Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguji Rasa
"Kalau sudah selesai diskusinya, Aluna bisa ke ruangan saya.”
Suara Arka terdengar datar, tidak tinggi, tidak tajam. Tapi cukup untuk memotong tawa kecil yang barusan pecah di antara Aluna dan Revan.
Revan menoleh pelan, lalu berbisik lirih, “Nah, tokoh utama puisi kamu datang.”
Aluna menahan senyum, lalu berdiri cepat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya—entah karena tertangkap sedang tertawa, atau karena ia tahu sorot mata Arka sejak tadi bukan sekadar sorot atasan pada bawahan.
Tok… tok…
Ketukan itu pelan. Terlalu pelan untuk seorang karyawan yang hanya ingin melapor pekerjaan.
“Masuk.”
Suara itu terdengar lebih berat dari biasanya.
Aluna membuka pintu. Ruangan itu selalu terasa lebih dingin dari ruang kerja lain. Minimalis, rapi. Aroma maskulin bercampur kayu samar mengisi udara.
“Bapak memanggil saya?
Pertanyaan formal.
Padahal di tangannya sudah ada berkas laporan campaign yang jelas akan dibahas. Mereka sama-sama tahu alasan ia dipanggil. Tapi permainan kecil itu seperti ritual tak tertulis di antara mereka.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya pelan, lalu mengangkat wajah.
“Duduk.”
Satu kata, tanpa ekspresi.
Aluna duduk di sofa panjang di sisi ruangan. Punggungnya tegak. Berkas ia letakkan rapi di pangkuannya. Ia mulai menjelaskan performa iklan, insight audiens, engagement rate, semuanya dengan suara stabil dan profesional.
Arka mendengarkan dengan tenang.
Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Lalu seperti yang sering terjadi—ia tidak kembali ke kursi kerjanya.
Ia duduk di samping Aluna, terlalu dekat.
Jarak bahu mereka hanya beberapa senti. Aluna bisa merasakan hangat tubuh pria itu meski ruangan ber-AC. Ia menahan napas sesaat, lalu kembali fokus pada berkas.
Profesional. Tetap profesional.
Arka mengambil satu lembar kertas dari tangan Aluna. Sengaja menyentuh ujung jarinya lebih lama dari seharusnya.
“Kalimat ini,” ujarnya pelan. “Terlalu lembut.”
Aluna menoleh sedikit. “Brand ini targetnya ibu muda, Pak. Jadi pendekatannya memang emosional.”
“Emosional tidak harus selembut ini.”
Nada Arka berubah tipis, tidak keras. Tapi mengandung sesuatu yang sulit didefinisikan.
Ia menatap Aluna, bukan berkasnya.
Aluna menyadari tatapan itu. Tapi ia pura-pura tidak sadar.
Pembahasan berlanjut hampir dua puluh menit. Detail demi detail, koreksi demi koreksi. Sampai akhirnya semuanya selesai.
Aluna berdiri perlahan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.”
Ia baru setengah melangkah ketika suara itu kembali terdengar.
“Siapa yang menyuruhmu pergi?”
Langkahnya terhenti.
Ia menoleh perlahan. Arka masih duduk santai, bersandar pada sofa, satu tangan terentang di sandaran belakang—posisi yang seolah tanpa sengaja membatasi ruang geraknya.
“Oh… sepertinya masih ada yang perlu dibahas, Pak?” tanya Aluna hati-hati.
Ada jeda.
“Saya mau memberimu beberapa tugas tambahan.”
Arka meraih map lain di meja, lalu menyodorkannya.
Tumpukan dokumen itu tidak tipis.
Aluna menerimanya refleks. Matanya langsung membesar.
“Pak… ini untuk campaign minggu depan, kan?"
"pagi saya mau revisinya sudah di meja saya.”
“Besok?” suaranya hampir tak percaya. “Pak, ini cukup banyak. Takut tidak keburu.”
“Itu bukan urusan saya.”
Nada Arka datar, terlalu datar.
“Saya hanya ingin hasilnya beres.”
Aluna menatap tumpukan kertas itu. Otaknya langsung menghitung waktu. Jam kerja hampir habis, jika dikerjakan berarti ia harus begadang. Lagi.
Ia teringat wajah Gavin yang menunggunya pulang, teringat makan malam sederhana mereka, teringat percakapan kecil sebelum tidur.
"Baik, Pak,” akhirnya ia menjawab pelan.
Tidak membantah—Tidak melawan.
Arka mengamatinya. Cara perempuan itu menelan protes, cara ia memilih diam daripada berdebat.
Ada sesuatu yang aneh di dada Arka.
Ia ingin Aluna melawan.
Tapi yang ia dapatkan justru kepatuhan.
Aluna berbalik, melangkah menuju pintu.
"Aura-aura yang habis ditindas oleh atasan, nih."
Ejek Revan, melangkah menuju kursi Aluna.
"Kenapa Kak?" tanya Helena penasaran.
Aluna menjatuhkan tumpukan berkas dengan kasar diatas meja.
"Kenapa sih Pak Arka suka menindas orang?"
Ucapnya kesal.
"Perasaan yang sering ditindas, kamu deh." Kata Revan.
"Iya. Kita berdua sih biasa-biasa aja."
Helena mengimbuhi.
Mendengar itu, sesuatu di dalam dada Aluna seperti ikut tertarik kencang. Kesalnya tidak lagi tipis—ia bisa merasakannya mengendap, pelan tapi pasti.
Di balik wajah profesional yang ia pasang rapi, pikirannya mulai berisik.
Kenapa selalu aku?
Ia bukan tipe karyawan yang mudah mengeluh. Revisi? Biasa. Lembur? Sudah jadi makanan sehari-hari di dunia kreatif. Teguran? Itu bagian dari proses.
Tapi dengan Arka, rasanya berbeda.
Cara Arka memandangnya tidak pernah benar-benar netral. Terlalu tajam untuk sekadar atasan menilai hasil kerja bawahan.
Dan sejak hari itu, Aluna selalu merasa… dipilih.
Bukan dipilih untuk dipuji.
Bukan dipilih untuk dimanjakan.
Melainkan dipilih untuk diuji.
Ia lebih sering pulang paling malam. Lebih sering menerima email revisi lewat tengah malam. Lebih sering dipanggil ke ruangan itu hanya untuk membahas hal-hal kecil yang sebenarnya bisa selesai lewat pesan singkat.
Satu kata dianggap kurang kuat. Satu kalimat dinilai terlalu lembut. Satu metafora disebut tidak tepat sasaran.
Padahal tulisan yang sama, ketika dibaca Revan, hanya mendapat anggukan puas.
“Bagus kok, paling tinggal poles dikit,” begitu kata Creative Lead itu.
Namun di tangan Arka, naskah yang sama bisa berubah menjadi lembaran penuh coretan merah.
Kadang Aluna ingin bertanya langsung, Apa memang saya seburuk itu?
Tapi setiap kali ia mencoba mengingat ekspresi Arka saat mengoreksinya, ia justru melihat sesuatu yang lain, bukan kebencian, bukan ketidaksukaan murni.
Melainkan perhatian yang terlalu detail, terlalu fokus.
Seolah setiap huruf yang ia tulis memang sedang diawasi khusus.
Itu yang membuatnya semakin kesal.
Karena jika Arka memang tidak menyukainya, harusnya ia bersikap dingin dan cuek seperti pada karyawan lain.
Tapi ini?
Ia seperti dijadikan proyek pribadi.
Dan Aluna tidak tahu mana yang lebih melelahkan—tuntutan pekerjaannya, atau cara Arka membuatnya merasa selalu kurang, selalu harus lebih, selalu ditarik satu langkah melewati batas kemampuannya.
Ia mengepalkan tangan pelan di samping tubuhnya. Entah karena bosnya memang tidak menyukainya.
Atau justru… ada sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Dan ketidaktahuan itu jauh lebih mengganggu daripada sekadar lembur dan revisi tanpa henti.
"Kak. Aku pulang duluan ya." Helena berpamitan pulang pada Aluna.
Aluna mengangguk.
Ia melirik jam tangannya, pukul lima sore. Semua karyawan berjalan melewati Aluna yang tengah sibuk di meja kerjanya.
"Aluna. Kamu yakin nggak mau ditemenin?"
Revan merasa khawatir pada temannya itu karena harus lembur sampai malam.
"Makasih kak. Aku sudah biasa lembur sendirian kok," jawabnya sambil memberikan senyuman penuh keyakinan.
Revan mengacak pelan rambut Aluna seperti kakak iseng, lalu melenggang pergi sambil bersiul kecil.
“Kunci pintu kalau udah mau pulang!” serunya sebelum benar-benar menghilang.
Aluna mendesah pelan, membenarkan rambutnya yang berantakan. Kantor perlahan berubah sunyi, suara keyboard yang tadi bersahutan kini tinggal miliknya sendiri.
Cahaya senja yang tadi membanjiri ruangan melalui dinding kaca perlahan memudar. Jingga berubah tembaga, tembaga berubah ungu. Lalu perlahan ditelan biru gelap.
Inilah alasan mengapa ia jarang benar-benar membenci lembur.
Di jam-jam seperti ini, ketika semua orang sudah pulang dan dunia terasa menjauh, ia bisa menikmati langit senja sendirian. Terpisah kaca tebal, seolah ada jarak aman antara dirinya dan segala kerumitan hidup di luar sana.
Baginya, tidak ada yang lebih jujur daripada langit menjelang malam.
Indah, tapi sebentar.
Jam di layar komputernya menunjukkan pukul 21.07.
Aluna masih mengetik. Sesekali ia meregangkan lehernya, memutar bahu yang mulai kaku. Lampu di ruang kerja sengaja ia redupkan, hanya menyisakan cahaya meja dan bias lampu kota dari luar.
Di ruangan kaca di ujung koridor, seseorang belum pulang.
Arka berdiri dengan secangkir kopi di tangannya. Dari balik kaca, ia melihat siluet Aluna—rambut panjangnya jatuh ke satu sisi, wajahnya diterangi cahaya layar, jemarinya bergerak cepat.
Ia tidak sadar sedang diperhatikan.
Dan Arka tidak sadar sejak kapan ia terlalu lama memperhatikannya.
Pintu ruangannya terbuka pelan.
Cahaya terang dari dalam ruangan CEO itu langsung menyilaukan mata Aluna.
Ia menyipit, menoleh—lalu terdiam.
“Bapak… belum pulang?” tanyanya spontan.
Arka berjalan mendekat tanpa menjawab pertanyaan itu.
“Kenapa kamu suka gelap-gelapan?”
Suaranya rendah.
Satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi Aluna, yang lain menyentuh meja. Posisi itu membuat Aluna seperti terkurung di antara meja dan tubuhnya.
Aluna pura-pura tetap fokus pada layar.
“Lebih nyaman saja, Pak.”
Arka menatapnya beberapa detik.
“Cepat kemasi barang-barangmu. Semua berkasnya juga.”
Aluna menoleh bingung.
“Ikuti saya.”
Tanpa penjelasan.
Arka sudah melangkah pergi.
Aluna hanya bisa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya panik sendiri. Ia merapikan kertas-kertas, memasukkan laptop ke tas, lalu berlari kecil menyusul Arka yang sudah berdiri di dalam lift.
“Memangnya mau ke mana, Pak?”
“Kamu pikir apa?” Arka menatap lurus ke depan. “Tetap ngerjain deadline kamu.”
Aluna mengerucutkan bibirnya kesal. Lift turun dalam diam yang canggung.
Di parkiran, Arka membuka pintu mobilnya.
“Masuk.”
Aluna ragu.
“Kita nggak punya banyak waktu,” lanjut Arka tegas. “Kamu mau selesai jam tiga pagi di kantor?”
Logikanya masuk akal, perasaannya tidak. Tapi ia tetap masuk.
Perjalanan diisi sunyi. Kota malam berpendar di luar kaca mobil. Aluna hanya menatap bayangannya sendiri yang samar di jendela.
Arka beberapa kali meliriknya. Tanpa sadar, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar tinggi dan pencahayaan hangat.
“Ini rumah siapa, Pak?” tanya Aluna pelan.
“Rumah saya.”
Jawabannya singkat.
Jantung Aluna berdegup sedikit lebih cepat.
Namun ia mencoba berpikir profesional. Mungkin memang hanya ingin menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
Rumah itu luas, interiornya modern, bersih, rapi. Seperti tidak benar-benar dihuni.
Arka menunjuk sofa ruang tengah.
“Kerjakan di situ.”
Lalu ia naik ke lantai atas untuk membersihkan diri.
Tak lama, seorang wanita tua datang membawa segelas jus jeruk.
“Terima kasih,” ucap Aluna sopan.
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki turun dari tangga.
Aluna mendongak.
Arka kini mengenakan kaus hitam polos dan celana santai. Rambutnya sedikit basah. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi yang bukan CEO—bukan jas mahal, bukan sepatu formal, bukan aura ruang rapat.
Hanya seorang pria.
Arka duduk di seberangnya.
“Kamu lapar?”
“Lumayan, Pak. Tapi nanti saja di rumah.”
Arka tidak menjawab. Ia meraih ponsel, memesan sesuatu.
Tak lama, bel berbunyi. Makanan cepat saji memenuhi meja. Martabak coklat keju, kentang goreng, beberapa camilan. Dan satu kotak susu coklat dingin.
“Makan.”
Aluna canggung. Tapi ia tetap mengambil martabak.
Ia melirik kotak susu itu.
Hanya satu.
“Itu buat kamu.”
Aluna berhenti mengunyah. Pipi mengembung penuh martabak.
“Makasih, Pak…”
Dalam hati ia bergumam, Darimana dia tahu?
Pekerjaan akhirnya selesai lebih cepat karena mereka membahasnya bersama. Jam dinding klasik berdentang pelan—dua belas tepat.
Ponsel Aluna sejak tadi bergetar.
Arka memperhatikannya.
“Dari tadi sibuk. Pacar kamu bawel?”
Aluna tanpa sadar menjawab cepat, “Suami saya, Pak.”
Hening.
Tangannya tetap sibuk merapikan tas.
“Dia khawatir.”
Sesuatu di dada Arka terasa tertarik.
Suami.
“Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Terima kasih.”
Aluna berjalan ke luar gerbang dan memesan ojek online.
Arka berdiri di belakangnya, diam.
Motor datang. Namun Arka lebih dulu menghampiri driver itu, berbicara singkat, menyodorkan uang.
Motor itu pergi.
Aluna melongo.
“Loh? Kok pergi?”
Ia hampir berlari mengejar.
Tiba-tiba suara mesin motor lain berhenti di depannya.
Arka.
“Naik.”
“Pak, nggak usah. Saya naik ojek online saja.”
“Naik, Aluna.”
Nada itu tidak memberi ruang.
“Saya nggak mau merepotkan Bapak. Lagipula… saya nggak mau tetangga salah paham. Suami saya juga—”
“Kamu itu pintar mengarang naskah,” potong Arka. “Tapi bodoh urusan pribadi.”
Aluna membeku.
“Mereka akan mengira saya ini ojek online,” lanjutnya kesal.
Aluna terdiam. Lalu perlahan naik ke motor itu.
Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali membentur helm Arka karena rem mendadak.
“Pak!” protesnya kesal.
“Pegangan yang benar.”
“Udah paling bener pulang pakai ojek online,” gumamnya.
Arka mendengarnya.
Dan entah kenapa, sudut bibirnya hampir terangkat.
Motor berhenti di persimpangan dekat rumah Aluna.
Ia turun cepat.
“Terima kasih, Pak.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menjauh.
Arka tetap diam di atas motornya, menatap punggung itu sampai menghilang di balik gang sempit.
“Jadi ini tempatmu pulang…”
Arka menyandarkan dadanya pada stang motor, matanya mengikuti setiap langkah Aluna sampai perempuan itu menghilang di balik tembok kusam. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengusik dadanya.
Malam semakin larut.
Dan untuk kedua kalinya hari itu, ia sadar—Yang ia lakukan bukan lagi sekadar memastikan deadline selesai.
Ia sedang menguji batas.
Batas profesional, batas kesabaran.
Dan mungkin… batas hati seseorang yang seharusnya tidak ia sentuh.
***
Malam turun tanpa suara.
Kamar Arka gelap, hanya diterangi cahaya kota yang menembus celah tirai. Jas kerjanya tergeletak sembarangan di kursi—sesuatu yang jarang ia lakukan, biasanya ia teratur, rapi, terkendali.
Seperti hidupnya.
Ia berbaring terlentang, satu tangan menjadi bantalan kepala, menatap langit-langit yang kosong.
Namun pikirannya tidak kosong.
“Suami saya…”
Kalimat itu terulang. Lagi dan lagi.
Arka memejamkan mata, mencoba mengabaikannya. Tapi suara itu terlalu jelas, terlalu ringan saat keluar dari bibir Aluna sore tadi. Seolah kata itu bukan sesuatu yang berat.
Suami.
Rahangnya mengeras.
Selama ini ia tak pernah bertanya, tak pernah peduli, status karyawan hanyalah data administratif baginya. Tidak relevan, tidak penting.
Tapi entah mengapa, mengetahui fakta itu membuat sesuatu di dalam dirinya bergeser.
Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. Mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa harus menikah…” gumamnya lirih, lebih seperti pertanyaan pada dirinya sendiri.
Ia teringat caranya tertawa bersama Revan. Caranya menunduk sopan saat berbicara. Caranya menggigit ujung pena saat berpikir.
Dan kini—ia membayangkan perempuan itu pulang… bukan ke ruang kosong.
Ada seseorang menunggunya.
Pikirannya tiba-tiba terasa sempit.
Arka berdiri, berjalan ke jendela. Menarik tirai lebih lebar. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi tak cukup mendinginkan dadanya.
Ia tidak marah.
Bukan.
Ia hanya… terusik.
Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak ia rencanakan mulai tumbuh. Dan sesuatu itu kini memiliki batas yang jelas.
Garis yang bernama: milik orang lain.
Arka tersenyum tipis, hambar.
“Menarik.”
Bukan pada pernikahannya.
Tapi pada kenyataan bahwa ia tidak suka mengetahui hal itu. Dan untuk pria yang selalu menang dalam negosiasi, perasaan kalah sebelum memulai terasa… mengganggu.
Lampu kamar dimatikan.
Namun malam itu, Arka tetap terjaga.
Dan nama Aluna, tanpa izin, menetap di kepalanya.