Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Kabut di Jalur Lingkar Selatan
Suara statis(gangguan sinyal) TV tiba-tiba berhenti.
Klik..
Lampu dapur yang tadi berkedip kini menyala terang dan stabil.
Mama Sasha berkedip bingung, menatap piring di tangannya yang ternyata berisi martabak telor biasa masih hangat dan berbau harum. "Loh, Sasha? Della? Kalian kenapa mukanya kayak habis liat hantu?"
Della mengatur nafasnya yang menderu. Ia melihat ke arah sudut ruangan; lemari kaca itu tertutup rapat. Tidak ada air galian tanah, tidak ada sosok jaket hujan.
"Tadi... tadi lampunya mati, Mah," suara Sasha bergetar, ia masih memegangi lengan jaket Della dengan erat.
"Mati? Enggak ah, dari tadi Mama di sini goreng martabak lampunya nyala terus," Mama Sasha menggeleng sambil meletakkan piring di meja makan. "Mungkin kalian kecapekan motoran terus. Udah, makan dulu."
Della saling lirik dengan Sasha. Halusinasi? Tidak mungkin mereka berdua melihat hal yang sama secara bersamaan. Della tahu, sosok itu sedang memainkan persepsi mereka. Ia tidak hanya menempel di motor, tapi mulai mempengaruhi atmosfer di sekitar Della.
Keesokan Harinya Pukul 16.00 WIB
Sinar matahari sore Sukabumi yang berwarna oranye menyapu jalanan Lingkar Selatan. Della sedang memacu Scoopy-nya dengan kecepatan sedang, Hari ini dia punya misi: melupakan kejadian semalam dengan riding santai.
Sasha duduk di belakang, sibuk dengan tongsis-nya, merekam video untuk story Instagram dengan latar belakang sawah dan Gunung Gede yang terlihat gagah karena langit sedang cerah.
"Del! Berhenti di depan bentar, itu ada tukang Bubur Ayam Sukabumi yang pakai gerobak kayu tua, kayaknya enak buat konten!" seru Sasha.
Della mengarahkan motornya ke pinggir jalan. Meskipun hatinya masih was-was, hobi kulinernya tetap tidak bisa dilawan. "Oke, tapi jangan lama-lama ya. Gue mau mampir ke toko onderdil bentar."
Saat mereka menunggu bubur pesanan mereka, Della duduk di atas motornya sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Lingkar Selatan tahun 2017- sekarang adalah tempat favorit anak motor Sukabumi untuk nongkrong sore.
Della iseng menyentuh lakban hitam di spion kirinya. Lakban itu terasa sangat dingin, meski terpapar sinar matahari sore.
"Neng, motornya bagus, tapi kok spionnya ditutupin?" suara seorang kakek penjual bubur mengejutkannya.
"Eh, iya Kek... kacanya retak, takut pecahannya jatuh," bohong Della.
Si Kakek tersenyum tipis sambil mengaduk bubur di dalam panci besar. "Hati-hati, Neng. Kadang apa yang nggak kita lihat, bukan berarti nggak ada. Tapi kalau kita sengaja nutup mata, dia malah makin suka nyari celah buat 'kelihatan'."
Della tertegun.
Kalimat si kakek terdengar terlalu spesifik. Sebelum Della sempat bertanya lebih jauh, Sasha datang membawa dua mangkuk bubur dengan tumpukan emping dan kacang yang melimpah.
"Nih, makan! Lupakan kejadian semalam, mungkin kita cuma kurang mecin," canda Sasha, berusaha menghibur diri sendiri.
Della mulai menyuap buburnya. Rasanya enak, gurih kaldu ayam asli. Namun, saat ia menyuap sendokan ketiga, ia merasa ada sesuatu yang keras di dalam buburnya. Della mengeluarkan benda itu dari mulutnya.
Jantungnya berdebar, Itu bukan tulang ayam.
Itu adalah sebuah baut motor yang sudah karatan total, persis seperti baut yang mengunci spion kirinya di bengkel Geri kemarin.
Della menatap mangkuk buburnya dengan ngeri. Di sela-sela kerupuk dan suwiran ayam, perlahan-lahan muncul rembesan air keruh yang berbau tanah makam.
"Sha... jangan dimakan buburnya," bisik Della lirih.
Sasha yang baru saja mau menyuap, berhenti. Ia melihat ke dalam mangkuk Della, lalu ke mangkuknya sendiri. "Del... kok bubur gue isinya... rambut semua?"
Della meletakkan mangkuk buburnya di atas kursi plastik dengan tangan gemetar. Ia melihat sekeliling; para pembeli lain di sekitar gerobak bubur itu tampak makan dengan lahap, seolah-olah mangkuk mereka baik-baik saja. Hanya mangkuk miliknya dan Sasha yang berubah menjadi pemandangan menjijikkan.
"Kek, ini buburnya kok..." Kalimat Della terputus saat ia menatap si kakek penjual bubur.
Kakek itu tidak menoleh. Ia terus mengaduk panci kosong yang mengeluarkan suara gesekan logam yang memilukan.
Srek... srek... srek...
Saat uap dari panci itu mengenai wajahnya, barulah Della sadar bahwa uap itu tidak berbau kaldu, melainkan bau apek kain yang lembab.
"Ayo pergi, Sha! Sekarang!" Della menarik paksa lengan Sasha.
"Tapi uangnya belum—"
"Gak usah dipikirin! Cabut!" Della menghidupkan Scoopy-nya dengan sekali hentak.
Mereka memacu motor meninggalkan pinggiran Lingkar Selatan. Kali ini Della tidak peduli soal peraturan lalu lintas. Ia memacu motornya menuju ke satu tempat yang ia rasa cukup aman: Bengkel Geri.
Pukul 18.30 WIB Bengkel Liem Performance
Geri sedang duduk di depan bengkel sambil mengisap rokok elektriknya ketika Scoopy krem Della masuk dengan suara rem yang mencicit.
"Loe berdua kayak habis dikejar anjing gila, kenapa lagi?" Geri berdiri, melihat wajah Della dan Sasha yang sama-sama kusut.
"Ger, cabut spion ini. Sekarang. Gue nggak peduli kalau motor gue harus rusak atau stangnya patah," suara Della bergetar hebat, Ia menceritakan kejadian di tukang bubur tadi.
Geri menghela napas panjang. Ia mengambil senter kepala dan mulai memeriksa kembali spion kiri yang tertutup lakban hitam itu. "Gue udah bilang, ini bukan masalah mekanis biasa, Del. Tapi kalau lo maksa..."
Geri mengambil kunci ring yang paling kuat. Ia memposisikan kunci itu di baut spion yang sudah berkarat hitam. "Sasha, loe pegangin motornya jangan sampai goyang. Del, loe baca doa apa aja yang loe tahu."
Geri mulai menekan kunci itu.
Krek...
Suara itu bukan suara besi yang berputar, melainkan suara seperti tulang yang patah. Tiba-tiba, dari sela-sela lakban hitam yang menutupi kaca spion, keluar cairan hitam pekat yang kental. Cairan itu menetes ke tangan Geri.
"Aduh! Panas!" Geri melepaskan kuncinya. Tangannya melepuh seperti terkena air keras.
"Ger! Loe nggak apa-apa?" Della panik.
"Sialan... ini bukan karat biasa," Geri meringis kesakitan, melihat telapak tangannya yang memerah.
Sasha yang sejak tadi diam, tiba-tiba menunjuk ke arah spion itu dengan jari gemetar. "Del... Ger... liat lakbannya."
Lakban hitam yang menutupi spion kiri itu perlahan-lahan menggelembung dari dalam, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menekan kaca dari sisi dalam menuju ke luar. Terdengar suara bisikan halus yang keluar dari celah lakban yang mengelupas:
"Jalan-jalan... mau... jalan-jalan..."
Lampu bengkel Geri tiba-tiba redup secara serentak. Di tengah kegelapan, Della melihat melalui mata batinnya bahwa di jok belakang motornya, sosok pria berjaket hujan itu sedang duduk santai, tangannya yang pucat membelai helm Bogo milik Della yang tergantung di spion.
"Dia nggak mau dilepas, Ger," bisik Della lemas. "Dia merasa motor ini adalah 'kendaraannya' sekarang."
Geri mengambil kain lap untuk membungkus tangannya yang luka. "Del, gue punya ide gila. Kalau dia mau jalan-jalan, kita kasih dia perjalanan yang dia pengen. Tapi bukan di sini, Kita harus bawa dia ke tempat yang lebih terbuka."
"Maksud loe?"
"Besok pagi, kita ke Situ Gunung. Jalur tanjakannya ekstrem, udaranya dingin, dan banyak tempat sepi. Kita cari tahu apa dia bakal bereaksi kalau kita bawa ke area yang lebih dekat dengan alam," ujar Geri dengan tatapan serius.
Della menelan ludah.
Situ Gunung tahun 2017 masih sangat asri dan menyimpan banyak cerita mistis di balik kabut tebalnya.