Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tempat pesta malam itu berada di The Riverside, sebuah kawasan vila mewah terbaik di Jakarta. Kompleks vila itu terletak di pinggiran kota yang tenang dan eksklusif.
Tempat pesta yang dipilih Rendy adalah salah satu vilanya. Ketika Bima dan Sari tiba, area parkir sudah dipenuhi berbagai mobil mewah. Dibandingkan mobil-mobil itu, Porsche Cayenne milik Sari tampak biasa saja.
Di dalam aula sudah berkumpul sekitar tiga puluh orang kalangan elit Jakarta. Kedatangan mereka langsung menarik perhatian. Lagipula, kecantikan Sari terlalu mencolok.
“Sari, kamu datang tepat waktu. Resepsi akan segera dimulai!” Rendy, yang sedang berbicara dengan beberapa orang di tengah aula, langsung berjalan menghampiri mereka. Namun ketika ia melihat Bima di samping Sari, langkahnya sempat terhenti sejenak.
“Masih ingat apa yang harus kamu lakukan malam ini?” bisik Sari dengan cemas ketika Rendy berjalan mendekat.
Bima mengangguk. “Tentu saja. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pacar.”
“Maksudmu apa yang seharusnya dilakukan seorang pacar? Aku peringatkan—tanpa izinku—”
Belum sempat Sari menyelesaikan kalimatnya, Bima tiba-tiba bergerak. Ia mengangkat tangan, memegang lembut kepala Sari—lalu di bawah tatapan terpaku semua orang, ia mencium bibir merah Sari dengan kuat.
Seluruh ruangan langsung terdiam. Semua orang terbelalak, mulut terbuka lebar, menatap pasangan yang sedang berciuman itu dengan tak percaya.
Senyum di wajah Rendy membeku seketika. Ia berdiri di tempatnya, tercengang melihat pemandangan itu.
Berikut adalah adaptasi bab tersebut sesuai dengan Master Kamus Perubahan dan penyesuaian konteks lokal Indonesia:
Di tengah keterkejutan seluruh tamu yang hadir, keduanya benar-benar berciuman.
Awalnya, Bima hanya berniat menggoda gadis itu. Ia pikir cukup memberikan kecupan ringan, sekilas seperti capung menyentuh permukaan air. Namun begitu bibirnya menyentuh bibir Sari yang lembut sekaligus dingin, saat ia menatap wajah cantik yang begitu dekat di hadapannya dan menghirup aroma harum yang menggoda dari tubuhnya, semuanya berubah.
Seolah-olah ia baru saja mengunyah permen karet—sekali mulai, tak bisa berhenti.
Sari sama sekali tidak memiliki persiapan mental. Semua terjadi terlalu tiba-tiba. Ketika bibir mungilnya dicium, kepalanya seakan berdentum keras. Otaknya mendadak kosong. Ia lupa melawan. Lupa menolak. Ia hanya berdiri terpaku, mata terbelalak, menatap Bima yang berada begitu dekat di depannya.
Saat ia tanpa sadar membuka mulut karena terkejut, Bima tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tanpa ragu ia menyelipkan lidahnya masuk, menyusuri rongga mulut Sari dan bertaut dengan lidah kecilnya yang lembut. Rasa manis dan sensasi aneh itu membuat Bima semakin tenggelam. Tanpa sadar, kedua tangannya bergerak memeluk tubuh Sari, membelai dengan lembut.
Barulah setelah beberapa saat, Sari tersadar. Dengan tergesa ia mencoba mendorong Bima menjauh. Namun sensasi hangat yang menjalar dari dalam tubuhnya membuat seluruh tubuhnya lemas. Kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Akhirnya, hampir seluruh berat badannya justru bersandar pada tubuh Bima.
Setelah sekian lama, Bima baru dengan enggan melepaskannya. Ia menjilat bibirnya pelan, seolah masih menikmati sisa rasa manis yang tertinggal—aroma khas Sari yang masih melekat.
“Bagaimana? Keahlianku lumayan, bukan?” katanya santai.
“Kau… kau bajingan!”
Sari akhirnya benar-benar tersadar. Wajah cantiknya memerah hingga ke pangkal leher. Dengan marah sekaligus malu, ia mengangkat tinju kecilnya dan memukul dada Bima. Bima dengan cepat menangkap pergelangan tangannya, lalu mencondongkan tubuh dan mengecup ringan keningnya.
Dari kejauhan, pemandangan itu terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang saling menggoda dan bercanda mesra.
“Jangan ribut. Banyak orang sedang melihat,” bisiknya pelan di telinganya. “Jangan salahkan aku. Aku terpaksa mencium seperti itu. Cara ini menghemat banyak masalah. Kalau tidak, mereka pasti akan terus menanyakan identitasku nanti. Apa kamu yakin mereka akan percaya?”
Sari menggertakkan giginya keras-keras. Pada akhirnya ia menyerah, tetapi dalam hati bersumpah: begitu mereka pulang nanti, ia pasti akan membuat bajingan ini membayar semuanya!
Dua puluh hingga tiga puluh orang di aula akhirnya tersadar dari keterkejutan mereka. Ekspresi mereka bermacam-macam. Ada yang murung, penasaran, ada pula yang menatap Bima dengan gigi terkatup rapat, penuh amarah.
Rendy, yang sebelumnya masih berdiri dalam posisi menyambut tamu, akhirnya kembali sadar. Sekilas kemarahan melintas di matanya, tetapi segera ia tekan. Ia memaksakan senyum dan berjalan menghampiri mereka.
“Sari, belum diperkenalkan. Siapa ini?”
Orang-orang di aula langsung memasang telinga. Mereka juga sangat ingin tahu. Bima memandangnya seolah melihat orang bodoh, lalu berkata santai,
“Maaf, Tuan Rendy. Nama saya Bima, pacar Sari.”
“Pacar Sari?” Rendy mengernyit. “Sejauh yang saya tahu, Sari tidak punya pacar.”
“Banyak hal yang tidak kamu tahu,” jawab Bima sambil tertawa. “Tadi malam saja kami ‘liar’ di ranjang sampai tengah malam. Kamu tahu?”
Sampai tengah malam? Wajah Rendy langsung menegang. Amarah mulai mendidih di dalam dadanya. Namun tiba-tiba pikirannya menjadi lebih jernih. Ia merasa wajah Bima agak familiar. Ia menatapnya lebih teliti. Kemudian kemarahannya mereda dan ia tersenyum tipis.
“Kalau aku tidak salah ingat… kamu seharusnya sopir Sari, bukan?”
Sopir Sari? Sari tidur dengan sopirnya? Berita yang meledak ini langsung membuat aula dipenuhi bisik-bisik.
“Sari, kalau tebakanku benar, dia hanya tameng sementara, bukan?” kata Rendy sambil tersenyum. “Kamu hanya ingin memberi tahu kami bahwa kamu sudah punya pacar supaya kami berhenti mengejarmu, benar?”
Sari panik. Ia benar-benar tidak menyangka Rendy bisa menebaknya!
“Rendy, di matamu Sari wanita seperti itu?” Bima tiba-tiba berkata dingin. “Apakah dia akan asal mencari pria untuk dicium dan diajak tidur hanya demi mengelabui kalian? Kalaupun dia seperti itu… menurutmu aku terlihat seperti pria sembarangan?”
Sari diam-diam mencubit keras daging di pinggangnya. Pria sembarangan? Kau bahkan bukan manusia!
Ekspresi Rendy sedikit berubah. Benar juga. Ia mengenal Sari dengan baik. Wanita yang begitu bangga seperti dia, bagaimana mungkin membiarkan pria lain memeluk dan menciumnya sembarangan?
“Rendy, aku tidak menyangka… di hatimu aku ternyata orang seperti itu.” Sari dengan tenang memanfaatkan momentum itu dan berkata dingin.
Melihatnya marah, Rendy sedikit panik. “Sari, jangan salah paham. Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja semuanya terasa terlalu mendadak.”
“Tidak mendadak,” sela Bima sambil tersenyum. “Kami sudah bersama dua hari. Hari itu ada orang bodoh menaruh hati mawar besar di depan gedung Garuda Group. Aku tidak sengaja melindasnya dengan mobil. Sari bilang aksiku sangat tampan. Sejak itu kami bersama.”
Tangan Rendy mengepal. Sialan… orang bodoh yang kau maksud itu aku!
“Sari, apakah pria tampan ini benar-benar sopirmu?”