kenakan ketika berdiri di mimbar masjid.

"Aku siap, Mbah. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertahankan. Tapi aku memiliki segalanya untuk diambil dari mereka."

Malam itu, Rafiq tidak sholat.

Ia duduk di teras rumah yang sempit, menatap pohon beringin di belakang rumah yang kini terlihat berbeda di bawah sinar bulan.

Sosok-sosok yang tadi siang ia lihat bergelantungan di dahan-dahan itu kini tidak terlihat. Tapi ia tahu mereka ada di sana. Ia bisa merasakannya. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan samar yang terbawa angin malam.

Di tangannya, botol kecil berisi cairan hitam itu masih ia genggam. Ia membuka tutupnya. Bau yang keluar bukan bau yang ia kenali—bukan bau herbal, bukan bau kimia. Bau yang lebih seperti... tanah. Tanah kuburan. Tanah basah setelah hujan. Tanah di pusaran kecil tempat Fatih terbaring.

Ia menenggak cairan itu dalam satu tegukan.

Rasanya pahit. Pahit sekali. Pahit seperti empedu. Tapi ia menelannya habis. Tidak setetes pun tersisa.

Dan ketika cairan itu mencapai tenggorokannya, ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang panas. Panas yang menyebar dari tenggorokannya ke dadanya, ke perutnya, ke seluruh pembuluh darahnya. Panas yang membakar.

Tapi bukan panas yang menyakitkan. Panas yang seperti api kecil yang mulai menyala di dalam dirinya.

Ia menutup matanya.

Rafiq tersenyum. Mereka akan merasakannya. Mereka semua akan merasakan apa yang aku rasakan.

Ia berdiri. Berjalan kembali ke dalam rumah. Ia mengambil foto Fatih dari kopernya, meletakkannya di atas meja kecil di ruang tamu. Di samping foto itu, ia meletakkan Al-Qur'an usang milik ayahnya.

Ia menatap keduanya lama. Foto anaknya yang tersenyum dengan lesung pipit di pipi. Dan kitab suci yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.

"Maafkan Abi, Fatih," bisiknya pelan. "Abi harus melakukan ini. Abi akan membuat mereka yang menyakiti kita merasakan sakit yang sama. Abi janji."

Ia mengambil Al-Qur'an itu, membawanya ke dapur. Ia meletakkannya di atas meja kayu dekat tungku. Ia menatapnya beberapa saat.

Kemudian ia berbalik.

Meninggalkan Al-Qur'an itu di atas meja.

Tidak membacanya.

Tidak membawanya ke kamar.

Meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafiq Al Farisi tidur tanpa membaca Al-Qur'an. Tanpa sholat. Tanpa berdoa.

Di kejauhan, di ujung desa yang tidak bisa diakses mobil, Mbah Jaya duduk di beranda rumahnya. Ia menatap ke arah langit malam. Bulan bersinar penuh, tapi ada awan gelap yang perlahan menutupinya.

"Wis," gumamnya. "Miwiti."

---

Pagi datang dengan sinar matahari yang menyengat.

Rafiq bangun dengan perasaan yang berbeda. Tubuhnya terasa lebih ringan. Pikirannya terasa lebih jernih. Tidak ada lagi beban yang menekan dadanya. Tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk setiap kali ia mengingat Fatih. Yang ada hanya satu fokus. Satu tujuan.

Balas dendam.

Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang—masih putih, tapi kini berbeda. Dulu putih itu melambangkan kesucian, ketulusan, keikhlasan. Kini putih itu hanya warna. Tidak lebih. Celana bahan hitam yang sama, sepatu kets yang sama. Jenggotnya yang mulai panjang ia biarkan, tidak ia rapikan seperti dulu.

Ia keluar rumah, menatap matahari pagi yang menyinari kampung kecil itu. Di belakang rumahnya, pohon beringin berdiri kokoh. Di siang hari, tidak ada sosok-sosok bayangan yang terlihat. Tapi Rafiq tahu mereka ada di sana. Ia bisa merasakan tatapan mereka dari balik dedaunan yang rimbun.

Ia berjalan kaki menuju ujung desa. Jalan setapak yang tidak bisa dilalui mobil—Mbah Jaya sudah memperingatkannya. Jalan itu menyusuri pinggiran hutan kecil, di antara semak-semak yang lebat dan pepohonan yang rindang. Tanahnya becek karena embun pagi. Sepatu ketsnya berlumpur, tapi ia tidak peduli.

Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, ia sampai di sebuah rumah kecil di ujung jalan setapak. Rumah itu lebih sederhana dari rumah orang tuanya. Dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sudah hitam karena usia.

Halamannya sempit, hanya cukup untuk beberapa pot tanaman herbal yang tidak Rafiq kenali. Di depan rumah, sesosok pria tua sedang duduk di kursi bambu, menatap ke arah kedatangannya.

Hari ini, Mbah Jaya terlihat berbeda. Mungkin karena mata Rafiq yang sudah terbuka, ia bisa melihat sesuatu yang tidak ia lihat kemarin.

Di sekeliling Mbah Jaya, ada bayangan-bayangan. Bukan bayangan yang menakutkan seperti yang ia lihat di rumahnya. Bayangan yang patuh. Bayangan yang melingkari pria tua itu seperti pengawal yang setia.

"Kowe teko," kata Mbah Jaya dengan suara seraknya.

Rafiq mengangguk. "Aku datang, Mbah. Aku siap memulai."

Mbah Jaya tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin. Senyum yang gelap. Senyum yang tahu bahwa pintu yang telah terbuka tidak akan pernah bisa ditutup kembali.

"Mlebu," katanya sambil berdiri. "Wis akeh sing kudu mbok sinau."

Rafiq melangkah masuk ke dalam rumah bambu itu. Di dalamnya, gelap. Tapi matanya yang baru terbuka bisa melihat dengan jelas. Ia melihat semua yang ada di ruangan itu.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!