Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Jumat, 16 Mei : Pukul 22.15 WIB
Kamar Zidan, Gang Kenanga, Bandung Selatan
Zidan tidak bisa tidur.
Bukan karena pikirannya penuh. Justru sebaliknya kepalanya kosong dengan cara yang aneh, seperti radio yang mencari frekuensi tapi tak menemukan satu stasiun pun. Matanya menatap bintang-bintang plastik di langit-langit kamar. Sudah empat puluh menit.
Lalu dadanya mulai terasa seperti ada yang memeras.
Pelan. Bertahap. Seperti seseorang yang mengencangkan ikat pinggang satu lubang demi satu lubang.
Zidan mencoba menarik napas dalam-dalam.
Tidak bisa.
Napas itu berhenti di tengah, seolah ada pintu yang setengah tertutup di dalam saluran pernapasannya. Udara masuk, tapi tak pernah cukup. Tak pernah cukup.
Dia duduk tegak.
Jangan panik. Duduk tegak. Itu yang selalu dikatakan dokter.
Tangannya meraba laci meja di sisi kasur. Isinya berantakan cerminan hidupnya: baterai AA yang mungkin sudah habis, karet gelang bekas, charger kabel terkelupas, dan di paling bawah…
Inhaler.
Inhaler biru itu sudah tidak mulus lagi. Catnya mengelupas di beberapa bagian karena terlalu sering digenggam. Zidan menekan, menghirup, menahan napas delapan detik.
Satu kali. Dua kali.
Perlahan, pintu di dalam dadanya terbuka sedikit.
Dia mengembuskan napas panjang, bersandar ke dinding. Keringat dingin membasahi dahinya.
Sudah hampir setahun asmanya tak kambuh separah ini. Biasanya hanya sesak ringan kalau terlalu capek atau kehujanan. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang lebih berat, lebih dalam seolah asmanya bukan satu-satunya yang sedang tidak beres.
Zidan menatap inhalernya.
Masih ada isinya. Cukup untuk beberapa hari.
Dia meletakkannya di atas meja, di tempat yang mudah dijangkau, bukan lagi di laci. Lalu meraih ponsel. Layarnya menyala: 22.17 WIB. Ada tiga notifikasi dari grup WhatsApp “CIREMAI ATAUPUN MATI 🏔️” nama grup yang diciptakan Zidan sendiri dua minggu lalu dan langsung diprotes Runa karena “tidak logis secara gramatikal”.
Dia membuka grup. Tapi tak mengetik apa-apa.
Jempolnya mengambang di atas keyboard.
Kalau gue bilang asma kambuh, Rehan bakal tunda pendakian. Runa bakal buat spreadsheet risiko kesehatan. Yazid bakal diam tapi matanya nanya-nanya. Salsa bakal live TikTok minta saran dokter dari netizen.
Zidan menutup WhatsApp.
Meletakkan ponsel terbalik di kasur.
“Tiga hari lagi,” bisiknya ke langit-langit. “Gue bakal baik-baik aja dalam tiga hari.”
Bintang plastik berpendar diam.
Tak ada yang menjawab.
Sabtu, 17 Mei : Pukul 08.45 WIB
Ruang Makan, Rumah Wirawan, Dago Pakar
Sarapan di rumah Wirawan adalah sebuah institusi.
Bukan sekadar makan pagi. Ini ritual yang sudah berlangsung tanpa gangguan bertahun-tahun. Meja panjang kayu jati gelap. Taplak linen putih yang disetrika setiap hari oleh Bi Ijah. Makanan selalu tersedia sebelum jam sembilan: nasi putih, telur dadar, lauk berganti setiap hari tapi selalu ada sup. Dan dua kursi yang selalu terisi pada jam yang sama.
Pak Darmawan di ujung kiri, membaca koran fisik bukan tablet karena beliau tak percaya sesuatu sebelum tercetak di kertas. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung. Jas kantor sudah tergantung rapi di balik pintu, menunggu.
Bu Sekar di ujung kanan, dengan teh jahe dan buku resep yang jarang dibuka tapi selalu ada di meja karena sudah jadi bagian pemandangan pagi.
Rehan duduk di tengah.
Dia sudah duduk sejak delapan menit lalu. Nasinya baru separuh. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya bukan nasi.
Bu Sekar melihat itu. Ibu selalu melihat.
“Kamu mau bilang sesuatu, Han?” tanya Bu Sekar ringan, seolah hanya bertanya mau tambah lauk atau tidak.
Pak Darmawan tak menoleh dari korannya. Tapi kedua tangannya berhenti membalik halaman.
Rehan meletakkan sendoknya. Dia sudah berlatih kalimat ini sejak tadi malam, di depan cermin kamar, seperti sedang mempersiapkan presentasi bisnis.
“Ayah,” Rehan memulai. “Selasa depan, aku mau mendaki Gunung Ciremai. Sama Yazid, Runa, Salsa, dan Zidan. Tiga hari dua malam. Jalur Linggarjati. Perizinan sudah ada, logistik sudah direncanakan, cuaca sudah dicek”
Koran Pak Darmawan turun.
Perlahan. Seperti tirai yang diturunkan sebelum interogasi dimulai.
Pak Darmawan menatap Rehan. Wajahnya susah dibaca bukan karena tak punya ekspresi, tapi karena ekspresinya selalu terkendali, seperti orang yang terlalu lama memimpin rapat untuk membiarkan emosi bocor sembarangan.
“Ciremai,” ulang Pak Darmawan. Bukan pertanyaan. Lebih seperti menguji bobot sebuah kata.
“Jalur Linggarjati,” tambah Rehan cepat, karena diam terasa lebih berbahaya. “Jalur yang paling umum, paling banyak pendakinya.”
“Ketinggian 3.078 meter,” potong Pak Darmawan. “Gunung tertinggi di Jawa Barat. Jalur Linggarjati adalah yang terpanjang dan terberat dari semua jalur.”
Rehan terdiam. Tentu saja ayahnya sudah tahu.
“Siapa yang plan ini?” tanya Pak Darmawan.
“Kami berlima. Tapi koordinasinya”
“Siapa yang beli tiket. Siapa yang pegang logistik. Siapa yang sudah punya pengalaman mendaki sebelumnya.”
“Saya yang beli tiket.” Rehan menjaga suaranya tetap datar, terukur cara yang dia pelajari dari ayahnya sendiri, ironis. “Logistik kami bagi rata. Dan”
“Kamu pernah mendaki?”
Hening.
“Belum.” Rehan tak berbohong. Dia tahu ayahnya bisa membaca kebohongan seperti membaca laporan keuangan. “Tapi Yazid pernah. Dua kali. Ranu Kumbolo sama Papandayan.”
Pak Darmawan menopang dagunya dengan satu tangan. Tatapannya membuat Rehan merasa sedang diaudit.
“Kamu kuliah bulan depan,” kata Pak Darmawan akhirnya. “Ini bukan waktu yang tepat untuk”
“Mas.” Bu Sekar bicara. Satu kata saja, tapi nadanya sudah Rehan hafal seperti lagu kebangsaan artinya: dengarkan dulu sebelum kamu putuskan.
Pak Darmawan melirik istrinya.
Bu Sekar tersenyum ke Rehan. “Cerita dulu, Han. Lengkap. Kenapa gunung ini, kenapa sekarang.”
Rehan menarik napas. Ini jendela yang dibuka ibunya, dan dia tahu jendela ini tak akan terbuka lama.
“Kami berteman enam tahun, Yah.” Rehan mulai bicara bukan dengan data logistik lagi, tapi dengan sesuatu yang lebih sulit dikeluarkan. “Enam tahun. Dari SMP. Bulan depan kami berpencar Runa ke ITB, Yazid ke FK Undip, Salsa fokus channel-nya, Zidan belum tahu. Ini perjalanan terakhir kami sebelum semuanya berubah.”
Pak Darmawan tak bergerak.
“Aku nggak minta sering-sering, Yah. Aku nggak pernah minta hal macam-macam. Sekali ini, aku minta dipercaya.”
Ruang makan itu sunyi.
Hanya suara sendok Bu Sekar yang menyentuh pinggiran cangkir teh halus sekali.
Pak Darmawan menatap anaknya lama. Terlalu lama. Lalu beliau melepas kacamata, melipat koran, meletakkannya rapi di meja.
“Bawa dua HP. Satu untuk komunikasi, satu cadangan. Power bank penuh.” Suara Pak Darmawan tetap datar, terukur. Tapi ada pergeseran kecil di dalamnya. “Kirim titik koordinat setiap enam jam ke nomor saya. Kalau sinyal mati, pakai jalur evakuasi resmi. Jangan berpencar. Turun sebelum jam dua siang kalau cuaca berubah. Dan”
“Mas.” Bu Sekar menyelipkan tangannya ke tangan suaminya di atas meja, pelan.
Pak Darmawan berhenti.
Dua detik. Tiga.
“Jaga diri.” Itu saja yang ditambahkannya. Tapi dari Pak Darmawan Wirawan, dua kata itu beratnya satu paragraf.
Rehan mengembuskan napas yang sudah ditahannya sejak tadi.
“Terima kasih, Ayah.”
Pak Darmawan sudah mengambil korannya lagi. Tapi Bu Sekar, dari balik cangkir tehnya, mengedipkan mata ke Rehan.
Ibu tahu kamu bisa.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪