Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan dari Bayangan
Malam turun perlahan di atas kota.
Lampu-lampu gedung tinggi mulai menyala satu per satu, membentuk lautan cahaya yang terlihat indah dari kejauhan.
Namun di dalam dunia bisnis, malam seperti ini sering kali menjadi waktu yang paling berbahaya.
Karena banyak keputusan besar tidak dibuat di ruang rapat.
Melainkan di tempat-tempat yang tidak terlihat.
Di lantai dua puluh satu gedung Hartono Group, Rania masih berada di ruang kerjanya.
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Hanya beberapa lampu yang masih menyala di koridor.
Di meja kerjanya, beberapa dokumen terbuka.
Laporan audit internal.
Rencana komunikasi untuk media.
Dan daftar investor yang harus dihubungi secara pribadi.
Rania menekan pelipisnya pelan.
Hari itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Ketukan ringan terdengar di pintu.
“Masuk,” katanya tanpa melihat.
Arsen masuk dengan langkah cepat.
Namun kali ini ekspresinya berbeda.
Tidak hanya serius.
Tegang.
Rania langsung menyadarinya.
“Ada apa?”
Arsen tidak langsung duduk.
Ia meletakkan tablet di meja.
“Kita diserang.”
Rania mengerutkan kening.
“Media?”
Arsen menggeleng.
“Pasar.”
Ia membuka grafik di layar tablet.
Rania melihat angka itu.
Beberapa detik ia tidak berbicara.
Harga saham Hartono Group turun hampir tujuh persen dalam dua jam terakhir.
“Ini tidak normal,” kata Rania pelan.
Arsen mengangguk.
“Ada seseorang yang menjual saham dalam jumlah besar.”
Rania menatap grafik itu lagi.
“Investor besar?”
Arsen menarik napas.
“Beberapa perusahaan investasi… dan satu nama yang cukup mengejutkan.”
Rania menatapnya.
“Siapa?”
Arsen menjawab pelan.
“Perusahaan cangkang milik Pak Darmawan.”
Ruangan langsung terasa dingin.
Rania menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ia sudah menduga pria itu tidak akan tinggal diam.
Namun ini jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Arsen melanjutkan,
“Dia mencoba menciptakan kepanikan pasar.”
Rania mengangguk kecil.
“Jika harga saham jatuh cukup dalam…”
Arsen menyelesaikan kalimatnya.
“Dia bisa membeli kembali saham dengan harga murah.”
Rania tersenyum tipis.
“Dan kembali sebagai pahlawan yang menyelamatkan perusahaan.”
Arsen menghela napas.
“Dia memainkan permainan yang sangat kotor.”
Beberapa detik ruangan itu sunyi.
Kemudian Rania berdiri.
“Kita tidak bisa membiarkan ini.”
Arsen menatapnya.
“Apa rencanamu?”
Rania berjalan ke jendela.
Lampu kota terlihat seperti bintang-bintang di bawah sana.
“Ada dua cara menghentikan kepanikan pasar.”
Ia menoleh pada Arsen.
“Pertama, kita meyakinkan investor.”
Arsen mengangguk.
“Dan yang kedua?”
Rania berkata pelan,
“Kita memberi pasar sesuatu yang lebih besar untuk dibicarakan.”
Arsen mengangkat alis.
“Maksudmu?”
Rania mengambil ponselnya dari meja.
“Aku akan mengadakan konferensi pers besok pagi.”
Arsen sedikit terkejut.
“Itu berisiko.”
Rania mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia menambahkan dengan tenang,
“Tapi kadang satu-satunya cara menghentikan badai… adalah berjalan langsung ke tengahnya.”
Arsen menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Baik.”
Ia mengambil tablet dari meja.
“Aku akan menyiapkan semuanya.”
Ketika Arsen hampir keluar dari ruangan—
Ponsel Rania tiba-tiba bergetar.
Nomor yang muncul tidak dikenal.
Rania menatap layar itu beberapa detik sebelum menjawab.
“Halo?”
Suara di ujung telepon terdengar pelan.
Namun jelas.
“Selamat malam, Rania.”
Rania langsung mengenali suara itu.
Pak Darmawan.
Ekspresinya berubah sedikit.
Arsen yang masih berada di dekat pintu langsung menoleh.
Rania berkata dengan nada datar,
“Kau berani meneleponku.”
Di seberang telepon terdengar tawa kecil.
“Kenapa tidak?”
Ia melanjutkan,
“Bagaimanapun juga… kita pernah bekerja sama.”
Rania tidak tertarik bermain kata-kata.
“Apa yang kau inginkan?”
Pak Darmawan menjawab santai.
“Aku hanya ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan.”
Rania berdiri lebih tegak.
“Permainan saham itu punyamu?”
Tawa kecil terdengar lagi.
“Kau pintar.”
Rania berkata dengan dingin,
“Jika kau pikir ini akan menjatuhkanku, kau salah.”
Pak Darmawan menjawab pelan,
“Ini bukan tentang menjatuhkanmu.”
Ia berhenti sebentar.
“Ini tentang membuatmu menyadari sesuatu.”
Rania mengerutkan kening.
“Apa?”
Pak Darmawan berkata dengan suara yang berubah dingin.
“Bahwa dunia bisnis bukan tempat untuk orang jujur.”
Rania tersenyum tipis.
“Kalau begitu kau pasti sangat nyaman di dalamnya.”
Beberapa detik tidak ada suara.
Kemudian Pak Darmawan berkata lagi.
“Aku akan memberimu satu kesempatan.”
Rania tidak menjawab.
“Jika kau mengundurkan diri dari posisimu…”
Ia melanjutkan,
“…aku akan menghentikan semua ini.”
Rania hampir tertawa.
“Jadi itu rencanamu?”
Pak Darmawan menjawab santai.
“Bisnis adalah tentang negosiasi.”
Rania berkata pelan,
“Kalau begitu dengarkan ini.”
Ia berhenti sebentar.
“Aku tidak akan mundur.”
Suasana di telepon menjadi sunyi.
Kemudian Pak Darmawan berkata dengan suara yang lebih dingin dari sebelumnya.
“Kalau begitu bersiaplah.”
Rania menunggu.
“Besok pagi…”
Ia berhenti sebentar.
“…kau tidak hanya akan kehilangan perusahaan.”
Suara pria itu menjadi lebih pelan.
“Kau juga akan kehilangan seseorang yang sangat ingin melindungimu.”
Rania langsung menegang.
“Apa maksudmu?”
Namun telepon sudah terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Arsen berjalan mendekat.
“Apa yang dia katakan?”
Rania menatap layar ponselnya.
Ekspresinya berubah serius.
“Dia mengancam.”
Arsen mengerutkan kening.
“Ancaman apa?”
Rania tidak langsung menjawab.
Namun satu nama langsung muncul di pikirannya.
Adrian.
Ia mengambil tasnya dengan cepat.
Arsen terkejut.
“Kau mau ke mana?”
Rania menjawab singkat.
“Aku harus menemukan Adrian.”
Arsen terlihat bingung.
“Kenapa?”
Rania berkata pelan,
“Karena aku tidak yakin dia aman.”
Di tempat lain di kota, Adrian baru saja keluar dari gedung kantornya.
Parkiran sudah hampir kosong.
Ia berjalan menuju mobilnya sambil membuka kunci.
Namun sebelum ia sempat membuka pintu,
Sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depannya.
Pintu mobil itu terbuka.
Beberapa pria turun dengan cepat.
Adrian mengerutkan kening.
Namun ia tidak sempat berkata apa-apa.
Salah satu pria itu langsung memukulnya.
Dunia Adrian tiba-tiba menjadi gelap.
Dan jauh di gedung Hartono Group.
Rania berdiri di depan jendela dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
Bab 19 (Lanjutan)
Malam yang Terasa Salah
Angin malam berhembus pelan di area parkir gedung kantor Adrian.
Lampu-lampu jalan menyala pucat, memantulkan bayangan panjang di aspal yang hampir kosong.
Tubuh Adrian tergeletak di samping mobilnya.
Beberapa detik setelah pukulan itu, dunia terasa seperti tenggelam dalam kabut tebal.
Namun kesadarannya belum sepenuhnya hilang.
Suara langkah kaki terdengar samar.
Seseorang membuka pintu mobil hitam itu.
“Cepat,” kata salah satu pria dengan suara rendah.
“Masukkan dia.”
Adrian mencoba menggerakkan tangannya.
Namun tubuhnya terasa berat.
Kepalanya berdenging.
Ia hanya bisa melihat bayangan-bayangan bergerak di atasnya.
Dua orang pria mengangkat tubuhnya dengan kasar.
Salah satu dari mereka berkata,
“Bos bilang jangan sampai ada yang lihat.”
Pria lain menjawab pelan,
“Tenang. Tempat ini sudah sepi.”
Adrian mencoba membuka matanya lebih lebar.
Namun pandangannya masih kabur.
Ia hanya sempat melihat sekilas wajah salah satu pria itu sebelum kepalanya kembali terasa berat.
Pintu mobil ditutup.
Mesin mobil menyala.
Dan kendaraan itu melaju meninggalkan area parkir.
Di gedung Hartono Group, Rania masih berdiri di depan jendela.
Perasaannya semakin tidak nyaman.
Ia tidak tahu kenapa.
Namun instingnya terus mengatakan bahwa sesuatu tidak beres.
Arsen kembali ke ruangannya beberapa menit kemudian.
“Aku sudah menghubungi tim PR,” katanya.
“Mereka siap untuk konferensi pers besok pagi.”
Namun ketika melihat wajah Rania, ia berhenti.
“Ada apa?”
Rania menoleh.
“Aku tidak tahu.”
Ia menghela napas pelan.
“Tapi ancaman Pak Darmawan tadi terasa… berbeda.”
Arsen mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Rania berjalan kembali ke meja.
“Dia tidak hanya berbicara tentang perusahaan.”
Arsen menunggu.
Rania melanjutkan,
“Dia menyebut seseorang yang mencoba melindungiku.”
Arsen langsung mengerti.
“Adrian.”
Rania mengangguk.
Arsen mengambil ponselnya.
“Aku bisa mencoba menghubunginya.”
Rania mengangguk cepat.
“Lakukan.”
Arsen menekan nomor Adrian.
Beberapa detik mereka menunggu.
Nada sambung terdengar.
Namun tidak ada yang menjawab.
Arsen mencoba lagi.
Tetap sama.
Ia menurunkan ponselnya perlahan.
“Tidak diangkat.”
Perasaan tidak nyaman di dada Rania semakin kuat.
“Coba lagi.”
Arsen menghubungi nomor itu untuk ketiga kalinya.
Masih tidak ada jawaban.
Rania mengambil tasnya.
“Kita ke kantornya.”
Arsen terlihat sedikit ragu.
“Sekarang?”
Rania mengangguk tegas.
“Sekarang.”
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di lift.
Lift turun dengan cepat menuju lantai parkir.
Suasana di dalam lift sunyi.
Hanya suara mesin lift yang terdengar.
Arsen akhirnya berkata,
“Kau benar-benar khawatir.”
Rania menatap angka lantai yang terus turun.
“Aku tidak ingin menyesal nanti.”
Lift berhenti di lantai parkir.
Pintu terbuka.
Udara malam langsung menyambut mereka.
Mobil Rania sudah menunggu.
Sopirnya berdiri di samping kendaraan.
“Kita ke kantor Adrian,” kata Rania singkat.
Mobil langsung bergerak keluar dari area parkir.
Jalanan kota malam itu tidak terlalu ramai.
Lampu-lampu kendaraan terlihat seperti aliran cahaya yang panjang.
Namun di dalam mobil, suasananya terasa berat.
Arsen masih mencoba menghubungi Adrian.
Tetap tidak ada jawaban.
Rania menatap keluar jendela.
Beberapa bayangan masa lalu muncul di pikirannya.
Rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Adrian.
Makan malam yang selalu terasa sunyi.
Dan malam ketika ia meninggalkan semuanya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa beberapa tahun kemudian…
ia akan merasa cemas seperti ini untuk pria yang sama.
Arsen akhirnya berkata pelan,
“Jika sesuatu benar-benar terjadi…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Rania menjawab dengan suara rendah,
“Kita akan menemukannya.”
Mobil berhenti sekitar dua puluh menit kemudian di depan gedung kantor Adrian.
Lampu di beberapa lantai masih menyala.
Namun parkiran terlihat hampir kosong.
Rania langsung keluar dari mobil.
Langkahnya cepat.
Arsen mengikutinya.
Mereka berjalan menuju area parkir tempat mobil Adrian biasanya berada.
Ketika mereka sampai di sana, Rania langsung berhenti.
Mobil Adrian ada di sana.
Namun sesuatu terasa salah.
Pintu mobilnya sedikit terbuka.
Rania berjalan mendekat dengan langkah pelan.
Lampu parkiran memantulkan sesuatu di tanah.
Sesuatu yang gelap.
Ia berjongkok perlahan.
Tangannya menyentuh aspal.
Ketika ia mengangkat jarinya—
Ada bekas darah kecil di ujungnya.
Arsen langsung menegang.
“Rania…”
Namun wanita itu sudah berdiri.
Matanya menatap sekeliling parkiran yang kosong.
Angin malam berhembus pelan.
Namun suasana terasa jauh lebih dingin.
Rania berkata dengan suara yang hampir seperti bisikan.
“Mereka membawanya.”
Arsen mengerutkan kening.
“Siapa?”
Rania menatap kegelapan parkiran.
“Orang-orang Pak Darmawan.”
Beberapa detik mereka berdiri tanpa bergerak.
Kemudian Arsen berkata,
“Kita harus melapor ke polisi.”
Namun Rania menggeleng.
“Belum.”
Arsen terlihat bingung.
“Kenapa?”
Rania menatap mobil Adrian lagi.
“Karena ini bukan hanya penculikan.”
Ia menarik napas pelan.
“Ini pesan.”
Arsen terdiam.
Rania melanjutkan dengan suara yang lebih dingin.
“Pak Darmawan ingin aku tahu bahwa permainan ini belum selesai.”
Arsen berkata,
“Kalau begitu kita harus bertindak cepat.”
Rania mengangguk.
Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Jika Adrian benar-benar berada di tangan Pak Darmawan…
Maka perang ini baru saja berubah.
Ini bukan lagi hanya tentang perusahaan.
Ini sudah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.