NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dasar Keras Kepala

“Ngapain kamu cuma bengong? Cepet minta maaf sama Tuan Langodai!” seru Othan, memanfaatkan situasi untuk makin mempermalukan Hans.

Othan sudah kesal sejak tadi melihat Hans jadi pusat perhatian. Rasa iri membuatnya ingin membalas sekarang juga.

Dalam benaknya, Othan menimbang-nimbang. Kalau Hans berlutut, harga dirinya hancur. Tapi kalau tidak, bisa-bisa dia cacat atau mati saat Donio membalas.

“Heh, bocah. Jangan bilang aku gak kasih kamu kesempatan. Aku maafin kamu kalau hari ini kamu berlutut dan nyembah kaki aku. Kalau gak, jangan salahin aku kalau aku kejam.” Donio menepuk-nepuk dada Hans dengan jarinya, wajahnya penuh senyum meremehkan.

Baginya, sehebat apa pun Hans bertarung tetap tak berarti. Tanpa kekuasaan dan status, Hans hanyalah orang kecil di mata publik.

“Kamu sadar gak kalau kamu lagi cari masalah?” tanya Hans sambil menatap jari Donio.

“Cari masalah?” Donio menyeringai. “Aku bukan cuma cari masalah, aku juga mau main sama cewekmu. Percaya nggak, besok aku bakal pakai dia di depan matamu. Bukan cuma aku, anak buahku juga bakal gantian. Kamu cuma bisa nonton tanpa bisa ngapa-ngapain. Biar kamu tahu rasanya putus asa, rasanya hidup lebih parah dari mati!”

Wajah Hans langsung mengeras. Amarah yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.

“Kamu yang minta ini!” bentaknya.

Tangannya melesat cepat, mencengkeram leher Donio dan mengangkat tubuh pria itu ke udara. Dengan tangan lainnya, ia menghantam perut Donio dua kali tanpa ampun.

Donio tercekik. Perutnya terasa teraduk sampai ingin muntah, tapi tenggorokannya terhimpit, membuatnya tak bisa mengeluarkan apa pun. Wajahnya memerah, napasnya sesak. Saat itu juga ia sadar telah membuat kesalahan besar.

“Berhenti!” teriak Tiffany sambil bergegas mendekat.

Hans tak memedulikannya. Ia melayangkan satu pukulan lagi, kali ini ke bagian selangkangan Donio. Terdengar bunyi mengerikan sebelum darah menetes ke lantai.

Tubuh Donio kejang. Rasa sakitnya begitu hebat sampai ia tak mampu menjerit. Kepalanya terkulai, lalu ia pingsan.

Semua orang terpaku menatap noda darah di lantai.

Tak seorang pun menyangka Hans bisa sekejam itu, menghancurkan garis keturunan Donio hanya dengan satu pukulan.

Donio adalah putra Tuan Langodai. Pria itu terkenal tak akan membiarkan siapa pun menyentuh sehelai rambut anaknya, apalagi melukainya separah ini.

Mulai hari ini, Hans resmi memancing murka Tuan Langodai.

“Apa kamu udah gila!” Tiffany mendorong Hans keras. Wajahnya pucat. “Kamu tahu gak apa yang baru aja kamu lakuin? Kamu baru aja masuk masalah besar!”

Kalau cuma luka ringan atau memar, semuanya masih bisa diselesaikan dengan permintaan maaf atau uang. Tapi sekarang Donio dipukuli sampai seperti ini. Mustahil Bimbo akan membiarkannya begitu saja.

“Aku cuma nyingkirin sampah masyarakat. Salah?” balas Hans tenang.

“Bukan itu maksudnya. Kamu gak seharusnya nyakitin dia!” sahut Tiffany dengan dahi berkerut.

“Hans, kalau kamu pingin mati, jangan seret kita semua!” wajah Othan memerah karena panik. “Kamu tahu gak akibatnya kalau kamu nyakitin anaknya Tuan Langodai?”

Meski Hans yang memukul, Othan juga sempat mendorong Donio sebelumnya. Ia takut kalau Tuan Langodai menyelidiki dan tahu semuanya, ia tak akan lolos.

“Udah, cukup! Sekarang kamu harus kabur. Pergi sejauh mungkin selagi masih ada waktu!” kata Tiffany cepat.

Ia tahu, begitu kabar ini sampai ke telinga Tuan Langodai, pria itu pasti murka. Jika semua pasukannya digerakkan, Hans tak akan punya jalan keluar.

“Kayaknya gak perlu,” jawab Hans datar.

“Berhenti sok kuat! Tuan Langodai jauh lebih berkuasa dari yang kamu kira. Ilmu bela diri kamu gak bakal cukup buat nyelametin kamu!” bentak Tiffany.

Sepandai apa pun dia bertarung, dia tetap tak bisa menghentikan peluru.

“Dia bukan tipe orang yang mau dengerin omongan orang, Nona Rasheed. Gak usah buang-buang napas. Lagian, kita juga gak perlu ikut campur urusan yang gak ada hubungannya sama kita. Nanti malah kena masalah,” sela Rachel cepat.

“Bener!” Othan langsung berdiri dan menutup jalan keluar, seolah baru terpikir sesuatu. “Dia gak boleh kabur! Kalau dia lari, gimana kalau Tuan Langodai malah balas dendam ke kita? Kita yang jadi kambing hitam!”

“Pak Karimi ada benarnya,” sahut Rachel, kini benar-benar sadar. “Kalau Hans kabur, kita yang bakal kena getahnya!”

“Apa sih yang kalian omongin? Hans tadi nyelametin kita!” Alis Tiffany berkerut.

“Nggak ada yang minta dia buat ikut campur. Dia sendiri yang sok ikut urusan kita!” Rachel mendengus.

“Betul! Dia yang bikin masalah, ya dia juga yang harus tanggung jawab!” tambah Othan dengan nada seolah paling benar.

“Kalian berdua .…”

Wajah Tiffany yang cantik berubah dingin saat hendak bicara, tapi Hans lebih dulu menyela.

“Tenang aja. Aku tanggung sendiri semua yang aku lakuin. Gak bakal nyeret kalian.”

“Ini urusan hidup dan mati! Bisa gak sih kamu berhenti sok jago!” suara Tiffany meninggi, mulai kesal.

“Nona Rasheed, kamu gak perlu khawatir soal aku. Ini sama sekali gak ada hubungannya sama kamu. Duduk aja dan lihat,” ucap Hans lantang.

“Maksud kamu apa? Kamu pikir aku takut bakal ikut kena masalah?” Tiffany mengernyit.

“Emang bukan?” balas Hans sambil menatap Rachel dan Othan.

Tiffany terdiam. Ia memang tidak pernah memikirkan hal itu, tapi jelas sekretarisnya sudah takut. Di mata Hans, ucapan Rachel sama saja dengan sikap Tiffany.

“Aku gak peduli kamu mikir apa. Hari ini kamu harus pergi!” nada Tiffany mendadak tegas.

“Dan aku juga gak peduli kamu ngomong apa. Aku gak bakal pergi.”

Setelah itu Hans berbalik dan berjalan menuju taman bunga.

“Kamu .…” Tiffany mendidih kesal.

Kenapa pria itu selalu keras kepala seperti itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!