Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — Pekerjaan Mustahil
“Targetnya kereta barang.”
Leon tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung di tepi rel kereta yang membelah kawasan industri utara Valmere, sebuah labirin beton dan besi yang tampak mati di bawah sinar bulan yang tertutup awan. Angin malam bertiup kencang, menyapu padang rel yang membentang luas, membawa aroma pelumas mesin dan karat. Di atas kepalanya, kabel-kabel listrik tegangan tinggi berdengung, mengirimkan getaran halus yang bisa dirasakan Leon hingga ke ujung jarinya.
Lampu sinyal merah di kejauhan berkedip perlahan, seperti detak jantung kota yang sekarat.
“Kereta itu membawa apa?” tanya Leon akhirnya. Suaranya datar, nyaris tenggelam oleh desau angin.
Suara Gray muncul di earpiece, jernih tanpa gangguan. “Server data milik faksi korporat. Fisiknya kecil, tapi isinya adalah protokol enkripsi yang bisa meruntuhkan bursa saham jika jatuh ke tangan yang salah.”
Leon menatap rel panjang yang menghilang ke dalam kegelapan pekat hutan industri. “Militer?”
“Bukan, tapi hampir setara,” jawab Gray. “Perusahaan keamanan swasta bernama Iron Shield. Mereka menyewa tentara bayaran untuk pengawalan ini. Isi servernya jauh lebih mahal daripada nyawa seluruh kru di atas kereta itu.”
Leon menggeser sarung tangan hitamnya, memastikan pelindung buku jarinya berada di posisi yang tepat. “Berapa pengawal?”
“Tiga belas di dalam gerbong utama,” Gray menjeda sejenak, suara ketikan cepat terdengar di latar belakang. “Dan enam lagi berjaga di atap serta pintu masuk. Total sembilan belas.”
Leon mengangkat alis sedikit. “Di dalam satu kereta?”
“Mereka serius, Leon. Dan ada satu detail yang membuat kontrak ini bernilai lima kali lipat dari biasanya.” Gray menarik napas pendek. “Klien ingin server itu utuh. Dan mereka ingin kepala komandan pengawalnya.”
Leon berhenti bergerak. Matanya menyipit menatap menara sinyal yang menjulang beberapa ratus meter di depannya. “Nama?”
“Marcus Hale.”
Leon terdiam sejenak. Nama itu memicu memori tentang arsip-arsip lama. “Veteran perang sipil. Mantan komandan unit Black Ops.”
“Ya. Dia tipe orang yang tidak akan membiarkanmu mendekat tanpa perlawanan berdarah,” sahut Gray. “Kenapa kau diam? Masih ingin mengambilnya?”
Leon mulai berjalan menyusuri rel, langkahnya mantap di atas kerikil tajam. “Kenapa aku?”
Gray tertawa kecil, nada yang jarang ia gunakan saat misi sedang berlangsung. “Karena tidak ada orang lain di Valmere yang cukup gila untuk mencoba ini sendirian. Dan karena kau adalah hantu yang mereka bicarakan.”
Suara kereta mulai terdengar di kejauhan. Bukan sekadar suara, tapi getaran yang merayap dari tanah ke tulang kaki Leon. Gemuruh logam yang beradu dengan rel semakin mendekat, memecah kesunyian malam industri.
Leon berjalan menuju tangga logam menara sinyal. Ia memanjat dengan gerakan yang sangat efisien, hampir tanpa suara, menyatu dengan bayangan rangka baja menara.
“Leon,” panggil Gray lagi saat Leon mencapai platform atas.
“Apa?”
“Setelah malam ini, dunia bawah tidak hanya akan membicarakanmu. Mereka akan mencarimu.”
Leon berdiri tegak di platform kecil yang bergoyang tertiup angin. Lampu depan kereta barang itu kini terlihat di tikungan, sebuah cahaya putih yang membutakan dan melaju sangat cepat.
“Biarkan saja,” jawab Leon dingin.
Kereta itu melintas tepat di bawahnya dengan kecepatan tinggi, menimbulkan angin kencang yang nyaris menarik tubuhnya jatuh. Leon menimbang momentum. Saat atap gerbong ketiga melintas, ia melompat.
DENT!
Sepatu botnya menghantam atap logam gerbong dengan keras. Logam bergetar hebat di bawah kakinya, namun Leon segera merendahkan tubuh, menjaga keseimbangan di tengah terpaan angin yang menghantam jaketnya seperti cambuk.
Ia langsung berlari di atas gerbong yang bergoyang.
Pintu logam menuju ruang transisi gerbong di depannya terbuka tiba-tiba. Seorang pengawal dengan senapan mesin muncul, matanya membelalak saat melihat sosok hitam berlari ke arahnya.
Leon tidak memberinya waktu untuk berteriak. Ia menarik pistolnya dan menembak dua kali dalam kecepatan yang tidak masuk akal.
Pria itu jatuh kembali ke dalam gerbong, tubuhnya terseret lantai logam yang licin. Leon melompat masuk ke dalam celah pintu, bau mesiu langsung menyambutnya.
Dua pengawal lain di dalam gerbong itu langsung bereaksi. “Penyusup!” teriak salah satu dari mereka. Peluru-peluru menghantam dinding baja di sekeliling Leon, menciptakan percikan api yang menerangi ruangan sempit itu sesaat.
Leon berguling di lantai, menggunakan peti kargo sebagai perlindungan sementara. Ia menembak dari posisi rendah. Satu peluru menembus tenggorokan pengawal pertama. Pria itu jatuh sambil tercekik darahnya sendiri.
Pengawal kedua mencoba berlindung dan menembak lagi, namun Leon sudah berdiri dan bergerak ke samping. Satu tembakan presisi mengakhiri perlawanan pria itu.
Sunyi kembali menguasai gerbong, hanya menyisakan deru mesin kereta.
“Empat turun,” suara Gray terdengar datar. “Sisa lima belas.”
Leon membuka pintu antar gerbong, uap panas menyembur keluar dari sistem pengereman. “Server ada di mana?”
“Gerbong tujuh. Gerbong pusat dengan sistem pendingin mandiri.”
Leon melanjutkan perjalanannya. Gerbong keempat berisi tumpukan kargo mati—kosong. Namun di gerbong kelima, ia disambut oleh barikade. Dua pengawal menembak dari balik tumpukan kotak baja.
Tembakan meledak di ruang sempit, suaranya memekakkan telinga karena pantulan dinding logam. Leon bergerak cepat, berlari di dinding gerbong seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Sebuah pisau taktis muncul di tangan kirinya.
Dalam satu gerakan melingkar, ia menebas leher pengawal pertama saat melewatinya. Darah menyembur ke dinding. Namun, pengawal kedua berhasil melepaskan tembakan jarak dekat.
PLAK!
Peluru menghantam bahu kiri Leon. Ia terhuyung, namun tidak jatuh. Rasa panas menyengat sarafnya, tapi adrenalin membekukan rasa sakit itu. Leon memutar tubuhnya dan menembak kepala pengawal itu sebelum ia sempat menarik pelatuk untuk kedua kalinya.
Gray menghela napas di seberang sambungan. “Leon? Aku melihat detak jantungmu melonjak.”
“Aku masih hidup,” desis Leon sambil menekan lukanya sejenak, lalu terus melangkah.
“Bagus. Karena gerbong berikutnya adalah sarang lebah.”
Gerbong keenam. Empat pengawal sudah bersiap di balik pintu, senjata mereka terarah tepat ke celah masuk. Mereka tahu ada seseorang yang datang menyisir gerbong satu per satu.
Leon berhenti di ambang pintu. Ia bisa mendengar napas mereka di balik bisingnya roda kereta. “Delapan lawan satu jika dihitung dengan cadangan di belakang mereka,” kata Gray. “Saran?”
Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menekan tombol kecil di sabuk taktisnya dan meluncurkan sebuah granat flash ke dalam gerbong.
BOOM!
Cahaya putih yang membutakan meledak di dalam ruangan tertutup itu. Leon menyerbu masuk tepat saat jeritan kesakitan para pengawal terdengar.
Dua tembakan. Tiga. Empat.
Setiap peluru menemukan sasarannya di tengah kabut cahaya yang memudar. Jeritan itu berhenti, digantikan oleh suara tubuh yang jatuh ke lantai logam yang dingin. Leon melangkah melewati mayat-mayat itu tanpa menoleh.
Gerbong ketujuh. Pintu hidroliknya terbuka perlahan dengan desisan udara.
Seorang pria berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi rak-rak server yang berdengung. Pria itu tinggi, dengan rambut abu-abu pendek dan mata yang tajam seperti elang. Ia tidak memegang pistol, melainkan sebuah senapan otomatis taktis yang ia pegang dengan kemantapan seorang profesional.
Marcus Hale.
“Aku sudah menunggumu, Nak,” kata Hale. Suaranya berat, penuh dengan otoritas yang dibangun selama puluhan tahun di medan perang.
Leon menutup pintu di belakangnya, mengunci mereka berdua di dalam gerbong yang melaju kencang menuju kegelapan. “Veteran.”
Hale tersenyum tipis, sebuah senyum predator. Ia mengangkat senapannya dengan santai namun mematikan. “Kau tahu siapa aku?”
“Aku tahu kau akan mati malam ini,” jawab Leon.
Hale tertawa pendek, tawa yang kering. “Semua orang mati, Kurir. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan pergi ke neraka lebih dulu?”
Tanpa peringatan, Hale melepaskan tembakan beruntun. Leon melompat ke samping, berlindung di balik rak server baja. Peluru-peluru Hale menghantam casing logam, menimbulkan percikan api yang menyambar kabel-kabel data.
Leon menembak balik, dua tembakan yang memaksa Hale untuk menunduk. Namun, veteran itu bukan pengawal biasa. Ia melemparkan sebuah pisau lempar dengan presisi luar biasa saat Leon sedang berganti posisi.
Pisau itu menancap di dinding kayu, hanya beberapa sentimeter dari kepala Leon.
“Bagus,” puji Hale. “Gerakanmu cepat. Tapi kau kekurangan pengalaman tempur jarak dekat yang kotor.”
Hale menyerbu. Keduanya bertabrakan di tengah gerbong. Hale menggunakan badan senapannya untuk memukul wajah Leon, sebuah serangan yang kuat dan berpengalaman. Leon membalas dengan hantaman siku ke arah rahang Hale, memaksa pria tua itu mundur.
Hale terengah, namun ia segera menarik pistol cadangan dari holster paha. Leon lebih cepat. Ia menendang tangan Hale, membuat pistol itu terlepas, dan melepaskan tembakan ke arah dada sang veteran.
Hale terhuyung. Darah mulai merembes dari balik rompi antipelurunya yang tidak mampu menahan peluru kaliber besar milik Leon dari jarak dekat.
Leon berjalan mendekat, pistolnya tetap terarah ke kepala Hale. Pria tua itu masih berdiri, bersandar pada rak server, nafasnya tersengal namun matanya tetap menatap tajam.
Hale tertawa pelan, darah mengalir dari sudut mulutnya. “Jadi... kau yang mereka sebut dengan nama itu.”
Leon berhenti tepat di depan Hale. “Siapa?”
Hale menatap Leon dengan mata yang mulai kabur, namun ada semacam pengakuan di sana. “Phantom. Nama yang cocok... untuk malaikat maut tanpa wajah.”
Leon tidak memberikan jawaban puitis. Ia menarik pelatuk.
BANG.
Tubuh Marcus Hale jatuh merosot ke lantai gerbong. Kereta itu terus melaju, seolah tidak peduli dengan nyawa yang baru saja hilang di dalamnya.
Gray berbicara lagi, suaranya kembali ke mode operasional. “Target utama eliminasi selesai. Ambil servernya, Leon. Kita harus segera keluar dari sana sebelum mereka mengaktifkan protokol penghancuran diri.”
Leon membuka rak logam pusat. Sebuah unit server kecil dengan lampu indikator biru yang berpendar tenang terselip di sana. Ia melepaskan kabel-kabelnya dan menarik unit itu keluar. “Didapat.”
“Bagus. Titik ekstraksi tiga ratus meter di depan. Jembatan kanal.”
Leon berjalan ke pintu belakang gerbong ketujuh. Angin malam yang dingin kembali menerpa wajahnya saat ia membuka pintu lebar-lebar. Di bawah sana, rel gelap melintas dengan kecepatan yang mengerikan, tampak seperti aliran sungai hitam yang tak berujung.
“Ekstraksi sekarang!” perintah Gray.
Leon melompat. Tubuhnya melayang di udara sesaat sebelum berguling di atas tanah berkerikil di pinggir rel. Ia menahan napas, membiarkan momentum seretannya berhenti. Server itu tetap aman di dalam pelukannya.
Ia berdiri perlahan, membersihkan debu dari jaketnya. Di bawah bayangan jembatan beton tua tak jauh dari sana, motor hitamnya sudah menunggu, berkilau di bawah cahaya bulan yang redup.
Leon menaruh server di jok belakang, menguncinya dengan aman. Mesin motor menyala dengan suara bariton yang rendah dan kuat.
“Leon,” panggil Gray, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Apa?”
“Bukan hanya bar di Distrik 3 yang membicarakanmu sekarang. Seluruh sistem jaringan gelap Valmere sedang bergejolak karena kematian Hale.”
Leon mengenakan helmnya, mengunci visor kegelapan. “Biarkan saja mereka bicara.”
Gray tertawa kecil, tapi ada nada cemas yang tersembunyi. “Sekarang bukan hanya sekadar rumor, Leon. Kau sudah menjadi ancaman nyata bagi mereka.”
Leon memutar gas, membuat ban motornya sedikit berdecit di atas aspal. “Lalu?”
Gray menjawab dengan nada datar yang menusuk. “Para pembunuh bayaran papan atas, tentara bayaran elit... mereka semua mulai bertanya satu hal yang sama di forum-forum gelap.”
Leon melaju keluar dari bayangan jembatan, menyatu dengan malam yang dingin. “Apa pertanyaannya?”
“Siapa yang akan mendapatkan kehormatan untuk membunuh sang Phantom?”