NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: TIGA HARI

Malam setelah pertemuan dengan Janda Permaisuri, Namgung Jin tidak bisa tidur.

Bukan karena cemas—ia sudah melewati ribuan malam tanpa tidur selama hidupnya sebagai Iblis Murim. Tapi karena pikirannya sibuk menyusun strategi, menghitung kemungkinan, memetakan setiap langkah yang harus diambil.

Tiga hari. Itu waktu yang ia miliki.

Tiga hari untuk memutuskan apakah akan bekerja sama dengan Janda Permaisuri—wanita yang membunuh putranya sendiri demi kekuasaan. Tiga hari untuk merencanakan cara memanfaatkan situasi tanpa menjadi korban. Tiga hari yang akan menentukan nasibnya di istana.

Ia duduk di ambang jendela, menatap bulan yang bersinar pucat. Angin malam berdesir lembut, membawa aroma bunga dari taman istana.

Pintu kamar diketuk pelan.

"Masuk."

Nyonya Hwa Ryun melangkah masuk dengan jubah tidur sederhana, rambutnya tergerai bebas. Tanpa riasan dan tanpa topeng, ia terlihat lebih muda—mungkin sebaya dengan Namgung Jin secara fisik.

"Kau masih bangun?"

"Tidak bisa tidur."

"Aku juga." Ia duduk di kursi, menarik selimut kecil menutupi bahunya. "Pikiranku penuh dengan semua ini. Janda Permaisuri, Putri Sohwa, intrik istana... ini seperti kembali ke masa lalu."

"Masa lalu?"

"Di Sekte Bunga Mekar, kami juga punya intrik internal. Para tetua saling menjatuhkan, murid-murid berebut perhatian. Aku bertahan dengan menjadi mata-mata." Ia tersenyum getir. "Ternyata, di mana pun sama saja."

Namgung Jin diam. Ia mengerti perasaan itu.

"Kau tahu, Hwa Ryun-ssi, ada satu hal yang membedakan istana dari sekte mana pun."

"Apa?"

"Di sini, taruhannya adalah nyawa seluruh keluarga. Bukan hanya satu orang."

Nyonya Hwa Ryun menghela napas. "Kau membuatku semakin cemas."

"Maaf."

"Tidak apa. Aku sudah memilih jalan ini." Ia menatap Namgung Jin. "Aku hanya berharap kau tahu apa yang kau lakukan."

"Aku selalu tahu."

---

Pagi harinya, Namgung Jin diundang ke kediaman Putri Sohwa.

Bangunan itu kecil, jauh dari kemegahan istana utama. Taman di depannya tidak terawat, dengan bunga-bunga liar tumbuh di sana sini. Ini adalah tempat yang sengaja diabaikan—cocok untuk seseorang yang ingin tidak diperhatikan.

Putri Sohwa menyambutnya di beranda. Hari ini ia berpakaian sederhana, hanya jubah katun putih tanpa hiasan. Tapi matanya tetap tajam.

"Selamat datang di istana kecilku." Ia tersenyum. "Maafkan penampilannya. Aku sengaja membuatnya terlihat kumuh agar tidak menarik perhatian."

"Cerdik."

"Aku belajar dari yang terbaik—ibuku. Sayangnya, ia mati sebelum bisa mengajariku lebih banyak."

Mereka duduk di beranda, ditemani teh hijau sederhana. Tidak ada dayang yang melayani—Putri Sohwa melakukannya sendiri.

"Aku memanggilmu karena ada informasi baru."

"Apa?"

"Janda Permaisuri mengadakan pertemuan rahasia tadi malam. Dengan Jenderal Baek Woong dan beberapa pejabat tinggi."

"Kau tahu apa yang mereka bicarakan?"

"Tidak detail. Tapi salah satu informanku bilang, mereka membahas tentang 'ritual' dan 'pengorbanan'."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Pengorbanan?"

"Aku curiga, untuk menghidupkan kembali seseorang, butuh nyawa sebagai gantinya. Itu hukum alam: sesuatu harus dibayar dengan sesuatu yang setara."

Hukum alam. Ya, itu benar. Hwasin memang butuh pengorbanan—nyawa segar, darah murni, dan energi yang sangat besar. Jika Janda Permaisuri tahu tentang itu, ia mungkin sudah menyiapkan korbannya.

"Siapa korbannya?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku khawatir..." Putri Sohwa menunduk. "...aku khawatir itu aku."

Keheningan.

"Kenapa kau?"

"Karena aku darah biru. Karena aku tidak punya pelindung. Dan karena..." Ia menatap Namgung Jin. "...karena aku mirip dengan kakakku yang mati."

---

Setelah pertemuan itu, Namgung Jin berjalan kembali ke paviliunnya.

Pikirannya kacau. Jika Putri Sohwa benar—jika Janda Permaisuri berencana mengorbankannya untuk ritual—maka situasinya jauh lebih rumit.

Di tengah perjalanan, ia bertemu seseorang.

Seorang wanita muda, mungkin seusia dengannya, dengan pakaian dayang yang rapi. Tapi ada yang aneh—caranya berdiri, cara matanya bergerak, semua menunjukkan bahwa ia bukan dayang biasa.

"Tuan Namgung?" Suaranya lembut.

"Aku."

"Aku Miho, dayang pribadi Janda Permaisuri. Beliau memanggil Tuan untuk makan siang."

Namgung Jin mengamatinya. Miho—nama itu asing. Tapi dari posturnya, ia jelas seorang kultivator. Level menengah, mungkin.

"Sekarang?"

"Ya. Mohon ikut."

---

Makan siang itu berlangsung di paviliun pribadi Janda Permaisuri—ruangan yang lebih kecil dan lebih intim dari ruang tamu utama.

Hanya ada tiga orang: Janda Permaisuri, Nyonya Go, dan Namgung Jin. Miho melayani di belakang, menuangkan teh dan menyajikan makanan.

Hidangannya mewah—sop sirip hiu, abalon panggang, dan berbagai lauk yang tidak pernah dilihat Namgung Jin seumur hidupnya. Tapi ia tidak bernafsu makan. Ia terlalu waspada.

"Cobalah." Janda Permaisuri tersenyum. "Makanan ini tidak beracun."

Namgung Jin mencicipi sedikit. Enak, tapi ia tetap tidak menambah porsi.

"Kau anak yang waspada. Aku suka itu." Janda Permaisuri menyesap tehnya. "Sudahkah kau memikirkan tawaranku?"

"Masih, Paduka. Ini keputusan besar."

"Tentu. Tapi waktu terus berjalan." Ia meletakkan cangkirnya. "Aku perlu keputusan cepat. Karena ritual ini harus dilakukan saat bulan purnama, sepuluh hari lagi."

Sepuluh hari. Itu berarti keputusannya harus segera.

"Apa yang terjadi jika ritual itu gagal?"

"Jangan pikirkan itu." Mata Janda Permaisuri berkilat. "Ritual itu harus berhasil."

Nyonya Go menambahkan, "Kami sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan. Hanya tekniknya yang kurang."

"Korban?" tanya Namgung Jin santai.

Keheningan sejenak.

Janda Permaisuri tersenyum—senyum yang tidak mencapai mata. "Itu bukan urusanmu."

---

Makan siang berakhir. Namgung Jin pamit, tapi saat ia berjalan menuju pintu, Miho menyelinap di sampingnya.

"Tuan Namgung." Bisikannya nyaris tak terdengar. "Aku perlu bicara dengan Tuan. Sendirian. Malam ini, di taman belakang."

Sebelum Namgung Jin bisa bertanya, Miho sudah kembali ke posisinya, wajahnya datar seperti tidak terjadi apa-apa.

---

Malam itu, Namgung Jin pergi ke taman belakang.

Tempat ini lebih sepi dari taman utama. Hanya beberapa pohon rindang dan kolam kecil dengan bunga teratai. Cahaya bulan cukup terang untuk melihat, tapi tidak terlalu terang untuk menarik perhatian.

Miho sudah menunggu di bawah pohon willow. Tanpa seragam dayang, ia terlihat berbeda—lebih muda, lebih rentan.

"Terima kasih sudah datang, Tuan."

"Apa yang kau mau?"

Miho menunduk. "Aku... aku butuh bantuan Tuan."

"Bantuan?"

"Aku bukan dayang biasa. Aku dikirim ke sini untuk memata-matai Janda Permaisuri."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Dikirim siapa?"

"Seseorang dari luar istana. Seseorang yang peduli pada nasib kerajaan." Ia mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Tapi aku terjebak. Semakin lama di sini, semakin sulit keluar. Dan sekarang... sekarang aku tahu terlalu banyak."

"Kau tahu tentang ritual itu?"

"Ya. Dan aku tahu siapa korbannya."

"Siapa?"

Miho berbisik, "Putri Sohwa."

Namgung Jin tidak terkejut. Dugaannya benar.

"Tapi bukan hanya itu." Miho melanjutkan. "Ada korban lain. Tiga puluh perawan dari desa-desa sekitar. Darah mereka akan digunakan untuk ritual."

Tiga puluh perawan. Itu pembantaian.

"Kau punya bukti?"

"Aku punya catatan. Daftar nama. Tanggal penculikan." Miho merogoh bajunya, mengeluarkan gulungan kecil. "Ini."

Namgung Jin membaca gulungan itu. Nama-nama, asal desa, umur—semua tercatat rapi. Ini bukti yang bisa menghancurkan Janda Permaisuri.

"Kenapa kau berikan ini padaku?"

"Karena kau satu-satunya yang bisa menghentikannya." Miho menatapnya dengan mata penuh harap. "Aku tidak punya kekuatan. Tapi kau... kau berbeda. Aku bisa melihatnya."

"Melihat apa?"

"Kau tidak takut. Seperti orang yang sudah melihat segalanya."

Namgung Jin diam. Kata-kata itu mengingatkannya pada banyak orang—Nyonya Hwa Ryun, Cheon Wu-gun, bahkan Tetua Pyo. Mereka semua melihat sesuatu yang aneh dalam dirinya.

"Apa yang kau minta dariku?"

· "Selamatkan mereka. Selamatkan Putri Sohwa. Dan..."* Miho menunduk. "...selamatkan aku."

---

Kembali di paviliunnya, Namgung Jin menunjukkan gulungan itu pada Nyonya Hwa Ryun.

Wanita itu membacanya dengan wajah berubah. "Ini... ini pembantaian."

"Ya."

"Kau percaya pada Miho?"

"Tidak sepenuhnya. Tapi bukti ini nyata."

"Apa yang akan kau lakukan?"

Namgung Jin berpikir. Jika ia menyerahkan bukti ini pada Kaisar, Janda Permaisuri bisa jatuh. Tapi Kaisar lemah, dikendalikan oleh ibunya. Bukti ini mungkin tidak cukup.

Jika ia memberikannya pada Delapan Sekte, mereka bisa campur tangan. Tapi Delapan Sekte juga punya kepentingan sendiri.

Atau...

"Aku akan gunakan ini sebagai alat tawar-menawar."

"Dengan Janda Permaisuri?"

"Dengan semua orang."

---

Keesokan harinya, Namgung Jin meminta audiensi dengan Janda Permaisuri.

Pertemuan itu berlangsung di ruang kerjanya, tanpa Nyonya Go. Hanya berdua.

"Kau sudah memutuskan?"

"Aku setuju bekerja sama, Paduka. Tapi dengan syarat."

"Syarat apa?"

"Korban tidak boleh diambil dari desa-desa."

Wajah Janda Permaisuri berubah. "Kau tahu tentang itu?"

"Aku tahu banyak hal, Paduka." Ia mengeluarkan gulungan Miho. "Aku punya daftar nama. Tiga puluh perawan yang akan dikorbankan."

Janda Permaisuri meraih gulungan itu, membacanya. Tangannya gemetar—bukan takut, tapi marah.

"Dari mana kau dapat ini?"

"Itu tidak penting." Namgung Jin tetap tenang. "Yang penting, jika daftar ini sampai ke Kaisar atau Delapan Sekte, posisi Paduka akan hancur."

"Kau mengancamku?"

"Aku menawar, Paduka. Bukan mengancam."

Janda Permaisuri menatapnya lama. Lalu ia tertawa—tawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding.

"Kau benar-benar berani. Atau bodoh."

"Atau keduanya."

"Baik. Aku setuju. Tidak ada korban desa. Tapi ritual tetap harus dilakukan."

"Dengan korban siapa?"

Janda Permaisuri tersenyum. "Itu urusanku."

---

Malam itu, Miho datang lagi ke paviliun Namgung Jin.

"Tuan, aku dengar apa yang kau lakukan. Kau menyelamatkan mereka." Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih."

"Jangan terima kasih dulu. Belum selesai."

"Tapi setidaknya, tiga puluh nyawa selamat."

Ia mendekat, tiba-tiba menggenggam tangan Namgung Jin.

"Aku... aku ingin membalas budi. Apa pun yang Tuan minta."

Namgung Jin menarik tangannya pelan. "Kau tidak perlu membalas apa pun. Lakukan saja tugasmu sebagai mata-mata. Laporkan apa pun yang kau lihat."

Miho mengangguk, meskipun sedikit kecewa. Tapi di matanya, ada kilatan lain—kekaguman, mungkin?

"Aku akan lakukan, Tuan."

---

Dua hari tersisa.

Namgung Jin duduk di kamarnya, merenung. Dua hari lagi ia harus memberikan jawaban final pada Janda Permaisuri. Tapi ia sudah punya rencana.

Pintu diketuk. Putri Sohwa masuk, wajahnya pucat.

"Ada apa?"

"Janda Permaisuri memanggilku. Katanya, ia ingin bicara tentang masa depanku."

"Kapan?"

"Besok malam."

Namgung Jin mengerutkan kening. Besok malam, sehari sebelum batas waktu.

"Jangan pergi."

"Aku tidak bisa menolak."

"Kalau begitu, aku akan ikut."

Putri Sohwa terkejut. "Kau?"

"Aku akan bilang pada Janda Permaisuri bahwa aku setuju bekerja sama. Dan aku ingin kau sebagai penghubungku."

*"Tapi—"

"Percayalah padaku."

---

Malam itu, Namgung Jin memanggil Miho dan Nyonya Hwa Ryun untuk pertemuan rahasia.

"Ini rencanaku." Ia membuka gulungan peta istana. "Besok malam, Putri Sohwa akan menghadap Janda Permaisuri. Aku akan ikut. Saat itu, kau—" Ia menunjuk Miho. "—akan mengawasi dari dalam. Catat setiap percakapan, setiap gerakan."

Miho mengangguk.

"Dan kau—" Ia menunjuk Nyonya Hwa Ryun. "—akan bersiap di luar. Jika ada tanda bahaya, kau masuk."

"Tanda bahaya apa?"

"Aku akan beri sinyal."

Nyonya Hwa Ryun mengangguk, meskipun ragu.

"Kau yakin dengan rencana ini?"

"Tidak. Tapi ini satu-satunya cara."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!