Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hari semakin mendekati subuh, aluna masih tertidur begitu pulas namun tak lama ia terbangun karena mendengar suara gebrakan di area luar.
Brak!
Suara gerbang besi seperti ditabrak oleh seseorang menggunakan kendaraan. "Astaghfirullah, itu kayak ada suara mobil nabrak pager deh La." celetuk Aluna sambil memegang dadanya jantungnya masih berdetak begitu cepat saking shocknya.
Cepat cepat Arsen dan yang lainnya langsung mode siaga. Prasha langsung membuka pintu rumah catur itu, udara malam langsung saja menerpa wajahnya saat itu. Dan dihalaman depan lampu mobil itu masih menyilaukan cahayanya. Arden Sanjaya langsung mendekat ke arah Prasha berdiri sambil kedua tangannya melipat, "Sumpah sih ini Sha, kalo yang nabrak itu orang mabok, gue sumpahin tuh apes hidupnya." ucap Arden Sanjaya.
"Mas Arden, kalo ternyata yang nabrak itu gangster gimana?." tanya Darto berbisik.
"Elo sembunyi aja tuh dibalik pot kek, To." jawab Arden. "Ah siap mas." Arden auto tepok jidat melihat kelakuan Darto yang begitu polosnya sama seperti halnya Aluna membuatnya harus elus dada berkali kali.
Arsen yang penasaran, langsung melewati Prasha dan Arden juga Darto, "Kita intip aja yuk penasaran gue."
Tak lama pintu mobil terbuka, dan muncullah tiga orang pria mengenakan stelan jas berwarna abu abu.
"Siapa mereka?."
***
Masih di rumah berdesain ornamen catur dan masih diruang bawah tanah, Lola dan Aluna masih fokus menatap layar monitor melihat perkembangan grafik perusahaan tambang yang selalu naik turun dengan drastis. Lalu beralih melihat layar Cctv. Dan keduanya sesekali berbincang membahas hal yang membuat mereka penasaran satu sama lain.
"Lun
"Hmm, apa La?."
"Gue mau tanya, menurut elo ya, di rumah ini siapa yang keliatannya bego gitu alias bodoh dirumah ini Lun?." tanya Lola sambil jarinya masih lihai menari diatas keyboard tatapannya pun masih tetap fokus ke arah layar monitor sesekali menoleh pada Aluna saat ia mengajaknya berbicara.
"Prasha." jawab Aluna cepat.
"What, hahaha parah kamu lun, ngatain bos besar yang tampan itu bodoh haha, kalo dia denger bisa pingsan dia." ucap Lola sambil tak bisa menahan tawanya, dan ia langsung buyar konsentrasinya sejak Aluna berceletuk yang membuatnya tertawa ngakak saking lucunya.
"Ya gimana, abis dia keliatan banget marah mulu, esmosi mulu sama si Arsen, hoaam gila ngantuk banget gue, jam berapa sih sekarang La?."
"Udah jam tiga Lun?, terus terus?."
"Cepet juga yah, nah terus padahal mah La, kalo emang dia mau deketin cewek ya biasa aja gitu, woles santai enggak perlu setegang itu,..seemosi itu?." Lola hanya manggut-manggut faham dan tak lama tersenyum sedikit menarik nafas pasrah karena ketidak pekaan Aluna yang kelewat, selalu saja membuatnya elus dada.
Sedangkan Arden Maharana masih berbincang serius bersama kakek Prasha, membahas perihal masa lalu yang membuatnya harus banyak menguak misteri kematian ayahnya saat ini juga harus membongkar kasus lama yang bermunculan.
"Nah, nak Arden sekarang kamu tau jelas bagaimana kronologi ceritanya, sampai ayah Aluna dan ayah Prasha keduanya saling berikrar janji untuk menjodohkan Aluna dan cucuku Prasha.
"Iya kek terimakasih sudah repot repot datang dari jauh, untuk menguak misteri ini kek?."
"Oiya nak Arden, jangan lupa setelah selesai dengan semua ini kamu harus lanjutkan pengobatan kamu agar bisa pulih secara total."
"Iya kek, terimakasih banyak ya."
Namun di luar rumah ketegangan semakin terjadi, Dan tak lama,...
Dorr! Pistol melesat tepat di bahu Arden Sanjaya saat berusaha melindungi Prasha.