NovelToon NovelToon
Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Aku Pergi Bukan Untuk Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pernikahan Kilat / Pelakor
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?

"Aku pergi bukan untuk kembali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Mirza

"Mama kenapa? Mata mama kok sembab?" Mirza menelisik wajah Ribka. Seketika Ribka menghindar. Tidak ingin anaknya melihat sesuatu di matanya.

"Memang mata Mama kenapa? Mama baik-baik saja kok,"

"Gak, Mirza gak percaya. Mirza yakin Mama barusàn menangis," Mirza membingkai wajah Ribka dan menghadap padanya. "Mama bohong!"

Ribka tersenyum, tetap berusaha menyembunyikan kepedihan hatinya. "Oh, iya Mama lupa. Tadi di dalam taxi Mama kelilipan."

"Bener Ma?" Mirza menatap masih tidak percaya.

Ribka mengangkat jarinya," iya, Mama gak bohong." senyum Ribka melebar, mencoba meyakinkan Mirza.

"Ya, udah kalau begitu. Mirza gak mau kalau ada yang membuat Mama sedih."

"Siapa coba yang berani. Akan berurusan dengan Mirza mama!" ucap Ribka mengingatkan ancaman Mirza saat masih kecil dulu.

"Hahaha ... Mama masih ingat kata-kata itu ya," tawa Mirza meledak.

"Tentu sayang. Mama tidak akan pernah melupakan kejadian itu." Ribka tersenyum melihat tawa Mirza.

Akankah senyum dan tawanya nanti masih tersisa untuknya? Jikalau Mirza mengetahui siapa dirinya dan ibu yang melahirkannya? Apakah Mirza masih membelanya kalau dia bercerai dengan Raymond.

"Oh, ya Ma. Mirza dah lapar. Mau makan masakan Mama. Dengar gak Ma, perut Mirza udah adain konser." Mirza membusungkan perutnya. Gantian Ribka yang terbahak melihat ulah putranya.

"Oke, Mama masak dulu. Kamu mau request masakan apa?" ucap Ribka cosplay koki.

"Masakan apa saja Ibunda Ratu, hamba pasti makan yang lahap." ucap Mirza kocak. Ribka lantas beranjak dari kursi.

"Oke, sang Ratu siap bergerak!" Ribka melengang ke arah dapur. Diikuti pandangan Mirza dengan senyum lebar. Setelah bayangan ibunya menghilang di pintu pembatas ke ruang dapur. Mirza menghela nafas panjang.

Sesuatu pasti telah terjadi dengan ibunya. Mirza dapat merasakan itu. Apakah Nenek atau papanya berulah lagi? Atau mungkin Om dan Bibinya?

Aku akan selidiki itu nanti. Mirza membatin. Mirza sudah faham betul bagaimana ibunya diperlakukan di rumah ini. Ibunya kurang dihargai dalam keluarga papanya. Mereka memperlakukan ibunya layaknya seorang pembantu.

Papanya yang otoriter. Neneknya yang cerewet dan selalu turut campur rumah tangga ibunya dan selalu pro pada anak-anaknya. Sementara Paman dan Bibinya setali tiga uang dengan Papanya.

Papanya selalu bersikap dingin kepada ibunya.Bahkan Mirza mengetahui kalau ibunya sering dibentak dan dimarahi, papanya saat di kamar. Bahkan pernah mengusir ibunya dari rumah. Hanya karena telat menyiapkan makan malam.

Padahal waktu itu ibunya kurang enak badan. Tapi tetap dipaksakan menyiapkan makan malam. Semua perlakuan buruk itu sangat membekas di hati Mirza. Oleh sebab itulah dia bertekad akan membahagiakan ibunya kelak.

Sampai dia rela kuliah di luar kota demi cita-citanya. Untuk membahagiakan ibunya. Itulah tekadnya. Dia akan membawa ibunya pergi bersamanya. Menjauh dari keluarga ayahnya yang toxic. Setelah dia nanti selesai kuliah.

Sambil menunggu ibunya selesai memasak, Mirza membuka aplikasi berlambang telepon hijau. Belum lima menit, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke nomornya.

Sebuah foto dan vidio. Darah Mirza mendidih melihat vidio itu. Vidio papanya bersama perempuan dengan pakaian kurang bahan. Usianya paling dua atau tiga tahun lebih muda dari ibunya.

["Bro, lihat tuh kelakuan Papa lo!" disertai gambar stiker muntah. "Tua-tua keladi nih namanya."]

"Kamu dapat dari mana vidio itu?"

["Aku vidiokan sendiri. Gak sengaja jumpa di mall. Kasihan Tante Ribka."]

"Jangàn kirimi ke Mama aku ya. Tolong ikuti mereka."

["Siap Bos."]

Mirza mengepalkan telapak tangannya. Sampai buku-buku jarinya memutih. Mirza mau muntah melihat perempuan pelakor yang bersama papanya. Perempuan yang lupa usianya dari cara berdandan. Serendah itu ternyata selera papanya.

"Mirza sayang, ayo makan Nak." Ribka terhenti di ambang pintu saat melihat Mirza begitu serius melihat ponselnya. Wajahnya yang berubah gelap karena menahan amarah, membuat Ribka mengernyitkan dahinya.

"Mirza? Kamu kenapa Nak?" sapa Ribka lagi, mengulang. Karena Mirza mengabaikan panggilannya. Karena terlalu focus pada ponselnya.

"Mirza?" Mirza tersentak, lantas tersenyum paksa begitu melihat ibunya yang sudah berdiri jarak satu meter di depannya.

"Eh, Mama. Ada apa?" sahutnya gelagapan. Lalu buru-buru mematikan ponselnya.

"Kamu yang ada apa? Sedari tadi Mama panggil gak dengar. Liatin apa sih?" selidik Ribka berusaha meraih ponsel Mirza. Karena penasaran.

"Bukan apa-apa Ma. Suer!" Mirza berdiri, mengantongi ponselnya lalu berdiri. "Hem, dari aromanya saja Mirza yakin pasti enak! Ayo Ma, Mirza sudah lapar banget nih."

Ribka hanya terdiam. Pasti ada yang telah disembunyikan putranya. Tidak biasanya Mirza menolaknya melihat ponselnya.

"Ayo, Mama juga sudah lapar." beriringan mereka ke ruang makan. Ribka mencoba melupakan kecurigaannya. Dia tidak ingin momen makan bersama putranya rusak oleh hal-hal lain. Ribka meladeni Mirza makan dengan dengan kasih seorang ibu yang tulus. Meskipun Mirza bukanlah anak kandungnya. Tapi dia sudah merawatnya sejak berumur dua tahun.

*

*

Sore harinya, Raymond terkejut melihat Mirza berada di rumah. Terlebih karena Mirza tidak mengabarkan kepulangannya.

"Kapan kamu pulang, Mir?"

Tadi siang Pa."

"Tumben kamu pulang tanpa kasih kabar lebih dulu." Raymond duduk , menyandarkan tubuhnya di sofa. "Rib! Ribka! Bikinkan aku kopi! Cepat!" teriak Raymond. Tidak menyadari wajah Mirza yang berubah gelap. Tidak suka melihat cara papanya memanggil ibunya.

"Emang Papa gak bisa ngomong lembut ke Mama ya?" protes Mirza. Raymond mengernyitkan keningnya, mendengar ucapan Mirza.

"Mama mu itu, kalau gak diteriakin lamban geraknya."

"Tapi Mama kan istri Papa. Sama pembantu saja gak pantas ngomong seperti cara Papa."

"Eh, kamu kenapa? Tumben protes cara ngomong Papa ke Mama mu." Raymond tidak peka dengan keberatan putranya.

"Ya, sejak Mirza merantau. Mirza baru sadar kalau suasana dalam rumah ini salah. Disana Mirza melihat sebuah keluarga yang adem setiap harinya. Beda jauh dengan di rumah ini. Perlakuan Papa ke Mama, sangat keterlaluan."

"Alah, kamu itu jangan membanding-bandingkan keluarga kita dengan orang lain. Kalau mamamu itu tidak menjengkelkan, Papa juga pasti lembut padanya." Ribka muncul membawakan secangkir kopi. Sehingga Mirza meredam perkataannya. Tidak ingin membuat ibunya sedih karena membantah papanya.

"Kamu lama sekali sih. Ngapain saja di dapur?" sentak Raymond.

"Aku lagi masak bubur buat Ibu."

"Pu-eh, rasa apa ini?!" tiba-tiba Raymond melepeh kopi yang barusan dicicipinya. Mirza kaget dan mengepalkan telapak tangannya.

"Diaduk dulu Bang, kenapa sih. Gulanya belum larut itu." beritahu Ribka, dengan hati dongkol. Dia terpaksa menahan emosi. Karena ada Mirza di antara mereka.

"Ya, sudah. Pergi sana mandi. Sudah sore begini belum mandi." ucap Raymond kesal. Setelah Ribka pergi, wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat ke arah Mirza. Seolah barusan tidak ada hal yang merusak suasana hatinya. ***

1
Greenindya
syukurin karma tuh
Linda pransiska manalu: iya Mak. gak mau menghargai menantu.
total 1 replies
Erchapram
Ayo Ribka jadi perempuan yg lebih badas lagi. Jangan mau diinjak2 madesu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!