NovelToon NovelToon
Takdir Dari Bayangan

Takdir Dari Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: J. F. Noctara

Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Duel untuk Tahta Drackveil

Lingkaran kecil terbentuk di tengah markas Drackveil.

Para murid mundur beberapa langkah, memberi ruang bagi dua orang yang akan bertarung. Tanah lapangan yang keras berdebu sedikit tertiup angin pagi, sementara bendera merah gelap Drackveil berkibar perlahan di belakang mereka.

Lambang gagak hitam dengan sayap terbentang di atas lingkaran bayangan tampak seperti mengawasi duel yang akan terjadi.

Arkan berdiri tenang.

Di depannya—

Vasko menyeringai lebar.

Aura sihir hitam mengelilinginya seperti kabut tipis.

Lima mayat yang baru saja ia panggil berdiri di belakangnya dengan tubuh kaku dan mata kosong. Tulang-tulang mereka berderak pelan setiap kali bergerak.

Beberapa murid Drackveil tersenyum.

Pertarungan seperti ini bukan sesuatu yang aneh bagi mereka.

Justru sebaliknya—

Ini hiburan.

Kael berdiri di tepi lingkaran dengan tangan terlipat, wajahnya terlihat serius.

“Jangan ceroboh,” gumamnya pelan.

Nyra berdiri tidak jauh dari situ, bersandar pada tiang bendera Drackveil. Mata hitamnya yang dingin mengamati kedua petarung tanpa emosi.

Ia tampak sangat tertarik.

Vasko melangkah maju satu langkah.

Tanah sedikit bergetar di bawah kakinya.

“Kau masih punya waktu untuk mundur,” katanya dengan nada mengejek.

Arkan tidak menjawab.

Ia hanya menatap Vasko dengan ekspresi datar.

Sikap itu justru membuat Vasko tertawa pendek.

“Baiklah.”

Ia mengangkat tangannya.

“Mulai.”

Tanpa aba-aba lain—

Kelima mayat di belakangnya langsung bergerak.

Gerakan mereka patah-patah, namun cepat.

Dua menyerang dari depan.

Satu dari kiri.

Dua lagi memutar dari belakang.

Strategi yang cukup jelas—

Mengepung.

Namun Arkan tidak bergerak.

Ia tetap berdiri di tempatnya.

Sampai mayat pertama hampir menyentuhnya—

Barulah bayangan di bawah kaki Arkan bergerak.

Seperti air hitam yang hidup.

Bayangan itu melonjak naik.

Dalam sekejap berubah menjadi bilah panjang yang menghantam mayat pertama.

KRAK.

Tubuh mayat itu langsung hancur menjadi tulang dan debu.

Beberapa murid Drackveil langsung bersorak kecil.

Namun mayat kedua sudah menyerang dari sisi kanan.

Tangannya yang kaku mencoba mencengkeram bahu Arkan.

Arkan memutar tubuhnya sedikit.

Bayangan lain muncul dari tanah seperti cambuk.

WHSSSH.

Mayat kedua terpotong menjadi dua bagian dan jatuh ke tanah.

Vasko menyipitkan mata.

“Tidak buruk.”

Namun dua mayat lain sudah melompat bersamaan dari belakang.

Arkan bahkan tidak menoleh.

Bayangan di belakangnya tiba-tiba mengembang.

Seperti sayap raksasa.

Sayap itu menyapu ke belakang.

DUAR.

Kedua mayat itu terlempar jauh dan hancur di tanah.

Kini hanya tersisa satu.

Mayat terakhir menyerang dari depan dengan gerakan lambat namun kuat.

Arkan mengangkat tangannya sedikit.

Bayangan di tanah berubah bentuk.

Seekor gagak bayangan besar muncul sekejap dan menabrak mayat itu.

Tubuh mayat tersebut langsung hancur.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik—

Semua panggilan Vasko sudah musnah.

Kerumunan murid Drackveil menjadi sunyi.

Beberapa bahkan saling melirik.

Vasko sendiri berhenti tersenyum.

Namun matanya justru semakin tajam.

“Menarik.”

Ia menurunkan bahunya sedikit.

Aura sihir di sekitarnya tiba-tiba meningkat.

Bayangan di tanah bergerak liar.

Lalu—

Satu tangan tulang muncul dari tanah.

Kemudian dua.

Kemudian lima.

Lalu sepuluh.

Dalam beberapa detik tanah di sekitar Vasko retak ketika puluhan mayat mulai bangkit dari dalam bayangan.

Beberapa murid mundur satu langkah.

“Dia serius sekarang.”

Kael mendecak pelan.

“Dasar idiot.”

Puluhan mayat berdiri di belakang Vasko.

Sebagian membawa senjata patah.

Sebagian hanya mengangkat tangan kosong.

Namun jumlah mereka membuat pemandangan itu cukup mengerikan.

Vasko tertawa keras.

“Kau cukup kuat untuk murid baru.”

Ia membuka kedua tangannya.

“Coba hadapi ini!”

Dengan satu gerakan—

Seluruh mayat itu berlari menuju Arkan.

Suara tulang berderak memenuhi udara.

Langkah mereka tidak teratur, namun jumlahnya seperti gelombang.

Beberapa murid Drackveil bersorak.

Namun Arkan tetap diam.

Ia menutup matanya sejenak.

Bayangan di bawah kakinya mulai berputar perlahan.

Kemudian semakin cepat.

Kemudian lebih cepat lagi.

Sampai akhirnya bayangan itu berubah menjadi pusaran hitam besar di sekeliling tubuhnya.

Mayat pertama yang mendekat langsung terseret ke dalam pusaran itu.

Tubuhnya hancur.

Mayat kedua mencoba melompat.

Namun bayangan dari pusaran itu membentuk tangan besar yang menghantamnya.

Mayat ketiga dan keempat disapu sekaligus.

Dalam beberapa detik—

Gelombang mayat yang menyerbu Arkan justru mulai hancur satu per satu.

Vasko menyipitkan mata.

Ia mulai menyadari sesuatu.

Sihir Arkan bukan sekadar pertahanan.

Itu seperti wilayah bayangan yang hidup.

Beberapa mayat berhasil melewati pusaran dan mendekat.

Namun Arkan akhirnya bergerak.

Langkahnya ringan.

Hampir seperti melayang.

Bayangan mengikuti setiap gerakannya.

Setiap kali ia mengangkat tangan—

Satu mayat jatuh.

Setiap kali ia berputar—

Dua atau tiga tubuh hancur sekaligus.

Kerumunan murid Drackveil kini benar-benar terdiam.

Pertarungan itu berubah menjadi tontonan yang menegangkan.

Vasko menggeram pelan.

Ia mengangkat kedua tangannya.

Semua bayangan di tanah tiba-tiba berkumpul di belakangnya.

Puluhan mayat yang tersisa menyatu.

Tubuh mereka melebur menjadi satu makhluk besar dengan empat tangan tulang.

Makhluk itu mengeluarkan suara mengerikan.

“Pergi,” kata Vasko.

Makhluk itu melompat ke arah Arkan.

Tanah retak saat ia mendarat.

Tinju besarnya menghantam ke depan.

Arkan melangkah ke samping.

Tanah tempat ia berdiri sebelumnya hancur.

Makhluk itu menyerang lagi.

Dan lagi.

Setiap pukulannya cukup kuat untuk memecahkan batu.

Arkan bergerak cepat, menghindari serangan demi serangan.

Namun akhirnya—

Ia berhenti.

Bayangan di bawah kakinya tiba-tiba memanjang.

Seperti tombak hitam yang melesat lurus.

Makhluk mayat itu mencoba menangkis.

Namun tombak bayangan menembus tubuhnya.

Makhluk itu runtuh menjadi tumpukan tulang.

Vasko terkejut.

Namun sebelum ia sempat bereaksi—

Arkan sudah berdiri tepat di depannya.

Gerakan Arkan sangat cepat.

Hampir tidak terlihat.

Sebuah garis bayangan tipis melintas di udara.

Vasko mundur refleks.

Namun—

Terlambat.

Sihir bayangan itu menggores pipinya.

Sebuah garis merah tipis muncul di wajahnya.

Lapangan langsung sunyi.

Tidak ada suara.

Vasko berdiri diam.

Ia menyentuh pipinya perlahan.

Ketika ia melihat darah di jarinya—

Ia tertawa kecil.

“Heh…”

Ia menurunkan tangannya.

Lalu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

“Aku kalah.”

Kerumunan langsung bergemuruh.

Beberapa murid Drackveil bersorak.

Beberapa lainnya hanya menatap Arkan dengan ekspresi terkejut.

Vasko menatap Arkan lagi.

Namun kali ini tidak ada lagi ejekan di wajahnya.

Hanya pengakuan.

Ia melangkah mundur satu langkah.

Lalu berkata dengan suara jelas.

“Mulai sekarang…”

“…kau raja Drackveil.”

Kael langsung maju ke tengah lingkaran.

Ia menatap murid-murid lain.

“Kalian semua melihatnya.”

Ia menunjuk Arkan.

“Dia menang.”

Beberapa murid masih terlihat ragu.

Namun Kael melanjutkan dengan suara keras.

“Jika kita ingin memenangkan permainan ini, kita butuh seseorang seperti dia.”

Ia menunjuk Vasko.

“Bahkan Vasko sudah mengakuinya.”

Semua mata tertuju pada murid tahun ketiga itu.

Vasko menyilangkan tangan.

“Dia lebih kuat dariku.”

Jawaban itu cukup.

Satu murid berkata pelan,

“Kalau begitu…”

Yang lain mengangguk.

“Baik.”

“Aku setuju.”

“Aku juga.”

Satu per satu murid Drackveil mulai menerima keputusan itu.

Nyra yang sejak tadi diam akhirnya berkata dengan suara pelan.

“Raja.”

Ia menatap Arkan dengan mata hitam yang tenang.

Kael menepuk bahu Arkan.

“Selamat.”

Bendera merah gelap Drackveil berkibar di belakang mereka.

Seekor gagak hitam dengan sayap terbentang di atas lingkaran bayangan tampak seperti menyambut pemimpin barunya.

Arkan menatap bendera itu sebentar.

Permainan Tiga Bendera akan segera dimulai.

Dan sekarang—

Ia adalah Raja Drackveil.

1
Palu Hiji
up up upppp!!!!!
Palu Hiji
cerita yang aku sukaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!