Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Sesampainya di rumah, Ziva tidak langsung menuju kamarnya. Ia terduduk di sofa ruang tamu, tempat yang sama di mana ia pernah jatuh di atas tubuh Baskara, tempat yang sama di mana ia sering menghabiskan waktu dengan tatapan kosong. Namun kali ini, kekosongan itu terisi oleh rasa sakit yang meluap.
Kantong plastik berisi camilan yang ia beli tadi tergeletak begitu saja di lantai. Ziva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahu gadis itu bergetar hebat. Isakan yang awalnya tertahan kini pecah menjadi tangisan yang memilukan.
"Kenapa omongan orang pada jahat banget sih..." rintihnya di sela tangis. Suaranya terdengar pecah, tersedak oleh rasa sesak yang menghimpit dada.
Tuduhan si Ibu Sanggul tadi terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya. Pelakor berbaju adik sendiri. Sengaja bikin celaka biar bisa ambil posisi kakaknya. Kalimat itu adalah racun. Selama ini, Ziva sudah cukup tersiksa dengan rasa bersalahnya sendiri karena ia yang selamat, sementara Kirana pergi. Kini, orang asing dengan mudahnya menaburkan garam di atas luka yang masih basah itu.
Baskara yang baru saja mengunci pintu depan, berdiri mematung beberapa meter dari sofa. Ia melihat kerapuhan Ziva yang paling dalam. Tidak ada lagi Ziva yang galak, tidak ada lagi Ziva yang memanggilnya "om-om" dengan nada meremehkan. Yang ada hanyalah seorang gadis kecil yang dunianya hancur berkeping-keping.
Baskara melangkah perlahan. Ia duduk di ujung sofa, memberikan ruang namun tetap cukup dekat untuk menunjukkan kehadirannya. Ia tidak langsung menyentuh Ziva, tahu betul bahwa gadis itu memiliki pertahanan diri yang tinggi.
"Ziva," panggilnya rendah.
Ziva menggelengkan kepala, tangisnya semakin kencang. "Gue nggak pernah mau ini terjadi, Kak... Gue nggak pernah minta Kak Kirana pergi! Kenapa mereka bilang gue seneng dapet posisi ini? Gue benci rumah ini! Gue benci pernikahan ini! Gue kangen Kak Kirana!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Ziva seperti belati yang juga menusuk hati Baskara. Pria itu menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya sendiri. Ia tahu, secara teknis, ialah yang membawa Ziva ke dalam situasi ini. Ialah yang setuju dengan perjodohan ini sebagai bentuk penebusan dosa, tanpa menyadari bahwa bagi Ziva, ini adalah penjara yang penuh stigma.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Baskara menggeser duduknya. Ia menarik Ziva ke dalam pelukannya. Kali ini, Ziva tidak melawan. Ia tidak berontak atau berteriak "lepasin!". Alih-alih menjauh, Ziva justru mencengkeram erat seragam cokelat Baskara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Air matanya membasahi kain seragam yang kaku tersebut.
Baskara mengusap rambut Ziva dengan gerakan yang sangat lembut, sebuah kontras yang luar biasa dari sosoknya yang dikenal dingin di kepolisian. "Jangan didengar. Mereka nggak tahu apa-apa. Mereka cuma orang asing yang hanya bisa melihat permukaan tanpa tahu dalamnya samudera yang kamu lalui."
"Tapi mereka bener, Kak... Orang-orang liat gue sebagai pengganti. Gue ngerasa kayak pencuri kebahagiaan Kak Kirana," isak Ziva lagi, suaranya teredam di dada Baskara.
"Kamu bukan pengganti, Ziva. Kamu adalah kamu," tegas Baskara. Ia memegang kedua bahu Ziva, menjauhkannya sedikit agar ia bisa menatap langsung ke mata gadis yang sembap itu. "Kirana tetap memiliki tempatnya sendiri yang tak tergantikan. Dan kamu... kamu adalah tanggung jawabku, bukan karena kamu adiknya, tapi karena kamu adalah istriku sekarang. Aku nggak akan biarkan siapa pun menghina kamu lagi."
Ziva menatap mata Baskara. Di sana, ia tidak melihat kebohongan. Ia melihat tekad yang kuat, perlindungan yang selama ini ia remehkan. Untuk pertama kalinya, Ziva merasa bahwa seragam yang dikenakan Baskara bukan lagi simbol "pembunuh", melainkan perisai yang benar-benar menjaganya.
"Gue capek, Kak... Gue capek akting kuat terus," bisik Ziva lemas.
"Kalau capek, istirahat. Kamu nggak perlu kuat di depan aku," balas Baskara. Ia menghapus sisa air mata di pipi Ziva dengan ibu jarinya. "Aku akan jadi dinding buat kamu. Biar mereka bicara apa pun di luar sana, di dalam rumah ini, kamu aman."
Ziva terdiam, menatap jemari Baskara yang kasar namun terasa sangat hangat di kulitnya. Rasa nyeri di hatinya belum sepenuhnya hilang, tapi kehadiran Baskara di sampingnya memberikan sedikit ruang untuk bernapas.
"Lo... lo beneran bakal proses hukum ibu-ibu tadi kalau dia ngomong lagi?" tanya Ziva tiba-tiba dengan suara sisa tangis.
Baskara mengangguk mantap. "Aku polisi, Ziva. Aku tahu caranya membuat orang diam dengan cara yang elegan. Jadi, jangan pernah ngerasa sendirian lagi menghadapi mereka."
Ziva menunduk, sedikit malu karena baru saja menangis sesenggukan di pelukan pria yang biasanya ia maki. Ia menarik diri perlahan, merapikan rambutnya yang berantakan.
"Makasih... dan maaf seragam lo jadi basah kena ingus gue," gumam Ziva pelan, berusaha mengembalikan sedikit sisa gengsinya.
Baskara sempat tertegun, lalu sebuah kekehan pendek—yang hampir terdengar seperti tawa—keluar dari bibirnya. "Nggak apa-apa. Bisa dicuci. Yang penting kamunya sudah tenang."
Baskara berdiri, mengambil kantong plastik camilan di lantai dan meletakkannya di meja. "Makan cokelatnya. Katanya bisa bikin suasana hati lebih baik. Aku mau ganti baju dulu, setelah itu aku pesankan makanan yang kamu suka. Jangan masak, kamu harus istirahat."
Ziva menatap punggung tegap Baskara yang menaiki tangga. Ia mengambil satu batang cokelat dari kantong plastiknya. Di tengah kepahitan fitnah orang-orang, rasa manis cokelat itu dan kehangatan pelukan Baskara barusan menjadi satu-satunya hal yang masuk akal bagi Ziva saat ini.
***
Malam itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidak ada suara bantingan pintu atau sahutan ketus yang biasanya membelah udara. Baskara menepati janjinya; ia memesan makanan dari restoran favorit Ziva—satu porsi besar martabak telur spesial dan ayam bakar madu yang aromanya memenuhi seisi ruangan.
Baskara sudah berganti pakaian dengan kaos santai berwarna abu-abu dan celana pendek selutut. Rambutnya yang biasanya klimis karena gel kini jatuh secara alami, membuatnya tampak tidak terlalu seperti "polisi kaku" yang biasanya Ziva takuti. Ziva sendiri sudah mandi dan mengenakan piyama panjang bermotif beruang yang lucu, meski matanya masih sedikit sembap sisa tangisan siang tadi.
Mereka makan dalam keheningan yang cukup nyaman. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
"Ayamnya enak?" tanya Baskara memecah kesunyian. Suaranya rendah, berusaha agar tidak terdengar mengintimidasi.
Ziva mengangguk pelan, mulutnya penuh dengan nasi dan bumbu madu yang manis. "Enak. Tahu aja lo gue lagi pengen yang manis-manis," jawabnya setelah menelan makanannya. Ia tidak memanggil Baskara "om" kali ini, sebuah perubahan kecil yang disadari oleh pria di depannya.
Baskara hanya mengangguk kecil, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Tadi aku tanya Mama, katanya kalau kamu lagi sedih, biasanya cari ayam bakar madu di dekat kampus kamu dulu."
Ziva tertegun. Sampai nanya Mama segala? batinnya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, namun ia segera menepisnya dengan buru-buru meraih gelas tinggi berisi es jeruk yang segar.
Karena pikirannya yang sedang berkelana dan jemarinya yang mungkin masih sedikit lemas karena kelelahan emosional, koordinasi tangannya menjadi kacau. Saat ia hendak menarik gelas itu ke arahnya, ujung jarinya justru menyenggol bagian atas gelas dengan cukup keras.
BRAKK!
Gelas itu terguling. Cairan oranye cerah beserta bongkahan es batu langsung tumpah ruah di atas meja makan kayu yang mengkilap, mengalir dengan cepat menuju piring Baskara dan... celana pria itu.
"Aduh! Sorry, sorry!" seru Ziva panik. Ia langsung berdiri, wajahnya menunjukkan raut ketakutan sekaligus rasa bersalah yang luar biasa. "Gue nggak sengaja! Sumpah, Kak!"
Ziva menyambar tumpukan tisu yang ada di tengah meja, lalu secara refleks membungkuk dan berusaha mengelap tumpahan air yang mengalir ke arah paha Baskara. Ia tidak berpikir panjang, fokusnya hanya ingin membersihkan kekacauan yang ia buat.
"Biar gue bersihin! Duh, celana lo basah semua," ucap Ziva heboh, tangannya bergerak cepat menyeka cairan di atas paha Baskara menggunakan tisu.
Baskara membeku. Ia merasakan tangan mungil Ziva yang panik bergerak di area pahanya. Napasnya tertahan sejenak. Tubuh tegapnya menegang, bukan karena marah, melainkan karena kedekatan mendadak ini.
"Ziva, sudah... sudah, berhenti," ucap Baskara dengan suara yang sedikit tertahan. Ia memegang pergelangan tangan Ziva, menghentikan gerakan gadis itu yang semakin liar membersihkan celananya.
Ziva tersentak, ia mendongak dan menyadari betapa dekatnya wajah mereka saat ini. Ia sedang membungkuk di depan Baskara yang duduk, sementara tangannya berada di posisi yang sangat tidak pantas untuk hubungan "musuh" seperti mereka.
Ziva langsung menarik tangannya seolah-olah baru saja menyentuh bara api. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam secepat kilat. "Eh... sorry. Gue cuma... cuma mau bersihin airnya biar nggak lengket."
Baskara berdehem, mencoba menormalkan suaranya yang tiba-tiba memberat. "Nggak apa-apa. Biar aku yang lanjutin. Kamu duduk saja."
Baskara berdiri, mengambil kain lap dari dapur dan membersihkan meja dengan gerakan yang jauh lebih tenang dari Ziva. Sementara itu, Ziva duduk kembali di kursinya dengan perasaan ingin menghilang dari muka bumi. Ia merutuki kecerobohannya. Kenapa gue harus se-bego ini sih di depan dia?
"Celana lo... itu basah banget, Kak. Lo mending ganti deh," gumam Ziva sambil menatap noda basah di celana abu-abu Baskara.
"Iya, nanti setelah ini aku ganti. Habiskan dulu makanannya," jawab Baskara. Ia kembali duduk dan seolah tidak terjadi apa-apa, ia melanjutkan makannya meskipun ada noda jeruk besar di pahanya.
Ziva memperhatikan Baskara. Pria ini tidak marah. Jika itu Ayah, mungkin Ayah sudah akan mengomel soal kebersihan meja. Tapi Baskara? Dia bahkan tidak menunjukkan gurat kekesalan sedikit pun.
"Kok lo nggak marah sih?" tanya Ziva tiba-tiba, rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya.
Baskara mendongak, menatap Ziva dengan pandangan datarnya yang khas. "Marah karena gelas tumpah? Buat apa? Itu namanya kecelakaan, Ziva. Di lapangan, aku sering menghadapi hal yang lebih parah dari sekadar tumpahan es jeruk."
Ziva terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia selalu memandang Baskara sebagai sosok yang keras dan kaku, tanpa menyadari bahwa kekakuan itu sebenarnya adalah bentuk pengendalian diri yang luar biasa.
"Tapi celana lo jadi lengket kan?"
"Sedikit. Tapi lebih penting kamu nggak kena pecahannya kalau tadi gelasnya pecah," balas Baskara tenang.
Ziva menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang tanpa sadar muncul di bibirnya. Perhatian kecil yang logis namun tulus seperti ini mulai terasa lebih manis daripada ayam bakar madu di piringnya.
Malam itu, tumpahan es jeruk yang seharusnya menjadi bencana justru menjadi momen pencair suasana. Setelah makan malam selesai, Ziva bahkan menawarkan diri untuk mencuci piring—hal yang biasanya ia hindari dengan berbagai alasan.
"Gue aja yang cuci. Anggap aja penebusan dosa buat celana lo," ucap Ziva saat Baskara hendak mengangkat piring kotor.
Baskara sempat ragu, namun akhirnya ia mengangguk. "Ya sudah. Aku ke bawah dulu mau ganti celana."
Saat Ziva sedang asyik mencuci piring, ia mendengar suara Baskara dari lantai bawah. "Ziva! Sabun cuci bajunya habis ya?"
"Ada di lemari bawah, Kak! Sebelah 'baju dinas' yang... eh!" Ziva langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia hampir saja membocorkan rahasia tentang lingerie yang ia sembunyikan kemarin.
Beruntung, Baskara sepertinya tidak mendengar kalimat terakhirnya. Ziva menghela napas lega, jantungnya kembali berdegup kencang. Hubungan ini benar-benar seperti berjalan di atas tali tipis; satu tumpahan es jeruk bisa mendekatkan, tapi satu rahasia "baju dinas" bisa membuat segalanya jadi sangat canggung kembali.