NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepanikan sepasang Amatir

Kehamilan ternyata membuat waktu terasa berjalan dengan cara yang aneh.

Hari-hari terasa lebih cepat.

Namun dalam waktu yang sama, setiap perubahan kecil terasa sangat besar.

Beberapa minggu telah berlalu sejak dokter memastikan bahwa aku benar-benar hamil.

Tubuhku mulai menyesuaikan diri dengan banyak hal.

Mual pagi hari masih datang sesekali.

Nafsu makan juga berubah-ubah.

Kadang aku ingin sesuatu yang sangat spesifik di tengah malam, seperti martabak cokelat yang pernah membuat Ashar harus keluar rumah jam satu pagi.

Namun ada satu hal yang tidak berubah sama sekali.

Ashar masih menjadi orang paling protektif yang pernah kutemui.

Bahkan mungkin terlalu protektif.

Malam sebelumnya adalah salah satu malam yang cukup hangat bagi kami.

Beberapa minggu terakhir Ashar sebenarnya masih terlihat ragu untuk terlalu dekat denganku.

Ia selalu khawatir melakukan sesuatu yang salah.

Namun setelah membaca banyak artikel dan buku tentang kehamilan, ia mulai sedikit lebih santai.

Setidaknya… lebih santai dibanding sebelumnya.

Malam itu kami berbicara lama di ruang keluarga.

Tentang banyak hal.

Tentang bayi.

Tentang masa depan.

Tentang nama yang mungkin akan kami pilih nanti.

Ashar bahkan membuka sebuah aplikasi di ponselnya yang menunjukkan perkembangan bayi setiap minggu.

“Menurut aplikasi ini,” katanya sambil menunjukkan layar ponselnya, “bayi kita sekarang kira-kira sebesar buah plum.”

Aku tertawa kecil.

“Beberapa minggu lalu kamu bilang sebesar kacang.”

“Sekarang sudah naik level.”

“Wah, perkembangan yang cepat.”

Ia terlihat sangat bangga dengan informasi itu.

Kemudian ia menatapku beberapa detik.

Ekspresinya lembut.

Dan malam itu kami kembali menemukan kedekatan yang selama beberapa minggu terakhir sedikit tertahan karena kekhawatiran Ashar.

Tidak ada yang berlebihan.

Hanya kehangatan dua orang yang saling mencintai dan mencoba menyesuaikan diri dengan fase baru kehidupan mereka.

Kami tertidur dengan perasaan damai.

Namun pagi berikutnya…

semuanya berubah menjadi kepanikan kecil.

Aku bangun lebih dulu pagi itu.

Cahaya matahari masuk melalui tirai kamar.

Aku duduk perlahan di tepi ranjang.

Namun ketika berjalan menuju kamar mandi, aku menyadari sesuatu yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Ada sedikit darah.

Tidak banyak.

Namun cukup membuatku terdiam beberapa detik.

Aku berdiri di sana, mencoba menenangkan diri.

“Tenang… mungkin hanya sesuatu yang kecil,” gumamku.

Tetapi sebelum aku sempat memikirkan lebih jauh, Ashar mengetuk pintu kamar mandi.

“Mala?”

“Iya?”

“Kamu sudah bangun?”

“Iya.”

Ia membuka pintu sedikit.

“Kenapa lama sekali?”

Aku menatapnya.

“Ashar… ada sedikit darah.”

Wajahnya langsung berubah.

Dalam satu detik.

Benar-benar berubah.

“Apa?”

“Hanya sedikit—”

“Apa maksudmu sedikit?”

Ia langsung masuk ke kamar mandi dengan ekspresi panik.

Aku mencoba menenangkannya.

“Tidak banyak.”

Namun Ashar sudah terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar berita paling buruk dalam hidupnya.

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Ashar—”

“Sekarang.”

“Aku baik-baik saja.”

Ia bahkan sudah mengambil jaketnya.

“Mala, ini bukan hal kecil.”

Aku akhirnya menyerah.

Karena jelas sekali Ashar tidak akan tenang sebelum kami pergi ke dokter.

Perjalanan menuju klinik terasa seperti adegan film aksi bagi Ashar.

Ia menyetir dengan sangat hati-hati.

Namun wajahnya terlihat sangat tegang.

Tangannya menggenggam setir terlalu erat.

“Ashar,” kataku pelan.

“Iya?”

“Kamu terlihat seperti orang yang sedang menghadapi bencana besar.”

Ia menoleh sebentar.

“Ini memang serius.”

“Hanya sedikit darah.”

“Sedikit pun tetap tidak normal.”

Aku menghela napas kecil.

Kadang kepanikan Ashar terasa berlebihan.

Namun di sisi lain…

aku tahu itu karena ia sangat peduli.

Di ruang tunggu klinik, Ashar terlihat lebih gugup daripada aku.

Ia berdiri.

Duduk.

Berdiri lagi.

Bahkan berjalan mondar-mandir seperti seseorang yang sedang menunggu hasil ujian paling penting dalam hidupnya.

“Ashar,” kataku akhirnya.

“Iya?”

“Kamu membuat pasien lain ikut gugup.”

Ia berhenti berjalan.

“Maaf.”

Namun beberapa detik kemudian ia mulai berjalan lagi.

Aku menahan tawa.

Ketika akhirnya kami masuk ke ruang dokter, Ashar langsung berbicara lebih dulu.

“Dokter, istri saya mengalami pendarahan.”

Dokter mengangguk tenang.

“Berapa banyak?”

“Sedikit,” jawabku.

Dokter melakukan beberapa pemeriksaan sederhana.

Suasana di ruangan itu jauh lebih tenang dibanding wajah Ashar.

Setelah beberapa menit, dokter tersenyum.

“Tenang saja.”

Ashar langsung mencondongkan badan.

“Maksudnya?”

“Ini cukup umum terjadi pada trimester awal.”

Aku menghela napas lega.

Ashar terlihat masih belum sepenuhnya percaya.

“Benar-benar tidak berbahaya?”

“Selama jumlahnya sedikit dan tidak disertai nyeri hebat, biasanya masih dalam batas normal.”

Ashar menelan ludah.

Lalu berkata dengan suara agak pelan.

“Dokter… boleh saya bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

Ia terlihat sangat ragu.

Namun akhirnya tetap bertanya.

“Apakah… ini bisa terjadi karena… hubungan suami istri?”

Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.

Dokter tersenyum kecil.

“Tidak selalu.”

Ashar terlihat sangat serius.

“Semalam kami…”

Ia berhenti bicara.

Dokter mengangguk mengerti.

Lalu berkata dengan nada santai.

“Hubungan suami istri selama kehamilan normal biasanya aman, selama tidak ada kondisi medis tertentu.”

Ashar terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar fakta mengejutkan.

“Benarkah?”

“Bahkan dalam banyak kasus, itu tidak masalah sama sekali.”

Aku menahan tawa melihat ekspresi Ashar.

Dokter melanjutkan dengan nada ramah.

“Justru bagi pasangan yang sehat, kedekatan seperti itu tetap baik untuk hubungan suami istri.”

Ashar terlihat memproses informasi itu dengan sangat serius.

Seperti sedang mencatat sesuatu di pikirannya.

“Jadi… saya tidak harus menghindarinya sepenuhnya?”

Dokter tersenyum.

“Tidak perlu, selama dilakukan dengan nyaman dan tidak berlebihan.”

Aku akhirnya tidak bisa menahan tawa kecil.

Ashar menoleh padaku dengan wajah sedikit merah.

Dalam perjalanan pulang, suasana mobil jauh lebih santai.

Ashar masih terlihat memikirkan sesuatu.

“Ashar,” kataku.

“Iya?”

“Kamu masih memikirkan perkataan dokter.”

Ia mengangguk.

“Sedikit.”

“Sedikit?”

Ia menghela napas.

“Aku hanya ingin memastikan semuanya aman.”

Aku tersenyum.

“Sekarang kamu tahu jawabannya.”

Ia akhirnya tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepanikan pagi itu, wajahnya terlihat kembali tenang.

Malam itu ketika kami duduk di sofa rumah, Ashar memegang tanganku.

“Mala.”

“Hm?”

“Maaf kalau aku terlalu panik tadi.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu memang selalu panik.”

“Karena aku tidak ingin kehilangan kalian.”

Aku menatapnya.

“Siapa?”

“Kamu… dan bayi kita.”

Kalimat itu membuat hatiku terasa hangat.

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

“Aku baik-baik saja.”

Ia mengangguk pelan.

“Sekarang aku tahu.”

Dan di malam yang tenang itu, aku kembali menyadari satu hal yang sudah lama kupahami.

Ashar mungkin tidak pernah memiliki contoh seorang ayah dalam hidupnya.

Namun cara ia menjaga kami…

cara ia khawatir…

cara ia mencoba melakukan yang terbaik…

sudah lebih dari cukup untuk membuatku yakin.

Bahwa suatu hari nanti…

anak kami akan memiliki sesuatu yang bahkan tidak pernah dimiliki Ashar sendiri.

Seorang ayah yang selalu berusaha dan mengusahakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!