NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Lampu jalanan di daerah Passy membiaskan cahaya kuning yang pucat ke atas trotoar batu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak seirama dengan langkah Felysha dan Mahesa. Setelah keluar dari area gang yang gelap, suasana terasa sedikit lebih ringan, meskipun suhu udara sepertinya turun satu atau dua derajat lebih rendah dari sebelumnya. Felysha masih menekan saputangan di lehernya, merasakan kain itu kini sudah mengeras karena darah yang mengering.

Mahesa berjalan dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket denim. Ia tidak terburu-buru, namun langkahnya tetap terukur. Ia sesekali melirik ke arah jalan raya yang sepi, melihat satu atau dua mobil yang melintas cepat menuju arah jembatan. Felysha, di sisi lain, masih tampak kaku. Ia memegang tasnya dengan kedua tangan, memposisikannya tepat di depan perut seolah-olah sedang membawa barang pecah belah yang sangat mahal.

"Sudah lama di Paris?" Mahesa membuka suara setelah beberapa menit mereka berjalan dalam diam. Suaranya terdengar lebih ramah sekarang, tidak lagi seformal saat di gang tadi.

Felysha menoleh sedikit, memperhatikan profil samping wajah Mahesa yang diterangi lampu jalan secara bergantian. "Baru beberapa bulan. Saya kuliah di sini."

"IFM? Atau Parsons?" Mahesa bertanya lagi, kali ini ia menatap Felysha sekilas dengan tatapan yang menunjukkan ia sedikit tahu tentang sekolah-sekolah di sekitar sana.

"IFM. Institut Français de la Mode," jawab Felysha pelan. Ia sedikit terkejut karena Mahesa menyebutkan nama kampus tersebut. "Kamu sendiri? Tinggal di sini atau cuma liburan?"

Mahesa tertawa pendek, suara tawanya terdengar kering dan tidak memiliki banyak beban. "Tinggal di sini. Sudah sekitar dua tahun. Tapi saya bukan mahasiswa. Saya cuma... orang yang mencoba bertahan hidup di kota yang katanya paling romantis ini."

Felysha mengerutkan kening. "Dua tahun? Kerjaan kamu apa di sini?"

"Apa saja yang bisa menghasilkan uang," Mahesa menjawab dengan nada yang sengaja dibuat misterius, namun tetap terdengar santai. Ia menunjuk ke arah sebuah kafe yang kursi-kursinya sudah ditumpuk di luar. "Dulu saya pernah kerja di dapur tempat seperti itu. Sekarang saya lebih banyak bergerak di jalanan."

Felysha tidak bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan "di jalanan" yang dimaksud Mahesa. Pikirannya masih terlalu penuh dengan kejadian pencopetan tadi. Mereka melewati sebuah air mancur kecil yang airnya tidak lagi mengalir, permukaannya ditutupi daun-daun kering yang berguguran. Bunyi sepatu mereka yang beradu dengan semen terdengar sangat dominan di tengah kesunyian arondisemen ke-16 yang elegan ini.

"Kamu beruntung," Mahesa tiba-tiba berujar sambil menghentikan langkahnya sejenak untuk membetulkan tali sepatunya. Ia berjongkok, mengikat simpul sepatu botnya dengan gerakan yang cekatan. "Copet tadi kelihatannya amatir. Kalau mereka profesional, kamu bahkan nggak bakal sadar tasmu hilang sampai kamu sampai di depan pintu apartemen."

Felysha ikut berhenti, berdiri diam di samping tiang telepon yang ditempeli poster pameran seni yang sudah sobek. "Amatir? Dia dorong saya keras banget, punggung saya masih sakit sampai sekarang."

Mahesa berdiri kembali, menepuk-nepuk debu di lutut celana jinsnya. "Justru karena dia dorong kamu, itu tandanya dia panik. Profesional itu pakai silet atau cuma gesekan tipis. Mereka nggak mau ada konfrontasi fisik karena itu bakal narik perhatian orang." Mahesa menatap leher Felysha sejenak. "Luka itu... besok pagi harus kamu obati pakai antiseptik. Jangan cuma ditutup saputangan."

"Iya, saya tahu," jawab Felysha. Ia merasa sedikit malu karena terus-menerus diingatkan soal lukanya. "Kenapa kamu bisa ada di taman itu tadi malam-malam?"

Mahesa mengangkat bahu, lalu kembali berjalan. "Cuma cari angin. Apartemen saya kecil dan pengap. Kadang Paris terasa lebih luas kalau dilihat dari bangku taman jam satu pagi."

Felysha memperhatikan bagaimana Mahesa bicara. Ada nada lelah yang disembunyikan di balik ketenangannya. Pria ini terlihat seperti seseorang yang sudah melihat sisi gelap Paris yang tidak pernah masuk dalam sketsa gaun-gaun indah di kampusnya. Felysha merasa ada kontras yang sangat besar di antara mereka; dia yang tinggal di apartemen mewah yang dibayar Julian, dan Mahesa yang tampak seperti petualang jalanan yang tidak punya kepastian.

"Kamu nggak takut jalan sendirian jam begini?" tanya Felysha.

Mahesa menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak sedikit sinis. "Di kota ini, saya bukan orang yang harus ditakuti, tapi saya juga bukan orang yang gampang takut. Kalau kamu sudah tinggal di sini cukup lama dan tahu seluk-beluk gangnya, kamu bakal tahu siapa yang harus dihindari dan siapa yang cuma cari masalah kecil."

Mereka sampai di depan persimpangan yang menuju ke arah apartemen Felysha. Bangunan apartemennya kini sudah terlihat, sebuah gedung klasik dengan balkon besi tempa yang indah di lantai atas. Felysha melambatkan langkahnya. Ia merasa perjalanannya dengan Mahesa harus berakhir di sini. Ada perasaan campur aduk; rasa lega karena sudah sampai, namun juga rasa penasaran pada sosok pria yang menolongnya.

"Gedung yang itu, kan?" Mahesa menunjuk ke arah bangunan bercat krem di ujung jalan.

"Iya. Terima kasih banyak, Mahesa. Saya nggak tahu harus bilang apa lagi," Felysha menatap Mahesa dengan tulus. Ia melepaskan saputangan dari lehernya, bermaksud memberikannya kembali.

Mahesa menahan tangan Felysha dengan gerakan telapak tangan yang terbuka. "Simpan saja. Buat kenang-kenangan kalau Paris nggak selalu manis. Cuci bersih, mungkin bisa kamu pakai buat ngiket rambut di studio nanti."

Felysha menarik kembali tangannya, meremas saputangan itu di telapak tangannya. "Nama lengkap kamu siapa? Mungkin saya bisa balas budi suatu saat nanti."

Mahesa terdiam selama dua detik. Ia menatap ke arah lampu apartemen Felysha yang menyala terang di lobi, lalu kembali menatap Felysha. "Cukup Mahesa saja. Saya nggak terlalu suka pakai nama lengkap di jalanan. Dan soal balas budi... anggap saja ini investasi pahala buat saya."

Mahesa mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Felysha untuk melanjutkan langkahnya menuju gerbang gedung. Ia membetulkan posisi topinya lagi, sebuah gerakan yang tampaknya menjadi kebiasaan pria itu.

"Masuklah. Kunci pintumu dua kali. Dan jangan keluar malam-malam lagi sendirian kalau kamu nggak mau tasmu hilang lagi," ucap Mahesa dengan nada yang sedikit lebih berat.

Felysha mengangguk patuh. Ia berjalan menuju gerbang, lalu berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang. Mahesa masih berdiri di sana, di bawah cahaya lampu jalan, menunggunya sampai benar-benar masuk. Felysha melambaikan tangannya sekali, yang hanya dibalas oleh Mahesa dengan anggukan kepala yang singkat.

Saat pintu gerbang gedung tertutup dengan bunyi klik yang solid, Felysha merasa separuh dari bebannya malam ini terangkat. Ia menaiki lift menuju lantai lima dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di dalam lift yang berdinding cermin, ia melihat pantulan dirinya sendiri; wajahnya kuyu, lehernya berdarah, dan ia memegang saputangan orang asing. Ia menyadari bahwa malam ini ia baru saja mendapatkan pelajaran berharga tentang Paris, dan tentang seorang pria bernama Mahesa yang muncul dari balik kegelapan untuk menyelamatkannya.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!