"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKNYA ALIANSI NAGA
Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Alya saat kesadarannya perlahan kembali. Langit-langit putih bersih menjadi pemandangan pertama yang menyambutnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa lemas yang luar biasa menahan otot-ototnya. Ingatannya berputar cepat seperti kaset rusak: hujan lebat, kilatan jarum suntik Mei Hua, teriakan Liyun, dan hangatnya jaket Luo Cheng yang membungkus tubuhnya yang menggigil.
"Alya? Kau sudah bangun?"
Suara itu berat, namun ada nada gemetar yang tak pernah terdengar sebelumnya. Alya menoleh perlahan. Di samping tempat tidurnya, Zhang Liang duduk dengan pakaian yang berantakan. Jasnya hilang, kemejanya kusut, dan ada bekas luka memar yang membiru di sudut bibirnya—jejak pukulan Luo Cheng semalam.
Alya tersentak kecil. Instingnya adalah menjauh, menarik tangannya dari jangkauan Liang. Ketakutan itu begitu nyata, begitu mendalam, hingga Liang bisa merasakannya seperti sengatan listrik.
"Jangan... jangan dekati saya," bisik Alya. Suaranya serak dan pecah.
Tangan Liang yang hendak menyentuh dahi Alya terhenti di udara. Ia menariknya kembali dengan perasaan remuk. "Alya, ini aku. Kau aman sekarang. Mei Hua sudah... aku sudah memindahkannya ke fasilitas kesehatan lain yang dijaga ketat. Dia tidak akan menyentuhmu lagi."
Alya menggeleng pelan, air mata mulai mengalir di sudut matanya. "Bukan hanya dia, Mas. Mas juga... Mas juga menakutkan. Mas bilang saya hanya alat. Mas bilang saya hanya kontrak berjalan."
Liang mematung. Kata-katanya sendiri di malam-malam sebelumnya kini kembali menghantuinya, lebih tajam dari sembilu. "Aku salah. Aku dibutakan oleh kebohongan selama bertahun-tahun. Mei Hua menipuku, Alya. Dia tidak pernah sakit."
"Tapi Mas percaya padanya dan menyiksa saya dengan kedinginan itu," sahut Alya, kali ini dengan sedikit kekuatan. "Tolong... saya ingin pulang ke rumah ibu saya. Ambil saja anak-anak ini setelah lahir, tapi biarkan saya pergi sekarang."
Pintu ruang VIP itu terbuka dengan bantingan keras. Luo Cheng masuk dengan wajah yang masih menyala oleh amarah, diikuti oleh Wei Jun yang tampak tenang namun mematikan, dan Han Zhihao yang sibuk dengan tablet tipis di tangannya.
"Dia sudah bangun?" tanya Luo Cheng kasar, mengabaikan kehadiran Liang. Ia langsung berjalan ke sisi lain tempat tidur Alya. "Kecil, jangan takut. Aku di sini. Tidak ada yang bisa memaksamu kembali ke neraka itu."
Liang berdiri, mencoba mempertahankan otoritasnya sebagai suami. "Cheng, dia istriku. Dia akan pulang bersamaku ke kediaman yang lebih aman."
"Kediaman yang mana, Liang?" Wei Jun menyela, suaranya dingin dan tajam. "Kediaman yang penuh dengan CCTV milik Zhihao yang merekam pengkhianatan sekretarismu? Atau rumah yang dihuni oleh wanita yang hampir membunuh pewarismu semalam? Kau tidak punya tempat yang aman untuknya."
"Aku akan menyewa pengawal baru. Aku akan memecat Yiren," bela Liang.
"Sudah terlambat," ucap Han Zhihao tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Aku baru saja melacak komunikasi Chen Yiren. Dia sedang mencoba menghilangkan jejak keterlibatan Dr. Kelvin Huang. Dan kau tahu apa yang menarik? Yiren sedang memesan tiket pesawat satu arah untuk dirinya sendiri. Dia tahu kau sudah tahu, Liang. Dia akan lari."
Liang terdiam, rahangnya mengeras. Ia merasa dikepung oleh sahabat-sahabatnya sendiri—pria-pria yang selama ini membantunya membangun kerajaan bisnis, kini berbalik melawannya demi seorang gadis yang awalnya ia anggap remeh.
"Aku akan memberikan perlindungan pada Alya di griya tawang milikku," ucap Wei Jun tiba-tiba. Pernyataan itu seperti ledakan di dalam ruangan. "Keamanannya lebih terjamin, dan dokter pribadiku akan memantaunya tanpa campur tangan keluarga Zhang."
"Atau di vila pegunungan milikku," timpal Luo Cheng. "Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya di sana."
"CUKUP!" Liang berteriak, suaranya menggelegar di ruangan itu. "Dia mengandung anak-anakku! Kalian tidak punya hak atas dirinya!"
Di tengah perdebatan pria-pria berkuasa itu, Alya tiba-tiba terbatuk pelan. Semua mata tertuju padanya.
"Tolong... berhenti berkelahi," ucap Alya. Ia menatap mereka satu per satu. Ia melihat rasa bersalah di mata Liang, obsesi tersembunyi di mata Zhihao, perlindungan yang meledak-ledak di mata Luo Cheng, dan ketulusan yang tenang di mata Wei Jun.
Alya menatap Liang. "Mas Liang, Mas ingin anak-anak ini sehat?"
Liang mengangguk cepat. "Tentu, Alya. Itu yang paling kuinginkan."
"Kalau begitu, jangan bawa saya kembali ke rumah itu. Saya tidak ingin melihat Kak Mei Hua, dan saya tidak ingin melihat Chen Yiren. Saya ingin... saya ingin tinggal di tempat yang netral."
Wei Jun tersenyum tipis, merasa memenangkan satu poin. "Aku punya apartemen medis pribadi di pusat kota. Liang, kau bisa mengunjunginya, tapi kau tidak boleh membawanya pergi tanpa persetujuan tim dokter. Dan kami bertiga—aku, Zhihao, dan Cheng—akan menjadi penjamin keselamatannya."
Liang merasa harga dirinya diinjak-injak. Sahabat-sahabatnya sendiri kini bertindak sebagai "polisi" bagi rumah tangganya. Namun, melihat sorot mata Alya yang penuh ketakutan saat menatapnya, Liang sadar bahwa ia telah kehilangan kepercayaan gadis itu sepenuhnya. Jika ia memaksa, ia mungkin akan kehilangan Alya dan bayi-bayinya sekaligus.
"Baik," ucap Liang dengan berat hati. "Hanya sampai dia melahirkan. Setelah itu, kita akan bicarakan lagi kontraknya."
Di luar rumah sakit, di dalam sebuah mobil sedan yang terparkir jauh di sudut, Chen Yiren menggertak gigi. Ia melihat melalui teropong bagaimana pengawal Wei Jun mulai berjaga di pintu masuk rumah sakit.
"Bodoh! Semuanya bodoh!" umpatnya.
Ia membuka ponselnya, melihat pesan dari Madam Chen Lian, ibu Zhang Liang. 'Jangan biarkan mereka bicara lebih banyak. Jika Alya tahu tentang rencana pertukaran bayi, kita semua habis.'
Yiren tahu ia sedang berada di ujung tanduk. Rencana awalnya adalah membiarkan Alya melahirkan, lalu memalsukan kematian salah satu bayi untuk dijual atau digunakan sebagai alat pemerasan di masa depan, sementara ia masuk sebagai ibu tiri pengganti. Namun kini, dengan keterlibatan Han Zhihao yang jenius teknologi, semua jejak digitalnya terancam terbongkar.
Ia menghubungi Dr. Kelvin Huang. "Dokter, hilangkan semua catatan medis Alya dari server rumah sakit sekarang juga. Jangan tinggalkan satu bit pun. Dan mengenai ramuan itu... pastikan tidak ada sisanya di lab."
"Sudah terlambat, Yiren," suara Dr. Kelvin terdengar gemetar di seberang telepon. "Han Zhihao sudah meretas sistemku sepuluh menit yang lalu. Pengacara Wei Jun sudah ada di depan rumahku. Aku... aku harus menyerahkan diri."
Yiren melempar ponselnya ke kursi samping. "Sialan!"
Ia harus melakukan tindakan nekat. Jika ia tidak bisa memiliki Liang, dan tidak bisa menyingkirkan Alya secara halus, maka ia akan membakar seluruh panggung ini.
Alya akhirnya dipindahkan ke apartemen milik Wei Jun. Tempat itu sangat mewah, dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota, namun setiap sudutnya dilengkapi dengan sistem keamanan tingkat tinggi milik Zhihao.
Malam itu, Wei Jun membawakan makan malam untuk Alya. Ia duduk di kursi kayu di balkon, menemani Alya yang sedang menghirup udara malam yang segar.
"Apakah kau menyukai tempat ini?" tanya Wei Jun lembut.
"Ini indah, Tuan Wei Jun. Terlalu indah untuk saya," jawab Alya.
Wei Jun mendekat, membenarkan selimut yang menutupi kaki Alya. "Berhenti memanggilku Tuan. Aku bukan tuanmu, dan kau bukan budak siapa pun. Aku ingin kau tahu satu hal, Alya..." Wei Jun berhenti sejenak, menatap mata Alya yang bening. "Aku membantumu bukan hanya karena aku sahabat Liang. Aku membantumu karena sejak pertama kali aku melihatmu di taman itu, aku ingin membawamu keluar dari sana."
Alya menunduk, pipinya sedikit memerah. "Saya hanya gadis miskin yang kotor karena kontrak ini, Tuan... eh, Wei Jun."
"Kontrak itu tidak mengotori jiwamu, Alya. Itu hanya menunjukkan betapa berharganya dirimu bagi keluargamu," ucap Wei Jun, tangannya menyentuh lembut jemari Alya.
Di kejauhan, melalui kamera pengintai yang tersembunyi di lampu balkon, Han Zhihao mengepalkan tangannya melihat adegan itu. Rasa cemburu membakar dadanya. Ia ingin menjadi orang yang duduk di sana. Ia ingin menjadi orang yang menyentuh tangan Alya.
Sementara itu, di kediaman Zhang yang kini sepi, Zhang Liang berdiri di kamar bayi yang baru saja selesai didekorasi. Ia menyentuh ranjang bayi kembar yang masih kosong. Penyesalan adalah racun yang paling lambat membunuh, dan malam ini, Liang merasakannya mengalir deras di pembuluh darahnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
‘Liang, kau pikir sahabat-sahabatmu itu pahlawan? Tanya pada Wei Jun, apa yang dia lakukan dengan sertifikat tanah ayah Alya yang disita bank. Dia membelinya sebulan lalu, tapi dia tidak pernah memberitahumu, bukan? Dia ingin memilikimu lewat Alya.’
Liang menatap pesan itu. Aliansi Naga Timur yang selama ini tak tergoyahkan, kini mulai menunjukkan retakan yang sangat dalam. Dan di tengah-tengah retakan itu, Alya berdiri tanpa tahu bahwa dirinya sedang menjadi pusat dari badai yang akan menghancurkan mereka semua.