"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Rafa tidak pernah mencari tahu dan tidak ingin tahu mengenai Dara secara menyeluruh setelah Oma Atira mengatakan kalau calon istrinya bernama Dara waktu itu. Dia hanya tahu kalau Dara masih sekolah dan sang oma pun mengatakan kalau Dara pintar, baik dan cantik.
Menurutnya, untuk apa mencari tahu. Toh Dara tidak penting baginya. Meski gadis itu akan jadi istrinya. Hanya satu hal yang Rafa tekankan tentang Dara, gadis itu hanyalah alat untuk membayar hutang dan dia adalah
korbannya. Gadis itu adalah penyebab dia harus terjebak dalam situasi dan status yang sangat tidak dia inginkan kalau wanitanya bukanlah Khaylila.
Andai sang oma tidak bertemu dengan Dara, semuanya pasti tidak akan seperti sekarang. Dia harus menikahi gadis yang usianya jauh di bawahnya, gadis yang dari segi penampilan saja sangat jauh berbeda dengan Khaylila dulu yang sangat cantik meski penampilannya selalu sederhana.
Pokoknya bagi Rafa, semuanya adalah salah Dara!
Begitu juga dengan Dara, dia tidak ingin tahu mengenai siapa Rafa sebenarnya dan apa
pekerjaannya. Menurutnya percuma, toh tahu atau tidaknya tidak akan bisa merubah keadaannya. Lalu apa pentingnya?
Belum lagi, Rafa juga mengatakan kalau mereka tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Rafa juga tidak akan memberikan nafkah padanya.
❤️
Hari itu, baik Dara maupun Rafa mungkin sama-sama tidak menyangka kalau mereka akan sering bertemu di sekolah, bukan hanya di rumah saja.
"Astaga. Dia guru di sini?!" pekik Dara dalam hati.
"Oh, dia sekolah di sini rupanya." Rafa tersenyum miring, "kita lihat, seberapa pintar dia." Dia bicara dalam hatinya.
Dara yang kaget langsung berusaha menunjukkan raut wajah biasa-biasa saja. Meski detak jantungnya tetap saja berpacu cepat seperti tadi. Mungkin karena masih kaget, atau ... mungkin karena dia merasa aura sang suami terlihat berbeda di depan sana.
Dara menggelengkan kepalanya pelan, pikiran macam apa itu? Aura? Jadi dia terpesona gitu? Dara berusaha mengusir rasa dan pikiran aneh yang tiba-tiba datang padanya.
"Kenapa?" bisik Bebi kemudian bertanya lagi, "kepalanya pusing? Mau ke UKS?"
Dara menggeleng. "Enggak apa-apa."
Bebi mengangguk lalu kembali fokus menatap ke depan.
Rafa berdiri di depan kelas, memegang buku tebal yang menjadi panduan mengajar.
"Saya ingin sedikit menjelaskan tentang bagaimana sistem saya saat mengajar," ujarnya.
Rafa menepuk buku tebal yang dia pegang lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Saya memberikan materi dan contoh soal, lalu akan saya tunjuk salah satu dari kalian untuk menjawab soal yang saya tulis di papan tulis,"
lanjutnya sambil menunjuk papan tulis besar yang tergantung di depan kelas.
Para murid tampak saling berbisik, ada yang tampak gugup, ada juga yang merasa tertantang dan bersemangat.
Tanpa basa-basi, Rafa mulai membuka buku itu dan menunjukkan halaman yang akan menjadi topik pembahasan hari ini.
"Saya akan melanjutkan materi yang sebelumnya sudah diberikan oleh Pak Budi," ujar Rafa.
"Hari ini kita akan mempelajari materi tentang turunan fungsi komposisi." Rafa berucap dengan suara lantang dan jelas.
Ia kemudian menulis rumus-rumus penting di papan tulis dengan tulisan yang rapi, sehingga mudah dibaca oleh seluruh murid.
Dara sendiri terpaku melihat tulisan sang suami yang menurutnya lebih rapi daripada tulisannya sendiri. Padahal Rafa laki-laki, tapi kok bisa menulis rapi begitu?
Para murid tampak serius mendengarkan penjelasan Rafa yang sistematis dan mudah dipahami. Sesekali Rafa memberikan contoh soal yang relevan dan menjelaskan langkah-langkah penyelesaiannya dengan sabar.
Ia juga mengajak murid-murid
untuk berpartisipasi dalam diskusi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menantang.
"Ada lagi yang mau ditanyakan? Kalau tidak ada, kita lanjut ke soal yang harus dijawab oleh salah satu dari kalian," ucap Rafa.
"Saya, Pak!" Renita mengacungkan tangan dan Rafa pun mengangguk.
"Silahkan," ucap Rafa.
"Bapak udah punya pacar atau jomblo?" tanya Renita yang tentunya langsung mendapat sorakan dari teman-temannya yang lain.
Tidak marah, Rafa malah tersenyum tipis seraya
menggelengkan kepalanya pelan. Dia pernah berada di usia seperti murid-murid di depannya itu, jadi paham betul sifat dan karakter mereka yang kadang diluar nurul.
Rafa melirik ke arah Dara yang ternyata tengah menatap ke arahnya. "Kalau saya bilang masih jomblo, memangnya kalian akan percaya?"
Dara mencibir dalam hati, tidak menyangka kalau suaminya itu ternyata mempunyai sisi lain selain sifat dingin, datar dan menyebalkan. Suaminya caper dan centil.
"Emang beneran?" sahut Renita antusias.
"Enggak. Saya gak akan bahas hal itu," jawab Rafa, membuat kedua bahu Renita melemah seketika.
Ada perasaan lega di dalam hati Dara. Hanya sedikit, bahkan mungkin secuil saja karena Rafa tidak mengaku sebagai jomblo.
Mau bagaimana pun, status mereka sudah suami istri meski baru sah di mata agama saja. Dan kalau sampai Rafa mengaku sebagai jomblo, itu artinya dia tidak diakui bukan? Meski belum tumbuh cinta dan mereka sama-sama terpaksa. Tetap saja status mereka bukan main-main. Bukan hanya sekedar pacaran saja. Tapi tentu levelnya lebih tinggi dari pada itu.
"Jadi gak akan ada yang bertanya lagi nih?" tanya Rafa memastikan, sebelum dia melanjutkan proses mengajarnya.
Karena tidak ada lagi yang mengajukan pertanyaan, Rafa pun menuliskan sebuah soal yang berhubungan dengan materi yang sudah dia berikan di papan tulis.
"Kamu, gadis yang memakai kacamata siapa namanya?" tanya Rafa.
"Saya?" Bebi menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan, tapi yang di sebelah kamu," sahut Rafa.
Wajah Dara langsung berubah masam. Sejak awal dia sudah
menebak kalau sang suami sudah menargetkannya.
"Saya Dara, Pak."
"Oh ya. Dara, kamu maju dan tolong kerjakan soal yang sudah saya tulis," titah Rafa.
Tanpa ragu, Dara pun berdiri dan berjalan ke arah depan. Mengambil spidol yang diberikan oleh Rafa dan menulis jawaban dengan lancar.
Kening Rafa mengkerut dan sesaat kemudian dia membulatkan mulutnya.
"Pinter juga dia. Padahal soal yang aku berikan sedikit berubah dari contoh yang tadi." Rafa memuji Dara di dalam hatinya. Iya lah.
Mana mungkin dia mau memuji Dara secara terang-terangan.
"Bagus! Jawaban kamu benar. Kamu boleh duduk kembali," ucap Rafa.
Dara mengangguk pelan dan kembali ke bangku nya setelah memberikan kembali spidol kepada Rafa.
**
"Ini seriusan?" Bebi sampai menutup mulutnya karena shock saat melihat foto yang ada di ponsel Dara.
"Hm. Buat apa juga gue boong."
"Lalu, kenapa lo gak nunjukkin bukti ini ke Braden sama Monica?"
Dara mengedikkan bahunya dan menghela napas pelan. Dia memakan ciki yang tadi dia beli dari kantin. Dia dan Bebi sedang duduk di bangku taman sekolah.
"Buat apa? Cowok kalau udah ketauan selingkuh sama boong, buat apa dipertahanin?"
"Dengan dia bohong kayak gitu. Gak mau sekedar ngakuin kalo dia kenal sama gue, bukankah itu artinya dia cowok pengecut? Pria kayak gitu gak pantes buat dipertahanin atau diperjuangin," sambungnya.
Dalam hati, Dara tertawa miris, ternyata tebakannya benar. Braden bukan tipe pria setia dan hanya bermulut manis belaka.
Bebi mengangguk setuju dan mengusap pelan pundak Dara "Lo bener. Yang sabar ya, Dara."
"Ck. Apaan sih. Biasa aja kali." Dara tersenyum tipis.
Rafa yang kebetulan lewat taman pun mendengar obrolan istrinya. Tidak berniat menguping, hanya saja dia tidak sengaja mendengar seseorang menyebut nama istrinya dan tubuhnya tiba-tiba diam begitu saja di sana.
"Cih. Dia lagi patah hati rupanya."
Tanpa Dara tahu, kalau Aiden yang berada tidak jauh dari mereka juga turut mendengarkan obrolan keduanya.
**
Jam pelajaran pun usai, setelah bel berbunyi dan Pak Lexi pamit, sebagian murid di kelas XII IPA 2 ada yang sudah keluar, ada juga yang masih duduk-duduk di bangku bersama yang lainnya.
Seperti Renita dan gengnya, mereka masih terdengar antusias membicarakan guru matematika yang baru. Siapa lagi kalau bukan Rafa.
"Dulu, pas Pak Budi yang ngajar, gue bawaan ngantuk banget asli. Mana pelajarannya susah banget masuk ke otak gue. Beda banget sama tadi pas Pak Rafa ngajar. Sepanjang pelajaran, mata gue jernih banget," ujar Renita
sambil memasukkan buku pelajaran ke dalam tas.
"Sama banget. Lo juga tau banget kan gue gak begitu suka pelajaran matematika. Tapi hari ini, gue ngedadak suka. Huft, andai aja Pak Rafa ngajar di sini sejak gue kelas sepuluh, mungkin nilai matematika gue di raport bakal di atas 60."
"Cih. Kalian gak tau aja sifat aslinya kayak gimana." Dara mencibir dalam hati. Gerakannya yang tengah memasukkan buku ke dalam tas terhenti saat ponselnya bergetar.
Dara menggigit sedikit bibirnya saat melihat kalau sang ibu lah yang menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, Bu."
Di rumahnya, kedua mata Erina berbinar saat mendengar suara Dara. Suara yang sangat dia rindukan sejak kemarin saat Dara dibawa pergi oleh keluarga Rafa.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, akhirnya kamu angkat juga panggilan dari ibu," ucap Erina.
"Kamu udah pulang sekolah?" tanya Erina.
"Iya. Ini baru mau pulang. Makanya baru bisa angkat telepon dari ibu." Dara mendengar suara hembusan napas berat dari seberang sana.
"Ibu kangen sama kamu. Kita
ketemu, boleh? Ibu belum sempet ngabisin banyak waktu sebelum kamu dibawa oleh suamimu kemarin."
Dara agak mengingsut menjauh dari Bebi lalu menurunkan volume panggilan di ponselnya. Takut kalau Bebi mendengar ucapan sang ibu yang mengatakan suami barusan.
"Dimana?" tanya Dara.
**
Dara turun dari motor dan memberikan ongkos kepada kang ojol yang dia pesan tadi. Dia celingukan menatap bangunan tinggi dan ramai yang menjadi tempat untuk dia bertemu dengan
sang ibu.
Sebelumnya dia sudah izin kepada Oma Atira kalau akan pergi bertemu dengan ibunya dulu. Karena kalau menghubungi Rafa, dia tidak mengetahui nomor ponsel suaminya itu.
Perihal izin pun Erina yang memberitahunya. Katanya, seorang wanita yang sudah mempunyai suami, saat hendak bepergian ke mana pun harus atas izin suaminya dulu.
Oma Atira mengizinkan, dan Dara yakin kalau Rafa pun tentu tidak akan merasa keberatan. Lebih tepatnya pria itu tidak akan peduli ke mana istrinya pergi. Syukur-syukur kalau Dara tidak kembali lagi ke rumahnya.
"Ibu di mana?" tanya Dara melalui panggilan telepon. Setelah sang ibu menyebutkan nama tempatnya, Dara pun mulai melangkah masuk ke tempat pusat perbelanjaan tersebut.
Erina yang sudah menunggu pun langsung melambaikan tangan seraya tersenyum lebar saat melihat kedatangan putrinya.
Erina berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Dara yang sama rindunya pun tentu langsung berhambur ke pelukan sang ibu. Dara memejamkan mata, merasakan usapan lembut ibunya di punggungnya. Dia juga berusaha menahan bulir bening yang siap terjun bebas saat itu juga.
"Ibu kangen banget sama kamu, Sayang." Erina membingkai wajah cantik Dara dengan kedua tangannya. "Kamu baik-baik aja, kan?"
"Baik dari mana nya? Disaat aku harus terpaksa menikah dengan pria yang tidak aku kenal dan tidak aku cintai. Bahkan pernikahan ini pun dilakukan atas dasar hutang. Aku pun masih berstatus pelajar." Dara menjawab dalam hati nya.
Gadis cantik berkacamata tebal itu tersenyum dan mengangguk pelan. "Aku baik-baik aja, Bu."
Erina menghembuskan napas penuh kelegaan dia menggiring putrinya untuk duduk dan meminta Dara untuk memesan makanan.
"Aku masih kenyang, Bu. Aku mau pesen es krim aja, boleh?" tanya Dara.
"Ya jelas boleh dong, Sayang."
Keduanya duduk di sebuah resto yang ada di dalam mal dan membicarakan banyak hal. Lebih tepatnya Erina yang banyak bertanya mengenai bagaimana kegiatan Dara di tempat tinggal barunya atau kegiatan Dara di sekolah.
"Apa suamimu memperlakukannya dengan baik?" tanya Erina.
Dara terdiam sejenak. Melihat raut wajah khawatir ibunya, rasanya dia tidak tega berkata jujur. Apalagi mengenai ucapan Rafa yang mengatakan kalau dia tidak akan diberikan uang nafkah sama sekali.
"Baik kok, Bu."
"Sungguh?"
Dara langsung mengangguk cepat. Berharap kalau sang ibu tidak melihat keraguan di matanya.
Erina menghela napas pelan dan menggenggam kedua tangan putrinya. "Lalu hubunganmu dengan Braden, bagaimana?"
Dara tertegun, tidak menyangka kalau sang ibu akan bertanya mengenai hal itu. Ah, dia dan ibunya memang sangat dekat, bukan hanya sebagai ibu dan anak saja, tapi sebagai sahabat juga. Ibunya adalah tempat paling nyaman untuk Dara berbagi semua cerita.
Dara menunduk, merasa berat hati untuk menceritakan kisahnya dengan Braden yang sebenarnya sudah kandas.
"Aku ... Aku dan Braden udah putus, Bu."
"Apa kamu yang memutuskan nya? Karena kini kamu sudah menikah?" Erina memelankan kata menikah yang dia ucapkan pada Dara.
Dara menggelengkan kepalanya. "Engga, Bu. Bukan karena itu. Tapi ... Aku sama dia udah putus sebelum aku harus menikah."
Kedua mata Erina membesar. "Kapan? Bukankah kamu bilang hubunganmu dengan Braden baik-baik saja waktu itu?"
Dara menghembuskan napas berat dan akhirnya menceritakan semua yang dia alami di hari pertama masuk sekolah ke SMA Ibu Pertiwi.
Bukan ingin mengadu, tapi memang sedekat itu dia dan ibunya. Dia juga merasa sesuatu yang masih terasa mengganjal di hatinya itu perlahan menghilang setelah dia mengeluarkannya semua.
"Aku gak apa-apa kok. Bukankah cowok kayak gitu gak pantes buat dipertahanin?" ucap Dara.
Ragu, Erina menganggukkan kepalanya. Dia ikut merasa sakit hati saat mendengar apa yang dialami oleh putrinya.
"Lalu, kenapa ibu mau bertahan dengan ayah? Padahal ibu tahu ayah selingkuh?" tanya Dara.
Kini kagetlah Erina karena ternyata Dara mengetahui hal itu. "K-Kamu tahu?"