Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung yang Berjarak
Amsterdam di musim dingin berikutnya terasa berbeda bagi Nina. Tidak ada lagi rasa perih yang menghujam setiap kali salju menyentuh kulitnya. Luka itu, meski belum sepenuhnya hilang, telah mengeras menjadi sebuah kekuatan yang tenang. Di sebuah studio apartemen yang terletak di kawasan Jordan, Nina terbangun sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya.
Ia menyeduh teh melati, aroma yang selalu membawanya kembali ke teras rumah di Yogyakarta, namun kali ini tanpa rasa sesak. Di meja makannya, ponselnya bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang redup.
Arya: Nin, hari ini hujan di Jakarta. Aku teringat saat kita di asrama dulu. Apa kabar di sana? Tolong, balas sekali saja.
Nina hanya menatap layar itu dengan tatapan datar. Jemarinya tidak bergerak untuk menyentuh tombol balas. Ia tidak memblokir nomor Arya—bukan karena ia masih berharap, tapi karena ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa pesan-pesan itu tidak lagi memiliki kuasa atas detak jantungnya. Bagi Nina, menjawab berarti membuka celah, dan celah itu sudah ia tutup rapat dengan semen ketabahan sejak malam di pelaminan itu.
Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Fokusnya hari ini bukan pada masa lalu, melainkan pada latihan koreografi barunya yang akan dipentaskan di Royal Concertgebouw.
***
Di apartemen yang mereka huni bertiga, suasana pagi itu terasa lebih ceria dari biasanya. Maya tampak sibuk memilih syal dan merapikan rambutnya di depan cermin besar. Ada binar yang berbeda di matanya, sesuatu yang sudah lama tidak Nina lihat sejak mereka meninggalkan tanah air.
"Ada janji dengan Liam lagi?" tanya Nina sambil tersenyum tipis.
Maya tersipu, wajahnya merona merah. Liam adalah seorang seniman visual lokal, pria Belanda dengan selera humor yang hangat yang mereka temui di sebuah galeri seni sebulan lalu. Liam tampaknya sangat terpesona dengan dedikasi Maya pada tari tradisional.
"Iya, dia mengajakku melihat pameran sketsa di museum. Katanya ada inspirasi baru untuk latar panggung kita nanti," jawab Maya sambil memakai mantelnya.
Sari muncul dari arah dapur dengan membawa roti panggang. "Bilang saja mau kencan, May. Pakai alasan latar panggung segala," goda Sari yang membuat mereka bertiga tertawa.
Nina mendekati Maya, membetulkan letak kerah mantel sahabatnya itu. "Pergilah, May. Kamu berhak bahagia. Kami ikut senang kalau kamu merasa dihargai di sini."
Maya menatap Nina dengan tulus. "Kamu juga berhak bahagia, Nin. Jangan terus-menerus mengunci dirimu dalam pekerjaan."
Nina hanya tersenyum simpul, sebuah jawaban bisu yang sudah dipahami oleh kedua sahabatnya. Bagi Nina, tarian adalah satu-satunya bentuk kebahagiaan yang tidak akan pernah mengkhianatinya. Melihat Maya mulai membuka hati pada Liam memberikan Nina sedikit kelegaan; setidaknya, pelarian mereka ke benua biru ini membuahkan hasil manis bagi salah satu dari mereka.
***
Berlawanan dengan kedamaian yang mulai tumbuh di Amsterdam, suasana di rumah dinas Sudrajat di Jakarta justru semakin mencekam. Sudah tiga bulan berlalu sejak malam pernikahan itu, namun bagi Arya dan Maura, waktu seolah berhenti di detik mereka sah menjadi suami istri.
Kamar pengantin yang mewah itu kini terasa seperti selubung es. Arya tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak pernah menyentuh Maura. Bahkan, untuk sekadar bersentuhan tangan di dalam rumah pun ia hindari. Pagi-pagi sekali, saat matahari belum terbit, Arya sudah berangkat ke markas. Ia sengaja mengambil tumpukan berkas operasi yang seharusnya dikerjakan oleh staf bawahannya. Ia lebih memilih berkutat dengan peta strategi dan laporan intelijen hingga pukul satu atau dua dini hari daripada harus pulang dan menghadapi kenyataan di kamarnya.
Suatu malam, Arya pulang dengan langkah gontai. Kepalanya berdenyut hebat. Depresi yang ia pendam mulai memanifestasikan diri dalam bentuk kelelahan fisik yang kronis. Ia masuk ke kamar dan mendapati Maura masih terjaga, duduk di tepi ranjang dengan buku medis di tangannya.
"Mas... kamu telat lagi. Aku sudah buatkan sup hangat," ucap Maura dengan nada yang letih namun tetap berusaha lembut.
Arya tidak menjawab. Ia melepas baretnya dan melemparkannya ke meja. Ia segera meraih ponselnya, hal pertama yang ia lakukan setiap kali merasa hancur. Ia melihat pesan-pesannya yang berstatus delivered tapi tidak pernah read.
"Dia tidak akan membalasmu, Mas," suara Maura terdengar bergetar, kali ini dengan nada keputusasaan yang nyata.
Arya menoleh tajam. "Apa maksudmu?"
"Nina. Kamu terus-menerus mengirim pesan pada wanita yang bahkan tidak menganggapmu ada lagi. Sampai kapan kita mau seperti ini? Aku istrimu, Arya! Aku merawat ibumu, aku menjaga nama baikmu di depan kolega Papi, tapi kamu memperlakukanku lebih rendah dari orang asing!" tangis Maura pecah.
"Aku sudah bilang padamu malam itu, Maura," sahut Arya dengan suara serak yang mengerikan. "Jangan harapkan apa yang tidak bisa kuberikan. Pernikahan ini adalah transaksi baktiku pada Mami. Jangan minta lebih."
"Tapi kita belum pernah... kita belum pernah melakukan apa pun! Mami terus bertanya kapan aku hamil, Mas! Apa yang harus aku katakan?!"
Arya tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh luka. "Katakan pada Mami bahwa putranya sedang mati di dalam. Katakan padanya bahwa dia sudah berhasil membunuh jiwaku, jadi jangan harap ada kehidupan baru yang lahir dari mayat seperti aku."
Arya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Maura yang terisak hebat di atas ranjang pengantin yang masih rapi tanpa noda.
*
Di bawah kucuran air dingin, Arya menyandarkan kepalanya di dinding keramik. Ia merasa sangat kecil. Seorang Kapten yang disegani di medan perang, kini hancur hanya karena sebuah pesan yang tidak terbalas. Ia merindukan Nina hingga ke tulang-tulangnya. Ia merindukan bau minyak telon di sanggar tari Jogja, ia merindukan tawa malu-malu Nina saat ia menjemputnya dengan mobil dinas.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat Nina di atas pelaminan, mengembalikan cincinnya dengan tatapan yang begitu tenang—ketenangan yang menandakan bahwa Nina benar-benar sudah melepaskannya.
Kenapa kamu begitu kuat, Nin? Kenapa hanya aku yang tertinggal di sini, membusuk dalam penyesalan? batin Arya.
Ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke sofanya. Ia membuka galeri foto di ponselnya, melihat video singkat saat Nina menari di bawah hujan sepuluh tahun yang lalu. Itu adalah harta karun terakhirnya. Arya merasakan dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Ia mulai merasakan gejala depresi yang semakin berat: hilangnya minat pada sekitar, insomnia akut, dan rasa bersalah yang tidak masuk akal.
Di Jakarta yang hiruk-pikuk, Arya adalah sosok yang paling kesepian.
***
Minggu-minggu berlalu di Belanda. Pertunjukan Nina sukses besar. Ia kini menjadi primadona baru di dunia seni Eropa. Sari selalu mendampinginya sebagai manajer pribadi yang handal, sementara Maya semakin tenggelam dalam kebahagiaannya bersama Liam.
Suatu sore, saat Nina sedang duduk di taman kota melihat anak-anak bermain, ia melihat sepasang kekasih yang tertawa sambil saling merangkul. Ingatannya sempat melayang pada Arya, namun kali ini rasa sakitnya tidak lagi tajam. Ia menyadari bahwa hidup harus terus berjalan.
"Mungkin ini jalannya, Bu," bisik Nina pada angin. "Nina menari untuk dunia, dan Kak Arya mengabdi untuk keluarganya. Kita sama-sama menjalankan tugas, meski di panggung yang berbeda."
Nina mengambil ponselnya. Ia melihat deretan pesan tak berbalas dari Arya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah atau sedih. Ia merasa iba. Iba pada pria yang dulu menjadi pahlawannya, kini justru terperangkap dalam pilihan yang ia buat sendiri.
Namun, Nina tetap tidak membalas. Ia tahu, satu jawaban dari Nina akan membuat Arya terus berharap, dan itu hanya akan memperpanjang penderitaan Maura dan Arya sendiri. Nina memilih untuk tetap menjadi gema yang sunyi, membiarkan waktu yang menyelesaikan tugasnya untuk menyembuhkan mereka berdua.
Nina berdiri di balkon apartemennya di Amsterdam, menatap masa depan dengan mata yang jernih dan penuh harapan; sementara di Jakarta, Arya duduk di meja kerjanya yang gelap di Mabes, menatap ponselnya dengan mata merah yang penuh dengan keputusasaan, menunggu sebuah jawaban yang tak akan pernah datang.
Garis takdir mereka kini benar-benar terpisah oleh samudra dan prinsip. Di Belanda, Nina belajar menjadi bebas, sementara di Jakarta, Arya belajar bahwa penjara yang paling kejam adalah pernikahan tanpa cinta dan restu yang dipaksakan.