NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kesalahpahaman Tingkat Dewa

Bunyi tetesan air yang jatuh membentur lantai batu memecahkan keheningan absolut di Dapur Luar. Hawa dingin yang mematikan, yang sebelumnya mencengkeram ruangan itu hingga ke sumsum tulang, perlahan-lahan mulai mencair. Lapisan es tipis yang menutupi tepi wajan-wajan raksasa retak dan berubah menjadi embun, mengalir turun membawa noda jelaga.

Di tengah genangan air yang mulai terbentuk, Su Qingxue berdiri mematung. Jubah sutra biru esnya yang biasanya selalu berkibar oleh aura energi di sekelilingnya, kini jatuh diam membungkus tubuh rampingnya. Napasnya, yang sebelumnya teratur bagai detak jam air kosmik, kini sedikit tidak beraturan. Dadanya naik turun dalam ritme yang pelan namun kentara.

Matanya yang sebiru telaga beku tidak berkedip menatap isi kotak kayu cendana hitam di depannya. Seratus delapan irisan Urat Naga Tanah tersusun rapi, memancarkan pendaran cahaya kemerahan yang lembut, membuktikan bahwa urat spiritual di dalam daging itu sama sekali tidak tersentuh oleh aura pedangnya.

Namun, bukan daging itu yang membuat pikiran Su Qingxue terguncang hebat. Melainkan tangannya sendiri.

Perlahan, seolah-olah lengannya terbuat dari porselen yang sangat rapuh, Su Qingxue mengangkat tangan kanannya setinggi dada. Jari-jarinya yang seputih salju dan ramping itu sedikit gemetar. Di Puncak Teratai Salju, dia telah mengayunkan pedangnya jutaan kali. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun merenung di bawah air terjun es, memaksakan tubuhnya melampaui batas manusia untuk mencapai 'Niat Pedang'. Guru spiritualnya, Tetua Puncak, selalu mengatakan bahwa pedangnya terlalu kaku, terlalu dipenuhi oleh obsesi untuk menjadi sempurna.

Dan hari ini, di sebuah dapur yang bau lemak babi, di bawah panduan suara menguap seorang pelayan rendahan yang bahkan tidak repot-repot berdiri dari bangkunya, Su Qingxue tanpa sengaja menyentuh ambang pintu 'Alam Alami'—sebuah kondisi di mana pedang dan alam semesta bergerak tanpa paksaan.

Jangan membelah sungainya, tebaslah di antara celah airnya.

Jadilah semalas mungkin.

Kalimat-kalimat itu terus bergema di benak Su Qingxue. Bagi Lin Fan, itu adalah keluhan murni dari seorang pria yang malas bergerak. Namun bagi sang jenius pedang, kalimat itu terdengar seperti sutra kuno yang diturunkan langsung dari langit. Sebuah filosofi tingkat dewa yang menyamar dalam bentuk kemalasan!

Mata Su Qingxue perlahan terangkat, beralih dari tangannya yang gemetar menuju pemuda berjubah abu-abu kumal di sudut ruangan.

Lin Fan masih dalam posisi yang sama. Punggung melengkung, siku bertumpu pada paha, tangan menopang dagu. Bedanya, kelopak matanya kini hampir sepenuhnya tertutup. Dia sedang mengunyah sisa rasa manis dari Pil Pengumpul Qi di mulutnya, sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa dia baru saja menerobos ke Tingkat 3 Pemurnian Tubuh secara pasif.

Bzzzt.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, pandangan Lin Fan berubah. Hadiah sistemnya, 'Mata Persepsi Malas', aktif secara otomatis tanpa perlu dia mengalirkan setetes pun Qi. Dunia di depan matanya mendadak meredup, kehilangan warna aslinya dan berubah menjadi kanvas abu-abu gelap. Sebagai gantinya, garis-garis cahaya bersinar terang dari segala arah. Dia bisa melihat aliran energi panas dari tungku api, memancar seperti kabut oranye.

Namun, yang paling mencolok adalah sosok Su Qingxue. Di mata Lin Fan, tubuh gadis itu dipenuhi oleh jaringan urat-urat bercahaya biru es yang sangat indah dan rumit. Aliran energinya murni dan kuat, mengalir mulus seperti sungai musim dingin. Namun, tepat di area dadanya, dekat dengan letak jantung, aliran biru itu bertabrakan dan membentuk sebuah simpul energi yang sangat kusut, berdenyut liar, dan memancarkan warna ungu gelap yang berbahaya.

Ah, jadi itu penyumbatan meridiannya, batin Lin Fan, kelopak matanya berkedut malas. Kelihatannya seperti kabel charger yang kusut di dalam tas. Hanya melihatnya saja sudah membuatku merasa lelah. Butuh setidaknya sepuluh ribu kalori dan fokus tingkat tinggi untuk mengurai simpul seburuk itu. Untung saja bukan aku tabibnya.

Dengan satu kedipan pelan, Lin Fan menonaktifkan penglihatan itu. Dunia kembali berwarna normal. Dia membuang napas panjang dari hidungnya, sebuah embusan yang menggeser sehelai rambut kotor yang jatuh di dahinya.

"Kau..." Suara Su Qingxue memecah keheningan yang panjang itu. Nada dingin dan otoriternya telah lenyap sama sekali, digantikan oleh keraguan dan rasa hormat yang tertahan, sebuah emosi yang sangat asing bagi lidahnya. Ujung sepatu botnya bergerak setengah inci, tubuhnya condong sedikit ke depan—sebuah postur yang menunjukkan ketertarikan ekstrem. "Bimbinganmu tadi... itu bukan kebetulan. Kau dengan sengaja menuntunku melepaskan obsesiku pada ketajaman, dan membiarkan pedangku mengikuti hukum alam."

Di belakang Su Qingxue, Kepala Koki Wang yang sedari tadi bersujud, perlahan mengangkat kepalanya dari lantai es yang mulai mencair. Dahinya memar dan berdarah, wajahnya basah oleh campuran air mata dan keringat. Ketika dia mendengar kata-kata Murid Inti itu, rahangnya terbuka lebar. Matanya yang sipit melotot menatap punggung Lin Fan dengan horor absolut.

Bimbingan? Murid Inti Su Qingxue... jenius nomor satu sekte... berterima kasih atas bimbingan dari sampah Tingkat 1... eh, ralat, Tingkat 3?! Pikiran Wang Ta rasanya ingin meledak. Kakinya lemas seketika. Jika Lin Fan benar-benar seorang ahli tersembunyi yang sedang menyamar, maka semua makian dan tendangan yang sering Wang Ta arahkan pada tumpukan kubis tempat Lin Fan tidur adalah tiket VIP menuju neraka! Wang Ta buru-buru menundukkan kepalanya lagi, kali ini membenturkannya ke genangan air dengan bunyi ciprat yang menyedihkan, berusaha menyembunyikan eksistensinya yang gemuk.

Lin Fan, di sisi lain, hanya memiringkan kepalanya, memindahkan tumpuan dagunya dari tangan kiri ke tangan kanan. Otot lehernya terasa sedikit pegal.

"Hukum alam apanya," gerutu Lin Fan pelan, mengusap tengkuknya dengan tangan yang bebas. "Aku hanya tidak ingin mendengar suara berisik pedangmu menghantam meja jagalku. Dapur ini sudah cukup bising tanpa harus ditambah konser logam murahan. Sekarang, Nona, urat naga itu sudah terpotong dengan rapi. Sebaiknya kau segera membawanya ke tabibmu. Simpul di dekat jantungmu itu semakin lama warnanya semakin jelek. Jika kau telat satu jam lagi, aliran darahmu akan membeku dan kau akan mati."

Mata Su Qingxue membelalak sempurna. Sekali lagi, pelayan ini membaca kondisinya seolah-olah dia memiliki mata dewa yang bisa menembus tulang dan daging. Dan dia mengatakannya dengan nada sedatar orang yang mengomentari cuaca mendung. Tidak ada kesombongan karena berhasil menebak, tidak ada niat untuk memeras, hanya... ketidaktertarikan mutlak.

Tangan kanan Su Qingxue bergerak dengan sangat hati-hati, sebuah kontras yang tajam dengan gerakan angkuhnya saat pertama kali memasuki dapur. Dia menutup kotak kayu cendana itu dengan bunyi klik yang halus, menyegel hawa energi bumi di dalamnya. Dia lalu mengangkat kotak itu dan memeluknya di depan dada, melindungi satu-satunya harapannya.

Gadis itu tidak langsung berbalik pergi. Dia berdiri diam, matanya yang sebiru telaga menyusuri setiap inci dari penampilan Lin Fan. Jubah abu-abu yang kebesaran, noda debu di ujung lengan baju, postur punggung yang membungkuk layaknya udang rebus, dan rambut yang diikat sembarangan. Di mata orang biasa, ini adalah wujud dari seorang pecundang tanpa masa depan. Namun, di mata Su Qingxue yang baru saja mengalami pencerahan, penampilan kumal ini tiba-tiba terasa... sangat mendalam.

Ini pasti 'Dao Kekosongan', pikir Su Qingxue, jantungnya berdegup lebih cepat. Buku-buku kuno di paviliun sekte menyebutkan bahwa para ahli tingkat dewa sering membuang segala bentuk kemewahan dan ego, kembali ke wujud manusia paling dasar untuk menyatu dengan alam. Pria ini... kemalasannya bukanlah kelemahan. Itu adalah perisai pelindung dari hiruk-pikuk duniawi!

Jika Lin Fan bisa mendengar isi pikiran Su Qingxue saat ini, dia mungkin akan memuntahkan darah dalam jumlah besar.

Su Qingxue mengambil satu langkah panjang ke depan, mengabaikan genangan air kaldu yang kotor. Jaraknya dengan bangku Lin Fan kini hanya tersisa kurang dari dua meter. Aroma bunga teratai es yang samar menguar dari jubahnya, menyapu hidung Lin Fan dan membuatnya sedikit mengernyit karena hidungnya alergi pada serbuk sari.

"Siapa namamu?" tanya Su Qingxue. Suaranya tidak lagi menggelegar memerintah, melainkan memiliki bobot keseriusan yang mendalam.

"Sudah kubilang tadi, Lin Fan," jawab pemuda itu, menguap untuk kesekian kalinya. Matanya mulai berair. "Tolong jangan suruh aku mengulangnya lagi. Berbicara menguras banyak energi."

Su Qingxue mengangguk pelan, sebuah gerakan kaku yang terlihat seolah dia baru pertama kali melakukannya dalam hidupnya. Tangannya merogoh ke dalam kantong spasial yang tergantung di pinggangnya yang ramping. Dengan kilatan cahaya perak yang singkat, sebuah lencana giok putih berbentuk bunga teratai yang sedang mekar muncul di telapak tangannya. Dia mengulurkan lencana itu tepat ke depan wajah Lin Fan.

"Lin Fan," ucap Su Qingxue, menatap lurus ke dalam pupil hitam pemuda itu yang tampak tidak fokus. "Bakatmu dan pemahamanmu tentang aliran energi terlalu sia-sia jika dibiarkan membusuk di dapur rendahan ini. Ambil lencana ini. Ini adalah tanda identitas pribadiku. Mulai hari ini, aku secara resmi mengangkatmu dari Dapur Luar. Ikutlah denganku ke Puncak Teratai Salju. Kau tidak akan pernah lagi menyentuh sayuran kotor atau menunduk pada siapa pun di sekte luar. Aku akan menjamin sumber dayamu, dan sebagai gantinya... kau hanya perlu menjadi pembimbing eksklusif untuk jalur pedangku."

Kata-kata itu jatuh bagai bom spiritual berkekuatan penuh di tengah Dapur Luar.

Ratusan murid pelayan yang masih bersujud serentak mengangkat kepala mereka, lupa akan rasa takut mereka. Mulut mereka ternganga lebar hingga dagu mereka hampir menyentuh lantai basah. Zhao Er, yang berada paling dekat, mencengkeram kepalanya sendiri seolah takut telinganya berhalusinasi.

Puncak Teratai Salju! Itu adalah surga bagi para kultivator! Tempat di mana udara dipenuhi energi spiritual murni, dan tanahnya ditumbuhi ramuan berharga. Diangkat langsung oleh Murid Inti Utama untuk menjadi pembimbing pribadinya? Itu bukan lagi sekadar lompatan nasib; itu adalah seekor ikan mas yang melompati gerbang naga dan langsung menjadi dewa! Uang, status, kehormatan, sumber daya—semuanya diserahkan di atas nampan emas!

Kepala Koki Wang Ta menggigit lidahnya sendiri untuk memastikan dia tidak sedang bermimpi. Rasa asin darah yang memenuhi mulutnya menyadarkannya bahwa ini adalah kenyataan. Matanya menatap lurus ke arah lencana giok putih yang berkilauan di tangan Su Qingxue dengan rasa iri yang membuat ususnya serasa dipelintir.

Semua mata kini tertuju pada Lin Fan. Mereka menunggu pemuda itu melompat dari bangkunya, berlutut, dan menangis tersedu-sedu mencium ujung sepatu bot Su Qingxue sebagai tanda terima kasih atas keajaiban surga ini.

Lin Fan menatap lencana giok putih yang disodorkan tepat di depan hidungnya. Lencana itu memancarkan hawa sejuk yang menyegarkan, ukirannya sangat halus dan berkilauan memantulkan cahaya dari tungku api yang tersisa. Matanya berkedip pelan. Pikirannya, untuk pertama kalinya sejak dia bereinkarnasi, memproses informasi dengan sedikit lebih cepat.

Puncak Teratai Salju.

Di kehidupan sebelumnya, Lin Fan pernah membaca panduan wisata sekte ini. Puncak Teratai Salju adalah puncak tertinggi kedua di Benua Langit Azure. Ketinggiannya menembus awan. Berada di lingkungan yang ekstrem, dipenuhi badai salju abadi, dan yang paling penting... tidak ada kereta gantung.

Untuk mencapainya, seseorang harus menaiki sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga batu yang berlapis es licin, batin Lin Fan, wajahnya mendadak memucat.

Bukan hanya itu. Menjadi 'pembimbing eksklusif'? Itu hanyalah bahasa halus untuk 'guru privat'. Itu artinya dia harus menyusun kurikulum, mengawasi latihan, memberikan evaluasi, dan meladeni obsesi gadis ini setiap hari. Itu adalah pekerjaan purna waktu dengan risiko tinggi! Belum lagi suhu di Puncak Teratai Salju akan memaksanya menggunakan energi Qi selama dua puluh empat jam sehari hanya agar darahnya tidak membeku saat tidur.

Itu bukan surga. Itu adalah definisi murni dari neraka korporat dengan sistem kerja paksa dalam cuaca minus derajat celcius!

[Ding! Terdeteksi tawaran pekerjaan yang mengancam prinsip Kemalasan Mutlak Host.]

[Misi Harian Kelima Diperbarui: Tolak tawaran Murid Inti Su Qingxue dengan tegas. Panjat tebing dan pekerjaan lembur adalah musuh alami Host. Tetaplah menjadi pelayan dapur yang santai.]

[Hadiah Misi: 'Aura Bantalan Awan' (Pasif - mengubah semua permukaan padat yang bersentuhan dengan tubuh Host terasa seempuk kasur bulu angsa kualitas dewa), Pengalaman Kultivasi +400]

Mendengar hadiah misi tersebut, secercah cahaya kehidupan dan semangat tiba-tiba muncul di mata sayu Lin Fan. Kasur bulu angsa kualitas dewa? Bukankah itu berarti dia bisa tidur nyenyak bahkan jika berbaring di atas tumpukan kerikil atau pedang berduri sekalipun?!

Dengan gerakan yang sangat pasti—namun tetap menggunakan seminimal mungkin otot—Lin Fan perlahan mengangkat tangannya. Ujung jari telunjuk dan jari tengahnya menyentuh pinggiran lencana giok putih di tangan Su Qingxue.

Napas semua orang tertahan. Zhao Er tersenyum bahagia melihat 'kakak seperguruan' barunya akan segera terbang ke langit.

Namun, alih-alih mengambil lencana itu, jari-jari Lin Fan justru mendorong lencana giok itu kembali ke arah Su Qingxue dengan tenaga yang sangat pelan.

"Tidak, terima kasih," ucap Lin Fan tegas, meski suaranya masih terdengar seperti orang yang baru bangun tidur.

Dia menarik tangannya kembali dan menyilangkannya di depan dada, bahunya kembali merosot hingga punggungnya menyentuh dinding kayu di belakangnya. Dia menatap Su Qingxue yang kini mematung dengan ekspresi kosong.

"Sembilan puluh sembilan ribu anak tangga terlalu tinggi. Lututku lemah, memanjat akan merusak tulang rawanku," lanjut Lin Fan, memberikan alasan yang paling absurd dan jujur dari lubuk hatinya. "Selain itu, udara di puncakmu terlalu dingin. Aku harus membakar ekstra kalori hanya untuk menggigil. Terlebih lagi, aku menolak mengambil pekerjaan purna waktu. Gaji tinggi tanpa waktu istirahat adalah penipuan terbesar di dunia."

Lin Fan menunjuk ke arah tumpukan karung kubis di sudut gelap dapur dengan ujung dagunya.

"Tempatku di sini. Di atas kubis. Bersama panci dan wajan. Dapur ini hangat, aku bisa mencuri makan siang jika aku lapar, dan tidak ada yang memaksaku untuk berpikir. Jadi, Nona Su... terima kasih atas tawarannya, tapi aku dengan sopan menolak. Bawalah dagingmu dan kembalilah ke gunung esmu. Waktu tidur siangku sudah tertunda terlalu lama."

Keheningan yang menyusul kata-kata Lin Fan kali ini bukanlah keheningan akibat hawa dingin, melainkan keheningan dari alam semesta yang seolah-olah baru saja berhenti berputar.

Lengan Su Qingxue yang masih terulur membeku di udara. Lencana giok putih di tangannya terasa tiba-tiba sangat berat. Dia berkedip lambat. Pikirannya, yang mampu menganalisis jutaan formasi pedang dalam hitungan detik, mendadak blank.

Ditolak?

Dia, Su Qingxue, Murid Inti jenius, kecantikan nomor satu sekte, baru saja ditolak oleh seorang pelayan dapur rendahan... karena alasan tidak ingin menaiki tangga dan takut kedinginan?!

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!