Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Keliling Mansion
Belum sempat suasana benar-benar tenang, Zara tiba-tiba melangkah mendekat ke arah Ge. Tanpa banyak bicara, dia langsung menarik tangan Ge.
“Eh?” Ge kaget. “Apaan?”
“Gue tunjukin rumahnya,” kata Zara santai.
Ge langsung nyengir. “Wah, tour gratis.”
“ZARA!” suara Clara langsung memotong.
Naya juga berdiri cepat. “Lu ngapain bawa dia keliling?!”
Zara menoleh sedikit, tapi ekspresinya tetap tenang. “Kenapa?”
Clara menatap tajam. “Dia baru datang!”
Zara mengangkat bahu. “Justru itu. Biar dia tau rumahnya sendiri.”
Kalimat itu bikin suasana langsung diam sesaat.
Naya mendecak kesal. “Gue nggak setuju!”
Zara sama sekali tidak peduli. Dia kembali menarik tangan Ge. “Ayo.”
Ge malah melirik ke arah Clara dan Naya sambil melambaikan tangan santai. “Permisi ya, penghuni lama,” katanya dengan senyum mengejek.
“LU—!” Naya langsung maju satu langkah, tapi Clara menahan lengannya.
Ge sudah keburu jalan sambil terkekeh kecil.
Arif yang melihat itu hanya menghela napas, tapi tidak menghentikan. “Biarkan saja,” katanya pelan.
Zara membawa Ge keluar dari ruang utama menuju lorong panjang dengan dinding penuh lukisan mahal.
Ge menoleh ke kanan kiri. “Ini kalau dijual satu lukisan… bisa beli warteg tiga cabang,” gumamnya.
Zara melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. “Emang gitu?"
Ge langsung menyeringai. “Ya, lukisan ini pasti nggak murah kan?"
Zara mendengus pelan, tapi tidak kesal. “Mungkin... Gue mana tahu harganya. Yang gue lakukan ya cuman melanjutkan hidup di mansion ini."
Ge mengangkat alis. “Kalian udah lama tinggal di sini?"
Zara berhenti sebentar di depan jendela besar yang menghadap taman belakang. Cahaya sore masuk, membuat suasana jadi hangat.
“Mungkin sekitar sepuluh tahunan. Tapi anehnya gue nggak pernah merasa senang sama sekali," kata Zara.
Ge menatapnya. “Kenapa?”
Zara mengangguk pelan. “Semua orang pada sibuk. Jarang banget ada di rumah. Makanya gue senang lu muncul dan bikin keributan di keluarga gue. Mereka pasti merasa terancam banget sama kehadiran lu," tanggapnya.
Ge sedikit terdiam, lalu berucap, "Aneh banget lu. Malah senang keluarganya ribut."
Zara tersenyum kecil. “Iya. Gue juga senang punya saudara cowok. Makanya gue pengen pastiin kita punya hubungan yang baik," ungkapnya.
Ge menggaruk pipinya. “Thanks, gue hargai sambutan hangat lu sebagai saudara tiri."
Zara terkekeh pelan.
"Gue akan coba jadi abang yang baik buat lu,” lanjut Ge.
Zara menutup mulutnya, menahan tawa. Mereka lanjut berjalan. Zara membuka sebuah pintu besar yang mengarah ke ruang keluarga kedua. Lebih santai, tapi tetap mewah.
“Gue nggak kayak Kak Naya,” kata Zara tiba-tiba.
Ge langsung nyengir. “Iya keliatan banget kok.”
Zara meliriknya. “Maksud lu?”
Ge mengangkat bahu. “Dia galak banget sumpah!"
Zara langsung ketawa kecil. “Kayak nenek sihir ya?"
Ge ikut ketawa. "Lebih mirip mak lampir sih."
Zara lalu duduk di sofa, memberi isyarat Ge untuk duduk juga. “Gue sama dia sering berantem,” katanya santai.
Ge langsung duduk dengan gaya santainya. “Sering?”
Zara mengangguk. “Hal kecil aja bisa ribut.”
Ge menyeringai. “Benarkah?”
Zara berpikir sebentar. “Iya, masalah baju saja dia ributin. Pernah juga masalah cowok. Padahal gue nggak ngapa-ngapain. Cowoknya aja yang redflag!"
Ge langsung tertawa. “Aneh ya, padahal dia kakaknya. Tapi kayaknya lu lebih dewasa," komentarnya.
Zara ikut tersenyum. “Gue juga heran. Dia juga lebih manja dari gue."
Ge mengangguk bijak pura-pura. “Ternyata perkara dewasa itu nggak harus sesuai umur."
Zara menatapnya. "Bener banget. Terus lu punya saran gitu buat gue sama Kak Naya?"
Ge menjawab serius, “Biarkan saja dia, nanti juga sadar sendiri."
Zara langsung mengangguk. "Kalau nggak sadar?"
Ge mengangkat jari, "Kita pukul aja kepalanya sama sapu!"
Zara makin ketawa. “Dih! Jahat banget!”
Ge nyengir lebar. “Lah, kan lu mau dia sadar kan?"
Zara menggeleng sambil masih tersenyum. “Pantes Kak Naya kesel sama lu.”
Ge langsung santai. “Dia kesel bukan karena gue. Kan dia emang punya titisan mak lampir.”
Zara tersenyum tipis lagi. Beberapa detik mereka diam. Tapi suasana tidak canggung. Justru terasa ringan.
Zara menatap Ge lagi. “Serius deh,” katanya. “Gue seneng lu datang.”
Ge menatapnya balik. “Walaupun gue begini? Miskin, terus lusuh dan jelek gini?”
Zara menggeleng. "Jelek? Dari mana jelek? Lu ganteng kok. Gini aja ganteng, apalagi kalau udah glow up. Baju lusuh lu diganti, terus rambutnya dicukur rapi," sarannya panjang lebar.
Ge tertawa kecil. “Anjir, banyak juga ya yang harus gue lakuin biar glow up."
Zara tersenyum. “Itu nggak banyak kok. Apalagi sekarang lu udah kaya kan?"
Ge mengangguk pelan. “Bener juga ya."
Zara menatapnya sebentar, lalu tersenyum misterius. “Kalau lu mau, gue bisa bantu lu buat glow up," tawarnya.
"Ide bagus tuh, nanti ya," balas Ge.
Zara tertawa lagi. Dari jauh, suara langkah terdengar samar. Mungkin Naya yang masih kesal atau Clara yang gelisah.
Tapi di sudut rumah itu, Ge dan Zara justru duduk santai seperti sudah lama kenal.
Ge bersandar sambil melihat langit-langit. “Gila sih… hidup gue tiba-tiba berubah.”
Zara menatapnya. “Lu takut?”
Ge berpikir sebentar. Lalu menyeringai. “Sedikit.” Dia menoleh ke Zara. “Tapi kayaknya… bakal seru.”
Zara tersenyum kecil. “Iya.”