NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Julian menuntun Kenzie menaiki tangga kayu yang berderit, suara yang seolah-olah menghitung detak waktu di dalam rumah yang sunyi itu. Mereka berhenti di depan sebuah kamar tamu yang beraroma kayu cendana dan lavender.

Julian membuka pintu, lalu melangkah ke sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan. Ia menarik laci bawah, mengeluarkan sehelai sweater rajut berwarna gading dan celana kain yang tampak masih sangat terawat.

"Ganti pakaianmu dengan ini." ucap Julian, suaranya kembali pada nada rendah yang biasa ia gunakan di sekolah. "Ini baju milik Ibu saat ia masih muda. Mungkin sedikit longgar, tapi ini yang paling nyaman."

Kenzie menerima tumpukan kain itu. Permukaannya terasa lembut, namun ada beban sejarah yang tertinggal di serat-seratnya. "Terima kasih, Julian."

"Aku tunggu di luar. Jangan terlalu lama atau Clara akan mulai naik ke atas karena penasaran." pesan Julian singkat sebelum menutup pintu rapat-rapat.

Di dalam kamar, Kenzie segera menanggalkan hoodie dan kausnya yang basah kuyup. Kulitnya terasa dingin, bukan karena suhu udara, melainkan karena air hujan yang sempat menembus pertahanannya. Saat ia mengenakan sweater milik Elena, aroma parfum kuno yang lembut menyeruak, aroma yang mengingatkannya pada masa-masa ketika manusia masih menghargai setiap detik kehidupan karena mereka tahu itu akan berakhir.

Klik.

Kenzie membuka kembali pintu setelah selesai berganti. Julian masih berdiri di sana, bersandar di dinding koridor yang remang. Matanya menyapu penampilan Kenzie sejenak. Sweater gading itu memang agak kebesaran, membuat Kenzie tampak lebih kecil dan lebih manusiawi.

Namun, perhatian Julian tertuju pada rambut Kenzie yang masih meneteskan air, membasahi bahu sweater Elena. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Julian melangkah masuk kembali ke dalam kamar, menarik laci meja rias dan mengeluarkan sebuah hairdryer.

"Duduk." perintah Julian pendek.

Kenzie mengernyit. "Aku bisa melakukannya sendiri, Julian."

"Duduk, Kenzie. Rambutmu tebal. Jika kau turun dengan rambut basah, Ibuku akan marah karena membiarkan kau menggigil kedinginan dengan rambut itu." Julian menarik kursi kayu di depan cermin dan memandang Kenzie dengan tatapan yang tidak menerima bantahan.

Kenzie akhirnya menyerah. Ia duduk membelakangi Julian, menatap pantulan mereka di cermin tua yang permukaannya mulai berbintik hitam. Julian menyalakan alat itu. Suara dengung mesin memenuhi ruangan, memecah keheningan yang canggung di antara mereka.

Jari-jari Julian mulai bergerak di antara helaian rambut Kenzie. Gerakannya kasar namun efisien pada awalnya, namun perlahan-lahan melunak. Kenzie bisa merasakan suhu hangat dari mesin itu, namun yang lebih ia rasakan adalah sentuhan tangan Julian yang sedingin es, kontras yang aneh dengan udara panas yang dihembuskan.

Melalui cermin, Kenzie memperhatikan ekspresi Julian. Laki-laki itu tampak sangat fokus, seolah mengeringkan rambut Kenzie adalah tugas paling penting di dunia. Tidak ada sisa ketajaman dari predator yang ia lihat di lapangan basket tempo hari. Yang ada hanyalah seorang laki-laki yang terbiasa merawat sesuatu yang rapuh.

Julian terdiam sejenak, jemarinya berhenti di tengkuk Kenzie sebelum kembali bergerak. "Aku sering melakukannya untuk Ibu, dia benci tidur dengan rambut basah." ucapnya, seolah bisa membaca pertanyaan di dalam benak Kenzie.

Kenzie menatap mata Julian di cermin. "Kau sangat mencintainya?"

Julian mematikan hairdryer secara mendadak. Keheningan kembali menyerbu, lebih berat dari sebelumnya. Ia meletakkan alat itu di meja, lalu berdiri tegak di belakang Kenzie.

Kenzie memutar tubuhnya di atas kursi kayu yang berderit, memutus kontak mata melalui cermin dan kini berhadapan langsung dengan Julian. Jarak mereka begitu dekat hingga Kenzie bisa merasakan sisa panas dari mesin hairdryer yang baru saja dimatikan, namun di saat yang sama, ia merasakan aura dingin yang statis memancar dari tubuh laki-laki di depannya.

Kenzie menatap dalam ke sepasang mata biru Julian yang tidak seperti manusia biasanya, biru yang tampak seperti kristal es yang telah membeku selama ribuan tahun namun menyimpan api duka di dasarnya.

"Kau tidak pandai bersandiwara, Julian." ucap Kenzie, suaranya rendah namun tajam, membelah kesunyian kamar tamu itu.

Rahang Julian mengeras. Ia tidak mundur, namun sorot matanya berubah waspada. "Apa maksudmu?"

Kenzie tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kepahitan dari seseorang yang juga telah hidup terlalu lama dalam kebohongan. "Aku sudah melihat ribuan manusia. Aku tahu bagaimana seorang anak menatap ibunya dan aku tahu bagaimana seorang laki-laki menatap wanita yang merupakan pusat dunianya. Cara kau memegang tangannya, cara kau menatap keriput di wajahnya seolah itu adalah luka di tubuhmu sendiri, itu bukan tatapan seorang anak kepada ibu."

Kenzie berdiri, membuat tinggi badan mereka hampir sejajar meski Julian masih jauh lebih tegap. "Dia bukan Ibumu. Dia adalah istrimu, bukan? Dan Clara, gadis kecil yang hampir memanggilmu Ayah tadi dia adalah putrimu."

Julian mematung. Keheningan di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen ditarik paksa keluar. Julian menatap Kenzie dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kemarahan karena rahasianya terbongkar dan kelegaan karena akhirnya ada seseorang yang bisa melihatnya tanpa topeng.

Perlahan, Julian mengembuskan napas panjang. Bahunya yang tegang sedikit merosot. Ia berjalan menjauh menuju jendela, menatap hujan yang masih menghantam kaca dengan brutal.

"Siapa kau sebenarnya, Julian?" tanya Kenzie lagi, menuntut jawaban. "Dan kenapa kau tinggal di rumah yang penuh dengan sandiwara menyedihkan ini?"

Julian terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia berbalik. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat bayangannya tampak panjang dan kelam di lantai.

"Aku adalah seorang Aethern." bisik Julian. Kata itu keluar dari bibirnya seperti sebuah pengakuan dosa. "Kaum kami tidak lahir dari rahim manusia. Kami adalah sisa-sisa dari energi murni yang terjebak dalam bentuk fisik. Kami tidak menua, kami tidak sakit dan secara teknis kami tidak bisa mati oleh waktu."

Julian berjalan mendekati sebuah meja kecil di sudut kamar, mengambil sebuah bingkai foto tua yang warnanya sudah memudar. Di sana, tampak Julian dengan wajah yang sama persis seperti sekarang, sedang berdiri di samping seorang wanita muda yang sangat cantik. Wanita itu adalah Elena saat masih muda.

"Aku bertemu Elena empat puluh tahun yang lalu." kenang Julian, suaranya berubah parau. "Saat itu aku mengira aku bisa hidup sebagai manusia. Aku mencintainya dan dia menerima monster di dalam diriku. Kami menikah. Dia tahu aku tidak akan pernah menua dan dia sepakat untuk merahasiakannya. Namun, waktu adalah musuh yang paling jujur. Dia menua, Kenzie. Dia perlahan-lahan layu, sementara aku tetap terjebak dalam tubuh laki-laki berusia tujuh belas tahun ini."

Julian meletakkan foto itu kembali dengan tangan yang sedikit bergetar. "Clara adalah putri bungsu kami yang terlahir sebagai pewaris Aethern sempurna, sama sepertiku. Dia lahir saat Elena sudah mulai menua, sebuah keajaiban yang seharusnya tidak terjadi. Anak pertama ku pergi ke luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya. Sedangkan anak kedua ku ..." Julian menggantung ucapannya, seperti enggan untuk melanjutkannya.

Julian memalingkan wajahnya, seolah-olah menyebut nama itu saja sudah cukup untuk menyayat udara di antara mereka. Cahaya kilat dari balik jendela menyinari profil wajahnya yang tajam selama satu detik, memperlihatkan gurat kepedihan yang selama ini ia kunci rapat.

"Anak keduaku adalah Lyana. Lyana Arabell Klein. Murid baru di Arcandale tempo hari." bisik Julian. Suaranya terdengar seperti pasir yang digiling. "Dan Elena, dia adalah istri keduaku. Aku pernah memiliki kehidupan lain sebelum ini, jauh sebelum aku menginjakkan kaki di kota ini."

Kenzie terpaku. Potongan teka-teki itu mulai menyatu, namun gambaran yang muncul jauh lebih kelam dari yang ia bayangkan.

"Istri pertamaku meninggal lima tahun sebelum aku menikahi Elena, karena sebuah kecelakaan tragis. Kami memiliki seorang anak tunggal yang juga telah tiada karena kecelakaan waktu akan berangkat kerja. Dia meninggal di usia 30 tahun." lanjut Julian. Ia berjalan perlahan mengitari ruangan, jemarinya menyentuh permukaan meja kayu seolah sedang meraba sisa-sisa memori. "Mendiang anak tunggalku itu memiliki seorang istri bernama Stefanny. Dialah yang membawa Lyana pergi. Dia membawa kabur putriku saat aku sedang terpuruk dalam duka atas penuaan Elena."

Kenzie mendekat, rasa ingin tahunya bercampur dengan simpati yang asing. "Tapi kenapa? Kenapa Stefanny membawa Lyana?"

Julian tertawa getir, suara yang hampa tanpa sedikit pun rasa humor. "Karena Lyana adalah sebuah kegagalan yang indah. Sebagai seorang Aethern, Lyana mewarisi darahku, namun darah itu cacat. Tubuhnya tidak mampu mengolah energi murni dengan sempurna seperti aku. Dia memang abadi, tapi keabadiannya adalah siksaan. Dia membutuhkan asupan energi luar, darah atau esensi kehidupan lain untuk menambal keretakan di dalam sel-selnya. Stefanny menyadari itu. Dia memanfaatkan kondisi Lyana, mencuci otaknya dan mengubahnya menjadi monster yang haus akan kemurnian untuk menyambung keberadaannya yang rusak. Tapi di balik itu semua, niat Stefanny adalah lain. Dia ingin kehidupan abadi sepertiku, dan dia tidak mungkin bisa memanfaatkanku. Stefanny menggunakan Lyana sebagai alat untuk mencapai tujuannya."

Julian berbalik, matanya berkilat menatap Kenzie. "Itulah alasan Lyana ada di sini, di Arcandale dan mengincarmu. Dia tidak datang sebagai seorang putri yang merindukan ayahnya. Dia datang sebagai pemangsa yang membutuhkan darah murni seperti milikmu untuk menyembuhkan kecacatannya. Stefanny mengirimnya untuk mengambil apa yang tidak bisa kuberikan padanya."

Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat dingin. Kenzie bisa merasakan beban sejarah yang dipikul Julian, seorang pria yang terjebak dalam tubuh remaja, yang harus menyaksikan istri pertamanya mati, anaknya mati, istri keduanya menua dan putri keduanya menjadi monster.

Julian berjalan mendekati Kenzie, menatapnya dengan intensitas yang mengerikan. "Dan kau Kenzie? Aku tahu kau bukan manusia biasa. Kau memiliki aroma yang jauh lebih murni daripada kaum Aethern. Aku juga tahu kau mungkin menyadarinya, bahwa aku pun berbeda."

"Lyana sepertinya tidak hanya didasari oleh Stefanny, tapi ada sesuatu yang jauh lebih besar yang membuatnya berani seperti sekarang. Seseorang yang sama sepertiku, yang mungkin juga sudah mengendus keberadaanmu." Julian mendongak, matanya yang biru kini tampak berkaca-kaca. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau ada di kota yang menyedihkan ini?"

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!