Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7. Penasaran
Alderza memasuki rumahnya dengan wajah yang kusut. Dia menghembuskan napas kesal, karena seperti inilah rumahnya, sepi dan sunyi.
Kemudian, ia langsung melihat jam tangannya. Ternyata sudah jam lima sore.
"Bi, Mama sama Papa mana?"
"Belum pulang Den."
"Harusnya kan mereka udah pulang?"
"Katanya ada meeting, jadinya malam ini kayaknya bakalan pulang telat."
Alderza berdecak kesal, memang sepertinya ini salahnya. Ketika mereka ada, Alderza selalu saja mengabaikan mereka. Sebaliknya, jika mereka tidak ada, Alderza pasti selalu memikirkan mereka.
"Mau meeting ataupun enggak pun mereka pasti bakalan pulang malem, Bi! Sok sibuk emang!" Ucap Alderza kesal.
"Sabar, Den. Mereka kayak gini kan juga buat bahagian Aden."
Cowok tampan itu langsung pergi menaiki tangga menuju kamarnya, lalu membanting pintu kamarnya sekencang mungkin sampai membuat Bi Tika kaget.
Oke, cukup. Daripada menunggu dan memikirkan kedua orangtuanya sepanjang hari, lebih baik ia keluar lagi untuk menghilangkan penat. Tapi.... Mobilnya?
Perlahan, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel kesayangannya.
"Sinta, mobil gue masih dipake gak?"
"Duh, mau dipake ya?" Jawab Sinta di balik telepon.
"Iyalah, gue jadi gak bisa keluar nih!"
"Oke oke, besok ya. Makasih Alderza, dah..."
Tut... Tut...
Sial! Alderza benar-benar kesal. Tidak ada yang bisa menghiburnya selain keluar rumah, tapi mobilnya malah tidak ada karena dipinjam Sinta dan Riska.
Otak pintarnya seketika langsung mengeluarkan sebuah ide yang cemerlang.
Motor? Benar! Motornya.
Alderza bergegas mengganti bajunya dengan kaus polos berwarna hitam dan celana pendek biru agar terlihat santai.
Cowok itu segera pergi keluar menggunakan motornya. Mungkin jika dia berkeliling mencari udara segar di tempat yang sejuk, hatinya yang kacau bisa sedikit rileks.
Tapi saat diperjalanan, Aldersa melihat Aily keluar dari rumahnya dengan membawa keranjang besar yang entah apa isinya.
Alderza berhenti disamping Aily.
"Mau kemana?" Tanya Alderza yang membuat Aily kaget.
"Datang tiba-tiba, terus pergi seenaknya." Balas Aily sembari mengerucutkan bibirnya.
"Bukannya ibu negara yang usir gue?" Ucap Alderza sembari tertawa kecil.
"Iya sih."
Entahlah, melihat Aily yang cemberut seperti itu terlihat sangat lucu. Rasanya berbeda 180 derajat dengan apa yang biasa dilihat Alderza saat di sekolah, pemurung dan pendiam.
Imut? Kata-kata itu tiba-tiba saja ada di pikirannya. Tapi seketika itu juga, ia langsung menghapus jauh-jauh kata tersebut dari pikirannya dan mulai menampar dirinya sendiri.
B aja sih.
Aily memicingkan matanya saat melihat kelakuan Alderza yang menampar dirinya sendiri.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Aily bingung.
Ternyata Aily melihat aksi gilanya tersebut. Tidak, cewek itu tidak boleh tau apa yang ada dipikirannya saat ini. Ia pun dengan cepat mengembalikan wajah datarnya dan berkata.
"Jangan kepo deh!"
Aily memutar bola matanya kesal. Baru saja beberapa detik yang lalu Alderza bertanya kepada dirinya 'mau kemana?' memangnya itu bukan ke kepoan yang haqiqi?
Aily kembali cemberut dan langsung berjalan lurus meninggalkan Alderza.
"Woi, lo mau kemana? Main pergi aja. Lo belum jawab pertanyaan gue." Tanya Alderza.
"Jangan kepo deh!" Ucap Aily membalas perkataan Alderza.
"Lo udah mulai berani ya sama gue!" Tanya Alderza.
Aily menatap Alderza dengan perasaan sedikit takut. Tapi anehnya, tidak ada tatapan kebencian yang selalu cowok itu perlihatkan padanya. Kali ini, dia tertawa kecil, seperti seseorang yang sedang bercanda.
Aily memegang erat-erat keranjang yang ia bawa. Dia menarik napas dalam-dalam lalu berlari secepat kilat menuju tempat yang akan ia tuju.
"Woy!" Teriak Alderza dengan kencang karena kaget melihat Aily yang tiba-tiba saja berlari meninggalkannya.
"Maen lari aja tu bocah."
Penasaran, hatinya tergerak untuk mengikutinya. Ia mendapati Aily yang sedang membagikan makanan kepada pengemis di sekitar sana yang terdiri atas seorang ibu dan 3 orang anaknya.
Alderza rasanya ingin melihat lebih dekat mengenai alasan Aily melakukan hal tersebut. Bukan, ini bukan kepo. Alderza hanya ingin tahu saja.
"Ibu, udah makan?" Tanya Aily dengan wajah semringah pada pengemis ibu-ibu tersebut.
"Eh, ada nak Aily! Belum, ibu belum makan."
"Ini buat ibu! Maaf ya Aily cuman bisa masak seadanya aja."
"Ya ampun, ibu mah udah dikasih juga sangat bersyukur. Makasih banget nak Aily."
Ibu tersebut beserta 2 anaknya memakan makanan yang dibawa oleh Aily.
Alderza ikut kaget begitu melihat Aily makan bersama dengan mereka tanpa malu-malu dengan alas seadanya.
"Kek gini ya kehidupan dia setelah pulang sekolah?" Ucap Alderza di dalam hati.
Saat Alderza sedang memperhatikan Aily yang dengan lahap menyantap lauk seadanya tersebut, ia mendapati ponselnya berdering. Sinta lah yang menelponnya.
Alderza kemudian mengangkat telepon tersebut dengan cepat.
"Kenapa?"
"Mau ikut karaoke bareng kami gak? Kalau mau, gue jemput lo pake mobil lo."
"Emangnya ada siapa aja?"
"Gue, Riska, sama Rafa."
Tanpa perlu bertanya pun Alderza langsung paham bahwa Bintang memang tidak terlalu sering berkumpul dengan mereka.
Kecuali ada perkumpulan cewek cantik di sana, seperti di kolam renang. Pasti dia yang paling semangat untuk ikut.
Saat Alderza menatap Aily yang tengah bersama pengemis-pengemis tersebut, hatinya sedikit berkata bahwa kehidupannya benar-benar kontras dengan apa yang dialami oleh Aily.
Ia jadi teringat perkataan Aily di bus tadi, soal teman-temannya yang memang selalu menghamburkan uangnya dan bersenang-senang di kerlap-kerlip keindahan malam.
Sedangkan Aily, ia bukan hanya tidak pernah marah, hanya senyuman saja yang ia berikan pada semua orang.
Tatapan apa ini? Meskipun sulit untuk mengakuinya, tapi memang benar. Terbesit di dalam benaknya bahwa dirinya sedikit mengagumi sifat Aily. Ya, meskipun hanya sedikit saja.
"Gimana? Mau ikut gak?" Tanya Sinta di balik telepon yang langsung membuyarkan lamunan Alderza.
"Gue lagi ada urusan."
"Oh, yaudah deh. Bye..."
Setelah Alderza mematikan teleponnya, satu hal yang membuatnya hampir saja terjatuh dari motor adalah karena dirinya ketahuan oleh seorang anak kecil karena sedang mengintip Aily.
"Heh, lagi ngintip ya." Ucap anak kecil tersebut yang membuat Alderza kaget.
Anak kecil tersebut menggunakan baju ungu, rambutnya pendek, dan sedikit terlihat..... Acak-acakan?
"Gak sopan banget sih, Lo siapa?" Alderza kembali menyeimbangkan diri diatas motornya.
"Aku tinggal di sini bareng ibu dan adik-adik aku, pakek nanya!"
Anak kecil tersebut menyilangkan tangannya diatas dadanya dengan erat, bukti kekesalannya karena tidak suka ada yang mengintip Aily seperti itu.
"Kak Aily, ada yang ngintipin kakak nih!" Teriak bocah itu dari tempatnya berdiri saat ini.
"Udah tahu......" Balas Aily sembari tercengir.
"Alderza membelalakkan matanya saat mendengar kata 'udah tahu' dari mulut Aily. Sepertinya sedari tadi, Aily sudah menyadarinya.
Aily pun kemudian menghentikan makannya lalu pergi menghampiri Alderza.
"Gue gak ada ngikutin lo kok. Gue cuman cari udara seger aja. Dan kebetulan aja ada di sini." Ucap Alderza tiba-tiba, dan membuat Aily tersenyum geli karena tidak percaya.
"Emang sih udara di sini segar. Yaudah, selamat senang-senang."
Selamat senang-senang huh? Alderza begitu bingung kenapa Aily memberinya selamat?
Aily pun kemudian lanjut makan bersama dengan Lina, anak kecil yang memergoki Alderza tadi.
Alderza pun memperhatikan mereka makan bersama. Meski lauknya hanya tempe, tahu, dan ikan asin beserta sambal, tapi mereka sama sekali tidak ada yang keberatan apalagi mengeluh.
"Ya iyalah gak protes, kan dikasih gratis. Lagian, pasti juga buat ngehargain tu cewek karena udah dikasih makanan." Ucap Alderza di dalam hati
Setelah semuanya habis, Aily meminum air yang ia bawa dari rumah. Mereka semua sangat sederhana, seketika membuat Alderza tersenyum kecil.
Sebenarnya Aily sedikit heran, kenapa Alderza masih diam di atas motornya tanpa bersuara sedikitpun? Tapi tidak apa, yang penting ia tidak ada mengganggunya saja.
"Kakak pulang dulu, ya! Nanti kakak ke sini lagi."
"Dadah kak, makasih ya udah bawain kita makanan!"
Setelah selesai berpamitan, Aily pun segera menghampiri Alderza yang ternyata sudah siap di atas motornya.
"Alderza."
Saat semua orang memanggilnya Al, hanya Aily saja yang memanggilnya Alderza, sungguh berbeda dengan semua orang.
"Udah beres keponya? Apa masih mau lanjut?" Tanya Aily membuat Alderza memutar bola matanya.
"Kaki lo masih sakit?"
"Nggak kok, gak papa. Lagian tadi kan udah kamu bantu obatin."
"Tadi gue kan cuman ngobatin luka lo yang berdarah, terus gue liat tadi, kaki lo juga bengkak." Ucap Alderza pelan dengan penuh keraguan.
"Aku gak papa kok Alderza!"
Alderza menghela napasnya pelan.
"Lo bisa naik motor gue?"
"Emangnya kenapa?" Tanya Aily bingung.
"Buruan naik, gue anterin pulang!"
Saat cewek lain selalu pura-pura tidak mau dan berkata 'nggak usah', 'bisa pulang sendiri, kok', atau 'nggak usah repot-repot'.
Aily justru langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu dan berkata.
"Oke, tapi aku yang bawa motornya."
Thank you ya yang udah baca. Kalo ada kesalahan kata, atau typo, atau semacamnya, tolong dikoreksi. Love you guys.