NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Hal Sederhana yang Menghangatkan”

...yaudah."

Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.

Namun cukup jelas.

Zain tersenyum tipis, menahan rasa senang yang tiba-tiba muncul.

Nayla sedikit tertegun. Ia tak menyangka Arkan akan mengalah—meski hanya sedikit.

"Serius?" tanya Nayla memastikan.

Arkan mendengus kecil, lalu memalingkan wajah.

"Aku cuma bilang yaudah, bukan berarti suka," gumamnya ketus.

Zain terkekeh pelan.

"Iya, pangeran kecil. Aku juga belum tentu suka sama kamu," balasnya santai.

Arkan langsung menoleh cepat, matanya membesar.

"Apa maksudnya?!"

Zain mengangkat bahu, pura-pura berpikir.

"Soalnya… kamu galak," lanjutnya ringan.

Nayla refleks menahan tawa.

Sementara Arkan terlihat kesal, tapi kali ini… tidak sepenuhnya menolak.

"Yaudah, kalau gitu jangan ikut!" ketusnya, meski nada suaranya tak sekeras tadi.

Zain mendekat satu langkah, lalu sedikit menunduk.

"Kalau aku nggak ikut… nanti siapa yang bayarin es krim kedua?" bisiknya seolah rahasia.

Arkan terdiam.

Matanya melirik es krim di tangannya… lalu kembali ke Zain.

Hening sejenak.

"...dua?" tanyanya pelan, ragu.

Zain tersenyum, kali ini lebih jelas.

"Bisa tiga juga, kalau pangeran kecilnya baik."

Nayla menatap mereka berdua, tak percaya.

Baru beberapa menit yang lalu, Arkan bahkan tak mau menatap Zain.

Sekarang…

anak itu mulai goyah.

Arkan mengerucutkan bibirnya, berpikir keras. Harga dirinya seolah sedang berperang dengan keinginannya.

"...yaudah. Tapi aku yang pilih tempatnya," ucapnya akhirnya.

Zain mengangguk patuh.

"Siap, Yang Mulia."

Arkan mendengus, tapi kali ini… sudut bibirnya sedikit terangkat.

Dan untuk pertama kalinya—

permusuhan itu tak lagi terasa sekuat tadi.

Nayla berjalan di samping mereka.

Tangannya masih digenggam Arkan, seperti biasa.

Namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda.

Arkan tidak lagi menariknya menjauh.

Dan Zain—berjalan di sisi lain, menjaga jarak yang cukup, seolah tahu batas.

Nayla melirik sekilas.

Zain sedang berbicara pelan pada Arkan, entah apa yang dibicarakan. Suaranya tidak terdengar jelas, tapi nada itu… ringan. Tidak memaksa.

Aneh.

Sangat aneh.

Beberapa menit yang lalu, Arkan bahkan menatapnya seperti musuh.

Sekarang…

meski masih jutek, anak itu tidak lagi sepenuhnya menolak.

Nayla menunduk sedikit, pandangannya jatuh pada tangan kecil yang menggenggamnya.

Arkan memang seperti itu.

Tidak mudah menerima orang baru.

Apalagi… jika orang itu terlalu dekat dengannya.

Nayla menghela napas pelan.

Lalu, tanpa sadar, matanya kembali beralih pada Zain.

Pria itu berjalan santai, sesekali tersenyum kecil—bukan senyum dibuat-buat, tapi seperti seseorang yang… benar-benar menikmati momen ini.

Hatinya terasa ganjil.

Hangat… tapi juga ragu.

Ia tidak tahu harus merasa bagaimana.

"Kenapa?" suara Zain tiba-tiba menyadarkannya.

Nayla tersentak kecil.

"Hah? Nggak… nggak apa-apa," jawabnya cepat.

Zain menatapnya sejenak, seolah ingin memastikan.

Lalu ia hanya mengangguk.

"Kalau capek, bilang ya."

Kalimat sederhana.

Tapi entah kenapa…

terasa tulus.

Nayla terdiam.

Langkahnya sedikit melambat.

Perasaannya… mulai goyah.

Dan itu yang justru membuatnya takut.

Mereka berhenti di sebuah bangku dekat koridor mall.

Arkan duduk lebih dulu, masih memegang es krimnya yang mulai mencair.

Nayla ikut duduk di sampingnya.

Sementara Zain berdiri sebentar, menatap sekitar… lalu melangkah pergi tanpa banyak bicara.

Nayla mengernyit.

"Mau ke mana?" tanyanya refleks.

"Bentar," jawab Zain singkat sambil tersenyum.

Tak lama, ia kembali.

Di tangannya ada tisu dan sebotol air mineral.

Ia tidak langsung memberikannya pada Nayla.

Melainkan… berjongkok di depan Arkan.

"Tangan kamu lengket," ucapnya santai.

Arkan refleks menarik tangannya sedikit.

Zain tidak memaksa.

Ia hanya membuka tutup botol air, lalu menuangkannya sedikit ke tisu.

"Kalau nggak dibersihin, nanti semut datang," tambahnya ringan.

Arkan diam.

Menatap.

Beberapa detik berlalu… lalu perlahan, ia mendekatkan tangannya.

Zain tersenyum tipis.

Pelan-pelan, ia membersihkan tangan kecil itu tanpa banyak bicara.

Tanpa bercanda berlebihan.

Tanpa mencoba mengambil hati secara terang-terangan.

Sederhana.

Tulus.

Nayla terdiam.

Matanya tak lepas dari pemandangan itu.

Ada sesuatu yang terasa… berbeda.

Bukan karena apa yang dilakukan Zain.

Tapi karena bagaimana ia melakukannya.

Tidak terburu-buru.

Tidak dibuat-buat.

Seolah itu hal yang biasa ia lakukan.

Seolah… ia memang orang yang seperti itu.

"Udah," ucap Zain pelan.

Ia menutup botolnya, lalu berdiri kembali.

Tanpa sadar, ia juga menyodorkan tisu lain ke arah Nayla.

"Buat kamu."

Nayla sedikit terkejut.

"Aku?"

Zain mengangguk kecil.

"Iya. Tadi kena dikit," ujarnya santai, menunjuk sudut tangan Nayla yang memang sedikit kotor.

Nayla terdiam sejenak… lalu menerima tisu itu.

"…makasih."

Suaranya lebih pelan dari biasanya.

Zain hanya tersenyum, lalu duduk di ujung bangku—tetap memberi jarak.

Tidak mendekat.

Tidak memaksa.

Dan justru karena itu…

hati Nayla terasa menghangat.

Pelan.

Tanpa izin.

Nayla terdiam.

Tatapannya jatuh pada tisu di tangannya, lalu perlahan beralih pada Zain yang duduk tak jauh darinya.

Entah sejak kapan…

perasaannya mulai berubah.

Ia lelah menebak-nebak. Lelah menahan. Lelah selalu berpikir buruk tentang kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Nayla menarik napas panjang.

Lalu menghembuskannya perlahan.

Mungkin…

tidak semua harus dimulai dengan rasa takut.

Untuk pertama kalinya, ia memilih untuk tidak berburuk sangka.

Memilih… membuka hati.

Meski sedikit.

Meski pelan.

Ia menoleh ke arah Zain.

Pria itu sedang menunduk, fokus pada sesuatu di ponselnya. Tenang. Tidak mengganggu. Tidak menuntut.

Nayla menatapnya lebih lama dari biasanya.

Ada rasa hangat yang perlahan tumbuh.

Dan kali ini…

ia tidak ingin menolaknya.

"Nanti…" suara Nayla pelan, hampir ragu.

Zain mengangkat kepala.

"Iya?"

Nayla menggenggam tisu di tangannya sedikit lebih erat.

"Kita… jalan bareng lagi, ya."

Hening sejenak.

Zain tampak terkejut, tapi segera tersenyum—bukan senyum lebar, hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengerti.

"Iya," jawabnya singkat.

Namun cukup untuk membuat hati Nayla… terasa ringan.

**

Mereka berhenti di depan pintu keluar mall.

Langkah mulai melambat.

Seolah tanpa disadari… tak ada yang benar-benar ingin jadi orang pertama yang berpamitan.

"Kayaknya… kita sampai sini aja," ucap Nayla pelan.

Zain mengangguk.

"Iya."

Hening sejenak.

Arkan berdiri di samping Nayla, tangannya kembali menggenggam erat—kali ini tanpa tatapan tajam seperti sebelumnya.

Zain meliriknya sekilas, lalu tersenyum kecil.

"Es krimnya… enak?" tanyanya santai.

Arkan mendengus pelan.

"Ya gitu deh."

Tapi ia tidak memalingkan wajah.

Zain terkekeh ringan.

"Oke, lain kali cari yang lebih enak."

Arkan tidak menjawab.

Namun… ia juga tidak menolak.

Nayla memperhatikan itu, diam-diam tersenyum.

"Udah sore," ucap Nayla lagi, sedikit canggung. "Kita pulang dulu, ya."

Zain menatapnya, ada jeda kecil sebelum ia mengangguk.

"Hati-hati di jalan."

"Iya."

Langkah Nayla sempat maju satu langkah…

lalu berhenti.

Ia menoleh kembali.

"Kak Zain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!