"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Kanaya mengemasi semua barang yang ia punya, kedalam sebuah koper.
"hmmmmm....dengan begini begitu surat cerai aku terima, aku bisa langsung pergi dari rumah ini"
Kanaya mengedar pandangannya, mengitari seluruh kamar. Ada sekelumit rasa sedih dihatinya, kamar yang ia huni hampir 6 bulan lamanya.
Bagaimanapun kanaya betah dikamar ini, banyak kenangan yang tak mungkin ia lupakan selama ia di kamar ini.
Namun apa yang dapat kanaya katakan, kontrak mereka sudah berakhir. Harapan hati kanaya untuk meraih hati kala pun hanyalah sebuah harapan yang sia-sia.
Selama hampir 6 bulan ini, ia benar-benar tak mampu mengetuk hati dingin pria itu.
Kenyataan sakit yang harus ia terima dengan ikhlas, hati kala bagaikan karang ditengah lautan, tak goyah walaupun selalu dihempas badai dan gelombang laut.
Denyutan indah itu masih ada, setiap kanaya menatap kala. Ia tidak berusaha untuk menghapus kala dari hatinya, tapi kanaya sadar harapan untuk memiliki kala adalah harapan yang sia-sia.
Kanaya mengambil sebuah kotak perhiasan dari atas meja riasnya, memandangi 1 set perhiasan keluarga yang ia terima dari mama kala dengan tatapan sendu.
Kanaya ingin menyerahkannya langsung ke mama kala, tapi jujur hatinya tidak siap. Ia tak sanggup berhadapan dengan wanita baik itu.
Hati kanaya selalu bergetar sendu mengingat semua kebaikan dari mertuanya itu, sosoknya yang benar-benar menganggapnya sebagai seorang menantu berharga di rumah mereka, selamanya tak akan pernah kanaya lupakan.
Seminggu sudah sejak kala memutuskan kontrak mereka, dan selama seminggu pula kanaya tidak pernah melihat kala ada di rumah.
Kanaya penasaran tapi ia juga tidak mencari tahu dimana pria itu sekarang, yang kanaya inginkan saat ini, ingin segera keluar dari rumah itu secepatnya.
Kanaya ingin terlepas dari bayang-bayang kala, ia memang masih mencintai kala. Tapi jujur saja kanaya tidak ingin lagi berada di dekat pria itu lebih lama.
Baginya semua rasa sakit dari mencintai kala sudah cukup, kanaya ingin menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan pria dingin itu, pria yang mencampakkan cintanya bagai sebuah catatan kecil yang lusuh ketempat sampah.
Sudah pukul 16.00 wib, biasanya jam segini kala sudah berada di rumah. Kanaya sengaja menunggu kala di ruang tengah, hari ini ia berharap kala pulang dan membawa surat cerai mereka.
Ia membutuhkan surat cerai itu, untuk ditunjukkan ke keluarganya nanti. Kanaya menanti dengan harap-harap cemas, sebenarnya ia ragu kala akan pulang sore ini.
Karena memang sudah seminggu lamanya kala tidak pulang kerumah, pakaian dan keperluan lainnya saja selalu di jemput oleh pak ardi supirnya.
Kanaya mendengar deru suara mobil di halaman rumah, walau ia masih ragu kalau kala pulang, tapi ia tetap melangkah ke ruang tamu ingin melihat kemungkinan kecil itu.
Kala..
Pria itu melangkah masuk dengan langkah gagahnya, masih lengkap dengan pakaian kerja.
Tangan kanannya memegang sebuah amplop kertas berwarna coklat padi, sementara tangan kirinya berada disaku celananya.
Kanaya berdiri mematung menatap kala, menunggu kedatangan pria itu yang berjalan menuju ke arahnya.
Kanaya menatap pria itu dengan pandangan penuh rasa rindu.Yah rindu, ia akui jika dirinya sangat merindukan kala.
Suara langkah kaki kala terdengar bagai alunan musik ditelinga kanaya, ia mengalihkan pandangannya begitu pria itu tiba tepat dihadapannya.
"Kamu sedang menungguku...?" tanya kala dengan suara datarnya, kanaya mengangguk.
"Ada apa...?" tanyanya lagi sembari melangkah ke arah ruang tengah, berjalan dengan tenang dengan ekspresi datarnya.
"Aku butuh surat cerai secepatnya kala..." ucap kanaya langsung tanpa basa basi, berjalan mengiringi langkah kaki kala.
Kala berhenti sesaat, tanpa melirik kearah kanaya, pria itupun melangkah kembali.
Kala duduk di sofa membuka jasnya, dan meletakkan jas itu disandaran sofa.
"duduklah.." perintahnya singkat menatap kanaya yang masih berdiri.
Kanaya duduk dengan malas, menatap kala dengan tatapan sedingin mungkin.
"Aku ingin segera pergi dari rumah ini, Tapi sudah seminggu, aku tertahan, karena aku butuh surat keterangan bahwa aku sudah bercerai"
"Apakah kamu sudah menemukan pekerjaan dan rumah? Kalau belum, kamu bisa tinggal dirumah ini, dan....seandainya kamu tidak nyaman dengan keberadaanku, aku bisa tinggal di apartemenku atau di kantor" ujar kala tenang, dingin dan datar memberikan tawaran.
"Tidak usah..."sahut kanaya cepat, menggeleng menolak tawaran kala.
"Aku sudah menemukan rumah kost dan juga pekerjaan kok"
"Apakah kamu bekerja dengan pria itu?"
Kanaya mengernyitkan keningnya keheranan, menatap kala yang bertanya sedikit aneh.
' bisa-bisanya pria ini memberikan pertanyaan seperti itu dengan ekspresi datar dan suara dingin'
"Aku rasa...kamu gak perlu tahu dengan siapa aku bekerja"
"Lagian.., menurutku kamu gak berhak bertanya seperti itu kepadaku" kanaya menjawab sedikit ketus. Ia tidak mengijinkan hatinya untuk terbawa oleh kebaperannya lagi, cukup sudah.
"Hmmm....baiklah" kala mengambil amplop kertas coklat itu, mengeluarkan isinya dan mengulurkan kepada kanaya.
"Ini surat cerai kita, kanaya hari ini kita resmi bercerai"
Kanaya menyambut kertas yang terulur kearahnya, membacanya dengan tenang dan kemudian meletakkan di pangkuannya.
"Aku harus tanda tangankan?, Dan bagaimana dengan kertas kontrak itu?, bagaimana cara kita mengakhirinya?"
Kala mengeluarkan kertas kontrak mereka dari amplop yang sama, membacanya sekilas kemudian menyodorkan ke kanaya kembali.
Kanaya menerima kertas kontrak itu, meletakkan kertas itu dipangkuannya tanpa membacanya, ia masih menatap kala menanti jawaban dari bibir pria itu.
"Terserah kamu saja naya, bagaimana menurut kamu saja, mau kamu sobek atau bakar itu juga sudah tidak ada gunanya lagi buat kita"
Kala menjawab dengan datar seperti biasa, menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Kanaya menghela nafasnya, ada sesak di hatinya.
Betapa bodohnya ia masih berharap dan berpikir kalau kala juga berat dengan perceraian ini.
Kanaya mengambil kertas kontrak itu dari pangkuannya, membacanya sekilas dan menatap kevin dengan sedih.
"Kalau begitu, aku akan merobek kertas ini...."
Kanaya menyobek kertas kontrak mereka menjadi dua bagian, matanya masih menatap mata kala yang tidak memberikan reaksi apapun, jujur saja hati kanaya terasa sakit.
'Aku memang tidak pernah berhasil mengetuk hati pria dingin ini'
Kanaya meletakkan sobekan kertas itu ke atas meja, kemudian mengambil surat cerai dari pangkuannya, dan membacanya dengan teliti.
"Apakah surat yang aku pegang ini salinan atau yang asli?" tanya kanaya tanpa memandang kala, kepalanya menunduk masih membaca surat cerai itu.
Tidak lebih tepatnya ia hanya memandangi surat cerai itu. Hati kanaya sedih, ia tak sanggup menatap kala.
Ia tak sanggup melihat reaksi pria dingin itu yang begitu datar menghadapi masalah perceraian ini, sementara dirinya sedang berusaha keras untuk kelihatan baik-baik saja.
"Itu asli naya, yang salinan aku tinggalkan di kantor..."
"Baiklah....kala"
"Karena surat ini sudah ada ditanganku..dan kontrak kita juga sudah selesai....kerja sama kita juga berakhir hari ini" ucap kanaya tenang.
Ia mengulurkan tangannya ke arah kala, mengajak pria itu bersalaman. Uluran tangan itu disambut kala, mata mereka saling menatap, kanaya mencoba tersenyum.
"Terima kasih untuk semuanya kala...dan...,Aku anggap,aku tidak pernah bertemu denganmu. Aku juga berharap tidak akan pernah bertemu denganmu lagi..."
Lirih suara kanaya berbisik, menarik tangannya yang masih di genggam erat kala.
Tanpa menunggu jawaban kala, kanaya melangkah ke lantai dua, menuju ke kamarnya.
Ada air mata yang menggantung disudut mata kanaya yang mati-matian ditahannya. Kanaya melangkah terburu-buru sebab ia tak mau kala melihatnya menangis.
*********
Kala melangkah masuk kerumah, dengan membawa surat cerai. Ia melangkah masuk dengan debar di dadanya, kanaya menunggunya mata indah wanita itu menatapnya dengan dingin.
'Aku merindukan dia...aku merindukan wanita ini'
Tapi tatapan kanaya terasa sangat dingin, walau sekilas tadi kala melihat ada pendar rindu di bola mata itu. Tapi entahlah, mungkin itu hanya harapannya saja.
Bagaimana bisa wanita ini, mengatakan membutuhkan surat cerai ini, tanpa ekspresi apapun, mengapa kanaya mendadak bisa begitu dingin.
Semua ucapannya begitu dingin, apakah sesakit itu yang ia rasakan, apakah aku menyakitinya lagi...dan lagi.
Ucapannya bukan hanya dingin, tetapi cukup kejam, bagaimana bisa bibir seindah itu mampu mengatakan hal kejam dengan begitu tenang.
"Aku anggap aku tak pernah bertemu denganmu"
'Benarkah naya?, benarkah kau tak pernah menganggap semua ini ada, kau tak menganggap aku pernah ada dihatimu'
'Sesakit itukah perlakuanku kepadamu?'
'Maafkan aku naya..',
'Tunggu aku....'
'Jangan kemana-kemana..'
'Tunggu aku sayang....'
Kala menatap kepergian kanaya dengan tatapan pilu, wajahnya terlihat sendu.
Ingin rasanya ia berteriak, mengatakan isi hatinya saat ini. tetapi kala juga belum menyelesaikan semua masalahnya dengan baik, Ia hanya berharap kanaya sabar menantinya.
Bersambung....