NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Siksa Api

Gerbang Menuju Neraka

Langkah kaki Aurelia terseret dengan bunyi rantai yang beradu membentur lantai batu lorong bawah tanah yang dingin dan berlumut. Aroma mawar dari pesta taman yang memualkan dan penuh kepalsuan tadi kini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh bau belerang yang pekat serta kelembapan yang menyesakkan paru-paru. Setiap kali ia melangkah lebih jauh ke dalam perut bumi istana, suhu udara di sekitarnya terasa meningkat secara tidak wajar, seolah-olah dinding batu di sekelilingnya sedang bernapas mengeluarkan hawa panas yang purba.

"Berjalanlah dengan benar dan lebih cepat, Tuan Putri! Jangan membuang waktu kami!" bentak penjaga bertubuh besar itu sambil menyentakkan rantai di leher Aurelia dengan kekuatan yang sanggup mematahkan leher manusia biasa.

Aurelia terhuyung secara fisik, telapak kakinya yang tadi terluka akibat rumput kasar di taman kini harus merasakan sensasi dinginnya batu yang basah oleh rembesan air limbah yang berbau busuk. Ia tidak memberikan perlawanan sedikit pun. Matanya menatap kosong ke punggung penjaga di depannya, namun tangannya gemetar hebat dengan ritme yang tidak terkendali. Ia tahu persis ke mana mereka akan pergi. Getaran di udara, suara deru rendah yang konstan di kejauhan—itu adalah suara api yang sedang lapar.

"Kau sangat beruntung, Elara. Nyonya Elena secara khusus meminta kami untuk memastikan kau mendapatkan kehangatan ekstra malam ini sebagai penutup pesta," ujar penjaga itu sambil tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kerikil di dalam tenggorokan.

"Kehangatan... atau sebuah upaya pembersihan paksa?" bisik Aurelia dengan suara yang nyaris hilang, tertelan oleh kegelapan koridor.

"Sebut saja apa pun yang kau mau. Bagiku pribadi, ini hanyalah prosedur normal untuk menangani tawanan yang tidak tahu diri dan terlalu banyak bicara," sahut penjaga itu dengan nada dingin yang menjadi ciri khas para eksekutor Empire.

Pintu besi besar di ujung lorong terbuka dengan suara derit yang menyayat telinga, memecah kesunyian bawah tanah. Begitu celah pintu itu terbuka, radiasi panas yang sangat masif langsung menerpa wajah Aurelia tanpa ampun. Seketika, dunianya seolah berguncang hebat. Pandangannya menjadi buram sesaat, dan telinganya tiba-tiba berdenging hebat dengan nada tinggi yang menyakitkan, meredam suara tawa kasar penjaga di sampingnya.

Di tengah ruangan interogasi yang luas itu, sebuah anglo raksasa berisi bara api yang membara merah menyala berdiri dengan angkuh, memancarkan gelombang panas yang mendistorsi udara di sekitarnya menjadi gelombang yang tidak stabil. Bagi orang lain, itu mungkin hanyalah alat penyiksaan konvensional. Namun bagi Aurelia, anglo itu adalah personifikasi iblis yang pernah menelan nyawanya saat Valerius membakarnya hidup-hidup di masa lalu.

"Napasmu mendadak menjadi sangat pendek, Elara. Apakah kau sudah mulai merasakan kehangatan yang menjanjikan ini?" tanya penjaga itu, kini mulai mengikat pergelangan tangan Aurelia secara kasar ke tiang kayu yang berdiri tegak di dekat anglo.

Aurelia tidak mampu menjawab. Tenggorokannya terasa sangat kering seolah-olah ia baru saja menelan pasir panas. Ia harus memaksa dirinya mengambil napas panjang berkalikali supaya tangannya berhenti gemetar, namun setiap napas yang ia hirup justru terasa seperti menelan bara api yang membakar saluran pernapasannya. Memori tentang lidah api yang merayap di gaun pengantinnya dulu mulai membanjiri kesadarannya, mengaburkan realitas masa kini dengan horor masa lalu.

"Lepaskan... aku," rintihnya pelan, lebih ditujukan kepada hantu-hantu masa lalunya daripada kepada penjaga di depannya.

"Lepaskan? Pesta yang sesungguhnya baru saja dimulai," penjaga itu mengambil sebuah besi panjang dengan ujung berbentuk lambang kekaisaran yang sudah memerah membara di dalam jantung api. "Kau tahu, Elena sangat membenci caramu menatapnya di taman tadi. Dia bilang, mata seorang budak tidak boleh memiliki kilatan martabat seperti itu."

Pertempuran di Balik Trauma

Besi membara itu kini hanya berjarak beberapa inci dari bahu Aurelia yang terbuka. Ia bisa merasakan radiasi panasnya yang menyengat pori-pori kulitnya dengan agresif. Respon fisiologisnya berada di ambang kolaps; jantungnya berpacu dengan ritme yang liar seolah-olah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya, dan keringat dingin mengucur deras di punggungnya, membasahi kain tipis yang menutupi luka bakar lamanya.

"Kau sangat ketakutan, bukan? Aku bahkan bisa mencium bau ketakutanmu yang tajam bercampur dengan bau selokan ini," ejek penjaga itu, menikmati setiap detik penderitaan mental korbannya.

Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengisolasi kesadarannya. Gunakan Void-mu, Aurelia. Jangan biarkan trauma masa lalu ini membunuhmu untuk kedua kalinya di tempat yang sama, batinnya memerintah dengan keras di tengah kekacauan mental yang menderu.

"Kenapa kau diam saja? Apakah kau sedang sibuk berdoa pada dewa Asteria yang sudah mati dan membusuk itu?" penjaga itu tertawa terbahak-bahak, lalu dengan gerakan cepat yang tidak terduga, ia menempelkan ujung besi panas itu ke lengan atas Aurelia.

Ssst!

Aroma kulit yang terbakar seketika memenuhi ruangan yang pengap itu. Aurelia menggigit bibir bawahnya begitu keras hingga darah segar merembes keluar dan membasahi dagunya, namun ia tidak mengeluarkan setetes pun suara teriakan. Matanya terbuka lebar, menatap langsung ke arah penjaga itu dengan tatapan yang begitu dalam dan dingin, membuat pria bertubuh besar itu sedikit tersentak ke belakang.

"Kau... kenapa kau tidak berteriak seperti tawanan lainnya?" tanya penjaga itu, wajahnya menunjukkan kebingungan yang bercampur dengan rasa tidak nyaman.

" Karena... rasa sakit fisik ini... belum seberapa dibanding apa yang akan kau rasakan saat kau membusuk nanti," bisik Aurelia dengan nada yang mengerikan.

Di dalam tubuhnya, sihir Void di level nol titik tujuh mulai berdenyut dengan liar dan lapar. Aurelia secara sadar tidak membuang energinya untuk menahan rasa sakit secara pasif. Alih-alih melakukan itu, ia mulai melakukan analisis molekuler terhadap radiasi panas yang masuk ke tubuhnya melalui titik kontak besi panas tersebut. Ia merasakan aliran energi termal itu sebagai getaran frekuensi tinggi yang sedang merusak jaringan saraf dan selnya.

Dengan fokus kognitif yang dipaksakan di tengah rasa gila akibat PTSD, ia mengarahkan energi Void untuk membungkus panas tersebut. Ia tidak mencoba memadamkannya atau melawannya; ia justru menarik panas itu masuk ke dalam sistem sirkulasinya, mengarahkannya menuju titik fokus di punggungnya—titik di mana luka bakar traumatis dari masa lalunya berada.

"Kau pikir kau sangat kuat?" penjaga itu terlihat geram karena tidak mendapatkan reaksi emosional yang ia harapkan. Ia kembali memasukkan besi itu ke dalam pusat bara api, membuatnya lebih merah dan lebih mematikan dari sebelumnya. "Ayo kita lihat seberapa lama martabat putrimu ini bisa bertahan sebelum kau akhirnya mengemis meminta kematian padaku."

"Silakan lakukan semaumu," tantang Aurelia dengan suara yang kini jauh lebih stabil, meskipun tubuhnya masih sedikit bergetar karena reaksi saraf. "Bakar aku sesukamu. Setiap inci panas yang kau berikan secara cuma-cuma... hanya akan membuat kehadiranku di dunia ini semakin nyata."

Penjaga itu menggeram marah, lalu mencengkeram rahang Aurelia dengan tangan kirinya yang kasar dan berbau tembakau. "Kau benar-benar sudah gila. Elena memang benar, kau adalah aib yang harus dibersihkan secara total dengan api."

"Pembersihan yang sejati... memerlukan api yang jauh lebih besar dan lebih murni dari ini, Prajurit Rendahan," balas Aurelia. "Apa kau tidak merasakannya sendiri? Udara di ruangan interogasi ini... suhunya mulai menurun secara drastis."

Penjaga itu mengernyitkan dahi. Ia pada awalnya tidak menyadari bahwa radiasi panas dari anglo besar di samping mereka tidak lagi menyebar secara merata ke seluruh ruangan, melainkan seolah-olah terhisap secara tidak terlihat menuju tubuh kecil wanita yang sedang dirantai di depannya. Void di dalam diri Aurelia telah bertransformasi menjadi pusaran penyerapan energi termal yang sangat efisien.

"Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Ruangan ini sangat panas!" teriak penjaga itu, namun ia secara insting melirik ke arah api di dalam anglo. Api itu memang masih menyala, namun warnanya tidak lagi cerah kekuningan. Warnanya meredup menjadi ungu kusam, seolah-olah seluruh esensi energinya sedang diperas keluar secara paksa.

"Kau... apa yang sebenarnya kau lakukan pada api itu?" tanya penjaga itu, kini mulai merasakan ada sesuatu yang sangat salah secara metafisika.

"Aku hanya... sedang menerima hadiah istimewa dari Nyonya Elena dengan tangan terbuka," Aurelia memejamkan matanya kembali, merasakan energi panas yang terkumpul di punggungnya mulai beresonansi secara harmonis dengan sirkulasi jiwanya. Rasa perih yang tadi sempat melumpuhkannya kini mulai berubah menjadi sensasi mati rasa yang terkendali dan bertenaga.

Dilema di Tengah Bara

Di tengah proses penyerapan itu, Aurelia merasakan jiwanya sedikit demi sedikit terkikis. Setiap kali ia menyerap energi mentah tanpa melalui filter kristal mana yang aman, ada bagian kecil dari kemanusiaannya yang terasa menguap dan menghilang. Ia teringat akan wajah Jenderal Kaelen yang penuh kekhawatiran semalam, teringat akan janjinya sendiri untuk tetap menjadi manusia yang memiliki empati. Namun di hadapan api ini, menjadi manusia hanya berarti menjadi korban yang lemah.

"Hentikan tatapan kosong itu!" penjaga itu kembali menghantamkan ujung besi panas yang membara ke sisi perut Aurelia dengan penuh kebencian.

Sekali lagi, Aurelia hanya mendesah pendek, menahan napasnya. Ia membiarkan panas itu merambat masuk melalui luka baru, mengubah rasa sakit fisik yang hebat menjadi bahan bakar murni bagi Void-nya. Martabatnya sebagai Permaisuri Aurelia menolak keras untuk merendahkan diri di hadapan pion rendahan seperti penjaga ini. Jika ia harus menelan rasa sakit yang luar biasa menyiksa ini demi mendapatkan kekuatan absolut, maka ia akan melakukannya tanpa menjatuhkan setetes air mata pun di depan musuhnya.

"Kau... kau sama sekali bukan manusia," bisik penjaga itu, kini ada nada ketakutan yang nyata dalam suaranya yang bergetar. Ia mundur satu langkah besar, berusaha menjauh dari Aurelia yang kini tampak dikelilingi oleh udara yang bergetar dengan aura hitam tipis yang mengerikan.

"Memang tidak sepenuhnya lagi," sahut Aurelia dengan nada yang dingin. "Manusia yang kau kenal sebagai Elara... sudah lama sekali mati terbakar menjadi abu."

Penjaga itu melempar besi panasnya ke lantai batu dengan bunyi dentang keras yang bergema. Ia merasa sangat tidak nyaman dan terancam berada di dekat tawanan ini. Keheningan dan ketenangan Aurelia jauh lebih mengerikan daripada teriakan paling histeris yang pernah ia dengar selama bertugas di ruang interogasi ini.

"Cukup untuk malam ini," gumam penjaga itu, mencoba menutupi kegugupannya. "Nyonya Elena akan segera tahu bahwa kau sudah cukup menderita di sini. Kau akan dibiarkan membusuk di ruangan ini sampai fajar tiba besok."

"Kirimkan salam hormatku padanya jika kau bertemu nanti," ujar Aurelia, kepalanya terkulai lemas karena beban fisik, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin dan penuh ancaman. "Katakan padanya... bahwa apinya terasa sangat hangat dan menyenangkan."

Penjaga itu segera keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru, mengunci pintu besi berat itu dengan suara dentuman yang keras. Begitu suara langkah kakinya benar-benar menghilang di kejauhan lorong, Aurelia akhirnya melepaskan ketegangan batinnya yang luar biasa. Ia terengah-engah dengan dada yang naik turun dengan cepat, tubuhnya merosot di tiang kayu, tertahan hanya oleh rantai besi yang mengikat pergelangan tangannya.

Darah segar terus mengalir dari luka-luka barunya yang masih mengeluarkan uap, menetes ke lantai batu yang kini kembali terasa dingin di kulitnya. Namun, di dalam pusat gravitasi energinya, Aurelia merasakan sebuah pencapaian baru. Void-nya tidak lagi terasa kosong dan hampa seperti sebelumnya. Ia telah berhasil menyimpan "bara" kekuatan di dalam dirinya sendiri.

"Hampir sampai... hanya butuh sedikit lagi akumulasi energi," bisiknya pada kegelapan ruangan yang sunyi.

Ia menoleh ke arah api di dalam anglo yang kini tinggal menyisakan sisa-isa abu yang redup dan kehilangan cahayanya. Trauma itu belum hilang sepenuhnya dari batinnya; tangannya masih sedikit gemetar jika ia menatap bara itu terlalu lama dalam kondisi sadar. Namun sekarang, ia tahu sebuah fakta baru: api tidak hanya bisa membakarnya hingga hancur. Ia juga memiliki kemampuan untuk memakan api itu dan menjadikannya miliknya sendiri.

"Valerius... Elena..." ia menyebut kedua nama itu seperti sedang merapal sebuah kutukan yang mematikan. "Kalian sendiri yang memberikan api ini padaku sebagai senjata. Dan dengan api ini pula, aku bersumpah akan meruntuhkan seluruh fondasi istanamu yang megah itu hingga rata dengan tanah."

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang bawah tanah yang luas itu. Aurelia memejamkan mata, memulai proses meditasi yang sangat menyakitkan untuk menyatukan seluruh energi panas yang baru saja ia serap ke dalam struktur jiwanya yang kompleks. Ia harus pulih secepat mungkin dari cedera fisik ini. Ia tahu, di balik kegelapan penjara ini, Kaelen pasti sedang mencari celah sempit untuk bisa masuk menemuinya. Dan saat hal itu terjadi, ia sama sekali tidak boleh terlihat sebagai seorang korban yang tidak berdaya dan patut dikasihani.

Resonansi di Tengah Keheningan

Di dalam kegelapan yang pekat dan pengap itu, Aurelia membiarkan tubuh ringkih Elara menjadi wadah bagi rasa sakit yang murni. Setiap inci kulitnya yang baru saja bersentuhan dengan besi panas kekaisaran kini mengeluarkan uap tipis yang berbau sangit, sebuah bukti fisik dari energi termal liar yang sedang dipaksa masuk ke dalam sirkuit sihir Void-nya melalui proses asimilasi paksa. Ia tidak lagi mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain untuk melarikan diri dari rasa sakit. Sebaliknya, ia menyelam lebih dalam ke dalam pusat trauma itu, membiarkan memori tentang lidah api di hari kematiannya menjadi katalisator yang membakar habis sisa-sisa ketakutannya.

"Serap... jangan pernah kau tolak kekosongan ini," bisiknya pada diri sendiri, suaranya pecah di antara deru napas yang berat dan pendek.

Di punggungnya, luka bakar lama yang selama ini menjadi pusat traumanya mulai berdenyut dengan frekuensi vibrasi yang berbeda dari biasanya. Luka itu bukan lagi sekadar cacat fisik yang memalukan; bagi penglihatan batin Aurelia, area itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah gerbang. Energi panas yang ia curi dari anglo penyiksaan tadi kini mengalir menyerupai cairan lava pijar di bawah lapisan kulitnya, mencari jalan menuju gerbang tersebut untuk dipadatkan.

Sensasinya benar-benar menyiksa, seolah-olah ada ribuan jarum panas yang menusuk saraf-sarafnya dari dalam secara simultan. Namun, inilah Third Option yang ia pilih secara sadar. Jika ia membiarkan api itu membakarnya secara konvensional, ia hanya akan berakhir sebagai gundukan daging yang hancur tak berguna. Dengan menyerapnya, ia mengubah kehancuran seluler menjadi fondasi kekuatan yang absolut.

"Tingkat sinkronisasi nol titik tujuh... sedikit lagi menuju stabilitas," batinnya memantau kondisi jiwanya dengan ketajaman seorang ahli strategi.

Ia bisa merasakan jiwanya yang dulu murni perlahan-lahan mulai terkikis oleh kekosongan Void yang dingin. Ada bagian dari ingatannya tentang kehangatan Asteria yang terasa mulai mengabur—bayangan wajah ibunya yang lembut, aroma masakan rempah dari dapur istana lamanya—semua itu memudar seperti lukisan yang tersiram air, digantikan oleh kedinginan yang absolut. Inilah harga martabat yang harus ia bayar. Menjadi penguasa kegelapan berarti harus bersedia melepaskan kemanusiaan yang rapuh.

"Apakah sensasi kehampaan ini yang kau rasakan dulu saat mengkhianatiku, Valerius?" gumamnya dengan senyum getir yang tersembunyi di kegelapan. "Apakah kau memilih untuk membunuhku hanya karena kau terlalu takut pada pantulan kemanusiaanmu sendiri di mataku?"

Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara gesekan halus dari arah langit-langit ruangan yang tinggi. Itu bukan suara tikus atau tetesan air limbah yang biasa terdengar. Itu adalah gesekan logam yang sangat presisi, suara seseorang yang sedang memanipulasi mekanisme kunci dari jalur ventilasi rahasia dengan teknik tingkat tinggi.

Aurelia segera menormalkan ritme napasnya yang memburu. Ia meredupkan pendaran ungu di pupil matanya dan membiarkan kepalanya kembali terkulai lemas, masuk kembali ke dalam persona tawanan yang sedang sekarat dan tak berdaya. Ia harus memastikan siapa sosok yang datang sebelum ia berani menunjukkan taring kekuatannya yang baru.

Bayangan di Balik Jeruji

Sebuah panel kecil di bagian atas dinding yang gelap bergeser tanpa suara sedikit pun. Sesosok bayangan turun dengan kelincahan seorang ksatria bayangan tingkat tinggi, mendarat di lantai batu tanpa menimbulkan denting atau bunyi tapak kaki. Sosok itu mengenakan pakaian hitam ketat yang menyatu sempurna dengan bayang-bayang ruangan, namun aroma khas hutan pinus dan besi dingin yang dibawanya sangat dikenali oleh indra penciuman Aurelia.

"Elara?" bisik suara itu, penuh dengan nada kecemasan yang tertahan dan rasa sakit yang mendalam.

Aurelia tetap tidak bergerak, matanya terpejam. Ia ingin menguji sejauh mana Jenderal Kaelen akan bertindak dalam situasi kritis ini. Sosok itu mendekat dengan langkah terburu-buru yang dipenuhi kekhawatiran, langkahnya mendadak terhenti saat ia melihat luka-luka bakar baru yang masih memerah di lengan dan perut Aurelia.

"Demi para dewa yang tersisa... apa yang telah mereka lakukan padamu, Putri?" Kaelen segera berlutut di depan Aurelia, tangannya yang biasanya kokoh kini gemetar hebat saat terulur ingin menyentuh luka bakar di lengan Aurelia, namun ia ragu seolah takut sentuhannya akan menghancurkan wanita itu lebih jauh.

Aurelia membuka matanya perlahan, memperlihatkan sorot mata yang lelah namun tajam. Dalam cahaya yang sangat minim, ia melihat wajah Kaelen yang biasanya kaku, dingin, dan gagah kini tampak hancur oleh rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya.

"Kaelen... kau seharusnya tidak mengambil risiko sebesar ini untuk berada di sini," ucap Aurelia dengan suara serak yang berat.

"Aku tidak bisa membiarkanmu membusuk di neraka ini sendirian setelah menyaksikan hinaan yang kau terima di pesta taman tadi," Kaelen segera mengeluarkan sebuah belati pendek dari balik pinggangnya dan mulai memotong rantai yang mengikat tangan Aurelia dengan gerakan efisien. "Aku akan membawamu keluar dari sini. Sekarang juga. Pasukan kecilku yang paling setia sudah menunggu di balik celah tembok kota."

"Tidak," jawab Aurelia dengan nada tegas dan dingin, menahan tangan Kaelen yang sedang memegang rantai besi itu dengan kekuatan yang tak terduga.

Kaelen tertegun di tempatnya, sepasang matanya membelalak tidak percaya. "Apa maksudmu, Elara? Jika kau tetap bertahan di sini, Elena akan memastikan kau terbunuh besok pagi. Dia tidak akan pernah berhenti sampai kau benar-benar menjadi abu!"

"Jika aku memilih untuk lari sekarang, aku akan tetap menjadi mangsa yang diburu selamanya, Kaelen," Aurelia menatap langsung ke dalam mata Kaelen dengan intensitas yang membuat sang Jenderal tersentak mundur. "Aku sudah menanamkan benih keraguan di hati Valerius. Aku sudah berhasil memetakan struktur kelemahan sihir Elena. Jika aku pergi sekarang, semua rasa sakit fisik ini hanya akan menjadi kesia-siaan."

"Tapi tubuhmu... kau terluka sangat parah, Elara! Kau bahkan hampir tidak bisa bicara tanpa menahan sakit!" Kaelen berseru dengan nada tertahan, air mata frustrasi dan kemarahan mulai menggenang di sudut matanya yang tajam.

"Ini bukan sekadar luka fisik, Kaelen. Ini adalah bahan bakar yang aku butuhkan," Aurelia menarik napas panjang, dan untuk sesaat, ia membiarkan sedikit energi panas yang ia serap tadi memancar keluar dari pori-porinya, menghangatkan udara dingin di antara mereka berdua secara mendadak.

Kaelen mundur satu langkah besar, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Sebagai pengguna elemen tingkat ksatria, ia bisa merasakan sebuah frekuensi energi yang sangat asing, purba, dan kuat sedang mengalir deras di dalam tubuh tawanan yang seharusnya sedang sekarat ini.

"Apa... kekuatan mengerikan apa ini? Ini jelas bukan bagian dari sihir Asteria yang kukenal," bisik Kaelen dengan suara yang bergetar hebat.

"Ini adalah sihir dari mereka yang sudah kehilangan segalanya dan bangkit dari abu kehancuran," sahut Aurelia dengan nada absolut. "Dengarkan aku dengan baik, Kaelen. Aku butuh kau tetap bertahan di posisimu saat ini. Jadilah mata dan telingaku di luar sana. Cari tahu semua informasi tentang sekte gelap yang memberikan asupan sihir hitam pada Elena. Jangan selamatkan aku dengan pedangmu, tapi selamatkan aku dengan informasimu."

Kaelen terdiam cukup lama dalam posisi berlutut, menatap wanita di depannya seolah-olah ia sedang melihat sosok asing yang mengenakan kulit Elara. Ia merasakan martabat penguasa yang sangat kuat memancar dari Aurelia—martabat seorang pemimpin yang tidak meminta perlindungan, melainkan memberikan instruksi strategis yang presisi.

"Siapa... siapa kau sebenarnya, Elara?" tanya Kaelen dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh dengan keraguan.

Aurelia terdiam sejenak. Keinginan untuk meneriakkan identitas aslinya sangatlah kuat, namun ia menahannya dengan keras demi strategi besar. "Aku adalah pembalasan yang selama ini kau tunggu-tunggu, Kaelen. Percayalah padaku sepenuhnya."

Kaelen menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyentuhkan dahinya ke tangan Aurelia yang masih terikat sisa rantai sebagai tanda kesetiaan ksatria. "Baiklah. Jika itu adalah keinginan mutlakmu, Putri. Aku akan menjadi bayanganmu yang paling setia. Tapi jika mereka mencoba membakarmu lagi... aku akan meratakan seluruh istana ini hingga ke fondasinya meski aku harus mati sendirian di sana."

"Terima kasih atas kesetiaanmu, Kaelen," bisik Aurelia with gentle, memberikan sedikit sentuhan kemanusiaan yang hangat pada pria yang selalu berdiri di sisinya itu. "Sekarang pergilah segera. Patroli penjara akan kembali melakukan pengecekan saat fajar menyingsing."

Kaelen bangkit berdiri, menatap Aurelia untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang penuh dengan campuran cinta, kesedihan, dan harapan, sebelum akhirnya kembali memanjat ke arah jalur ventilasi yang gelap dan menghilang tanpa jejak.

Fajar yang Dingin

Aurelia kini kembali dalam kesendiriannya yang sunyi. Ia merasakan sisa energi panas dalam nadinya telah mencapai titik stabil. Luka-lukanya memang masih terlihat mengerikan secara visual, namun sihir Void telah berhasil mengisolasi reseptor rasa sakitnya sehingga ia bisa berfungsi dengan normal di bawah tekanan.

Ia memejamkan mata, memproses secara kognitif semua kejadian ekstrem malam ini. Ia telah berhasil melewati ujian api yang traumatis. Ia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa memori kelam masa lalu bisa ditransformasikan menjadi senjata yang mematikan. Meskipun tangannya masih sedikit gemetar saat bayangan wajah Valerius muncul di benaknya, gemetar itu bukan lagi merupakan tanda ketakutan, melainkan antisipasi dingin akan saat di mana ia yang akan memegang kendali atas obor kematian itu sendiri.

"Besok... panggung permainan ini akan beralih ke ruang sidang agung kekaisaran," batinnya dengan fokus yang tajam.

Ia tahu bahwa Elena tidak akan berhenti hanya setelah penyiksaan api ini. Elena pasti akan mencoba memfitnahnya dengan cara yang jauh lebih licin dan beracun. Namun, Aurelia sudah bersiap sepenuhnya. Dengan energi panas yang kini tersimpan rapi di nadinya, ia memiliki modal energi untuk melakukan manuver sihir yang tidak akan pernah disangka-sangka oleh Elena maupun para penyihir istana lainnya.

Fajar mulai menyingsing secara perlahan, mengirimkan secercah cahaya abu-abu yang pucat melalui celah kecil di pintu besi ruang bawah tanah. Aurelia menegakkan punggungnya dengan sempurna, menanti suara langkah kaki para penjaga dengan tenang. Ia bukan lagi seorang tawanan yang hancur dan patut dikasihani. Ia adalah badai sunyi yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledak dan menghancurkan segala sesuatu di jalannya.

"Datanglah padaku," bisiknya pada cahaya fajar yang dingin. "Mari kita lihat bersama, siapa di antara kita yang akan terbakar menjadi abu kali ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!