Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brankas melati dan warisan berlumur dosa
Malam di Jakarta selalu punya cara untuk terasa lebih dingin bagi mereka yang sedang diburu. Apartemen Melati adalah sebuah bangunan tua di kawasan Jakarta Barat, jenis hunian yang saking kumuhnya, bahkan polisi pun malas melakukan patroli rutin di sana. Temboknya berlumut, dan bau lembap menyeruak dari lorong-lorong sempitnya.
"Gue nggak suka ini," bisik Rhea Amara sambil merapatkan jaketnya. "Apartemen ini lebih mirip lokasi syuting film horor daripada tempat nyimpen warisan."
"Justru itu poinnya, Rhe," sahut Gia Kirana sambil memeriksa denah bangunan di ponselnya. "Tempat paling aman buat nyimpen rahasia adalah tempat yang nggak dilirik orang kaya."
Bagas Putra memimpin di depan, tangannya siaga. Di belakangnya, Dewi Laras menggenggam kunci brankas itu seolah nyawanya tergantung di sana. Eno Surya dan Juna Pratama bertugas menjaga area lift yang sudah rusak parah.
"Unit 402. Ini dia," kata Bagas.
Pintu itu tidak dikunci. Saat didorong, suara engsel yang berkarat memecah kesunyian. Ruangan itu kosong, hanya ada satu meja jati tua di tengah ruangan dan sebuah brankas baja yang tertanam di dinding beton.
Laras melangkah maju. Tangannya gemetar saat memasukkan kunci.
Klik.
Pintu brankas terbuka pelan. Alih-alih tumpukan emas atau uang tunai, di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk berwarna merah darah dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam.
"Cuma ini?" tanya Eno yang baru saja masuk setelah memastikan situasi aman. "Bapak lo nyuruh kita mempertaruhkan nyawa buat satu flashdisk?"
Juna segera mengeluarkan laptopnya. "Biar gue cek. Tapi gue harus pake sistem operasi bayangan, takutnya ada malware yang bakal ngehapus isinya kalau dibuka sembarangan."
Jari Juna menari cepat di atas keyboard. Saat data terbuka, napas mereka serentak tertahan.
"Ini bukan warisan uang, Ras," suara Juna bergetar. "Ini... ini daftar hitam. Nama-nama pejabat, pengusaha, bahkan beberapa petinggi kampus kita yang dapet aliran dana dari perusahaan-perusahaan cangkang bokap lo selama sepuluh tahun terakhir."
"Ini bom atom," bisik Gia sambil menelusuri barisan angka dan nama di layar. "Kalau data ini bocor, setengah dari gedung-gedung mewah di Jakarta bakal kosong karena penghuninya masuk penjara."
Laras mengambil buku catatan kecil itu. Di halaman pertama, ada tulisan tangan ayahnya:
"Untuk Laras. Jika kamu membaca ini, artinya kamu sudah cukup kuat untuk menghancurkan mereka semua, atau cukup cerdas untuk menggunakan mereka sebagai pijakanmu. Jangan jadi sampah, jadilah pemilik tempat pembuangannya."
"Papa bener-bener gila," lirih Laras. Air matanya jatuh mengenai kertas kusam itu. "Bahkan di saat dia hancur, dia masih mau ngajarin gue cara jadi penjahat."
"Kita nggak akan jadi penjahat, Ras," Bagas memegang bahu Laras dengan mantap. "Kita punya bukti ini. Kita bisa bersihin kota ini."
"Tapi kita juga jadi target paling dicari di Indonesia sekarang," potong Gia. "Orang-orang di daftar ini nggak akan tinggal diam. Mereka lebih berbahaya dari Pak Gunawan karena mereka masih punya jabatan dan senjata sah."
Tiba-tiba, telinga Bagas menangkap suara deru mobil yang berhenti mendadak di bawah apartemen. Bukan satu, tapi tiga mobil.
"Gawat!" seru Juna yang memantau kamera pengawas apartemen yang baru saja dia retas. "Itu bukan polisi. Itu unit taktis swasta. Mereka pake penutup muka dan bawa senjata!"
"Eno, Rhea, tutup pintu darurat pakai meja!" perintah Bagas cepat. "Juna, copy semua datanya ke cloud sekarang! Gia, cari jalan keluar lewat balkon!"
Suasana menjadi chaos. Suara langkah sepatu lars terdengar menaiki tangga darurat dengan cepat. Enam Serangkai terjebak di lantai empat sebuah apartemen tua dengan aset paling berbahaya di tangan mereka.
"Gas, balkonnya nggak ada tangga darurat!" teriak Gia dari arah luar. "Ada kabel besar melintang ke gedung sebelah, tapi itu gila!"
"Nggak ada pilihan lain!" Bagas menatap teman-temannya. "Kita harus menyeberang!"
Eno menelan ludah melihat ketinggian lantai empat ke bawah yang dipenuhi aspal keras. "Gue tahu gue sering bilang mau jadi jerapah, tapi gue nggak punya sayap, Gas!"
"Pakai ikat pinggang kalian! Lilit ke kabel!" Bagas menarik ikat pinggangnya sendiri.
Tepat saat pintu unit 402 didobrak paksa dari luar, Bagas mendorong Laras untuk meluncur lebih dulu di atas kabel tersebut. Satu per satu mereka meluncur menembus kegelapan malam, tepat saat rentetan tembakan terdengar menghancurkan pintu kayu ruangan itu.
Mereka mendarat di atap gedung gudang kain yang kumuh, napas mereka memburu, baju mereka robek-robek. Di seberang sana, orang-orang bersenjata itu tampak marah melihat target mereka lolos.
"Kita harus menghilang," kata Bagas sambil membantu Laras berdiri. "Mulai malam ini, kita nggak bisa balik ke kostan. Kita nggak bisa ke kampus. Kita adalah buronan dari sistem yang kotor."
Laras menatap flashdisk merah di tangannya. "Mereka mau warisan ini? Mereka bakal dapet warisan ini... di meja redaksi berita besok pagi."
"Tapi itu bakal bikin kita kehilangan segalanya, Ras," kata Rhea sedih. "Kuliah kita, masa depan kita..."
"Masa depan apa yang bisa dibangun di atas tumpukan sampah kayak gini, Rhe?" sahut Laras. "Kita selesaikan ini. Sekarang."
Di bawah rintik hujan Jakarta yang mulai turun, Enam Serangkai berjalan menjauh masuk ke kegelapan gang-gang sempit. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa yang mencari uang kuliah. Mereka adalah "Resimen" yang sebenarnya, yang siap meruntuhkan raksasa yang sudah terlalu lama berkuasa.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...