Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Keangkuhan dan Kembalinya Sang Cahaya
Di aula utama kediaman Valois, suara pekikan Madame Hestia melengking memecah keheningan yang ditinggalkan Geneviève. Wanita tua itu gemetar hebat karena amarah dan rasa malu yang bercampur aduk.
"Eisérre! Jelaskan padaku! Apa yang ada di otakmu?!" teriak Madame Hestia sambil memukul lantai dengan tongkatnya. "Kau menyembunyikan Putri Mahkota?! Ini kesempatan emas untuk menekan raja, untuk membuat keluarga kita berada di puncak takhta! Kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja tanpa syarat?!"
Eisérre tidak menjawab. Ia berdiri mematung di tengah aula, pandangannya kosong menatap pintu besar yang baru saja tertutup. Teriakan neneknya terasa seperti suara bising yang jauh; ia benar-benar merasa tuli. Dunianya baru saja pergi, dan ia tidak sempat mengatakan apa pun.
Saat itulah, mata Eisérre tidak sengaja menangkap sosok di balik pilar besar, hanya berjarak lima meter darinya. Ibunya.
Wanita itu berdiri dengan anggun namun bahunya layu. Matanya yang lembut menatap Eisérre dengan kedalaman luka yang sama. Tanpa sepatah kata pun, tatapan itu seolah berteriak: "Bagaimana, Anakku? Bukankah Ibu sudah memperingatkanmu bahwa mencintai dengan cara mengurung hanya akan mematahkan sayapnya?"
Sang ibu menggeleng pelan, lalu berbalik pergi dengan langkah gontai dan punggung yang menyiratkan kesedihan mendalam. Ia tahu, putranya baru saja kehilangan jiwanya.
...Di Istana Kerajaan d’Orléans...
Sementara itu, suasana di aula rapat istana sedang sangat tegang. Raja Alaric duduk dengan wajah kuyu, dikelilingi oleh para menteri—termasuk Grand Chancellor Silas yang tampak tenang namun matanya berkilat licik. Mereka sedang membahas deklarasi resmi tentang "kematian" Putri Mahkota yang sudah sebulan hilang.
"Kita tidak bisa menunda lagi, Baginda," ucap Silas dengan nada formal yang munafik. "Rakyat butuh kepastian. Kita harus mengumumkan bahwa Putri Geneviève telah gugur sebagai pahlawan di perbatasan—"
BRAKK!
Pintu aula rapat yang besar itu terbuka dengan dentuman keras. Seluruh penjaga istana langsung menghunuskan senjata, namun mereka seketika mematung hingga pedang mereka hampir terjatuh.
Seorang wanita melangkah masuk dengan gaun pinjaman yang sedikit kusut, namun auranya begitu kuat hingga udara di ruangan itu seolah tersedot keluar. Rambutnya terurai, wajahnya pucat, tapi matanya... mata itu memancarkan kecerdasan dan otoritas yang tidak bisa salah lagi.
"Mohon maaf atas keterlambatan saya, Yang Mulia," suara Geneviève bergema jernih, memotong keheningan yang mencekam.
Raja Alaric berdiri begitu cepat hingga kursinya terguling ke belakang. Wajahnya yang tadi kaku kini berubah menjadi topeng keterkejutan yang luar biasa. "Ève...?"
Geneviève berjalan lurus ke tengah aula, mengabaikan wajah pucat pasi Grand Chancellor Silas yang terlihat seperti melihat hantu. Ia memberikan hormat dengan sempurna di depan kakaknya.
"Laporan kematian itu sepertinya terlalu dini untuk dibacakan, Tuan Perdana Menteri," ucap Geneviève sambil melirik Silas dengan tatapan yang sanggup menguliti rahasia pria tua itu. "Saya kembali untuk menyelesaikan tugas saya. Dan pertama-tama... saya ingin menggendong Amélie."
Aula rapat yang tadinya kaku itu meledak dalam kehebohan. Para menteri berbisik histeris, Alaric berlari turun dari takhtanya untuk memeluk adiknya, dan di sudut ruangan, Silas menyadari bahwa rencananya baru saja hancur berkeping-keping.
Raja Alaric masih terpaku, tangannya yang gemetar menyentuh bahu Geneviève seolah ingin memastikan bahwa adiknya ini bukan sekadar bayangan atau halusinasinya akibat duka yang terlalu dalam.
"Ève... bagaimana bisa?" suara Alaric parau, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau dari mana saja selama ini? Satu bulan kami mencarimu di setiap inci tanah perbatasan!"
Geneviève merasakan kehangatan pelukan kakaknya, namun matanya tetap jeli memantau sekeliling aula. Ia menangkap tatapan tajam dan penuh tanya dari para menteri, terutama Silas yang tampak sangat tidak nyaman di kursinya. Geneviève tahu, ini bukan tempat yang tepat untuk membongkar soal Eisérre ataupun pengeboman itu.
Ia memberikan senyum tipis yang penuh arti, lalu memberikan isyarat kecil dengan matanya ke arah kerumunan menteri dan pejabat yang sedang menonton mereka. Sebuah kode yang dipahami Alaric sejak kecil: 'Ada telinga di mana-mana, Kak.'
"Aku hanya tersesat sedikit, Kak," ucap Geneviève dengan nada yang sengaja ia buat ringan, seolah-olah ia hanya baru pulang dari liburan panjang. "Perbatasan itu jauh lebih luas dari yang kubayangkan, dan badai debu membuatku kehilangan arah. Tapi tenang saja, aku kembali dalam keadaan utuh."
Alaric yang jenius segera menangkap sinyal itu. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawa rajanya meski hatinya ingin meledak karena bahagia. Ia menoleh ke arah para menteri dengan tatapan yang kembali tajam.
"Rapat hari ini dibubarkan!" perintah Alaric tegas. "Segala pengumuman mengenai Putri Mahkota akan ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Biarkan Putri beristirahat."
Alaric kemudian merangkul bahu Geneviève, membimbingnya menuju pintu pribadi di belakang takhta. "Masuklah dulu ke dalam istana utama, Ève. Ibu dan Ayah sudah menunggumu. Sejak kabar hilangnya dirimu, Ibu tidak pernah berhenti berdoa di kapel, dan Ayah... kau tahu dia, dia hampir membakar lumbung informasi karena frustrasi."
Geneviève mengangguk pelan. Saat ia melangkah keluar dari aula rapat, ia sempat menoleh ke belakang sekali lagi, tepat ke arah Silas. Sebuah tatapan peringatan yang seolah berkata: 'Waktumu sudah habis.'
Lalu, di sepanjang koridor istana yang megah, Geneviève mempercepat langkahnya. Rasa sakit di kepalanya seolah hilang, digantikan oleh rasa rindu yang membuncah. Ia sudah tidak sabar untuk mencium aroma khas bayi mungil Amélie dan merasakan pelukan hangat keluarganya yang nyata—bukan paviliun dingin penuh kebohongan milik sang Jenderal.